"Tandanya Arga sayang banget sama non Al,"
Alena membuka pintu kamarnya hingga terbanting cukup keras. Alena melebarkan pandangannya ke arah ranjang, mencari hadiah yang di berikan Arga untuknya.
Ketika melihat sebuah kotak itu di pinggiran ranjangnya, gadis cantik itu memelankan langkahnya. Sambil menghela nafas.
Alena tidak percaya Arga akan pergi hari ini. Dan meninggalkan hadiah itu untuknya.
Alena mendekati Ranjangnya dengan wajah lesu, matanya tak lepas memandangi sebuah kotak berwarna putih dengan hiasan pita merah yang mengikatnya.
Alena terlebih dahulu menaruh ranselnya di kursi meja belajar tanpa melepas pandangannya pada kotak itu.
Alena tidak tau, sekarang apakah dia merasa senang karena mendapat hadiah dari Arga, atau malah sebaliknya dia merasa sedih karena Arga meninggalkannya lagi.
Lantas Alena duduk di pinggiran ranjangnya kemudian mengangkat kotak yang cukup besar itu kepangkuannya.
Alena menghela nafas, menata hatinya sebentar. Sebelum akhirnya tangan lentiknya itu membuka tutup kotak hadiah tersebut.
Alena terdiam selama berapa detik.
Gadis itu terkejut dengan bibir sedikit terbuka. Kedua mata indahnya membulat menatap isi kotak hadiah tersebut.
Sebuah gaun cantik berwarna ungu lilac dan sepasang hight heels putih yang pas dengan ukuran kakinya. Alena juga menemukan secarik kertas di atas gaun tersebut. Isinya surat untuk Alena.
Alena membacanya dalam hati tanpa melewatkan satu kata sedikitpun.
Dear my little princess...
Maaf, gak bisa nemenin kamu dalam waktu yang lama.
kakak harus pergi karena urusan pekerjaan yang mendadak.
Kakak beliin kamu gaun sama sepatu.
Gaun itu sangat cantik kalau kamu yang pake.
Sebenarnya adik kakak, pake apapun pasti cantik, tapi...lebih cantik lagi kalau misalnya pake gaun yang di beliin sama kakak.
Al, mungkin kakak sebulan atau dua bulan lagi baru pulang.
Nanti pas kakak pulang, kakak mau ngajakin kamu makan malam di restoran mahal.
Kamu harus pake gaun itu nanti. Jangan lupa dandan yang cantik ya dek.
Yang tertampan.
Arga.
Alena menarik senyum tipis, hatinya begitu tersentuh membaca surat dari Arga, tanpa ia sadari air matanya menetes membasahi pipi putihnya.
Setelah membaca surat dari Arga, hati Alena sakit. Dia merindukan Arga.
Padahal baru satu hari cowok itu menemaninya di rumah, tapi hari ini Arga malah pergi tiba-tiba dan meninggalkan hadiah yang sebenarnya Alena tidak pernah memintanya.
Alena memeluk gaun itu, lagi-lagi dia tidak bisa menahan rasa rindunya pada sang kakak. Alena menteskan air mata sangat banyak. Dia meremas kuat-kuat gaun itu di dadanya.
Tidak bisakah Arga memindahkan pekerjaannya di sini. Alena tidak ingin lagi jauh-jauh dengan Arga. Alena sangat butuh cowok itu.
Alena sudah tidak memiliki orang tua dan Arga adalah keluarga satu-satunya yang ia punya. Alena tidak bisa membayangkan jika nanti harus kehilangan Arga juga. Alena tidak sanggup akan itu.
Ketika dia sedih Alena mengharapkan Arga di sampingnya dan memeluknya. Ketika dia susah tidur di malam hari, dia ingin Arga mengelus kepalanya sambil menyanyikannya lagu pengantar tidur seperti yang selalu dilakukan cowok itu ke padanya.
Alena benar-benar butuh Arga, dia tidak bisa sendirian di rumah seperti ini.
Sudah terhitung 20 menit Alena duduk sambil menangis memikirkan Arga, Alena merasa lelah, menahan sesaknya.
Alena menyudahi tangisannya itu dengan menyeka air matanya di pipi, dia menatap foto-fotonya bersama Arga yang tertempel di dinding, tepat di atas meja belajarnya.
Dia tidak pernah menyangka, dirinya dan Arga sudah tumbuh dewasa. Dan sekarang mereka harus sering berpisah karena urusan masing-masing. Dulu saat usianya 4 tahun, Arga selalu menemaninya bermain, dan mengajaknya jalan-jalan di luar rumah. Sekarang waktu mereka terbatas. Bertemu pun jarang apalagi sampai menghabiskan waktu seharian itu mungkin tidak bisa lagi.
Sambil sesegukan Alena meletakkan gaun yang sangat anggun itu kembali kedalam kotak, tak lupa menutupnya. Lalu Alena berdiri dan mencari ponselnya di dalam tas Ranselnya.
Alena ingin menghubungi Arga.
Ponsel sudah berada di tangan Alena tak mau berlama-lama Alena menelpon sang kakak.
Nomor yang anda tuju tidak menjawab.
Alena mendesis, Arga tidak mengangkat telponnya sama sekali. Cowok itu pasti sedang sibuk hingga mengabaikan panggilan telponnya.
Alena beranjak dari kasurnya, dia bersumpah jika Arga menelponnya nanti Alena tidak akan mengangkatnya.
Dia sangat kesal, padahal Alena ingin berbicara dengan Arga untuk memberitahu bahwa di sangat menyukai hadiah gaun itu. Tapi Arga malah mengabaikan telponnya.
Alena melempar ponselnya ke kasur hingga benda pipih itu terselip di bawah bantal. Alena menghela nafas sambil menatap kotak hadiah itu sebentar.
Alena sedikit membungkukan badanya untuk mengangkat kotak itu dan membawanya ke dalam lemari. Alena tidak niat lagi dengan gaun dan sepatu itu.
Alena kemudian memutuskan untuk mandi saja dan tidur siang.
****
"Lo abis dari mana fi?" tanya Dion saat mereka bertemu di ruang tunggu sebuah rumah sakit.
Tempat mereka saat ini bukan rumah sakit seperti biasa, melainkan rumah sakit yang di penuhi orang-orang yang mengalami sakit jiwa.
Alfi menduduk diri di sebelah Dion dengan santai. "Gak kemana-mana, gue baru balik dari sekolah."
"Sudah berapa jam lo nunggu? Apa pemeriksaannya masih lama?" tanya Alfi.
Dion menggeleng tak tau. "Dia baru aja masuk, gue gak tau bakal berapa lama Sasha di dalam."
Alfi mengarahkan pandangannya pada pintu di depan mereka, cowok itu melihat sedikit suasana dalam ruangan itu melalui cela pintu yang tebuat dari kaca.
"Lo udah makan?" tanya Alfi lagi melihat muka Dion sedikit pucat.
"Belum sih."
"Makan sana, buar gue yang jagain." suruh Alfi.
"Nanti, di rumah." kata Dion tersenyum sambil membogem pelan bahu Alfi.
"Lo diet?" tanya Alfi menaikkan sebelah alisnya.
Dion seketika tertawa mendegar itu.
"Cowok mana ada diet-diet."
"Itu, lo." ucap Alfi dengan tatapan datar.
"Perut kerempeng gini, mana sempat gue mikir untuk diet, ada-ada aja lu."
"Hahh terserah, lo yang lapar bukan gue." ucap Alfi sambil membuang tatapan ke depan.
Cowok yang mengenakan seragam sekolah ini sedang Memperhatikan orang-orang yang lewat di koridor tempat mereka sedang menunggu Sahsa.
Dion menahan senyumnya melihat Alfi. Dia sangat beruntung mengenal Alfi. Alfi memang tipe cowok yang sangat cuek, tapi terkadang juga sangat perhatian. Hanya kadang kita tak bisa menebak saat Alfi sedang perhatian.
"Eh bentar, Lo ngapain di sekolah sampai jam segini? Dari tadi Gue udah pulang sekolah, udah mandi dan ganti baju baru ke sini. Tapi Lo masih baju sekolah, lo gak pulang dulu?"
Alfi melirik Dion sambil menghela nafas.
"Gue ada les Matematika sampai jam dua, gak sempat lagi gue pulang, jadi dari tempat les gue langsung ke sini." jelas Alfi membuat Dion menatap curiga.
Dion merasa cowok itu menyimpan sesuatu. Mana ada les matematika di hari ini. Dion baru dengar ada les.
"Lo ke mana sebenarnya fi, jangan bohong sama gue, lo gak les kan?"
Ke mana sebenarnya Alfi?
Alfi terkekeh, melihat Dion mengintimidasi dirinya.
"Gue dari les Yon, ekspresi lo enggak usah curigaan gitu, jadi takut gue."
"Sekolah kita emang ngadain les buat anak kelas dua? Enggak kan fi?"
"Tempat les gue bukan di sekolah oon, gue les privat." Alfi menggeleng.
Dion ini pasti tidak percaya dengan ucapannya. Dan mengiranya berbohong, ya walaupun sebenarnya Alfi memang tidak pergi les Hari ini.
"Lagian lo tuh udah kayak tante gue, kebanyakan tanya." lanjut Alfi kemudian membuang tatapannya ke depan.
Dion merasa ada yang aneh dengan Alfi. Dia sudah mengenal Alfi sangat lama, dia bahkan tau gerakan mata Alfi yang kemana-mana ketika sedang berbohong. Kedua kaki Alfi yang memakai seneaker putih dari tadi bergerak gelisah. Seperti berusaha menghilangkan rasa gugup dalam dirinya.
Dion tau ada sesuatu yang di sembunyikan cowok ini padanya.
"Fi."
Dion memenyerong tubuhnya menyamping dengan posisi masih terduduk. Dia menatap Alfi sedikit dingin.
"Em?" Alfi melirik, kepalanya kini tersandar di tembok, dengan sedikit mendongak menatap plapon.
"Fi gue cuma gak mau lo—"
"Iya gue tau yon." potong Alfi menoleh dengan tatapan serius.
"Urusan gue biarkan menjadi urusan gue, dan urusan lo biarkan menjadi urusan lo. Jangan ngatur-ngatur gue. Ketakutan lo akan Shasa itu gak akan pernah terjadi. Sampai kapanpun gue gaka akan ninggalin dia, gue akan selalu di samping dia sampai dia sembuh."
"Jangan raguin rasa sayang gue sama sepupu lo. Jadi lo tenang aja, gue gak akan berpindah hati."
Dion dibuat terdiam dengan penuturan Alfi. Dia juga tidak mampu mengeluarkan kata-kata lagi. Alfi sudah jelas akan mencintai Sasha dengan tulus.
Alfi berdiri, kemudian berbalik menghadap Dion yang masih duduk di kursi tunggu. Alfi memasukkan ke dua tangan di saku celana menatap Dion sedikit dingin.
"Lo pulang aja yon," usir Alfi tiba-tiba. Hal itu membuat Dion terhenyak sesaat.
"Lo dari tadi kan jagain Shasa, sekarang ada gue. Lo bisa pulang."
"Tapi—"
"Gue mau berduan sama pacar gue."
Dion tertawa, Alfi hanya menanggapi itu dengan senyuman. Memangnya ada yang salah dengan ucapannya.
"Sasha masih melakukan terapi dengan dokternya, gue gapapa temenin lo di sini." ucap Dion dengan santainya bersedekap di d**a.
"Awas lo nanti ngeluh liat kebucinan gue sama Shasa. Pulang sana." usir Alfi lagi.
Dion berpikir sebentar. Alfi benar juga, dirinya kan jomblo dan jika terus menemani mereka berdua. Dion hanya akan membuatnya menjadi penonton antara Alfi dan Shasa.
Dion tidak pernah mempercayakan siapapun untuk menjaga Sasha. Dari kecil Sasha sudah mengalami banyak hal buruk. Ibu kandungnya meninggal kecelakaan saat usianya masih kecil, dan saat itu dia diadopsi dengan ayah tirinya. Namun beberapa tahun kemudian, Sasha ditemukan di sebuah unit apartemen milik ayah tirinya, kondisi Shasa sangat buruk, Shasa di kurung di sebuah kamar karena mengalami depresi berat, dia berkali-kali mendapat kekerasan dan pelecehan oleh sang ayah tiri. Jika membayangkan itu Dion sendiri ketakutan, dia tidak ingin Shasa mengalami penderitaan itu lagi.
Dion langsung bangkit dari kursi setelah sadar dengan pikirannya.
"Oke gue pulang, kabarin hasil pemeriksaan Shasa lewat whatsapp."
"Iya gue langsung kabarin lo setelah Shasa keluar dari ruang terapi."
Dion mengangguk, dia memercayakan semuanya pada Alfi. Dia tau Alfi bisa menjaga Shasa dengan baik.
"Kalau Shasa nyariin gue, bilang gue kembali besok. Oh iya, dia cuma makan sedikit tadi siang, lo bujuk dia makan Fi,"
"Iya, lo tenang aja, Shasa pasti mau makan kalau sama gue."
Dion menepuk bahu Alfi, dia tersenyum karena Alfi sudah sangat baik mau menemani Sasha.
"Gue balik dulu kalau gitu." pamit Dion.
Alfi mengangguk, kemudian mendekati cowok itu, kedua tangannya di atas bahu Dion, Alfi membalikkan tubuh Dion perlahan lalu mendorongnya pergi.
"Hati-hati di jalan yon."
Dion tersenyum, kakinya begitu berat melangkah, walaupun begitu dia tetap berjalan menuju pintu luar, meninggalkan Alfi yang berdiri menatapnya dengan tatapan datar.
Setelah Dion benar-benar menghilang dari pandangannya. Alfi akhirnya bsa duduk dengan perasaan tenang. Cowok itu menghela nafas sesaat. Menatap pintu ruangan di depannya masih tertutup.
Alfi kemudian mengambil ponselnya di saku celana panjangnya. Alfi ingin mengecek ponselnya sebentar.
Petama kali Alfi mengecek Wa Grup sekolahnya yang terlihat hampir 2k lebih pesan yang belum ia baca.
Alfi memang jarang membuka grup angkatannya. Tapi entah kenapa dia jadi penasaran melihat jumlah pesan itu terus bertambah, membuat notifikasi handphonenya tak henti-hentinya berbunyi.
Alfi sudah menekan grup itu, dia mulai menscroll, tatapan matanya yang mulanya tenang. Perlahan melotot tak percaya saat melihat jelas beberapa gambar yang di sebar di dalam grup tersebut.
"Ini... Kenapa gue sama cewek itu. Siapa yang diam-diam ngambil gambar gue?"
Alfi mendadak menahan marah, cowok itu meremas ponselnya. Tatapannya belum lepas memandangi gambar yang banyak di sebar oleh teman-teman seangkatannya.
"Ini gak bisa di biarkan." Alfi menggeleng membaca semua pesan itu.
Tanpa sadar pintu di depannya sudah terbuka. Menampilkan seorang gadis mengenakan baju pasien duduk di kursi roda dengan seorang suster yang membantunya mendorong kursi roda.
"Alfi!"
Panggil gadis itu dengan senyuman lebar.
Cowok tinggi bersegam putih abu-abu mengangkat kepalanya, dan pertama kali ia lihat gadis manis yang tersenyum lebar ke arahnya, dia baru saja keluar dari ruang terapi di bantu oleh seorang suster.
"Shasa!"
Alfi tersenyum, begitupun dengan gadis itu. Mereka saling melemparkan tatapan yang penuh arti.
Alfi melupakan sedetik rasa marah yang dilakukan teman-temannya di grup w******p itu. Melihat kebahagiaan di wajah Shasa adalah satu hal yang sangat menenangkan bagi diri Alfi.
"Udah selesai terapinya?" tanya Alfi.
"Eum!"
Shasa mengangguk seperti anak kecil. "Dokternya baik hari ini, Shasa di kasih 5 bintang."
Alfi terkekeh, melihat keceriaan di wajah gadis itu menandakan kondisi kejiwaan Shasa mulai membaik.
"Alfi Sini!" panggil Shasa membuat Alfi mengangguk. Kemudian gadis itu menoleh menatap suster di belakangnya. "Suster, biar Alfi yang temenin Shasa, suster bisa pergi."
"Baiklah, kalau gitu besok kita ketemu lagi, Shasa jangan lupa minum obatnya ya."
"Oke suster."
Setelah mengatakan itu Suster yang menemani Shasa kembali kedalam ruangan terapi. Meninggalkan Shasa dan juga Alfi.
"Sampai jumpa Suster!"
Alfi kemudian berdiri mendekati gadis itu, dia berjongkok di depan Sasha.
Alfi menggerakkan tangannya menyentuh helaian rambut Shasa. Membuat Shasa tersenyum.
"Semoga cepat sembuh. Biar bisa ngajakin lo jalan-jalan kemana pun yang lo mau." ucap Alfi kemudian menatap kedua mata Shasa yang berbinar indah.
"Bener?" tanya Shasa sangat antusias mendengar itu.
Alfi akui Shasa sangatlah cantik. Wajahnya begitu manis, jika di perhatikan kecantikan Shasa bisa menandingin kecantikan seorang dewi yunani.
"Gue sayang banget sama lo, Sha."
Mendengar itu, perlahan Shasa menundukkan kepalanya. Detik berikutnya Alfi di buat terkejut, saat benda lembut itu menempel tepat di atas bibirnya.
Shasa menciumnya.