"Seharusnya kamu menuruti perintahku, kamu tuh keras kepala, di kasih tau ngeyel." Sinta mengejek nada bicara Rama.
"Hah lo pikir gue peliharaan lo yang harus nurut sama majikan nya, engakkan. Bodo, ini hidup Hidup gue. apa lo denger itu." Sinta mengutukki pintu di depannya itu. Jari telunjuknya di gerakan tepat di depan pintu berwarna coklat tua itu.
Kenop pintu itu bergerak membuat Sinta berlari ke atas sofa duduk manis menyalakan tv. Seorang pria bertubuh tinggi berdiri di ambang pintu menatap Sinta yang terduduk di sofa.
"Apa? Mau marah-marah lagi. Telinga Sinta udah kuat ko Kak." sewot Sinta
Rama menaikan alisnya, berjalan mendekati Sinta.
Ya tuhan dia benar-benar akan membunuhku. Batin Sinta
Sinta memojokan dirinya di Sofa, saat ini wajah Rama menakutkan baginya.
"Aku hanya mengambil map ini," Rama berjalan kembali menuju kamarnya.
Sinta menghela nafas lega, berbuat kasar pada Rama membuatnya takut setengah mati. Sinta berjanji tidak akan memancing monster es itu karna itu dapat membahayakan hidupnya.
Sinta terduduk di Sofa menonton televisi sudah lama ia tak melakukan hal ini. sesekali matanya melihat ke arah pintu kamar Rama. Perutnya pun berbunyi, Sinta baru inggat dari kemarin ia belum makan hanya cemilan kecil yang ia makan di sekolah.
Sinta memutuskan pergi ke dapur untuk membuat sesuatu yang bisa ia makan. Membuka kulkas besar itu.
Sinta baru sadar selama ini kulkasnya selalu terisi penuh dan berakhir di tong sampah karena membusuk di dalam kulkas. Selama empat bulan ia tinggal di sini, Sinta tak pernah memasak ataupun makan di dalam apartemennya ini. Dan hari ini ia sadar bahwa ia melakukan hal yang salah.
Malam ini Sinta membuat sayur sup dan menanak nasi, sudah lama ia tak memasak seperti ini. Celemek berwarna coklat kini melekat di tubuhnya. aroma rempah-rempah dan kaldu ayam Tercium di hidungnya. Sinta membuka tutup panci, sup itu terlihat lezat Sinta tak sabar memakan lahap hasil pasakannya itu.
Sup yang ia buat kini telah matang begitupun nasi. Sinta mematikan kompor lalu berjalan mendekati meja makan, menyiapkan peralatan makan yang akan ia pakai.
Sinta tersedak secepat mungkin ia meraih gelas yang berisi air di depannya lalu meminumnya hingga tengorokannya merasa lega.
"Apa kamu mencoba menjadi istri yang baik?" Ucap Rama yang sudah duduk di hadapan Sinta.
"Kakak mengagetkan ku tau. Aku ini lapar dan butuh makan." Sinta mencoba mengatur nafasnya.
"Hah, sejak kapan kamu butuh makanan rumah. Perduli dengan keadaan pun tidak!"
"Astaga apa sekarang Kakak marah? Seharusnya aku tadi makan di luar kalau tau jadinya seperti ini!"
Rama menghela nafas panjang lalu mengisi piringnya dengan nasi dan sup, tanpa membalas perbicaraan Sinta Rama memakan makanan nyah dengan lahap.
Biasanya Rama membalas perkataan Sinta dan belalu pergi meninggalkannha dengan kata-kata pedas. namun, kali ini Rama melahap makanan yang di buat oleh Sinta tanpa mengeluarkan kata-kata pedas nyah itu. Sinta menatap heran pria di hadapannya.
"Aku ingin kamu selalu memasak di rumah, bisakah kamu melakukan itu untuk ku." Rama menatap wajah istrinya itu
Sendok itu terhenti di udara Sinta menatap bingung pria di hadapanya itu bibirnya tertarik membentuk sebuah senyum
"Hah? Apa aku salah dengar?''
"Ekhem jawablah pertayaan ku bukan bertanya balik." Rama menyelasikan makannya.
"Sinta gadis SMA yang keras kepala dan selama ini prilaku ku buruk terhadap Kakak, dan kakak tau itu." Sinta tersenyum miring
Menghela nafas pendek " Huh.... Baiklah kali ini aku akan berbaik hati pada Kakak."
"Ternyata kamu sudah dewasa sekarang, baguslah. Aku pegang janjimu itu."
"Ah yah mulai besok kamu harus belajar matematika dan aku akan mengajarimu. Berbaik hati lah pada suami mu ini" Rama beranjak dari kursi lalu pergi meninggal Sinta sendirian dimeja makan.
Sinta tertegun dengan ucapan suaminya itu. Bagaimana bisa Rama mengetahui kelemahan Sinta dalam pelajaran matematika, melihat buku sekolahnya pun tak pernah. Rama selalu sibuk dengan pekerjaannya, Rama tak pernah peduli dengan nilai sekolah Sinta. Dan hari ini Rama akan mengajari Sinta belajar. Menurut Sinta ini seperti mimpi.
Cobaan apa lagi ini gumam Sinta
****
"Aku pusing kak... lihatlah satu soal saja aku tak bisa" Sinta Menyimpan pinsilnya.
"Kamu bisa Sinta. Sebentar lagi kamu akan ujian, kamu mau gak lulus hanya karna soal matematika yang begitu mudah."
"Aku ingin lulus kak. Ajarkan aku pelan-pelan jangan cepat seperti tadi, aku pusing melihatnya."
"Astaga kau benar-benar bodoh Sinta, berikan pensil mu. Mendekatlah biar kamu mengerti dengan angka-angka ini."
Sinta mengeserkan tubuhnya lebih dekat dengan Rama. Saat ini mereka menghabiskan hari minggunya dengan matematika. Perlahan-lahan Sinta mengerti deretan angka di bukunya itu ia pun mencoba mengerjakan soal yang di berikan Rama padanya. Sesekali ia bertanya pada Rama hingga akhirnya Sinta mengerjakan Soal itu dengan baik walaupun itu hanya lima yang benar dari dua puluh soal Sinta tetap senang karna ia bisa melakukan hal itu.
Setiap pulang sekolah kini Sinta selalu membuat makanan untuk suaminya itu. memasak dan membersihkan apartemen menjadi rutinitas nya sehari-hari.
"Kenapa aku jadi seperti ini, entahlah aku juga bingung." kedua tangannya ia simpan di pingang dan menatap seluruh apartemen yang telah rapih.
Selesai makan makan malam, Rama selalu mengajarkan Sinta matematika dan pelajaran yang akan di UN kan, di ruang tv kini tempatnya mereka belajar mengajar . Sinta tak pernah menyangka pelajaran yang Rama ajarkan padanya menempel baik di otaknya dan kini dari dua puluh soal matematika hanya sepuluh soal yang benar Sinta sangat senang dengan kemajuannya itu.
Pelajaran olahraga pun tiba, semua siswa siswi di kelas bersorak gembira terkecuali Sinta yang terlihat lesu. kali ini Sinta tak bisa menghindari jam olahraga karna ia sudah di beri peringatan oleh Pak Rahmat.
Sinta bukan gadis lemah atau tomboy, Sinta hanya cewe biasa seperti yang lainnya walaupun sedikit keras kepala Sinta adalah gadis penurut yang baik. Dengan langkah yang di paksakan Sinta melangkah menuju lapangan. Semua murid menendang bola sepak itu dengan baik, gilaran Sinta tiba. Ia menghela panjang dan menendang keras bola itu hingga keluar lapangan selalu begitu.
"Sinta cari bolanya sampe ketemu." Ucap Pak Rahmat
"Iya Pak," Sinta menunduk
"Jihan temenin gue," Sinta mengampiri Jihan yang duduk di pinggir lapangan
"Sekarang giliran gue kedepan , lo cari aja sendiri biasanya juga kan sendiri. "
"Nyebelin lo, bye honey." Sinta berjalan menuju koridor sekolah
Sinta berjalan menelusuri koridor sekolahnya, mencari-cari bola sepak yang ia tendang entah kemana. Selain matematika Sinta juga tidak menyukai pelajaran olahraga.
"Payah. Mana lagi tuh bola. Pake ngilang segala lagi." Sinta berjalan mendekati rerumputan.
Seorang lelaki berseragam rapih muncul dari koridor, menatap pungung gadis yang membelakanginya siswa itu menghampirinya gadis yang berpakaian olahraga itu.
"Hai jangan ijak rumput itu." ucap pria bermata hitam.
Namun gadis itu menghiraukan ucapanya dan terus berjalan di atas rumput.
Sinta berjalan mendekati bola yang berada dekat pot-pot bunga yang berjejer rapih. Sinta menghentikan langkahnya sesuatu yang berlendir bergerak-gerak di atas sepatunya. Sinta menelan ludahnya dan memberanikan melihat ke bawah.
"Aaaaa gue benci cacing.... " Sinta mengerak-gerakan kedua kakinya berharap cacing itu pergi dari kakinya. Keseimbangannya pun hilang tubuh Sinta terhunyung ke belakang. Sinta memejamkan matanya ia pasrah jika cacing cacing itu menghingapi tubuhnya.
Sinta membuka matanya perlahan samar-samar ia melihat wajah pria, aroma maskulin tercium di indra penciumannya Jantungnya berdegup kencang. Entah keberuntungan apa yang Sinta dapat hari ini hingga ia berada di dalam dekapan pria yang membuat pipinya merona.
Hembusan angin menerpa sebagian rambut Sinta yang tergerai bebas, Sinta menatap pangeran yang ia impikan selama ini. Matanya berbinar menatap mata teduh itu.
Gue berharap waktu berhenti.
" lo Sinta anak Ipa satu kan?" ucap pria bermata hitam itu menatap mata coklat di hadapannya.
"Mendengar suaranya saja sangat merdu I.. iya ko lo ada disini bukan di kelas lo" Sinta mencoba bersikap biasa, ia tidak boleh membuat pria di depannya ini memandangnya aneh. dengan bantuan siswa itu Sinta membenarkan posisinya.
"Gue mau ke kantin, eh di perjalanan gue liat siswi yang seenaknya ijak rumput " Ucap pria tinggi itu dan membenarkan tubuhnya.
"Eh Sorry, gue gak sengaja ko eee Rahwana gue mau ke lapagan dulu deh" Sinta tersenyum semanis mungkin
"Seneng gue ketemu lo lagi, ohh iya gue lupa kalau gue juga mau ke kantin."
Di koridor sekolah Rahwana dan Sinta berjalan berlainan arah. Seulas senyum terlihat di keduanya. Sinta menoleh kebelakang melihat pungung Rahwana yang mulai menjauhinya lalu kembali menatap ke arah depan berjalan menuju lapangan.
Kejadian hari ini gak akan gue lupain.
##########
Semoga kalian suka ^^ komentar dan vote nya jangan lupa ^^ sarannya sangat berarti :)
No copy^^