Rama dan Sinta duduk di hadapan Diana, kini mereka berada di meja makan melahap makan pagi yang telah di siapkan Diana. Tanpa semangat Sinta mengulung-gulung mie di piring, ingatan tiga bulan yang lalu terbanyang kembali.
"Benarkah, Sinta sangat merindukan mereka oma,"
Sinta meloncat-loncat kecil kegirangan
Kintan memberitahu cucunya bahwa besok Sinta harus pergi ke California untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Kintan menatap Sinta tersenyum penuh arti, Oma harap ini bertanda baik cucuku.
"Ibu, Kinanti harus kembali ke california, rawat lah dia dengan baik suatu saat nanti Kinanti membutuhkan anak ini."
Suara itu tergiang-giang di telingga Kintan.
18 tahun yang lalu Kinanti anak satu-satunya yang dimiliki Kintan menitip kan gadis kecil tanpa memberi alasn Kinanti meninggalkan ibunya. Seorang anak perempuan bewajah bule indo kini sudah besar dan dengan semangat ia memasukan barang-barang ke dalam koper.
Orang tuanya menitipkan Sinta yang berumur tiga bulan pada neneknya di indonesia. Dengan kesederhaan yang neneknya ajarkan pada Sinta membuat Sinta menjadi seorang gadis sederhana dan mandiri.
Sinta seorang anak dari keluarga terpamdang, ia tak pernah memperlihatkan kekayaannya. Semua teman di sekolah nyah mengangap Sinta seperti orang Biasa saja. Mereka tak pernah tau bahwa Kekayaan yang orang tuanya miliki sangat banyak. Selama duduk di bangku SMA Sinta selalu pergi dan pulang sekolah menaiki bus, menurutnya itu lebih aman dan ramai.
Liburan satu semester telah tiba dan Sinta pergunakan liburannya untuk pergi ke California, neneknya memberitahukan Sinta bahwa kedua orang tuanya ingin bertemu dengannya, Sinta yang saat itu sangat bahagia tanpa meminta penjelasan apapun dari nenenknya, bergegas pergi ke California.
Sesampainya di California Sinta memeluk erat kedua orang yang sangat ia rindukan dan Sinta tak henti-hentinya terseyum senang.
Tiga hari Sinta tinggal bersama kedua orang tua nyah membuatnya merasakan artinya keluarga yang lengkap, walaupun dalam hati kecilnya ia merindukan neneknya yang berada di indonesia Sinta tetap bahagia.
Suara riuh gemuruh dalam kamar membangun kan Sinta dari tidurnya. Mata coklat itu perlahan-lahan terbuka. suara berisik apa itu. Sinta beranjak dari ranjangnya lalu melangkah menuju pintu.
Rangkaian bunga dan kain-kain berwarna warni menghiasi setiap dingding. Ruangan itu kini terlihat indah orang-orang berlalu lalang di dalam rumahnya semua orang terlihat sibuk mengerjakan tugasnya masing-masing. Sinta menatap bingung ibunya yang berjalan menghampirinya.
"Mom ada apa ini? Ulang tahun Sinta udah kelewat ko Mom."
"Ini bukan acara ulang tahun, tapi acara pernikahan kamu," Kinanti tersenyum.
"What? Mom, Sinta ga salah dengerkan?" Sinta Shok atas perkataan ibunya itu.
Kinanti membawa anaknya memasuki kamar, ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Sinta tak menyangka kedatangannya kesini karena ayahnya membutuhkannya untuk menjalin kerja sama dengan Hans Group. Awalnya Sinta menentang keras pernikahan itu namun ibunya menceritakan semuanya tentang kehidupan mereka yang tak pernah Sinta ketahui dan pada akhirnya, Sinta bersedia dengan pernikahan itu.
"Baiklah jika itu membuat Sinta berguna untuk Mamah Sinta bersedia melakukannya. Dengan satu syarat Sinta tidak mau teman-teman sekolah tau ini."
"Baguslah, nenek mengajarimu menjadi anak yang baik. Mom pastikan tak ada satupun temanmu yang tau."
Sinta terdiam menatap dirinya di cermin kuas demi kuas menyentuh wajahnya. Tak terasa air matanya menestes.
"Berhentilah menangis, nanti make up mu akan luntur dan aku harus mengerjakannya dua kali. " mata hijaunya menatap Sinta tajam.
Sinta tak memperdulikan tatapan itu. Hatinya terasa sakit. Sosok orang tua yang ia dambakan kini hilang, wajah yang mereka tampilkan hanya sandiwara belaka. Sinta tak pernah menyangka, kedua orang tuanya menikah kan dirinya hanya karna bisnis yang mereka jalani, itu terlalu kejam baginya. tapi Apa boleh buat Sinta sebagai anak yang baik menuruti permintaan kedua orang tuanya itu. Dalam benaknya, Sinta tak pernah berpikir bahwa ia akan menikah secepat ini.
"Saya terima nikahnya...."
***
"Awwwww..." Sinta meringgis kesakitan kakinya seperti di injak sesuatu.
"Apa yang kamu pikirkan hah, lihat lah Bunda memperhatikanmu " Rama berbisik
Rama menyadarkan Sinta dengan keyataan yang ada. Sinta menatap ke arah Diana yang tersenyum memperhatikannya. Senyuman Diana membuat Sinta merindukan sosok seorang ibu yang ia harapkan.
Sinta tersenyum hangat, "Maafkan Sinta bunda, tugas sekolah Sinta menumpuk. bolehkan Sinta pergi ke kamar?"
Iris mata biru itu sangat tajam namun Sinta mengabaikannya dan terus menatap Diana.
"Rama akan akan menanimu belajar, iya kan Rama?" Diana menatap Rama
"Bunda, hari ini jadwal bunda ke rumah sakit dan Rama harus mengantar Bunda apa bunda lupa,"
"Aku butuh ketenangan ahh menyebalkan. Belajar bersama manusia gunung es tidak mungkin." Sinta melorotkan tubuhnya di kursi.
Mata coklatnya menelusuri setiap ruangan di apartemen, hiasan kayu di atas meja menghilang digantikan dengan bingkai photo kecil tetata rapih. Lukisan pemandangan di dekat kursi menghilang di gantikan dengan photo sepasang pengantin yang di himpit kedua orang tuannya.
Bahkan photo masa kecil Sinta dan Rama terlihat di atas meja dekat Sofa. Sinta mamandang takjub apartemennya manusia es itu mengubah setiap sisi ruangan ini menakjubkan.
Sinta menyederkan kepalanya di Sofa dan menatap layar televisi di depannya itu. Sinta tidak ikut ke rumah sakit karna perutnya masih terasa sakit efek mensturasi. Sinta tak pernah tau apa yang di alami mertuanya itu. Sinta hanya mengikuti pernikahan ini, tidak ikut campur dalam keluarga suaminya itu, menurut Sinta itu tidak penting 'urusan ku adalah urusan ku urusanmu adalah urusan mu aku tidak akan ikut campur. Pernikahan ini sudah cukup membuat ku pusing.' Sinta menerapkan itu pada hidupnya .
Orang-orang berlalu lalang membawa koper yang cukup besar. Suara operator terdengar jelas di ruangan yang sangat luas. Sebagian orang memilih untuk duduk di kursi dan berdiri. Terlihat pria berpakian kesual dan gadis berseragam mengerubuni kursi roda di hadapannya dan benerapa pria berjass hitam berdiri di dekat mereka.
"Menginap lah sehari lagi disini," ucap Sinta
"Iya. Rama masih merindukan Bunda, bunda kan baru datang masa udah pulang lagi," Ucap Rama menatap lembut ibunya.
"Iya Sinta pasti akan merindukan Bunda Diana, kalau Bunda di apartemen hawa dinginnya mengurang." Ucap Sinta penuh makna
"Kalian ini bisa aja. Jagalah keharmonisan rumah tangga kalian. Bunda senang kalian hidup bersama dengan baik." Diana memeluk kedua anaknya.
Rama dan Sinta mengantarkan Diana ke bandara. Diana pulang lebih cepat karna menurutnya urasannya telah selesai. Rama memeluk Sinta dengan erat lalu memeluk Rama juga. Rama mencium kening ibunya itu, ia akan merindukan sosok Diana.
Perlahan lahan kursi roda itu menjauh dari hadapannya.
Sinta yang masih mengenakan seragam sekolah berjalan mendahului Rama. Hari ini ia senang akhirnya sandiwara mengelikan itu berakhir.
"Sinta berhenti, tidak baik mendahului seorang lelaki." Nada dingin itu kembali.
Sinta meniup rambut yang menghalangi wajahnya dan menghentikan langkahnya, "Ahh aku lupa. di sini, ada orang yang harus di hormati melebih presiden." Sinta membalikan badannya dan berbicara cukup keras hingga membuat orang-orang memandang dirinya.
Rama berjalan menghampiri Sinta dan menarik tangan Sinta dengan kuat, Rama tak peduli dengan orang-orang yang menatapnya.
"Adik yang gak nurut sama kakaknya emang harus di gituin." bisik wanita berambut pendek
"Idihhh Kakak ganteng tapi killer, kasian kan adiknya kesakitan." Ucap gadis kecil berkuncir dua.
Rama tak memperdulikan itu dan terus berjalan mendekati jazz hitamnya. Sinta menunduk pasrah, kehidupannya kembali lagi.
#########
Semoga kalian suka ^^
Tinggalkan komentar dan votenya ^^ saran nya sangat membantu
No copyy :)