****
Kaki jenjang itu berjalan keluar dari kamar mandi yang baru saja terbuka.
Alena bersenandung kecil, menghibur diri, hampir satu jam ia berlama-lama di dalam ruangan lembab itu, Alena bahkan sempat tertidur di bathtub. Gadis itu berendam sambil mendengarkan musik relaksasi, Alena memang berniat menenangkan pikirannya. Namun dia tidak kepikiran bisa sampai tertidur, dan hampir ternggelam di bathtub.
Tapi setidaknya itu yang bisa membuat perasaan gelisah di hatinya berangsur hilang dengan berendam air hangat.
Alena berjalan mendekati kasurnya Sambil menggosok rambut yang masih basah menggunakan handuk. Gadis itu sudah mengganti pakaiannya dengan kaos biru overzise dan juga celana pendek warna putih.
Alena duduk di pinggiran kasur. Menarik laci nakas dan mengeluar hair drayer. Handuk tidak akan cukup mengeringkan rambut panjang Alena yang lebat.
Tanpa berlama-lama Alena menyalakan hair drayer lalu mendekatkan alat itu ke rambutnya.
Suara berisik dari alat itu membuat telinga Alena sedikit risih.
Di tengah-tengah kesibukannya mengeringkan rambut, ponsel Alena tiba-tiba berdering cukup nyaring. Membuat perhatian Alena teralihkan ke samping.
Gadis itu langsung melebarkan pandangannya, mencari ke sumber suara dan menemukan ponselnya terselip di bawah bantal.
Alena meraih benda pipih tersebut, tak lupa sebelum itu ia mematikan hair drayer di tangannya.
"Mama Sisil?" gumam Alena berkerut bingung. Ada apa mamanya Sisil menelponnya.
Alena dengan cepat meletakkan hair dryer di atas nakas tanpa melepas tatapannya pada layar ponsel.
"Kenapa tante Yuni nelpon gue?" tanya Alena dan tanpa berpikir lagi Alena langsung mengangkatnya.
"Halo tante?" ucap Alena hati-hati.
Suara di seberang sana langsung menyambut, nadanya terdengar khawatir. Alena merasa ada sesuatu yang terjadi dengan tante Yuni.
"Al, kamu di mana nak?" Tanya tante Yuni mama Sisil.
"Al lagi di rumah, tante. Kenapa?" Tanya Alena, dahinya mengerut. Kenapa tante Yuni malah menanyakan keberadaannya. Alena kan bukan anaknya Tante Yuni.
"Al, Cicil di rumah kamu?" tanya Mama Sisil, memanggil pricilla dengan sebutan 'Cicil'
Lain halnya Alena yang selalu memanggil pricilla dengan sebutan 'Sisil' Tante Yuni punya panggilan tersendiri untuk putrinya. Cicil itu nama kecil Pricilla.
Kalau kalian nama panggilan kecil kalian apa?
"Gak ada tante, Sisil enggak di rumah Alena Sekarang," jawab Alena sejujur-jujurnya.
"Pricilla belum pulang ke rumah Al, padahal ini sudah jam 3 loh, harusnya dia udah di rumah sekarang." Kata Tante Yuni makin cemas.
"Ke mana perginya Sisil?" pikir Alena sampai kepalnya miring.
"Cicil juga gak ada ngasih kabar, ponselnya juga mati. Tante sangat khawatir."
Alena masih terdiam memikirkan itu. Dia kemudian menatap jam dinding kamarnya, dan benar sekarang sudah hampir setengah empat. Pasti gerbang sekolah juga sudah tutup dari tadi.
"Cicil di sekolah baik-baik aja kan Al? dia happy aja kan Al? gak ada tanda-tanda mencurigakan kan Al? dia gak nangis kan atau merasa tertekan."
Alena menghela napas pelan.
"Tante... Sisil baik-baik aja, tante tenang ya, jangan mikir yang aneh-aneh."
"Al, tante khawatir Cicil bunuh diri."
"Haaah?" mata Alena seketika melotot mendengar ucapan Tante Yuni. "Tante kok bisa ngomong gitu? tante ucapan itu adalah doa. Tante gak boleh ngomong gitu. Gak mungkin Sisil bunuh diri."
"Tante jangan nakutin Al, dong tante!" Seru Alena meresakan jantungnya hampir berhenti. Alena mengelus dadanya.
Lagian kenapa Tante Yuni Bisa berpikiran seperti itu?
"Tante juga takut Al, Cicil belum pulang, hpnya gak bisa di hubungin. Tante gak tau mau tanya ke siapa. Papa Cicil di luar kota, gak mungkin tante kabarin." ucap Yunita sangat cemas.
"Tante, Sisil pasti pulang kok, tante jangan berpikiran buruk dulu, kalau misalnya Sisil gak pulang satu jam ke depan. Al, akan cari Sisil. Jadi tante tenang ya." ucap Al malah dia yang tak tenang memikirkan sahabatnya.
"Ini semua salah tante Al." ucap Yunita lagi kali ini wanita itu merendahkan suaranya.
"Maksudnya tante? Al gak paham."
"Sebenaranya...Cicil marah sama Tante, tadi pagi tante nyita laptopnya. Mungkin karena itu dia gak mau pulang ke rumah. Kamu tau Al, Cicil gak tidur semalaman, dia suka begadang ngerjain tulisannya. Tante pusing, tiap hari ngomel tapi gak pernah, di dengerin. Akhirnya Tante gak bisa tahan marah. Tante sita aja laptopnya biar dia gak bisa nulis novel lagi." curhat Yuni terdengar dari nadanya wanita itu sangat menyesal dengan apa yang dia lakukan dengan putrinya.
Alena menggeleng prihatin, pantas saja mood Sisil seharian di sekolah sangat buruk. Ternyata sumbernya dari mamanya sendiri, di tambah lagi kehadiran anak baru itu membuat Sisil tidak bisa di buat tenang sedikitpun. Kasian sekali sahabatnya itu harus di hukum membersihkan toilet, sampai telat pulang. Ck... Ck...Alena lagi-lagi menggelang.
"Al, kamu yakin Cicil baik-baik aja di sekolah, gak ada yang gangguin dia kan, gak ada yang ngebully kan?"
"Tante... Sisil tuh, cewek paling di takutin di sekolah gak mungkin ada yang bisa ngebully dia, apalagi sampai depresi dan bunuh diri, hanya karena masalah laptop. Jadi tante jangan khawatir oke, ada Alena sama Rifka yang jagain Sisil di sekolah." ucap Alena sambil menggeleng.
"Iya sih, tapi tetap aja Tante khawatir banget sama cicil, kenapa dia enggak pulang juga. Tante gak tenang di rumah, Al."
"Tante...Sisil pasti bentar lagi pulang kok, tante tenang ya." Alena berusaha menenangkan wanita di seberang telpon.
"Sebenarnya Cicil di mana Al, kenapa dia enggak sama kamu?"
"Eum..." Alena berguman sebentar dia juga tidak tau keberadaan sisil saat ini. Mereka terakhir bertemu di sekolah.
"Tadi Alena pulang duluan tante, tapi Sisil..."
Alena menggantung ucapannya, sebelum ia akhirnya tersadar mengapa Sisil belum pulang.
"Al, duluan aja, gue masih bersihin toilet, kayaknya bakal lama deh. Lo pulang aja, nanti kalau mama gue nelpon bilang aja gak tau."
Ia akhirnya teringat Sisil yang di hukum bersihin toilet sekolah.
"Hah? Gue lupa kalau sisil di hukum bersihin toilet." batin Alena sontak menutup mulutnya.
Alena tidak boleh memberi tahu Tante Yunita kalau Sisil kena hukum dan terlambat pulang, bisa-bisa wanita itu makin khwatir. sahabatnya itu sudah berpesan jika sang mama telpon Alena harus berbohong ke pada wanita itu. Sebaiknya Alena menutup mulutnya sekarang juga.
"Tapi Sisil kenapa nak Al?" tanya Tante Yuni, suaranya makin khawatir.
"Ekhm! Al, gak tau Tante." Alena menggaruk lehernya, bingung cara berbohong bagaimana. Alena tidak pandai bersandiwara.
"Jangan-jangan anak Tante di culik penjahat!" seru Tante Yunita panik seketika.
"Aduh gimana dong, Tante harus telpon polisi. Al, bisa tolong Tante cariin Cicil. Cicil kayaknya di culik."
"Enggak Tante!" teriak Alena membuat Tante Yunita terdiam. Di seberang telpon.
"Sisil masih di sekolah, dia ikut kegiatan anak osis." bohong Alena menggigit kuku jari. Dia tidak tau lagi harus bagaimana.
"Tadi katanya Al gak tau. Kamu bohongin tante. Tante gak salah lagi, anak Tante pasti di culik. Cicil di culik Huweeeee."
Tangisan Tante Yunita langsung pecah, membuat Alena uring-uringan di tempat. Ia sangat ingin jujur sekarang.
"Yah, yah, Tante Yunita jangan nangis." ucap Alena bingung harus bagaimana.
"Hiks... Hiks... Cicil di culik, Tante harus gimana, cicil anak satu-satunya yang Tante punya. Kalau dia gak pulang bagaimana hidup Tante tanpa anak Tante."
"Tante, Tante tenang dulu ya, sebenarnya..."
"Mama, ngapain di sini?"
Alena tidak melanjutkan ucapannya ketika mendengar suara Sisil.
"Al sisilnya udh balik, tante tutup ya, assalamualaikum!"
Tuutt!
Tak lama setelah itu sambungan telpon langsung terputus. Hal itu membuat Alena menggeleng.
"Haah~ ada aja Tante Yunita. Lagian mana ada seorang ibu memikirkan hal-hal buruk tentang anaknya, ck...ck..."
Alena menghela nafas pelas, berniat meletakkan ponselnya di atas nakas, namun terurungkan karena sebuah notifikasi masuk dan itu dari Arga.
Alena langsung gugup membacanya.
Maaf ya, kakak enggak bisa ngangkat telpon kamu. Kakak sibuk banget tadi. nanti malam sepulang dari tempat kerja kakak telpon, ya.
Alena tidak membalasnya lagi. Dia manatap pesan Arga dengan sangat kecewa. Arga benar-benar tidak bisa menyisikan waktunya sebentar saja untuk Alena. Padahal dia hanya ingin mengucapkan terima kasih untuk hadiah yang diberikan cowok itu. Tapi sepertinya Arga sangat-sangat sibuk dan tak bisa di ganggu.
"Ya udah kalau gitu gak usah telpon sekalian, anggap aja kita lost kontak selama sebulan, kita gak usah telponan. Kak Arga gak usah tau kabar gue disini!" kesalnya membanting ponselnya di kasur setelah memblokir nomor Arga.
Alena kembali melanjutkan aktivitasnya mengeringkan rambut sambil mendumel, dia benar-benar sangat kesal pada Arga. Setelah mengeringkan rambutnya Alena berbaring di kasur empuknya dengan tubuh terlentang.
Alena menatap langit-langit kamarnya, sambil berkali-kali menghela nafas. Seperti ada saja yang membuatnya gelisah. Padahal niatnya ingin tidur siang, tapi kenapa matanya tidak bisa memejam sama sekali. Alena juga tidak merasakan mengantuk sedikit pun.
"Nasib enggak punya pacar. Enggak ada yang bisa dipikirin." Alena menghela nafas, menatap kosong plapon kamarnya yang di cat berwarna biru langit.
"Aha haluin Alfi aja deh!" serunya tiba-tiba mendapatkan solusi untuk dirinya sendiri.
Alena tersenyum tipis, rona pipinya berubah sangat merah. bahkan sekarang gadis itu terlihat seperti orang gila karena senyum-senyum sendiri.
"Gimana kalau gue pura-pura jadi cewek yang ngejar-ngejar Alfi, trus Alfi gak suka sama gue, dia terus ngehindarin gue gitu." Alena memulai berbicara sendiri. Mengatur skenario di kepalanya. Kedua matanya berbinar membayangkan betapa indahnya kehaluan yang diciptakannya sendiri.
"Nah, ternyata si Alfi punya cewek. Entah datang dari mana asalnya sicewek ini. Oh anggap aja dia Alien dari planet lain. Perempuan siluman yang sengaja menyamar jadi cantik. Lucu juga kalau gitu ceritanya." Tingkat kehaluan Alena sepertinya sudah memasuki ekspetasi tingkat tinggi.
"Lanjut... terus dia ngeliatin kemesraannya gitu di depan gue biar gue sakit hati terus ngejauh dari dia. Menghilang lah pokoknya. Pasti sakit banget tuh. Habis itu, gue mengalami patah hati yang berat, gue gak ngejar Alfi lagi. Dan tiba-tiba seorang cowok yang pastinya ganteng ketemu gue, dan minta gue jadi pacarnya. Gue terima terus kita pacaran, dan..."
Alena tiba-tiba terhenti, mendadak Ia stuck dengan jalan cerita yang ia buat.
"Yau dah deh pokoknya gitu." ucap Alena setelah mensetting cerita. Gadis itu kemudian mentup matanya. Dia sudah siap untuk masuk ke dalam dunia halu. Membayangkan karakter Alfi dan juga dirinya.
"Ayo mikir, mikir, mikir." Alena menggigit bibirnya. "Karakternya udah kebentuk, ayo mikir Al!"
Tapi sesaat kemudian tidak terjadi apa-apa di kepalanya. Otaknya malah memikirkan kejadian random membuat pikirannya hancur.
"Kok gak bisa!" teriak Alena membuka matanya dengan eskpresi marah.
"Aaah ada yang kurang Al, dalam film biasanya kejadian apapun itu pasti di iringi musik, benar sekali!" Alena membangunkan tubuhnya.
Dia segera mencari headset dan ponselnya. Alena menyetel lagu dan memasang headset di telinga. Kemudian setelah itu Alena membaringkan tubuhnya kembali.
Alena menaruh ponselnya di atas perut. Dia kemudian memejamkan matanya perlahan. Namun baru berapa detik saja dia di kejutkan dengan suara ponselnya yang sangat nyaring.
Refleks gadis itu terbangun dengan dengan ekspresi terkejut, Alena mengelus d**a. Sepertinya tiap kali terkejut jantung Alena sangat berdebar kuat. Apa mungkin ini gejala terkena serangan jantung?. Alena menggeleng.
Alena mengangkat telpon dengan wajah lemas, bukan karena terkejut, melainkan yang menelponnya adalah Rifka.
"Ngapain si Rifka, ganggu orang lagi halu aja!" kesal Alena gemas dengan sahabatnya ini. Padahal Alena baru saja ingin menenangkan dirinya.
"Eum...apa Rifka? ngapain lo nelpon gue. Gue lagi sibuk nih." gumam Alena dengan malasnya.
"Sibuk apaan lo?" tanya Rifka, nadanya sangat tidak santai dan itu membuat Alena gemas ingin mencubit sahabatnya itu.
"Sibuk nge halu! Tapi lo ganggu. Gak bisa liat orang tenang,semuanya kehaluan gue jadi buyar. Padahal gue udah capek-capek nyusun jalan ceritanya di kepala gue." kesal Alena meremas bantal di sampingnya.
"Alena....bentar dulu ya halunya. Entar malam aja, pas lo mau tidur, oke."
"Ini juga gue siap-siap mau tidur Rifka. tapi lo ngeganggu." Alena menggeram.
"Ada yang lebih penting. Lo harus liat." ucap Rifka sangat serius.
"Apa yang lebih penting, dari ngehalu huh?" tanya Alena tak santai.
"Lo harus cek grup angkatan sekarang!" Seru Rifka di seberang telpon, terdengar dari nada suaranya, Rifka sedang mengatakan hal serius.
"Nanti aja Rifka, gue males mau tidur." ucap Alena sambil membaringkan tubuhnya. Kepalanya akhirnya jatuh ke atas bantal. "Gue mau tidur sambil berimajinasi."
"Al, nanti aja tidurnya, setelah lo liat grup angkatan kita, cepetan. Lo juga harus jelasin ke gue juga." titah Rifka.
"Males. Lagian gak ada yang harus gue jelasin ke lo." Alena merubah posisinya menyamping, kemudian ponselnya ia letakkan di atas pipi.
"Al bentar aja!" perintah Rifka sudah sangat gemas. Jika bukan di telpon Rifka mungkin akan menunjukkan apa yang ada di grup secara paksa ke pada gadis itu.
Tapi ketahuilah Alena sangat begitu keras kepala.
"Males." balas Alena menutup matanya. Helaan nafas keluar dari mulutnya.
"Al, semuanya udah heboh ngebicarain lo di grup angkatan!" gemas Rifka.
"Ngapain mereka bicarain gue
Emangnya gue Artis, di omongin sampai heboh." kekeh Alena, dia berbicara tapi matanya terpejam, suaranya juga makin kecil karena sudah mengantuk.
"Iya sekarang lo jadi Artis, makanya cepatan cek grup!"
Alena berdecak sebal, "Ada apa sih Rifka, gue males—"
"Ada foto lo sama Alfi lagi ciuman di sana!"
"APA?!"
Saat itu Juga Alena terbangun dengan posisi terduduk dan memegang dadanya. Kedua matanya membulat tak percaya. Bagaimana mungkin? Ada foto ciuman dengan alfi.