"Rambut kamu kok bau super pel gini Cil? Kamu gak salah pake shampoo kan tadi pagi?" tanya mamanya ketika mencium bau rambut sang anak.
Sisil menarik helaian rambutnya lalu mencium sendiri rambutnya, hidungnya langsung mengerut. Bau cairan pembersih lantai itu melekat tajam di rambutnya.
"Ini gara-gara Regas!" batin Sisil.
Dia kemudian teringat kejadian di toilet di mana ia terjatuh bersama regas ke lantai yang basah.
"Eeung... Anu mah, Tadi...Sisil di kerjain teman-teman, dikiranya Sisil lagi ulang tahun. Mereka numpahin air pel di keplaa Sisil." cerita Sisil yang jelas itu adalah sebuah drama kebohongannya.
"Bener? Kamu gak di bully kan sama teman-teman kamu?" curiga sang mama.
Hah? Kecurigaan apa lagi, ini tuhan!
Kecemasan sang mama sepertinya sangat berlebihan. Sisil menggeleng keras menanggapi itu.
"Enggak lah!" serunya.
"Enak aja di bully, gak ada yang berani sama pricilla di sekolah. Gak tau apa pricilla jago berantem. Kalau ada yang macem-macem, langsung pricilla tonjok, biar mampus." ucap Sisil menatap mamanya dengan delikan tajam.
"Mama mikirnya aku selemah itu. Enggak!"
Yunita mengangguk paham. Sisil memang anaknya suka galak. "ya tapi bagaimanapun mama cemas kalau kamu gak pulang."
"Ini buktinya Sisil pulang kan?" lelah Sisil.
"Mama kenapa sih?" tanya Sisil karena mamanya dari tadi mengucapkan kata bunuh diri, di culik dan bullying. "Aneh tau."
"Mama khawatir karena kamu belum pulang. Tadi pagi kamu juga pergi gak pamit sama mama. Masih marah ya sama mama?" tanya Yunita menatap dalam mata anaknya.
Sisil menghela nafas, dia membalas tatapan mamanya dengan ekspresi lesu.
Yunita meraut sedih, dia sangat bersalah karena membuat Putrinya ngambek. Sampai tidak di ajak bicara oleh Sisil.
"Sisil gak marah sama mama. Cuma kesal dikit. Semalam mama nyita laptop aku. Mama tau kan gak bisa nulis tanpa laptop. Mama gak mikir gimana nasib para pembaca aku, kalau aku gak update sehari aja. Bisa-bisa mereka yang bunuh diri karena Sisil ngegantung mereka."
"Hah? Bisa gitu?" mata Yunita melotot pura-pura kaget.
Sisil mengangguk.
"Iya makanya mama balikin laptop aku. Sisil janji, setelah nulis Sisil pasti langsung tidur." ucap sisil berjanji sambil membentuk tanda piss dengan jari.
"Kalau gak selesai mau dilanjutin sampai pagi?" tanya mama membuat Sisil tak tau harus menjawab apa.
"Ya tergantung, kalau idenya mengalir deras kayak air terjun, Sisil harus selesai baru bisa istirahat."
"Emang sebagus itu cerita yang kamu tulis? sampai kamu gak mikirin kesehatan kamu? Tubuh kamu butuh istirahat juga."
"Iya tapi mah,Sisil gak capek kok sumpah."
Yunita mendelik. "Emang sebagus apa sih ceritanya?"
"Yang jelas cerita Sisil mengandung sesuatu yang membuat pembaca susah move on." jawab Sisil dengan senyum bangga.
"Apa tuh?"
"Aku jelasin, mama juga gak ngerti. Bukan dunia mama. Dunia mama tuh nyapu, masak, gosipin orang."
Yunita berdecak. "Sembarangan, mama gak suka gosipin orang, ya."
"Ngeles aja si mama. Padahal tiap hari nongkrong ke rumah bu desi, itu bicarain apa emangnya? Kalau gak ngomongin perselingkuhan tetangga sebelah."
"Heh kamu, ssst...!" Yunita menaruh telunjuk di bibir.
"Jangan kenceng-kenceng ngomongnya nanti Pak Tomi tetangga kita denger loh." tegur Yunita.
Bisa malu mereka kalau sampai terdengar oleh pak Tomi, mengingat rumah mereka saling berdempetan di samping, suara sedikit saja bisa sampai ke sebelah.
"Biarin," ejek Sisil
Yunita melototkan tatapan tajam ke putrinya. "Gak boleh gitu."
Kemudian wanita yang memakai daster ungu itu tanpa sengaja menatap jaket yang di kenakan putrinya.
"Eh? Ini jaket siapa yang kamu pake?"tanya sang mama membuat sisil sedikit terhenyak. Mata Sisil langsung bergerak ke sudut mencari jawaban.
"ah! Jaket teman mah." ujar Sisil kemudian melepas jaket merah yang ia kenakan.
"Siapa?" tanya mama sangat penasaran. Apalagi Jaket terlihat mahal di matanya.
"Ada, temen." ucap sisil melipat jaket itu di lengannya.
"Kalau mama perhatiin ini jaket cowok." tebak Yunita melihat detail model jaket di tangan Sisil. "Punya siapa? Ayo bilang sama mama."
"Punya temen kelas," jawab Sisil lagi, dengan nada suara santai. Padahal dalam hati gelisah setengah mati.
Entah kenapa dia gugup sendiri mengatakannya. Takut sang mama bertanya lebih jauh padahal hubungannya dengan si pemilik jaket tidak ada apa-apa.
Mama Yunita akhirnya mengangguk walaupun ia tau Sisil sedang menyembunyikan sesuatu. Dia bisa menebak itu dari gerak-gerik Sisil yang gelagapan ketika di tanya.
"Besok kamu balikin ya, di cuci dulu. Keliatannya bagus ini..." Yunita menyentuh jaket itu, merasakan tekstur bahan kain jaket yang di pegang Sisil. Matanya bertemu dengan iris sisil. "Pasti mahal."
Sisil mengangguk.
"Hm, iya mah. Besok Sisil balikin." ucapnya sedikit tersenyum.
"Ayo masuk. Mama udah masak makanan enak buat kamu." ajak Yunita kemudian menarik bahu Sisil
Mereka akhirnya memasuki rumah mereka, sambil mengobrol kecil.
"Eh mah, tetangga kita yang di sebelah itu baru pindah?"
Yunita terdiam selama berapa detik, sebelum akhirnya mengerti dengan pertanyaan sang anak.
"Oh itu, Iya Cil. mereka keluarganya pak wanto, baru pindah dari Singapura kemarin." jelas Yunita benar-benar update berita terkini soal tetangga.
Mungkin hampir seluruh tetangga kompleks, semua Yunita ketahui.
"Singapura?"
"Iya Singapura." ulang Sang mama.
Sisil mendadak berhenti di ruang tamu, entah kenapa mendengar Singapura dia langsung teringat dengan Regas anak baru di kelasnya sekaligus pemilik jaket yang ia pegang.
"Itu bukannya rumah pak wanto ya mah, kok mereka yang tinggalin?" tanya Sisil mengejar mamanya.
"Pak wanto sudah menjual rumahnya itu dari lama sama mereka. Pak wanto kan udah gak tinggal di Indo lagi Cil. Kebetulan keluarga yang di Singapura itu, sekarang tinggal di indo. Ya rumahnya di tempatin lah sama mereka."
"Mama tau dari mana tentang keluarga pak wanto?"
"Hasil mengumpulkan informasi dari tetangga-tetangga lain. " jawab Yunita mengerlingkan matanya membuat Sisil menggeleng tak percaya.
"Sisil curiga mama ikutan grup lambe turah."
"Yeei, mama gak ikutan!" delik Yunita
"Tetangga kita di sebelah itu punya anak cowok kaga?" tanya sisil membuat sang mama menggeleng.
"Mama belum tau kalau soal itu."
Sisil menggut-manggut mengerti. Dia tidak akan kepo lagi mengenai tetangganya itu.
"Udah sana kamu ke kamar kamu gih,jangan lupa mandi, abis ganti baju. Nanti kamu masuk angin." ucap mamanya sangat perhatian.
"Mama udah kenalan sama tetangga kita?" tanya Sisil lagi.
Biasanya mama paling heboh jika ada yang baru di sekitar rumahnya.
"Belum, tapi mama lagi buat kue untuk di kasih ke tetangga." jawab sang mama sambil tersenyum penuh maksud, wajahnya berseri-seri.
"Mama gak usah repot-repot atuh, cukup di sapa aja tetangganya mah." kata Sisil di akhiri helaan nafas.
Mamanya ini memang tipikal orang yang kalau apa-apa pasti di resmiin dulu.
"Ish, gak bisa gitu dong sayang. " Yunita menampar pelan bahu putrinya membuat Sisil menatapnya sengit.
"Sebagai tetangga yang baik, kita harus menjalin silahturahmi dengan tetangga-tetangga yang lain, contoh ketika ada tetangga baru. Kita harus memberikan makanan atau souvenir sebagai simbolis kekeluargaan Cil. Ih kamu ini..."
"Souvenir? dikiranya lagi acara nikahan pake souvenir segala." Sisil memutar bola matanya tak tau lagi dengan sikap mamanya ini.
"Sebagai bentuk pertetanggaan, Cil. Gimana sih kamu."
Sisil lagi-lagi menghela nafas, mamanya ini sudah gila kayaknya.
"Harusnya kan tetangga kita yang ngasih makanan, bukannya mama."
"Loh kenapa? di drama korea yang mama nonton tetangganya baru pindahan di kasih makanan sama dia."
"Mana ada mah, dimana-mana tradisi mereka saat ada mereka pindahan pasti dibagiin kue tteok. Gak ada tetangga yang ngasih ke tetangga yang lama, mama nih kebalik otaknya, heran deh." Sisil menggeleng. Mamanya ini kebanyakan nonton drakor, jadinya begini.
"Ya udah, kan mama lain sendiri, gak semua harus di ikutin kan."
"Siapa juga yang minta mama ngikutin kebiasaan mereka. Mama orang indonesia apa orang korea sih!" sebal Sisil.
"Bentar lagi jadi warga korea nih mama. Tinggal tunggu oppa lee dong suk jemput mama." sahut Yunita dengan pedenya.
"Oh jadi mama selingkuh. Sisil laporin ke papa, mau bilang kalau mama ganjen sama oppa-oppa korea." ancam Sisil membuat mamanya langsung merajuk.
"Eh jangan dong ,Cil. Masa kamu tega sama mama. Nanti papamu beneran cembokur lagi. Bisa dicerai mama kalau sampai tau." ujar sang mama.
Sudah sisil pastikan drama kecemasan tetang bunuh diri, di culik dan juga bully semuanya itu karena mama habis nonton drama korea. Tau lah ibu-ibu kalau nonton pasti dibawa-bawa. Syukurlah mamanya gak pecinta drama indosiar. Bisa gila Sisil dibikinnya.
"Lagian mama, pake ngomong mau jadi orang korea. Muka mama gak cocok jadi orang korea!"
"Heh, kamu gak mengakui kalau mama kamu ini cantik?"
"Cantik iya, tapi gak ada mirip-miripnya sama orang korea, jadi gak usah mimpi, Mah." Sisil menggeleng enek.
"Terserah kamu, yang penting mama pernah di puji mirip song haek yo wlee." ejek yunita membuat Sisil memutar bola matanya sangat malas.
"Ya ampun bukan mama gue." gumam Sisil.
Yunita yang mendengar itu, mendelikkan tatapan kesal ke putrinya.
"Iya kamu juga bukan anak mama!"
"Udah sana. Kalau mau debat nanti pas nonton bareng sama mama. Sana masuk. Mama mau selesaiin kuenya dulu." ucap Yunita sambil mendorong bahu putrinya naik ke atas.
"Siapa juga yang ngajakin debat." celetuk Sisil, membiarkan sang mama membawanya sampai di depan tangga.
"Naik sana." titah mamanya, meminta putrinya menaiki tangga.
"Iya."
Lantas Sisil mulai menaiki tangga dengan malas. Baru dua langkah sisil kembali berbalik.
"Emang mama bikin kue apaan sih?" tanya Sisil membuat Yunita yang akan memasuki dapur kembali menoleh melihat Sisil yang sedang berdiri memegang birai tangga. .
Yunita tersenyum sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Membuat Sisil mentapnya curiga. "Menurut kamu mama buat kue apa?"
"Hm, jangan-jangan mama buat ke tteok!" tebak Sisil diakhiri helaan nafas. "Udah sisil bilangin Mama gak usah ikut-ikut drama korea!"
"Enggak dong, mama bikin kue khas indonesia, ya mirip lah dengan kue korea. Bahannya juga sama." ucap mamanya lagi sambil tersenyum.
"Sama aja itu hadeuh!" capek Sisil jadinya.
"Kamu mau tau nggak mama buat kue apa?"
"Apa?" tanya sisil dengan nada sangat lelah.
"Onde-onde." jawab mamanya sambil tersenyum.
"Onde-onde? Kue apaan itu, baru dengar Sisil."
"Itu loh, bahasa sulawesinya Onde-onde, bahasa jawanya klepon bahasa korea tteok." jawab yunita tertawa sambil bertepuk tangan.
Sisil mendesah panjang sembari berbalik. Gadis itu berlalu meninggalkan sang mama di bawah susah kalau harus berhadapan dengan orang lagi kena virus drakor. Ada aja tingkahnya.
"Nanti mama nyusul kek kamar kamu ya Cil, tungguin mama."
BRAK!
Suara bantingan pintu membuat Yunita terkikik. Sisil pasti sangat kesal dengan kelakuan sang mama yang terlalu fanatik sama korea itu.
****
"Mah, udah belum?" tanya sisil.
Yunita diam, bibirnya tertutup rapat, sementara raut wajahnya begitu serius. Tangan kanannya yang memegang brush make up, memoles pipi Sisil yang putih dengan sedikit merah pipi.
Meja rias Sisil sekarang penuh dengan segala macam peralatan make up, dari yang Sisil mengerti kegunaannya sampai yang sisil tidak paham semuanya terhambur di depannya. Sisil membiarkan saja sang mama menjadikan wajahnya kelinci percobaan.
Sudah hampir setengah jam, Yunita berkutat merias wajah putrinya. Sampai Sisil sedari tadi bergerak gelisah, dan berkali-kali mengeluh.
"Udah belum mah, muka sisil gatel."
Sisil tidak mengerti lagi dengan kelakuan mamanya lagi.
"Belum Cil, jangan banyak gerak atuh, nanti make upnya cemong." ujar Yunita memukul tangan Sisil dengan Brush karena Sisil terus menggosok hidungnya. "Tangannya turunin!"
Sisil menghela nafas panjang, memilih pasrah saja, padahal dari tadi dia ingin menggaruk mukanya.
"Sisil di Make up kayak gini, cuma di rumah gak kemana-mana juga,mamaku sayang." celetuk Sisil.
Yunita meletakkan brush di atas meja, kemudian menatap wajah sisil yang terlihat sangat cantik. Dia memperhatikan apakah ada yang kurang atau sudah semuanya. Dia kemudian menangkup pipi putrinya.
"Siapa bilang mama nyuruh kamu di rumah. Kamu kan harus nganterin kue onde-onde buat tetangga baru kita." ujar sang sama.
"Haah!!" kaget sisil.
Gadis itu membuka matanya dan pertama kali ia lihat adalah pantulan wajahnya yang sudah di rias dengan cantik oleh sang mama.
"Jadi mama dandanin Sisil, untuk di suruh ngantarin kue ke tetangga baru kita?!"
"Iya," Jawab Yunita dengan santainya mengangguk.
"Mama, makin lama makin aneh aja tingkahnya. Masa cuma ngaterin kue doang harus dandan cantik kayak gini, sisil gak mau ah."
Ada-ada saja mamanya ini. Sisil gak tau mamanya ini kesambet setan apa sehingga tingkahnya dari tadi aneh-aneh.
"Yakin kamu gak mau?"
"Iya pricilla gak mau!" terang Sisil dengan suara keras.
"Ya udah kalau gitu, gak usah berharap laptopnya mama balikin. Mama gak peduli sama pembaca kamu yang katanya kamu gantungin itu, mama gak peduli kamu ngambek, mama gak akan peduli lagi!" pungkas Yunita.
"MAMA!" pekik Sisil merasa tidak adil. Dia geram karena mamanya bertingkah seperti anak kecil dan Sisil sangat tidak mood untuk meladeni kelakuan mamanya.
"Makanya nurut sama mama."
"Sisil mau nganterin kuenya. tapi apa harus dandan menor kayak gini? Sisil gak suka mah, sisil malu." ucap Sisil merasakan dadanya panas dan sesak, dia ingin menangis saja rasanya.
"Enak aja dibilang menor, cantik kok." ucap mamanya tanpa peduli perasaan Sisil.
"Tetap aja, Sisil gak suka mah. Bisa gak Sisil hapus aja make upnya." omel Sisil.
"Bisa, setelah kamu hapus nama kamu di kartu keluarga mama." kata Yunita tersenyum sampai kedua pipinya tertarik.
"Aaaa mama, nyebelin!"
Tak peduli dengan Sisil yang mulai merengek, wanita itu malah berdiri dan membuka lemari Sisil. Wanita paru baya itu mengeluarkan gaun berwarna peach yang baru sebulan lalu di belikan untuk Sisil.
"Ini pake."
Sisil melototkan matanya lagi.
"Mah!"
Apalagi ini? Mamanya menyuruh dirinya memakai gaun cantik, hanya untuk mengantar kue onde-onde mau di taruh di mana muka sisil sekarang thor?
"Untuk menyambut kedatangan tetangga baru kamu harus berpenampilan cantik. Kamu harus menunjukkan kesan baik pada mereka." ucap Yunita menyodorkan gaun cantik itu pada Sisil.
"Kenapa bukan mama aja sih yang bawa kuenya, kenapa harus Sisil, kenapa mah?"
"Udah gak usah banyak tanya, cepetan kamu pake bajunya." Yunita menarik tangan Sisil agar gadis itu berdiri.
"Ya Tuhan! Penderitaan apa lagi ini!" teriak Sisil terpaksa mengganti baju tidurnya dengan gaun itu.