Setelah hampir 30 menit membersihkan toilet, akhirnya Regas bisa bebas juga, seketika seluruh lantai toilet di buat mengkilat oleh cowok itu. Regas menatap keseluruhan ruangan itu sambil tersenyum puas dengan pekerjaannya. Laki-laki yang masih mengenakan seragam sekolah itu. Membuang nafas lelah sembari menyeka keringat di dahi dan lehernya.
Regas menyimpan alat pembersih lantai dan juga ember di sudut ruangan. Lalu, cowok itu mendekat ke arah keran air, cowok itu mencuci muka, membuat rambutnya sedikit basah di bagian depan. Regas menatap wajahnya di cermin. Sudah lama Regas tidak melakukan pekerjaan seperti ini. Dia menatap matanya di dalam cermin. Regas seperti di beri kekuatan dengan matanya itu. Regas menyentuh jantungnya yang berdetak cepat. Dia lagi-lagi menyinggungkan senyum. Sudah sangat lama Regas tidak merasakan jantungnya berdetak cepat seperti ini. Dia kemudian teringat wajah Pricilla yang menatapnya sangat dalam. Regas rasa dia telah jatuh cinta pada gadis itu.
Regas kemudian cepat-cepat mencuci tangannya, tak lupa meraih tas ranselnya yang terletak di atas wastafel.
Regas segera berlari keluar dari toilet untuk mencari gadis itu. Saat menemukan Sisil di luar. Perasaan Regas langsung legah.
Dia berjalan mendekati Sisil sambil tersenyum, Regas tau gadis itu tidak benar-benar pulang. Buktinya Sisil masih berdiri sambil bersandar di tembok dengan sebelah kaki tertekuk. Dua tangannya terlipat di d**a. sedang kepalanya tertunduk seperti mengantuk. Gadis itu pasti sangat lelah.
"Hei!"
Sisil menurunkan kakinya, ketika melihat Regas berdiri di depannya.
"Udah selesai?" tanya Sisil jutek, membuat cowok itu mengangguk.
"Eum!"
"Toiletnya udah bersih? Lo gak tidur kan di dalam atau ngegame? bener lo bersihin kan?"
"Kalau gak percaya, silahkan dicek sendiri." ucap Regas dengan ekspresi 'terserah'
"Ah udah-udah, gue males. Lo kelamaan, gue hampir jadi batu nungguin lo." ucap Sisil mendelikkan matanya.
"Marah-marah mulu, nanti cantik lo ilang." Regas mencolek hidung Sisil,membuat gadis itu risih.
"Apasih!" Sisil menepis jari cowok itu, membuat Regas tertawa kecil hingga gigi-gigi kecilnya yang rapi terlihat. "Sekarang kita keruang pak Zaki. Kita laporan kalau toiletnya udah bersih, biar di kasih ijin pulang." kata Sisil kemudian berlalu di depan Regas.
Namun baru berapa langkah, Regas berjalan dan menahan lengan Sisil.
"Apa?" bingung Sisil ketika cowok itu menatapnya dengan cemas.
Regas melihat kondisi Sisil dari atas hingga bawah. Seragam dan rok Sisil basah.
"Tunggu bentar, lo gak bisa pergi dengan keadaan kayak gini."
Regas kemudian mengeluarkan jaket merah di dalam ranselnya.
"Eum." Regas menyodorkan jaketnya,meminta gadis itu memakainya.
"Nggak mau."
Regas melototkan matanya tak percaya, gadis ini malah menolak kebaikannya lagi. Regas seperti ingin menggigit gadis di depannya ini.
"Lo mau jalan dengan baju basah kuyup kayak gitu?"
"Kenapa emang? Gak usah lebay gue gak bakal masuk angin."
"Ck," Regas berdecak kesal.
"Gak usah sok romantis lu." Sisil melirikkan matanya denagan sinis.
Regas jengah menatap Sisil, dia tidak habis pikir Sisil akan berpikiran seperti itu. Regas kemudian mendekati Sisil membuat Sisil memundurkan kepalanya.
"Rok lo basah dibagian belakang. Entar dikira lo pipis di celana. Apa gak malu?"
Sisil langsung menoleh ke belakang, melihat roknya, dan benar saja roknya memang basah, orang akan mengira Sisil habis ngompol di celana.
Dia kemudian menatap Regas dengan ekspresi menahan tangisannya. Sisil menggigit bibir bawah karena kesal.
"Ini semua gara-gara lo! lo buat gue jatoh ketiban tubuh beton lo itu, gara-gara lo juga seragam gue—"
Detik itu juga Regas menarik tangannya hingga Sisil mendekat ke arahnya.
Sisil bagai patung, kedua matanya membulat saat Regas bergerak mendekatkan kepalanya. Sisil menutup matanya.
"Bawel banget, tinggal make jaket aja rumit, pake acara ngomel segala." ucap Regas sambil memakaikan jaket kebesaran itu ketubuh kecil Sisil.
Mata Sisil terbuka, dia bisa melihat jelas cowok itu sedang tertawa kecil melihatnya. Dia kemudian menatap jaket yang sudah melekat di tubuhnya.
"Woi, ngapain bengong, ayo pulang!" ajak Regas.
"Ke ruang pak Zaki dulu, baru bisa pulang." kata Sisil mengingatkan.
"Iya, makanya jalan."
Regas kemudian menarik pergelangan tangan gadis itu. Membuat berkali-kali di buat kaget dengan perlakuan Regas yang menurutnya terlalu tiba-tiba itu.
Sisil mengikuti langkah cowok itu, dan bahkan membiarkan Regas menggandeng tangannya. Dia sendiri bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya hari ini. Kenapa dia setenang itu di dekat cowok ini.
Regas menoleh menatap Sisil yang terlihat melamun. Mereka menuruni tangga untuk turun ke lantai bawah.
"Tunggu, emang lo tau ruangan pak Zaki?" Tanya Sisil membuat langkah mereka berhenti di lantai bawah.
Regas lupa dia anak baru, mana mungkin dia tau semua ruangan di sekolah ini.
Regas menatap Sisil dengan alis tertaut. Dia sedikit memiringkan kepala untuk berpikir.
"Eum... ruangannya di mana memangnya?"
Sisil menghela nafas, lalu melepaskan tangannya dari Regas.
"Ruangannya di lantai atas." Jawab Sisil dengan santainya.
Mata regas dibuat melotot tak santai.
"Haah!?"
"Kenapa lo gak ngomong dari tadi." Regas menggaruk gemas kepalanya.
"Pengen ngetes lo, siapa tau lo pura-pura jadi anak baru di sekolah gue."
"Mana ada gue gak tau sama sekali,sumpah." Regas menanikkan dua jarinya membentuk piss.
Sisil melipat kedua tangannya sambil menghela nafas dia kemudian berlalu meninggalkan Regas tanpa berkata lagi. Sisil naik kembali ke atas membuat Regas mengikuti gadis itu. Dan secara terpaksa mereka harus kembali ke atas.
Mereka berjalan beriringan menuju ruang pak Zaki, kedua terdiam sambil sesekali mencuri pandang, namun itu membuat mereka malu sendiri karena di satu waktu pandangan mereka bertemu dan mereka kaget sendiri.
"Lo masuk duluan." titah Sisil saat mereka sudah di depan ruangan pak Zaki.
"Lo?" tanya Regas.
"Nanti gue munculin kepala aja, pak Zaki pasti ngerti."
"Gak mau bantu gue ngomong?" tanya Regas menawarkan lagi. membuat Sisil menutup matanya karena geram.
"Lo pikir kita lagi persentase, tinggal laporan aja, Regas," sebal Sisil ingin mencakar wajah Regas yang tampan ini. "Apa perlu gue susunin kalimat dulu..."
"Ah... Gak usah, gak usah. Gue masuk dulu."
Kata Regas lalu tanpa membuang waktu lagi cowok itu segera membuka pintu berwarna coklat itu dengan hati-hati.
Saat pintu itu mulai terbuka Sisil yang berada di belakangnya gugup sendiri.
"Selamat siang pak," Sapa Regas tersenyum kaku, dia berdiri di depan pintu, menatap lelaki paru baya yang sedang duduk di depan meja besar dengan banyak buku di atasnya.
"Iya ada apa."
"Eum..." mendadak Regas kehilangan kata-kata. Muka pak Zaki memang seram jika di tatap bikin nyali Zaki menciut untuk bicara.
"Kamu siapa? Ada urusan apa dengan saya?" tanya Pak Zaki sangat dingin, bahkan lelaki itu tidak melihat Regas dan hanya menatap sekumpulan berkas di depannya.
Pak Zaki pasti lupa dengan Regas, dia kan anak baru dan Regas betapa bodohnya cowok itu sekarang. Sisil yang melihat itu pun menepuk punggung Regas agar cowok itu segera berbicara.
"Cepetan ngomong." bisik Sisil, dia sendiri tidak berani memunculkan muka. Regas menoleh dengan ekspresi takut.
"Cemen banget sih jadi cowok, tinggal ngomong aja susah."
"Anu pak... Toilet..." ucap Regas malah ngomong asal. Sisil menepuk jidat di belakang.
Pak Zaki mendongak, dia memakai kaca matanya karena rabun jauh, dia tidak terlalu jelas mengenali orang dari jauh.
"Kenapa toilet?" tanya pak Zaki rada bingung.
"Sudah bersih pak."
"Kamu siapa?" tanya pak Zaki lagi.
"Regas ganteng pak." Jawab Regas tanpa sadar.
Ekspresi pak Zaki berubah marah.
Sebelum pak Zaki bertambah murka, Pricilla langsung muncul dan berdiri di samping Regas dia menyenggol Regas agar bergeser.
"Pak, saya pricilla, tadi kata pak Zaki setelah bersihin toilet kita berdua harus laporan dulu." Jelas sisil.
"Oh saya mengerti, pricilla. Kalian boleh pulang, lain kali jangan berisik kalau saya sedang mengajar. Tau kan bapak orangnya kayak gimana. Ya sudah, kalian bisa pulang."
"Iya pak." ucap Sisil dengan lantang dan dengan cepat menarik Regas dari sana sebelum cowok itu melakukan hal-hal bodoh yang membuat pak Zaki marah.
****
"Lo pulang naik angkot lagi?" tanya Regas saat mereka sudah di depan gerbang sekolah.
"Hm. Lo gak liat gue lagi nunggu."
Mereka berdua sedang berdiri dengan Sisil yang berkali-kali menengok ke jalan raya, menunggu angkutan umum yang lewat.
"Lo sendiri kenapa masih di sini?" tanya Sisil menoleh menatap sinis Regas yang berdiri dengan santai di sampingnya.
"Nunggu angkot." jawab Regas asal.
"Ngapain lo ngikut-ngikut gue?" Sisil menatap ngeri.
"Kenapa? Memangnya...gue gak boleh naik angkot? Apa angkot itu milih-milih orang juga." tanya Regas menatap Sisil.
Sisil memalingkan wajahnya ke depan. Mau sampai kapan cowok ini mengikutinya. Sampai kapan dia harus bersama cowok ini.
"Rumah lo di mana?" tanya Sisil mencoba ramah.
"Di rumah lo."
Sisil langsung melotot tak santai.
"Lo!" Sisil menunjuk muka Regas dengan kejam.
"Bercanda, Sil." Regas tertawa kecil. Sangat lucu melihat gadis ini marah.
Sisil menurunkan jarinya dengan kesal. "Bisa gila gue dekat lo."
"Jangan dong, nanti kasihan gue dirumorin dekat ama cewek gila." kata Regas terkekeh.
Sisil yang mendengar itu menampar bahu Regas dengan keras.
"Sembarangan, gue gak gila." tajam Sisil.
"Katanya bisa gila dekat gue." cibir Regas melipat tangan di d**a.
"Iiiiihhh, nyebelin lo!" Sisil menghentakkan kakinya ke tanah. Setelah itu tak peduli lagi. Sisil berjalan dekat pinggiran jalan.
Akan tetapi Regas mendekati Sisil lagi, mau tak mau Sisil kembali menghindar dan berdiri di bawa pohon pelindung. Regas tak membiarkan Sisil menjauh begitu saja. Regas berbalik dan berlari kecil ke bawah pohon.
"Kenapa sih lo ngikutin gue mulu?" tanya Sisil dengan nada yang mulai sangat risih. Dia merasa terganggu dengan Regas.
"Gue kan calon pacar lo, harus dekat-dekat lo terus dong."
"Apa lo bilang!?" keras Sisil tiba-tiba.
"Calon... kepala desa." jawab Regas melihat ekspresi marah sisil yang siap meledak.
"Awas aja lo ngomong kalau gue pacar lo lagi. Gue slepet lo di jalan."
"Berani emang?" Regas menyenggol pelan lengan Sisil dengan alis terangkat.
"Lo mau coba?"tantang Sisil.
Regas menyerongkan badan, dia tersenyum miring melihat wajah Sisil. Dan dengan gerakan cepat, dia menarik tangan Sisil hingga gadis itu menubruk d**a bidangnya.
"Mana coba slepet gue, hm. Berani nggak?" tanya Regas mendekatkan kepalanya. Suara beratnya membuat Sisil tidak mampu bergerak.
Regas menatap bibir Sisil yang sedikit terbuka, kemudian ia berpindah ke pipi sisil yang memerah.
"Pipi lo merah," ucap Regas lagi menggoda gadis ini.
"Issh! Apaan si lo!"
Sisil mendorong d**a cowok itu dengan sekuat tenaga.
Piiiip! Piiiiiip! Piiiiiip!
Sisil segera berlari memasuki angkot yang baru saja berhenti tepat di depan mereka.
"Mas gak naik?" kata tukang angkotnya.
Regas melambaikan tangannya sambil menahan tawanya karena merasa lucu dengan sikap Sisil.
Setelah itu Mobil angkot berwarna biru itu segera beranjak meninggalkan Regas yang berdiri dengan tawa kecilnya.
Dia masih bisa membayangkan betapa merahnya kedua pipi Sisil tadi.
Regas menggeleng, tak lama sebuah mobil hitam berhenti di depannya.
Regas mendekati mobil itu, lalu dengan santai membuka pintu di bagian depan, cowok itu kemudian naik ke dalam mobilnya. Mobil itu kemudian bergerak meninggalkan sekolah
"Kenapa kamu pulangnya jam segini? bukannya dari jam 1."
"Regas tadi di hukum, mah." jawab cowok itu dengan santainya.
"Hari pertama kok bisa di hukum Egas!"
Regas hanya terkekeh menanggapi keterkejutan sang mama.
****
"Eh, non Al, udah pulang."
Alena tiba di rumahnya dengan wajah lesu. Dia berjalan memasuki ruang tamu sambil tersenyum ke arah bibi.
Bibi mendekati Alena sambil memegang sapu bulu.
"Bibi udah masak makanan kesukaan non Al. Sudah di siapin di meja makan."
"Makasih Bi." Alena tersenyum ramah.
"Non Al ke atas dulu, mandi ganti baju, abis itu langsung ke ruang makan.
"Al, makannya malam aja ya bi, nanti al panasin makanannya sendiri. Alena meraut letih. "Al mau langsung tidur setelah mandi, Al capek pulang sekolah, maaf ya bibi."
"Tapi Den Arga tadi berpesan sama bibi, katanya pulang sekolah harus makan dulu non." ucap Bibi menyampaikan pesan Arga tadi sebelum cowok itu berangkat dan meninggalkan rumahnya.
"Alena gak nafsu makan bi, Alena capek mau tidur aja."
Bibi menghela nafas, dia sedikit sedih mendengar Alena.
"Bibi udah capek masak... Tapi gapapa, kalau udah bangun tidur, non Al makan ya?"
Alena menganggukkan kepala, senyumnya merekah membuat bibi ikut senang melihatnya.
"Alena pasti makan,"
Bibi senang mendengarnya. wanita yang mengenakan daster bunga-bunga itu tersenyum.
"Oke non?" tanya bibi membuat jarinya berbentuk huruf 'O'
Alena pun mengikuti sambil tersenyum, hingga matanya menyipit. "Oke bibi."
Kemudian Alena pamit naik ke atas kamarnya. Tapi baru berapa langkah bibi kembali memanggilnya, membuat Alena berhenti dan menoleh ke arah Bibi.
"Non Al!"
"Kenapa bibi?" tanya Alena.
Bibi berlari kecil, mendekati Alena. Tepat di depan Alena wanita tua itu berhenti.
"Den Arga ngasih kado buat non Al. Kadonya di taruh di atas ranjang non Al," ucap bibi memberi tahu.
Ekspresi Alena langsung berbuah, senyumnya merekah, "Beneran bi?"
Bibi mengangguk, "Iya non, cepetan naik ke kamar non."
"Tapi kan ulang tahun Al masih lama. Kenapa kak Arga ngasih kadonya sekarang?" tanya Alena tidak percaya.
"Kado kan bisa di dapatkan kapan aja non, gak hanya ulang tahun aja dapat kado, tiap hari juga bisa non."
"Arga jarang banget ngasih Al kado. Tumben banget." pikir Alena. Membuat Bibi tersenyum lembut.
"Tandanya Arga sayang banget sama non Al." ucap bibi membuat Alena tersipu.
Tanpa buang waktu lagi Alena segera berlari ke atas untuk melihat hadiah yang diberikan sang kakak tercintanya itu.
****