Sinta tersenyum menahan rasa sakit di perutnya. Rama menganguk lalu berjalan mendorong kursi roda keluar restoran. Sinta sebisa mungkin berlari memakai hak 9cm ke WC.
#######
Rama mendudukan ibunya di kursi mobil, "Bunda kan belum sehat, kenapa harus memaksa kan diri sih."
Diana tersenyum mengelus Rambut anak bungsu nyah itu. "Bunda hanya ingin bertemu kalian, apa itu salah?"
Salah,
"Tidak itu tidak salah beristirahatlah Rama sudah menyiapkan kamar untuk Bunda,"
"Baiklah, Sinta mana? Kenapa lama sekali," Tanya Diana yang mulai resah menunggu di mobil
"Sebentar lagi dia kesini. palingan perutnya bermasalah, siapa suruh makan kaya kebo. Untung saja bunda gak merhatiin dia makan." Rama tersenyum menatap Diana
Sinta menatap pantulan dirinya di cermin, tersenyum miring. Melihat ke bawah kakinya "Sepatu ini menyiksa ku, kapan semua ini berakhir." Sinta menghela nafas pendek dan berjalan menuju pintu.
Tenggorokan nya terasa kering, Sinta menghampiri waiter yang membawa nampan berisi segelas air tampa persetujuannya Sinta meneguk air itu hingga habis.
"Ehh... ehh mba, ja.. ja.. gan.." pelayan itu mencoba meraih gelasnya.
"Terimakasih." Sinta mengabaikan ekpresi si pelayan lalu berjalan ke luar restoran.
Padangan Sinta mulai kabur, langkahnya pun sempoyongan. Pelayan itu menghampiri Sinta namun langkahnya terhenti.
Rama berdiri di hadapan Sinta.
" Kak Rama kemana saja ah... " Tubuh Sinta jatuh ke pelukan Rama.
Rama menatap Sinta dingin, "Bocah. kamu ini kenapa? Berdiri lah nanti Bunda melihatmu!"
"Aku lelah, Aku mengantuk." ucap Sinta melingkarkan tangan di pinggang Rama
"Astaga kenapa kamu mengodaku hah? Apa kamu mabuk?" Rama mencium bau alkohol dari mulut Sinta
"Permisi tuan, maaf kan saya. Nona ini barusan meminum segelas vodka" Pelayan itu menunduk.
"Kamu ini kenapa tidak mencegahnya! Apa kamu tau saya bisa menutup restoran ini!" Nada Rama meninggi.
"Maafkan saya Tuan, saya sudah memperingatkannya tapi dia tetap meminumnya dan..."
"Berhentilah memarahinya!" Sinta mendongkak menatap wajah Rama
"Diamlah ini semua karna mu!" Rama menatap tajam Sinta
Di balik kaca mobil Diana melihat anaknya sedang bermesraan di depan pelayan restoran ia tersenyum geli dengan kelakuan anaknya itu. Diana pun memutuskan meninggalkan mereka di restoran.
Sinta menutup matan nya, dengan sigap Rama menangkap tubuhnya yang terhunyung ke belakang. Rama menatap kesal Sinta, menghembuskan nafas pendek.
"Kita selesai kan nanti, Dia pingsan dan saya harus pulang."
Palayan itu pun menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rama memangku Sinta berjalan keluar melewati pelayan itu. Rama mendudukan Sinta di kursi depan dan berlari memasuki pintu kemudi.
"Apa Bunda melihatnya semoga dia tak melihatnya, kamu. apa kamu bodoh hah hingga tak bisa membedakan minuman." batin Rama
Rama menjalan mobilnya di kegelapan malam, ia menfokuskan pandangannya kedepan. Dalam perjalan pulang Rama meminggirkan mobilnya ke sisi taman kota. Cahaya remang-remang menyinari mobil jazz itu. Sinta meronta-ronta dan mengangu Rama yang sedang menyetir.
"Berapa gelas yang kau minum hah?" Rama menyingkirkan tangan Sinta yang merayap rayap di perutnya.
Sinta mengedipakan matanya berkali-kali, berdehem lalu menegakan duduknya "Manusia gunung es apa benar kamu Suami ku? Ahh aku lupa, kalau pria di depan ku pria ini adalah pria terhormat." Sinta memberi hormat pada Rama
Rama tersenyum miring, menatap sebal gadis yang duduk di sampinya. Rama menurunkan tangan Sinta, "apa benar kamu anak SMA memberi hormat saja tidak benar."
"Gunung es. apa aku terlihat kotor hingga kamu membawa ku ke salon itu. Di mata mu, apa pakaian ku tidak layak semua hah. Bunda yah bunda lah penyebabnya" Ucap Sinta jari telunjuknya berputar-putar
"Bocah dari mana kamu mendapatkan kata-kata seperti itu, jangan ucapakan kata Bunda ia tidak Salah." mata birunya menatap tajam Sinta.
"Aku... aku ini Istrimu, Haha Istri. Walaupun aku masih SMA tapi aku punya hati. Disini, di sini manusia es sudah melukai aku." Sinta menepuk nepuk dadanya yang terasa sesak. Matanyanya meneteskan air mata melewati kedua pipinya yang merah.
"Manusia es? Berhentilah menyebutkan. Itu aku sudah tidak beres Sinta" Rama mengeleng-gelengkan kepalannya
"Sakit... aku lelah dengan keyataan ini, kenapa Kakak ...." Sinta tak sadarkan diri
Rama memandang Sinta yang duduk di sampinya. terdiam, hanya itu yang bisa di lakukan Rama. pernikahan ini membuat keduanya merasa tersakiti satu sama lain. Perkataan Sinta membuat Rama semakin bersalah terhadap gadis di sampingnya ini.
########
Rama menekan kata sandi sebisa mungkin, lalu membuka pintu kamar sepelan mungkin. menidurkan Sinta di kasur king size nyah, menyelimutinya dengan selimut besarnya itu.
"Kamu ini gadis yang sangat merepotkan. Berhenti lah mengeluh. Aku tidak suka itu. " Rama pun bergegas memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Matahari bersinar cerah hari ini, kicauwan burung terdengar syahdu di telinga. Sepasang suami istri kini tertidur pulas di atas rajang king size.
Sinta mengeratkan pelukannya, Sinta yang merasa berbeda dengan boneka nyah itu membuka matanya perlahan-lahan. Samar-samar ia melihat rambut coklat yang berantakan, ia mendongkak wajah di depannya ini tak asing baginya. Sinta mengerjapkan matanya ia baru sadar kalau dalam pelukannya bukanlah boneka tapi manusia berhawa dingin. Seketika Sinta menjerit namun tangan besar itu secepat mungkin membekap mulut Sinta.
Ya tuhan tolanglah aku. Aku tak ingin mati sekarang. Dimana ini kenapa ruangan ini berbeda dengan kamarku. Ayah ibu tolonglah anak mu ini.
"Jangan menjerit bodoh. Apa kamu lupa Bunda ada di sini." Rama terbangun dari tidurnya
"Hmmppp hmmmmmp emmm ummmmm"
"Bicaralah yang jelas dan pelankan suara mu itu." Suara serak khas bangun tidur itu berbicara
Sinta menganguk dan Rama melepaskan tangannya dari mulut Sinta.
"Astaga. Kakak apa yang kita lakukan disini. Dimana aku? apa ini kamar hotel?" Terduduk di kasur menjaukan dirinya dengan Rama
"Ini di kamar ku, pelankan sedikit suaramu." Rama duduk di atas ranjang
Sinta menelusuri setiap ruangan. Bau maskulin khas pria tercium di Kamar bernuansa putih gading. Kamar ini terlihat klasik, di sisi jendela terdapat kursi dan meja. di atas meja itu terdapat laptop dan dokumen yang berserakan. Sinta mengerutkan keningnya, terlihat peralatan tak asing di atas meja rias dan di sisi tembok kanan terlihat photo dirinya dan Rama.
"Apa benar ini kamar kak Rama?" Tanya Sinta melihat sepasang sendal wanita di dekat meja.
"Kemarin aku mengubahnya. Aku gak mau Bunda tau kalau kita pisah kamar"
"Maksud Kakak?"
"Otak mu benar-benar bodoh." Rama menjentikkan jarinya di kening Sinta
"Awwww... sakit tau hmmmpp" Sinta menurunni rajang dan berlari ke kamar mandi.
Rama tersenyum, Rama tau ini akan terjadi Sinta akan mual-mual. Sinta membuka tutup kloset dan memuntahkan isi perutnya. Pusing, itu yang di rasakan Sinta.
"Kak Rama. apa kakak memberi racun semalam pada makanan ku, baunya sangat tak sedap." Sinta berteriak di kamar mandi.
Rama hanya tersenyum dan menoleh ke samping kirinya. Rama menatap bingung spray putihnya. Seseorang membuka pintu kamar Rama. Wanita yang selalu terlihat cantik itu terduduk di kursi roda menatap teduh anak bungsunya.
"Sepertinya di sini ada keributan, ada apa?" Tanya Diana lalu menjalankan kursi rodanya kedalam kamar.
Diana tersenyum bahagia, kamar ini terlihat indah di matanya. Peralatan make up Sinta dan Rama menyatu di meja rias. Photo-photo pernikahan Rama dan Sinta terpajang rapih di dingding. Diana memperhatikan setiap sisi kamar itu. Matanya tertuju pada spray putih itu, bercak merah terlihat jelas di Spray. Diana tersenyum pada Rama dan anak bungsunya itu menatap bingung Bundanya.
"Apa kamu baru melakukannya. Apa kamu lupa dengan perkataanmu semalam" senyum tak hilang dari wajah Diana
"Maksud Bunda?" Rama menatap Diana
"Sudahlah ayo kita makan. Kamu pasti cape, Bunda sudah menyiapkan makan pagi untuk kalian" Diana memutar kursi rodanya dan menjalankan nya keluar kamar.
Rama menoleh ke arah kirinya melihat spray yang terdapat bercak darah. Rama tersadar dari lamunannya "ahh kenapa aku baru sadar, Bunda pasti berpikir tidak-tidak." Rama turun dari ranjangnya
Ketika Sinta akan keluar Diana berada di dalam kamarnya Sinta yang bingung harus bagaimana kembali masuk kamar mandi. Sinta menatap dirinya di cerimin kamar mandi, dia tidak mungkin menemui Diana dengan keadaan yang masih memakai gaun semalam. Rambutnya sangat berantakan seperti rambut singa dan polesan make up semalam luntur, wajahmya berminyak lipstiknya belepotan di pipi kanannya maskara dan airliner yang ia pakak semalan luntur menghitam di sisi dan daerah matanya wajahnya begitu berantakan, Ia mengbuskan nafasnya tercium bau alkohol dari mulutnya. apa yang aku lakukan semalam Sinta menelan ludahnya. Sinta membalikan badanya dan terpangpang jelas bundaran merah di bagian bawah bajunya. "Ahhh semakin jelek saja aku di matanya" gumam Sinta pelan.
Sinta mengularkan sedikit kepalanya dari pintu kamar mandi. Sinta menatap Rama yang turun dari rajang, Sinta menatao Rama lekat-lekat ia terlihat seperti mempertimbangkan sesuatu.
"Kak... "
"Astaga kamu mengagetkanku. Keluar lah aku mau mandi." Rama berjalan menghampiri Sinta
"Bagaimana ini aku malu, ahhh dia tidak boleh liat." Batin Sinta
"Astaga Sinta apa kamu lupa kamu sudah satu ranjang dengan Rama. Buanglah rasa malu mu itu" seseorang berbisik pada Sinta
"Baiklah. Kak Rama tolong ambilkan pembalut dalam tas sekolah ku," Sinta menatap Rama
"Ambil saja sendiri, aku sibuk." Rama berjalan ke arah lemari
"Mengertilah sedikit, kumohon berbaiklah. Aku tak bisa keluar"
Rama memutar kedua matanya, mengambil benda yang sangat asing baginya. Lalu berjalan mendekati Sinta.
"Kamilu berhutang banyak padaku." Rama memberikan benda itu pada Sinta.
Sinta tersenyum, lalu kembali memasuki kamar mandi. Rama berjalan keluar kamar, melangkah menuju dapur. Rama tersenyum memdapati Diana yang sedang menuangkan air kedalam gelas.
Bagi Rama, Diana segalanya. Harta, kesuksesan, ketampanan itu semua tak berarti baginya. Rama Seorang anak yang sangat menyayangi ibunya, dihadapan Diana Rama tak pernah menampilkan sikap dinginnya. Rama tak ingin membuat Diana sedih atau pun kecewa. selama ini Diana lah yang membuat Rama bertahan hidup.
#######
Semoga kalian suka ^^ jangan lupa vote dan komentarnya tinggalkan ^^
No copy :)