Sisil dan Regas diberi hukuman oleh pak Zaki membersihkan toilet sepulang sekolah.
Saat Ini Sisil sedang mengepel lantai di depan wastafel, sedang Regas entah apa yang dilakukannya di dalam bilik kamar mandi hingga sudah bermenit-menit Sisil tidak mendengar suara cowok itu.
"Woi anak baru! lo ngapain dalam toilet, bertelur lo?" panggil Sisil karena sedari tadi cowok itu tidak keluar-keluar padahal tadi cowok itu mengatakan ingin membersihkan bagian bilik-bilik toilet.
Sebelum masuk ke toilet mereka memang sudah membagi tugas masing-masing, Sisil hanya akan membersihkan bagian luar toilet, sementara Regas membersihkan bagian dalam toilet.
Sisil kemudian mendekati pintu toilet yang tertutup, Sisil menendangnya cukup keras.
"Regas, udah belum bersihin toiletnya? gue mau pulang!"
"Brisik, bersihin aja bagian lo, gue lagi konsentrasi!"
Byur!
"Anjir!"
Sisil berjingkrak mundur karena Regas baru saja menyiram di bagian bawah pintu hingga sepatunya hampir basah.
"Lo sinting, sepatu gue hampir basah!" kesal Sisil
"Makanya sana, ganggu aja lo."
"Jangan-jangan lo lagi..." Sisil bergidik ngeri. Dia geli sendiri membayangkan pikiran kotornya.
"Jangan-jangan apaan!" teriak regas.
"Lo berbuat m***m kan di dalam?"
"Wahahahhaha, pikiran lo kotor juga ternyata." sahut Regas dari dalam. Tawanya menggelegar.
"Dih, lo ngapain emang lama-lama dikamar mandi kalau gak lagi..." Sisil menggantung ucapannya. Dia geli sendiri.
"Gue lagi boker nih, lo mau temenin gak?"
Ceklek. Tak lama pintu itu terbuka.
Regas membuka kunci pintu bilik toilet. Sisil mengintipkan matanya dengan ekspresi jijik.
"Sini masuk!" ajar Regas dengan tawa jahilnya.
"Enggak!"
Alih-alih mendengarkan cowok itu Sisil langsung menarik handel pintu dengan sangat keras. Lalu berlari di depan wastafel, dia menatap wajahnya yang memerah di dalam cermin.
"Dasar m***m!" teriak Sisil.
"Lo yang mancing gue duluan!" balas Regas di belakang sana.
"Issh!" Sisil menghentakkan pel yang ia pegang ke lantai.
Regas sendiri tertawa keras, cowok itu tersenyum puas karena telah mengerjai gadis itu, dia kemudian duduk di atas kloset yang tertutup, Regas mengeluarkan ponselnya di saku seragam, lalu melanjutkan game online yang sedari tadi ia mainkan.
Regas mengubah pengaturan ponselnya menjadi diam, sehingga Sisil tidak bisa mendengar suara dari ponselnya. Dia juga mengunci rapat bibirnya agar tidak bersuara, ternyata dari tadi Regas sedang asik bermain game domino. Di harus menyelesaikan satu ronde lagi sebelum melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
"Jacpot! Jacpot, Ah s**t!" bisik Regas tidak tahan mengumpat. Untunglah suaranya sangat kecil tidak akan kedengaran sampai luar
****
Sisil uring-uringan. Dia menoleh, melempar tatapan sinis kearah bilik toilet, dimana Regas sengaja mengurung diri di dalam.
"Si m***m itu pasti gak bersihin toilet. Liat aja gue bakal buat lo keluar dari sana dengan sakit!" Sisil berucap kesal, tatapannya menajam. Sedangkan tangannya meremas kuat tangkai pel dengan kobaran emosi.
Sisil melanjutkan mengepel lantai, sambil mengomel-ngomel kecil, dia meruntuki diri karena telah berbuat bodoh, dan harus di hukum bersama anak baru yang datang di kelasnya.
"Cih, dia segala promoin akun ig, Regas gak suka nge gas? Dih, Tapi kelakuannya bikin orang pengen ngegas mulu!"
Sisil mengingat moment di mana Regas memperkenalkan diri. Dan menyebutkan akun ig—nya Regasgaksukangegas. Sisil akui itu nama akun yang sangat lucu.
"Dosa apa gue bisa ketemu orang menyebalkan kayak lo."
Sisil berbicara sendiri sambil menunjuk pintu bilik yang digunakan Regas.
"Lo sama Raka gak ada bedanya, lo memulai pertemuan dengan cara menyebalkan sama gue."
Sisil terhenyak beberapa detik, dia menyadari apa yang barusan di katakan. Regas—Raka orang yang berbeda, tapi kenapa Sisil merasa keduanya sedikit ada kesamaan. Wajah mereka jelas tidak mirip sama sekali, tapi kenapa tingkah laku mereka sedikit sama, dan cara menatapnya pun begitu. Sangat lembut, penuh arti dan membuat hati Sisil bergetar.
Raka. Sudah lama Sisil tidak menyebut nama itu lagi. Dia kemudian teringat, Raka juga dulu sangat menyebalkan, dia sedikit mirip dengan Regas, penganggu dan suka membuat keributan dengannya. Raka tidak akan berhenti menganggunya sebelum sisil memberikan apa yang dia mau. dia juga ingat bagaimana Raka juga dulu memaksa Sisil untuk menjadi pacarnya.
Mata sisil panas tiap membayangkan masa lalunya dengan Raka, tanpa sadar Sisil menitihkan air matanya. Dia menatap pintu bilik kamar mandi dengan perasaan hampa.
Beberapa saat kemudian Sisil tersadar untuk apa ia bersedih? Ini bukan waktunya untuk menangisi masa lalunya. Sisil menyeka air matanya. Perubahan ekspresinya begitu cepat. Tatapannya yang lembut kembali menunjukkan kemarahan.
"Regas keluar lo!" teriak Sisil dari luar.
Regas meringis, dia jadi kurang fokus gara-gara gadis itu.
"Kalau udah selesai, lo pulang aja dah, biar gue yang beresin sisahnya!" balasnya tanpa melepas fokus matanya di hp.
Sisil menarik nafas, sangat sabar, walau emosinya meluap-luap.
"Lo lupa, pak Zaki bilang apa? Kita harus keluar sama-sama dengan keadaan toilet bersih mengkilat, kalau gue pulang duluan, yang ada lo juga kabur, dasar monyettt!" Sisil menghentakkan kakinya dengan kesal.
"Mana ada monyet ganteng kayak gua?" balas Regas.
"Elo Sialan!" teriak Sisil tak henti-hentinya. Untunglah semua murid sudah pulang, jika tidak mereka akan menjadi tontonan oleh seluruh murid sekolah mereka.
"Gak usah teriak-teriak, gue dengar semuanya. Gue tau. Makanya lo tunggu bentar. Diam dan jangan brisik, kerjain aja yang di luar. Lo pel semua lantainya sampai mengkilat" titah Regas tanpa dosa.
"Cepetan gak usah banyak omong lo di dalam! gue tau lo lagi nyantai, lo gak ada bersihin klosetnya!"
"Kata siapa?"
"Kata gue!"
Regas menghela nafas.
"Iya bentar-bentar!"
"Bentar-bentar mulu dari tadi, udah jam berapa ini, lo mau sampai besok di toilet sekolah? gak takut lo ada hantu yang nerkam lo dari belakang." ujar Sisil sengaja menakuti cowok itu. Padahal dia menyesal mengatakan itu karena saat ini dia malah mengawasi sekitarnya. Keadaan toilet yang sepi memang menyeramkan.
"Palingan hantunya jatuh cinta sama ketampanan gue. Lagian dibandingkan dengan hantu gue lebih takut sama lo!"
"Lo ya anak baru tapi nyebelin banget! keluar lo sini gelud sama gue."
"Hei! hati-hati sama kata gelud lo, jangan buat pikiran gue jadi liar." balas Regas lagi.
"Dasar m***m! Sialan! b*****t! Gue sumpahin lo di cium setan!" seru Sisil tidak tahan lagi.
"Lo setannya, sini cium gue!"
"Regas anjing!"
"Hahaha."
Sisil mengatur nafasnya, sepertinya tensinya naik gara-gara cowok itu. Sisil, meremas ujung roknya dengan gemas, ingin rasanya berubah jadi banteng dan menyeruduk cowok itu hingga mati.
"Regas cepetan keluar, gue mau pulang!" teriak Sisil semakin merengek.
Tak ada jawaban dari cowok itu membuat Sisil semakin kesal.
"Regas lo dengar gue nggak?!"
"Apa?"
"Cepetan keluar dari sana!"
"Oooo... Gue tau kok lo kangen liat muka ganteng gue, makanya lo sengaja manggil-manggil gue keluar, oke lah, tunggu sebentar ya sayang. "
"Sayang, sayang, pala lo!"
"Hihihi."
Sisil menghentakkan kakinya lagi ke lantai, dia sangat kesal. Sisil tidak tau nasib apa yang menimpa dirinya hingga seharian ini hidupnya di penuhi masalah. Dan semua ini karena dan bertemu dengan cowok itu. Dan sekarang tanpa sepengetahuan Sisil, Regas malah sedang bersantai di dalam bilik toilet.
Sisil menjatuhkan pel ke lantai dengan kesal.
"Dia ngapain sih?!"
Dengan rasa penasaran sekaligus kesal, Sisil akhirnya berjalan mendekati bilik-bilik toilet, lalu pikir panjang gadis itu masuk di salah satu bilik toilet, tepat di sebelah Regas. Sisil kemudian naik ke atas kloset dan berusaha memanjat dinding pembatas, kepalanya muncul sedikit.
Dia tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi. Matanya sudah siap jika harus melihat apa yang Regas lakukan dalam.
"Super wings, yes gue menang!" Regas menekuk siku sambil tersenyum. Cowok itu terlihat seperti orang gila karena berbicara sendiri.
"Lo bertiga cupu, Aldo mending main berbie sono lu, ngapain ikutan main." katanya lagi berbicara di telpon.
"Chips gue kaga berkurang man," lanjutnya.
"Nanti pulang sekolah, gue mau lo bertiga stay, pokoknya kita liat siapa yang sebenarnya master dalam permainan ini."
Sementara itu dia tidak menyadari, tidak jauh di atasnya, kepala sisil muncul dan menontonnya dari atas dengan ekspresi marah yang ia tahan.
"Ternyata dia asik-asik main game, sementara gue udah kehabisan napas manggil dia dari luar. Kurang ajar!" sisil membatin. Dia kemudian turun dari kloset dengan hati-hati.
Sisil keluar dari bilik itu lagi dia tubuhnya memutar, seperti mencari sesuatu dan ketika matanya menangkap sebuah ember berisi air. Sisil langsung tersenyum.
"Huh, liat apa yang bakal gue lakuin ke lo." Sisil mendengkus, lalu dengan santai ia berjalan mengambil ember yang sudah berisi sabun yang dia gunakan untuk mengepel lantai tadi.
Sisil menumpahkan seluruh isi ember ke lantai, hingga lantai yang tadinya sudah ia pel kini tergenang air sampai masuk ke dalam bilik-bilik toilet tersebut.
Regas belum menyadari hal itu, karena ia fokus dengan gamennya.
"Enak aja gue capek-capek bersihin di luar, lo malah santai di dalam. Rasain ini." Sisil menumpahkan cairan pengepel lantai tepat di depan pintu Regas hingga setengah botol habis.
Sisil menyimpan botol itu di atas wastafel, dia lalu berjalan kembali mendekati pintu toilet yang digunakan Regas. Gadis itu memfokuskan tatapannya ke pintu sembari menyinggungkan senyum licik.
Satu.
Dua.
Tiga.
"AAAAAA TOLONG ADA TIKUS!"
Teriak Sisil pura-pura histeris, dia sudah mempersiapkan aktingnya.
"TOLONGIN GUE! TOLONG ADA TIKUS, GUE TAKUT TIKUS HIKS!"
Regas yang mendengar teriakan sisil langsung panik dan membuka pintu kamar mandi.
"Mana mana tikusnya?!"
Regas melangkahkan kakinya mendekati Sisil dengan terburu-terburu, membuat cowok tinggi itu tidak sengaja menginjak cairan pel yang begitu licin.
"HUWAAAAAAAAAAAA!"
Sisil melototkan matanya melihat Regas mendekat kearahnya, dia tidak sempat menghindar, kaki Regas yang tidak mampu menahan licinnya lantai akhirnya terpeleset ke depan membuat tubuhnya terdorong ke depan dan
"AAAAAAAAKH!"
Dan dalam hitungan detik keduanya ambruk ke lantai.
"Aduh!"
Sisil bisa merasakan beratnya tubuh kekar Regas menimpa dirinya. Posisi kepala regas di lekukan lehernya. Sontak Sisil mendorong kepala Regas.
Tapi aksinya itu membuatnya mematung dengan kedua mata membulat, ketika posisi kepala meraka berhadapan tanpa jarak secuilpun. Sama halnya dengan regas saat ini Regas menyorotkan tatapan kaget. Kedua tangan Sisil masih menempel di kedua pipinya.
"Lo... nggak apa-apa?" tanya Regas dapat melihat mata Sisil yang indah dengan jelas. Detak jantungnya beradu cepat, saat ia tidak sengaja menatap bibir sisil yang berwarna merah muda.
Sisilpun tidak menjawab, karena dia juga terpesona dengan lekuk wajah Regas, kulit putih yang begitu lembut, hidung mancung, iris mata yang gelap serta bentuk bibir cowok itu.
"Gue ganteng banget ya?" bisik Regas dengan suara beratnya. Deru nafasnya itu membuat kedua mata Sisil bergerak cepat.
Sisil tidak sadar mengagumi itu dari dekat, sontak saja gadis itu mendorong tubuh Regas.
"Minggir!"
"Aww!" kelu Regas karena Sisil sedikit menampar pipinya.
Sisil segera bangun. Regas pun ikut bangkit dan mendekati gadis itu, untuk mengecek keadaannya.
"Sorry..." Regas berniat memegang kepala Sisil, karena gadis itu menyentuh kepalanya. "Kepala lo gak kebentur kan? Takutnya lo geger otar karena gue."
Sisil melirikkan tatapan sengit ke arah Regas. Di saat seperti ini cowok itu masih saja bercanda.
"Sini, coba gue liat." Regas kemudian maju tapi Sisil mundur hingga pinggulnya menyentuh pinggiran wastafel.
"Gak usah! Gue baik-baik aja." tolak Sisil menyilangkan tangan di d**a.
"Jauh-jauh hush! Sana lu!" Sisil mengusir Tegas dengan kakinya, mau tak mau Regas mundur dengan tatapan heran.
"Eh?!" Tegas menghindari tendangan gadis itu.
Mata Regas memperhatikan Sisil dari ujung kepala, hingga turun dan menatap seragam dan rok Sisil basah karena terkena genangan air.
"Seragam lo basah. "
"Gara-gara ketiban badan lo!" ucap sisil tak ada lembut-lembutnya.
"Lagian lo ngapain numpahin cairan pel ke lantai. Sengaja kan lu pengen gue jatuh." tuding Regas menunjuk wajah Sisil.
Sisil membuang muka ke arah lain.
"Salah sendiri malah asik nge—game dalam toilet." ucap sisil memutar bola matanya dengan malas. Tangannya terlipat di d**a.
"Iya sorry, tapi nggak buat orang celaka juga. Gimana kalau gue tadi jatoh, terus kepala gue terbentur lantai. Sampai pecah. Lo mau tanggung jawab?" Regas sedikit meninggikan suaranya. Ekspresinya berubah dingin dia tidak menyangka Sisil akan berbuat kekanak-kanakan seperti itu.
"Gak usah jauh pikiran lo, sok dramatis." ucap Sisil. Dia pikir Regas terlalu membawa perasaan. Padahal kan sisil hanya ingin mengerjain cowok itu. Tapi nampaknya cowok ini malah marah.
"Gue ngomong serius. Becandaan lo tadi buat orang hampir celaka." Regas menajamkan tatapannya pada Sisil.
"Iya, iya gue minta maaf!" ucap Sisil kemudian berlalu dari hadapan Regas, gadis itu mengambil pel yang sempat ia buang ke lantai. Lalu tanpa berbicara lagi Sisil melanjutkan mengepel lantai. Tanpa memperdulikan Regas yang sedang memperhatikannya.
Regas yang merasa bersalah, mendekati Sisil lagi dan merebut pel itu dari tangan Sisil.
"Apa-apaan sih lo!" kesal Sisil karena Regas selalu berbuat seenaknya.
"Lo istirahat aja." Regas mengedikkan dagu ke arah pintu keluar. "Tunggu gue di luar, biar gue yang bersihin semuanya."
Sisil menarik nafas lalu membuangnya dengan kasar.
"Terserah lo!" Sisil menghentakkan kakinya lalu berbalik meninggalkan Regas, tak lupa ia meraih tasnya yang ia gantung di pintu masuk.
"Jangan balik dulu, tunggu gue!" titah cowok itu sebelum akhirnya mengambil alih semua pekerjaan Sisil.
"Gak! gue mau pulang," seru Sisil dari luar.
Regas tersenyum. Mana mungkin Sisil meninggalkannya. Dia tau gadis itu hanya berpura-pura. Regas akui dia terlalu kasar berbicara dengan gadis itu. Sehingga membuatnya marah.
"Cewek aneh." Regas makin tersenyum. Dia merasa sangat bahagia bisa pindah ke sekolah ini.
Tak mau membuang waktu, cowok tampan itu bergegas membersihkan toilet sendiri sementara Sisil menunggunya di luar.