Waktu menunjukan pukul 1 siang, itu artinya seluruh murid di perbolehkan kembali ke rumah masing-masing.
Alena duduk termenung di dalam kelas, bersama beberapa anak yang sedang melaksanakan piket harian. Mereka sedang membersihkan ruangan itu dengan sampah dan debu kotoran.
Ini bukan jadwal piket Alena, hanya saja dia belum bisa pulang karena Pricilla. Sahabat yang sering disebutnya Sisil itu sedang dihukum membersihkan toilet sekolah bersama anak baru yang Alena ingat namanya Regas. Kalian tau lah kenapa Sisil di hukum. Itu karena Sisil tiba-tiba berteriak kaget saat pak Zaki akan memulai pelajaran.
Dan anak baru bernama Regas itu dengan lantang meminta pak Zaki juga menghukumnya bersama Sisil. Alena tau itu hanya akal-akalan Regas agar bisa pdkt dengan Sisil.
Alena tidak tau jelas hubungan keduanya, hanya saja sejak pagi Alena melihat Regas sudah bersama Sisil. Entah di mana mereka bertemu, Alena belum menanyakan itu pada Sisil.
"Al, lo gak balik?" tanya Cia dari belakang.
Alena sedikit tersentak, karena lamunannya dibuat buyar oleh suara Cia, Alena akhirnya menoleh melihat Cia sedang menyapu lantai.
"Gue...nunggu Sisil." jawab Alena sedikit tersenyum.
Cia mengangguk paham, dia kemudian melanjutkan sapuannya.
"Oh."
"Lo gak ada niat bantuin kita?"
Alena menggeleng keras. "Piket gue,besok, bukan hari ini."
"Hmm!"
Cia memutar bola matanya sambil berbalik malas membelakangi Alena, gadis itu kemudian melanjutkan aktivitasnya menyapu lantai.
"Al!"
"Iya?!" kaget Alena.
Alena kembali menoleh kebelakang, matanya langsung menangkap Dela berdiri di ujung lemari loket.
"Kenapa Del?" tanya Alena.
"Kita hampir selesai nyapu ruangan, pak satpam juga bentar lagi datang untuk mengunci kelas. Lo mending nunggu di luar aja Al." kata Dela ,seolah-olah mengusir Alena.
"Iya Al, lo nunggu di luar aja sana. Lagian lo juga gak ngebantu kita, jadi mending lo pulang aja." tambah Tiara yang tengah menghapus papan tulis.
Alena mengangguk. Sebaiknya dia keluar saja, pemandangan dirinya di dalam kelas mungkin akan membuat teman-temannya ini kesal. Karena bukannya membantu Alena malah dengan santai duduk di kelasnya.
"Iya, gue keluar sekarang." kata Alena cepat-cepat membereskan barang-barangnya di atas meja.
Alena merapikan buku-buku dan alat tulisnya lalu memasukkannya kedalam ransel birunya. Kemudian setelah itu Alena memakai tasnya, tak berhenti di situ Alena kini berkutat dengan ikatan rambutnya, Alena menarik ikatan rambutnya, hingga rambut panjangnya terurai, Alena hanya ingin mengikatnya lebih rapi. Membenarkan sedikit poninya yang berantakan, Setelah itu dia beranjak dari tempat duduknya.
"Gue balik ya, guys." Alena melambaikan tangan ke pada teman-temannya sembari berjalan keluar.
Dela, Cia dan Tiara membalas melambaikan tangan mereka.
"Hati-hati Al!"
Alena tersenyum sembari mengangguk.
"Oke!"
Gadis itu kemudian berbalik, dia berjalan mundur dengan ekspesi bahagia yang selalu terpancar diwajah manisnya.
Secara tidak sadar Alena sudah didepan pintu, Alena behenti sejenak, dia membuang nafas tanpa melepas ekspresi bahagianya. Dan detik berikutnya Alena berbalik, namun tanpa disangka seorang cowok tiba-tiba datang membuat Alena tidak sengaja bertubrukan dengan cowok itu.
"Aakh!" pekik Alena.
Mata Alena terpejam selama beberapa detik, kedua tangannya tanpa sadar menempel di d**a orang tersebut, Alena bahkan bisa merasakan kerasnya otot d**a orang itu. Alena perlahan membuka mata, dia sedikit mendongak dan yang pertama kali ia lihat adalah dagu serta jakun cowok itu yang bergerak naik-turun.
Alena meneguk ludah, mendadak detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya.
"Ekhm!" Cowok itu berdehem dengan suara berat.
Dengan cepat Alena menjauhkan tangannya.
"Aduh, sorry gue gak senga—"
"Alfi..." lirihnya ketika cowok itu menatap matanya dengan tatapan datar.
Bibir Alena terbuka lebar, dia benar-benar terkejut saat mengetahui siapa yang berdiri di depannya, secara reflek kaki gadis itu mundur, namun tangan Alfi tergerak cepat dan menahan belakang kepala gadis itu yang hampir terbentur di pintu.
"Eung..." gumam Alena, ketika merasakan telapak tangan Alfi yang kekar menempel dibelakang kepalanya. Alena sedikit menahan gugup dalam dirinya.
Alena tidak bisa mendeskripsikan seperti apa perasaannya sekarang, yang jelas dia tidak bisa berkata-kata tiap kali berhadapan dengan cowok yang berjarak sejengkal di depannya ini.
"Dasar ceroboh." ucap cowok itu setelah dua menit terlewat mereka saling menatap. Alfi dengan cepat menarik tangannya. Lalu mundur selangkah. Cowok itu gelagapan sendiri, dia memasukkan dua tangannya itu di saku, kemudian menatap Alena dengan tatapan serius.
"Maaf. " Alena hanya bisa tertunduk malu.
Alfi mendengus pelan sembari menatap gadis di depannya ini, dia kemudian menatap sekitarnya takut ada yang melihat mereka. Alfi takut nanti ada rumor tentang dirinya dengan gadis ini.
"Gue ke sini mau minta maaf. Ah, lebih tepatnya... gue mewakili sahabat gue Dion untuk meminta maaf karena bikin lo nangis tadi pagi."
Alena langsung mendongak, tatapannya sedikit menajam.
"Kenapa lo yang harus minta maaf, kan yang buat salah Dion." kata Alena tidak setuju dengan apa yang dilakukan Alfi barusan.
Meminta maaf? Alfi tidak pernah bersalah kenapa dia malah meminta maaf hanya demi Dion.
"Gue sahabatnya, jadi gak ada salahnya gue mewakili dia. Anggap aja Dion lagi ngirim surat ke lo, dan gue yang sampein." ujarnya.
Alena menarik nafas, lalu menghembuskannya pelan.
"Dion yang nyuruh Alfi buat minta maaf?" tanya Alena.
Alfi berpikir cepat untuk mencari jawaban. Karena nyatanya Alfi sudah membujuk Dion untuk meminta maaf pada Alena.
"Iya, semua ini murni dari hati Dion, karena dia buru-buru pulang, gue di suruh ketemu lo buat sampein permintaan maaf dia. Karena kalau enggak sahabat lo itu bakal nyari sahabat gue dan nyerang Dion lagi." ucap Alfi jelas menyindir Sisil sahabatnya.
Setelah Dion bercerita tentang Sisil yang datang dan menamparnya. Alfi membujuk Dion untuk meminta maaf. Ini karena dia tidak ingin Dion membuat masalah, apalagi saling bermusuhan dengan seorang cewek di sekolah ini.
"Sekarang gue tanya apa lo mau terima permintaan maaf sahabat gue?" tanya Alfi memastikan.
"Enggak!"
"Kenapa?" tanya Alfi dengan mendelikkan matanya. Dia tidak menyangka gadis didepannya ini sangat keras kepala. Hanya permasalahan meminta maaf kenapa harus serumit ini.
Alena membuang nafas berat. "Maksud gue...kalau emang dia mau minta maaf, harusnya dia berhadapan langsung sama gue, nggak pake lo perantaranya." tunjuk Alena.
"Dion lagi banyak pikiran, dia gak mungkin ketemu lo sekarang, selagi dia nenangin pikirannya, gue sebagai sahabat datang buat minta maaf atas perlakuan kasar dia ke lo." jelas Alfi dengan suara beratnya.
Alena terdiam, entah kenapa semua yang dikatakan Alfi tidak masuk akal dipikirannya. Alena tidak bisa menerima Alasan Alfi yang mengatakan Dion sedang banyak pikiran makanya membentaknya dan menabraknya juga.
"Dion gak sedang banyak pikiran, tapi dia gak suka sama gue."
Detik itu Alena berbalik lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Alfi.
Alfi mematung di tempat, matanya memandang punggung Alena yang berjalan di depannya.
Dion gak suka gue.
"dia suka sama gue, ternyata dia suka sama Dion." Alfi menggeleng. "Gue salah paham selama ini."
Alfi tertawa kecil sambil menunduk memandang lantai, dia kemudian menatap Alena yang mulai menjauh. Lama Alfi memandang gadis itu dengan sorot matanya yang dingin.
"Eh Alfi lo kok bisa di sini?" tanya Cia yang tidak sengaja keluar untuk membuang sampah.
Tanpa menjawab Cia, Alfi menggerakkan kakinya yang memakai sepatu seneaker, perlahan melangkah santai sampai akhirnya cowok itu berlari kecil. Membuat Cia memandang cowok itu dengan bingung. Cia kemudian kembali kedalam kelas setelah memasukkan kantung plastik berisi sampah itu ke dalam tong sampah besar.
****
"Berhenti!"
Teriak Alfi saat Alena akan menuruni tangga. Alena pun menoleh dan menatap Alfi yang berjalan 10 meter di depannya.
Alfi? Dia ngikutin aku?
Alena tersenyum. Lain halnya Alfi yang menyorotkan tatapan dingin.
Untuk beberapa detik keduanya terdiam saling melempar tatapan satu sama lain. Angin yang berhembus dan suara sepatu Alfi yang menyentuh lantai seakan-akan bergerak lambat ke arahnya. Alena merasa dunia melambat seiring cowok itu mendekatinya.
Drap... Drap... Drap...
Derap langkah itu saling mendominasi dengan detakan jantung Alena. Matanya tak lepas memandangi cowok yang sedang berjalan ke arahnya itu. Dan apa yang terjadi selanjutnya Alena benar-benar tidak pernah menduganya.
"Hah!"
Alfi menarik pergelangan tangan Alena lalu membawa Alena ke sisi dinding. Dengan cepat cowok itu mendorong tubuh mungil Alena hingga terhimpit didinding. Alfi mempersempit jarak dengan posisi satu tangan menahan kepala gadis itu agar tidak terbentur. Sementara satu tangan lainnya memegang bahu Alena. Tatapannya begitu intens membuat Alena hanya bisa menahan nafas. Selanjutnya Alfi memiringkan kepalanya.
Hingga refleks Alena menutup matanya, dengan degub jantung yang makin cepat. Kedua tangan Alena meremas rok pendeknya. Ketika merasakan nafas cowok itu menerpa wajahnya. Tubuhnya melemas seketika, Alena ingin pingsan saja rasanya.
"Oh my god, oh may god, Dela Tiara buruan sini!" Cia heboh sendiri mengarahkan ponselnya ke depan, dia benar-benar terkejut melihat pemandangan yang tak jauh di depannya. Dia bisa melihat jelas bagaimana Alfi menghalangi tubuh Alena di tembok, dan yang benar saja sekarang cowok itu mencium Alena. Cia tidak mau membuang kesempatan, dia segera memotret mereka berdua.
"Haah! Alena sama Alfi!" kaget Tiara saat tiba di belakang Cia dan menyadari apa yang membuat Cia seheboh itu.
"Kalian ngeliatin apa sih?" Dela mendekati dua temannya dengan santai, dia kemudian menyebarkan pandangan di koridor. Dia menghentikan langkahnya di samping Tiara, menatap Cia yang sedang mengambil gambar, ketika ia menggerakkan kepalanya mengikuti arah pandang dua sahabatnya, di saat itu juga mata Dela membulat.
"Ya tuhan! pemandangan apa ini?" Kaget Dela menutup mulutnya, dia sudah berdiri di samping Tiara. Kedua matanya juga menyaksikan dua insan di sana sedang bermesraan.
"Alena sama Alfi ternyata emang pacaran! Ambil yang banyak Cia, ini akan menjadi berita yang sangat heboh!" Dela melompat girang, Tiara pun ikut gemas melihat mereka berdua.
****
Kembali pada sepasang remaja yang tidak menyadari bahwa sekarang mereka sedang di tonton belakang sana.
Alfi menatap kedua mata Alena yang terpejam, bulu mata Alena sangat tebal dan lentik, tanpa sadar Alfi tersenyum, dia kemudian menyentuh dagu Alena dengan telunjuk, diangkat nya dagu gadis itu sambil tersenyum miring.
"Ngapain lo tutup mata?"
Dan detik itu juga Alena membuka mata dan dengan cepat menutup bibirnya dengan tiga jari. Dia kaget saat jarak antara bibirnya dengan alfi sangat dekat, jika maju sedikit saja. Alena bisa kehilangan kesucian bibirnya.
Alfi tertawa ringan. Cowok ini tidak mengira pikiran Alena akan sejauh itu.
"Lo mikir gue bakal nyium lo?"
Mulut Alena dibuat terkunci, kakinya terasa lemas mendengar Alfi mengtakan itu. Sebenarnya apa yang dia harapkan, dia sendiri tidak tau kenapa dia menutup mata dan bibirnya. Apa dia takut Alfi akan tiba-tiba menciunya.
"Lo berharap apa, hm?"
"Minggir, gue gak bisa gerak."
"Gue emang gak akan biarin lo gerak sedikitpun."
Mendengar itu, Alena mendorong d**a Alfi, meskipun tidak berefek apa-apa bagi cowok itu. Alena mendesis kesal, kedua tangan Alena kini menempel di d**a bidang Alfi membuatnya merasakan otot d**a cowok itu untuk yang kedua kali. Alena belum menyadari itu, hingga membuat Alfi menahan tawa menatap kedua pipi Alena yang memerah karena malu.
"Ekh!"
"Kayaknya...lo suka banget nyentuh d**a gue." ucap Alfi menahan tawanya.
"Enggak!" Alena buru-buru menurunkan tangannya.
"Lo sebenarnya mau apa sama gue?" tanya Alena tidak mengerti sikap Alfi yang sangat meresahkan Alena.
Alfi menjeda waktu sedikit. Menatap wajah Alena lebih dekat. Alena pun menurunkan tatapannya. Jika terus saling menatap, Alena bisa kehilangan keseimbangan dan berakhir pingsan di depan cowok ini.
"Gue mau lo maafin sahabat gue." ucap Alfi.
Alena menggeleng. Dia mendongak menatap wajah Alfi lagi.
"Kalau mau minta maaf itu harus tulus dari hati dan juga berhadapan langsung dengan orang yang bersangkutan. Kenapa harus lo yang mati-matian minta maaf, sementara Dion sebenarnya tidak mau minta maaf kan?"
"Dari mana dia tau?" batin Alfi. Apa gadis ini bisa membaca pikiran orang.
"Dion benci sama gue. Dari sikapnya yang kasar, jelas dia gak suka sama gue."
Dugaan gue benar, nie cewek bener bisa baca pikiran gue. Atau hanya kebetulan
"Gue gak mau lo ada masalah sama Dion, makanya lo sebaiknya maafin dia. Dan mulai menjaga jarak, dari gue dan juga Dion."
Alena tersentak mendengar itu, matanya membulat, bibirnya sedikit terbuka.
"Kenapa gue harus menjaga jarak dengan lo?" tanya Alena.
"Kenapa lo harus dekat sama gue?" tatapan Alfi menajam.
"Karena gue suka sama lo!" ucap Alena mengakui.
Kedua tangannya lagi-lagi meremas roknya. Iris matanya yang berkilat bertemu dengan iris mata Alfi yang menggelap. Dia sangat tidak terima jika Alfi meminta dirinya untuk menjauh. Alena jelas tidak bisa. Dia tidak ingin berhenti, dan membuat usahanya selama ini jadi sia-sia.
Alfi perlahan menarik tangannya dari kepala gadis itu, membuat belakang kepala Alena menyentuh tembok. Alfi mundur dengan sorot mata berubah dingin. Cowok itu tidak menyangka gadis itu akan mengucapkan Kalimat yang tidak ingin Alfi dengar selama setahun ini.
Alfi menghela nafas, tatapannya sangat marah dia perlahan berbalik dan meninggalkan Alena tanpa mengucap sepatah kata pun.
Hati Alena retak melihat bagaimana reaksi Alfi yang sepertinya tidak suka dengan pengakuannya. Alena merasa telah berbuat kesalahan. Tidak seharusnya dia mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan.
"Huuft!"
Alena menyandarkan punggungnya, dia mendongak menatap langit-langit koridor sambil berdecak kesal.
"Harusnya gue gak terlalu cepat ngungkapin perasaan gue. Pasti Alfi kaget banget. Pasti dia marah banget, dan gue yakin, gue gak punya kesempatan lagi buat deketin dia. Aaah! bodo banget si Al!" Alena mengepal kedua tangannya.
****