Sebuah Mobil Angkot berhenti tepat di depan rumah dengan halaman yang cukup luas. Beberapa detik berhenti, seorang gadis memakai jaket merah turun setelah iya membayar ongkos pada supir.
Gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Sisil. Gadis yang dikira sudah melakukan bunuh diri dan di culik oleh penjahat. Karena sudah hampir magrib baru tiba di rumah.
Kaki Sisil yang memaki sneaker putih itu berjalan santai mendekati pagar rumahnya yang terbuat dari besi.
"Barangnya tolong diangkut ke dalam ya pak." ujar seorang wanita yang berjarak tak jauh di samping rumah Sisil.
"Iya yang itu. Taruh di ruang tengah aja. Rumahnya masih berantakan, jadi biar barangnya bawa ke dalam dulu. "
"Baik nyonya!"
Kaki Sisil terhenti secara reflek, ketika Pendengarannya merespon cepat suara yang tak jauh di sebelahnya. Tanpa bisa ia tahan Sisil menyerongkan badan ke arah samping dengan tatapan penasaran.
Tatapannya fokus pada dua mobil pajero hitam yang terparkir di sana. Dia melihat seorang wanita berdiri di belakang bagasi salah satu mobil yang terbuka.
Wanita itu menurunkan koper sambil mengarahkan beberapa orang untuk mengangkut barang-barangnya.
Mata sisil menyipit, seiring ia memperjelas tatapannya.
seperti yang ia duga, rumah mewah yang sudah lama kosong di sebelah rumahnya ini akhirnya ditinggali lagi. Dan itu artinya Sisil punya tentangga baru.
Sisil terus memperhatikan mereka, dengan kerutan di dahi.
Pandangannya fokus pada wanita tinggi yang memakai mantel hitam di sana, rambut wanita itu di sanggul rapi, di lihat dari penampilannya yang amat fashionable, Sudah jelas wanita itu bukan wanita biasa. Dia pasti berasal dari kalangan orang kaya.
Tiba-tiba saja wanita itu berbalik dan menyadari Sisil sedang memperhatikannya. Wanita itu tersenyum ramah ke pada Sisil.
Sisil terkesiap, bibirnya tersenyum tipis dan dengan cepat iya berbalik, kemudian buru-buru membuka pagar rumahnya. Dia sangat malu karena kepergok memperhatikan wanita itu.
****
"Regas!!!" teriak wanita paru baya itu melongokkan kepalanya ke dalam mobil.
Regas pun yang dikagetkan sedikit tersentak hingga ponsel di tangannya hampir terjatuh.
"Apa sih mah?! Kaget tau. Kalau Regas kena serangan jantung mama mau tanggung jawab?"
"Gak usah banyak drama, turun." perintah Wanita itu, menjewer telinga Regas. Membuat cowok itu meringis kecil.
"Kamu bukannya bantuin mama, malah asik main hp dalam mobil. Cepat turun!"
Regas meraut jengkel lalu mendelikkan tatapan kesal ke pada mamanya.
"Regas lagi ngegame." ucapnya seperti tak punya dosa. Dia dengan santainya melanjutkan permainannya di depan sang mama.
"Egaaaass!!!" kesal Swedia lalu membuka pintu mobil dengan keras.
Regas menggosok telinga karena mendengar suara kencang sang mama. Regas memang tipe cowok yang nyebelin dan sangat-sangat kepala batu, siapapun yang berada di dekatnya harus siap-siap emosi.
"Beneran gak mau turun?" tanya mamanya yang langsung di respon dengan anggukan santai oleh cowok itu.
"Berhenti main game Regas. Cepetan ih! Bantuin mama sama pak Mamat pindahin barang." titah Swedia kesal dengan putranya itu.
"Regas, lagi ngegame, mom." kata Regas dengan malas. "Nanggung, ini."
"Lagian pak mamat, bang Fredy dan bang Harun mereka bertiga cukup ngangkut barang-barang kita. Emang sebanyak apa sih barang-barang itu, sampai harus ngelibatin Regas." tutur cowok itu gak ada rasa pedulinya.
Wanita yang menyanggul rambutnya itu mendesah kasar. Harus dengan cara apa lagi agar putranya ini bisa menurut padanya. Apa mungkin lebih baik ia mengirim putranya ini ke panti asuhan.
"Regas dengerin Mama." Swedia bertolak pinggang sambil menajamkan matanya.
"Iya ini Regas dengerin." sahut cowok itu tanpa menatap sang mama. Karena tatapannya sedari tadi di layar ponselnya.
"Boleh gak sih, kalau orang tua ngomong itu di tatap, di dengerin." ucap Swedia dengan penuh tekanan.
"Eum." gumam Regas tak tau diri.
Berapa detik kemudian Regas tidak mendengar suara Swedia. Lantas ia melirikkan matanya sebentar, kemudian menghela nafas melihat mamanya menatap serius dirinya.
"Apa sih mah?!" Ucap Regas juga lelah di omeli dari tadi.
"Barang-barang di mobil masih banyak loh Regas, belum lagi yang di rumah lama, kan harus di pindahin ke sini semua. Mama minta bantu kamu biar cepat selesainya. Biar kita bisa istirahat. Mama mau keluar lagi ngambil barang di rumah lama, sekalian jemput papa di bandara. Kamu ngerti dong sedikit."
"Iya ngerti mah, tapi ini dikit lagi, kalau gak diselesaiin bisa kalah, Regas."
Swedia menarik nafas, kemudian dengan kesal memukul bahu Regas.
"Turun atau mama lempar ponsel kamu ke jalan raya!" titah wanita bermantel hitam itu berubah garang.
Regas langsung menatap sang mama seraya mendesis, dengan terpaksa regas menyudahi permainannya. Cowok itu kemudian keluar dari mobil sambil memeluk tas ranselnya.
"Galak banget jadi orang tua." celetuk Regas sudah berdiri di depan sang mama. Bibirnya manyun lima senti. Tapi dia sangat lucu seperti itu.
"Kamu sih bikin mama emosi." Swedia menampar lengan Regas dengan sebal.
"Kan regas udah bilang lagi main game." jelas cowok itu tak henti-hentinya menyahuti sang mama.
"Lebih pentingan mana mama sama game?"
"Game!" jawab Regas dengan lantang seperti tidak memiliki dosa sama sekali.
"Kurang ajar ya kamu. Mau jadi anak durhaka, gitu ngomongnya." Swedia mencubit lengan Regas walau tak berefek apa-apa bagi cowok itu. Tubuhnya sudah kebal dengan pukul-pukulan sang mama.
"Regas main game, itu ngasilin duit mah."
Swedia menghela nafas panjang, tak tau harus bagaimana menghadapi sikap keras sang anak.
"Ngasilin duit dari mana. Kamu main game pake kuota. Kamu gak ngasilin namanya tapi ngabisin uang! Gak guna Regas, gak guna kamu main begitu. Yang lebih baik itu kamu fokus belajar. Jadi anak yang pinter. Biar bisa jadi pengusaha sukses kayak papa mu."
Regas berdecak sembari memasang tas ranselnya di bahu. Dia kemudian memasukkan kedua tangannya di saku celana panjangnya.
"Pengusaha sukses mana yang balik indonesia karena sahamnya jatuh. Dan mulai bisnis dari nol lagi." cibir Regas membicarakan sang ayah. Lagi pula apa yang dikatakannya tidak salah.
"Egas!" pekik Swedia, tangannya. Memukul p****t Regas.
"Mama...gak usah ngegas deh, gak perlu mama teriak-teriak, pake pukul p****t Regas segala. Regas denger kok. Telinga Regas masih normal nih, " Regas memperlihatkan telinganya.
"Lagian kamu dari tadi bikin mama kesal. Mama laporin ke papa, biar kapok nanti hp kamu di sita sama papa." Swedia ingin menangis, suaranya tiba-tiba menciut seperti tikus.
"Idih, gak asik, main ngaduh."
"Udah sana ah egas." Swedia mendorong putranya agar pergi.
Saat cowok itu sedang memutari mobil, tiba-tiba cowok itu berbalik.
"Kenapa Regas gak nginap di rumah Grandma aja sih? Kan regas bisa datang kalau rumahnya udah rapi!" teriaknya.
"Maksud kamu...kamu gak mau bantuin mama beresin rumah? Kamu mau di rumah grandma aja gitu sampai rumahnya rapi, iya? enak bener hidup kamu." balas Swedia sambil bertolak pinggang.
Dia tau Regas itu anaknya sangat pemalas, sebenarnya Swedia bisa meminta banyak orang membantu, namun ini kesempatan biar Regas gak jadi anak pemalas lagi.
"Ya udah sewa orang aja buat rapihin rumah, katanya orang kaya masa perkerjaan gini aku yang kerjain. Di mana letak kesultanan mama?" balas cowok itu lagi, membuat Swedia merunduk mengambil batu dan berniat melemparkannya ke Regas.
"Masuk Gak? simpan tas kamu. Abis itu kamu ke sini! Jangan kebanyakan ngoceh." perintah sang mama dengan tatapan mengancam.
Tak lama pak mamat dan dua rekannya keluar dari rumah, mereka berjalan mendekati Regas.
"Tuan muda di dalam aja, biar pak mamat yang beresin." ujar laki-laki itu menepuk bahu Regas.
"Iya tenang aja mas Regas, saya sama Harun bisa kok. Mas Regas kedalam aja istirahat." kata Fredy lalu mengajak Harun mendekati bagasi mobil.
Regas memeletkan lidah ke sang mama. Ternyata pak mamat dan kedua asistennya ini lebih pengertian dari pada mamanya sendiri.
"Makasih ya pak mamat, Bang Harun,bang Fredy. Kalian pengertian banget. Tau aja kalau Regas capek pulang dari sekolah." cengir Regas melirik mamanya dengan tatapan jahil.
"Iya sama-sama tuan muda, jangan khawatir pak mamat yang beresin semuanya." ujar pak mamat lagi.
lelaki yang penuh keriput di wajahnya itu yang sudah menjadi supir keluarganya itu selama bertahun-tahun.
Regas tersenyum kemenangan, dia sudah akan berbalik tapi Swedia dengan lantang berteriak membuat Regas menghentikan langkahnya dan menoleh ke pada mamanya.
"Berhenti!"
Swedia mendekati keduanya dengan tegas menatap Regas.
"Pak mamat!" kode Swedia dengan cepat.
"Iya bu."
"Barang di mobil yang satunya masih banyak kan. Kalau udah selesai di mobil ini. Pak mamat istirahat aja. Mobil satunya biar Regas yang ngangkut semuanya. Pak mamat, Fredy sama Harun bantuin saya ke rumah lama." tutur wanita itu membuat mata Regas melotot tak santai.
"Mah, gak bisa gitu dong masa Regas sendiri. Regas gak mau!" ucap Regas tak terima. Dia mulai kesal sendiri karena mamanya menyudutkan dirinya. "Dikiranya Regas pembantu, gak bener nih mama."
"Eh-eh! Gak jadi, gak jadi. Regas
Regas menatap tiga orang yang sedang berdiri di bagasi mobil mamanya. Dan Swedia langsung bisa menangkap itu.
"Fredy sama Harun jangan mau di kasih perintah sama Regas. Atau gini deh, kalian bertiga ikut saya. Kita istirahat sebentar di dalam, sambil minum teh. Barang-barang biar anak saya yang beresin."
"MAAAH!!!" teriak Regas dengan suara besarnya.
"Gak ada mama-mama. Kamu bukan anak saya. Kamu aja lebih pilih game dari pada mama kamu." ucap Swedia membuat Regas kesal setengah mati.
Regas menghela nafas kasar. ingin rasanya membanting tas di tangannya. "Mama tau gak sih, Regas tuh capek."
"Capek main game? Iya mama, tau." kata Swedia mengangguk sambil bersedekap.
"Ayo Fred, Harun sama pak Mamat. Jangan ada yang bantuin Regas ya." ajak Swedia kemudian berjalan dengan anggun melewati Regas, namun dengan cepat di tahan oleh Regas.
"Mah, mah, gak bisa gitu lah. Masa regas di suruh ngangkut sendiri. Regas anak mama atau pembantu mama sih."
"Dua-duanya." sengit sang mama lalu dengan tanpa peduli lagi wanita itu berjalan memasuki halaman rumahnya.
Regas menoleh menatap tiga orang di depannya. Regas memasang ekspresi kasihan berusaha mencari pembelaan. Namun tak ada yang bisa dilakukan pak mamat, harun dan juga Fredy.
Tiga lelaki yang saling berbisik itu dengan berat hati melangkahkan kakinya. Mereka bertiga berjalan masuk ke dalam rumah bersama Swedia meninggalkan Regas di depan pagar.
"Wahh, gue gak percaya ini. Mereka gak tau apa gue capek habis bersihin toilet sekolah sendirian!"
Prang!
Regas menendang pagar besi hingga berbunyi.
"Regas!" teriak Swedia membuat cowok itu menggeram.
"IYAAA!"
Mau tak mau cowok itu terpaksa bolak balik ke dalam rumah memindahkan semua barang di dalam mobilnya.
****
"Mama ngapain di sini?" tanya Sisil melihat sang mama mondar mandir di teras rumahnya.
Sisil mendekati sang mama dengan tatapan bingung.
"Al, cicil udah pulang, tante tutup ya telponnya, assalamualaikum." ucap Yunita. Kemudian menyambut Sisil.
"Mama nelpon siapa?"
Yunita tidak menjawab putrinya wanita itu malah memeluk Sisil.
"Ya ampun! Kamu dari mana aja? kenapa jam segini baru pulang? Dari tadi mama cemas nungguin kamu. Mama pikir kamu di culik." ujar Yunita melepaskan pelukannya.
"Kamu enggak apa-apa kan nak? Kamu masih marah ya sama mama. Mama minta maaf deh."
Sisil kebingungan sendiri melihat tingkah mamanya. Dia membiarkan saja mamanya memeluk dan mencium pipinya.
"Anak mama...Ya Allah...mama khawatir banget...mama sampai mikir kamu bunuh diri." ucap Yunita
Yunita menangkup pipi putrinya, memastikan di depannya ini memang Sisil putri kesayangannya.
Sisil melepaskan tangan mamanya yang meraup pipinya. "Ish, mama kenapa sih, dari tadi ngomong aneh, masa doain anaknya yang gak baik?"
Entah apa yang sedang terjadi dengan mamanya ini. Sisil melihat mamanya sedang tidak beres pikirannya.
"Ya kamu...kenapa baru pulang sekarang? Dari tadi mama telponin hp kamu gak aktif. Mama sampai nelpon Alena nanyain kamu, tapi dia bilang kamu gak pulang bareng sama dia. Mama takut tau."
"Ponsel Sisil baterainya habis mah. Mama jangan berlebihan deh, apaan mikir aku bunuh diri." ujar Sisil tidak mengerti lagi dengan pikiran mamanya.
"Mama pikir kamu marah sama mama, karena laptop kamu mama sita, mama pikir kamu frustasi dan merasa tertekan sampai kepengen bunuh diri. Anak jaman sekarang kan kebanyak gitu."
"Sisil gak gitu."
"Di drama mama nonton-—"
"Mah jangan samain drama sama dunia nyata."
"Bukannya gitu, tapi kan namanya orang tua khwatir, cemas anaknya takut dia kenapa-napa. wajar mama berpikiran seperti itu. "
Sisil menatap lelah mamanya yang dengan sedih.
"Sebodoh-bodohnya Sisil, seterpuruk-puruknya Sisil karena masalah. Gak pernah sisil bepikir buat bunuh diri. Dosa mah. Lagian Sisil takut bunuh diri."
"Coba jelasin ke mama kenapa baru pulang? Kamu ngapain di sekolah sampai jam segini?" tanya sang mama terus memeriksa kondisi tubuh Sisil.
"Sisil di sekolah mah ada kegiatan, tadi mampir di toko buku, nyari kamus bahasa indonesia." bohong Sisil.
Kalau dia terus terang soal di hukum bersihin toilet, bisa panjang urusannya, makanya Sisil memilih untuk berbohong kali ini. Sekali-kali berbohong demi kebaikan gak papa.
Yunita menyipitkan matanya, dia merasa curiga dengan Sisil, wanita itu mendekatkan kepala mencari kebenaran di mata sisil. Angin sore yang sangat kencang membuat rambut sisil beterbangan.
Yunita mengerutkan hidung ketika ada aroma yang menyengat hidungnya.
"Eh bentar-bentar." Yunita mendekatkan kepalanya lebih dekat mengendus-ngendus rambut Sisil. Yunita sepertinya mencium bau familiar dan itu berasal dari rambut Sisil.
"Rambut kamu kok bau super pel gini Cil? Kamu gak salah pake shampoo kan tadi pagi?" tanya mamanya.
Sisil mencium sendiri rambutnya, dan memang bau cairan pembersih lantai itu melekat tajam di rambutnya. Sisil langsung teringat kejadian di toilet di mana ia terjatuh bersama regas ke lantai yang basah.