Satu jam berlalu, Sisil sudah tersadar dari pingsannya. Gadis itu sudah ke kelas dan bergabung dengan teman-temannya.
Saat terbangun, dia benar-benar kaget ketika menyadari dirinya sendirian di UKS. Dia tidak ingat lagi siapa yang membawanya ke UKS. Yang ada di ingatannya terakhir kali saat dia terkena lemparan bola dan berakhir pingsan. Setelah itu Sisil tiba-tiba Amnesia.
"Aww!"
Sisil meringis sambil menyentuh kepalanya. Ternyata begini rasanya terkena lemparan bola basket. Seperti ditampar ribuan kali.
"Ck, gue kok apes banget hari ini, pake kena lemparan bola, segala." Sisil mencibir sambil memijat-mijat pelipisnya.
"Tunggu sebentar, jangan-jangan ini karma karena gue menampar Dion tadi."
Sisil menggelangkan kepalanya, sembari membuang nafas lelah, gadis itu memijat kepalanya, sedikit merasa pusing. "Enggak Sil, Dion pantes dapat tamparan dari gue." gumam gadis itu pada dirinya sendiri. Sisil menghela nafas sekali lagi.
"Sil lo enggak apa-apa?" tanya Alena datang dari bangku barisan di sebelahnya. Dia kemudian duduk sembari memijat bahu Sisil.
Sakitnya di kepla Al, bukan di bahu. Sisil tersenyum kecut menatap sahabatnya ini
"Gue gapapa Al, cuma pusing dikit, entar juga hilang sakitnya." ucap Sisil tapi tidak berhenti meringis.
"Sini gue pijitin kepala lo." Sisil kemudian mendekatkan kepalanya, membiarkan Alena memijat pelipisnya dengan kedua tangan. Sisil merasa sedikit baikan ketika Alena yang memijat kepalanya.
"Sil, lo beneran berantem dan nampar Dion?" tanya Alena.
Sisil mengangguk tanpa bersuara. Alena menatapnya sangat bersalah, karena dirinya, berita itu sudah tersebar ke seluruh antero sekolah. Dan Alena sangat menyesal, karena dirinya Sisil harus mengalami hal buruk berkali-kali.
"Semua ini salah gue, harusnya lo gak nampar Dion, kalau dia dendam trus balik nampar lo gimana?"
Sisil menurunkan tangan Alena dari kepalanya, sambil tersenyum.
"Cowok kayak dia harus di kasih pelajaran,"
"Tapi—"
"Lagian lo gak salah." lanjut sisil.
"Semua yang lo lakuin itu gak salah, lo suka Alfi itu hak lo, lo mau deketin dia itu keputusan lo, lo bebas lakuin apa yang lo mau, jangan pernah bersalah dalam mengejar cinta lo Al, dan Dion. Dia itu cuma lebah pengganggu, gak peduli apa yang dia katakan, biarpun itu menyakitkan jangan lo dengerin, dia sengaja buat lo jauh sama sahabatnya."
Alena menatap Sisil dengan mata yang mulai berkaca-baca. Hatinya tergerak, dia merasa terharu dengan ucapan Sisil.
"Al!" Sisil menepuk bahu Alena, tatapannya serius.
"Em?" Alena pun menatap Sisil dengan bingung.
"Gue bakal jadi garda terdepan yang mendukung lo sama Alfi, lo tenang aja, bakal gue basmi orang-orang yang berani halangin lo deketin Alfi."
"Kenapa lo semangat banget dukung gue?" tanya Alena.
Sisil memghela nafas, otak Alena memang terkadang lambat loading. "Gue baru kali ini liat lo jatuh cinta, gue gak mau senyum lo hilang karena gagal sama cinta lo Al, karena itu, gue gak mau sahabat gue kehilangan kebahagiaannya, jadi mulai saat ini lo harus berjuang ngejar cinta lo, jangan pernah menyerah!" pungkasnya.
"Tapi lo jadi musuhan sama Dion gara-gara gue."
"Gue gak pernah temenan sama Dion, gue gak kenal dia."
"Tapi lo bisa di benci—"
"Al," potong Sisil membuat Alena terhenyak menatapi Sisil.
"Gue gak peduli." ucap Sisil dengan yakin.
Alena memajukan bibir. Lagi-lagi Sisil mengorbankan dirinya dan semua itu untuknya. Sisil memang sahabat paling baik. Padahal mereka belum lama kenal satu sama lain, tapi Sisil memperlakukan sangat baik, bahkan Sisil menganggap Alena seperti saudaranya sendiri.
"Dia gak bisa seenaknya gitu ngelarang lo dekat sama orang yang lo suka, meskipun Alfi itu sahabatnya,tapi dia gak punya hak buat ngatur, apalagi membatasi Alfi buat dekat dengan siapa aja." kata Sisil membuat Alena terbungkam.
Alena berbalik menyandarkan diri di sandaran kursi. Dia melipat kedua tangannya di depan d**a sambil berpikir.
"Menurut lo kenapa Dion melarang gue deketin Alfi?"
Sisil mentap Alena, lalu menggeleng. Alena pun menghela nafas, tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya kosong.
"Itu urusan dia sama Alfi, lo gak perlu mikirin sesuatu yang seharusnya lo gak pikirin."
"Kalau sahabatnya aja gak ngerestuin gue sama Alfi, lalu gimana caranya gue berjuang dapatin si Alfi?" gumam Alena sembari menatap meja, seolah-olah di sana dia dapat menemukan jawaban.
Sisil menoleh sambil menggeleng. Alena terlalu banyak berpikir.
"Sebuah perjuangan pasti ada tantangan, anggap aja si Dion itu tantangan lo, dan lo harus siap segala cara buat lewatin tantangan itu. Seperti kata pepatah, 'Usaha tidak akan pernah menghianati hasil'. Lo harus usaha!" kata Sisil membuat Alena terdiam dengan ekspresi senang.
Betul juga yang di katakan Sisil, mulai saat ini dia harus berusaha mendapatkan Alfi, tantangan seberat apapun Alena harus melewatinya. Dia harus siap mental dan hatinya. Tidak peduli rintangan apa yang akan dia hadapi Alena pasti bisa mendapatkan apa yang dia mau.
"Lo benar Sil, gue gak boleh kalah sebelum berperang, Alfi adalah cowok yang buat gue jatuh cinta untuk pertama kalinya. Dan gue gak boleh lepasin dia gitu aja. Gue harus dapatin hatinya." Alena mengangguk yakin wajah cantiknya bersinar, Alena tersenyum penuh arti, tanpa sadar Alfi telah membuatnya jatuh cinta sedalam itu.
Sisil menepuk bahu Alena dengan wajah tersenyum. "Semangat, gue ngedukung lo dari belakang!"
Alena mengangguk lagi, dia benar-benar senang Sisil mendukungnya. Alena kemudian memeluk sahabatnya itu dari samping, memperlihatkan betapa bahagianya dirinya saat ini. Sisil pun mengelus lengan Alena yang melingkar di lehernya.
"Udah, lo jangan sedih lagi." kata Sisil menepuk tangan Alena agar melepaskannya.
"Iya gue gak sedih lagi." balas Alena sambil tersenyum.
"Gue balik tempat duduk gue dulu." kata Alena yang dibalas anggukan oleh Sisil. setelah itu Alena beranjak dari tempat duduk Sisil.
Bertepatan dengan itu, semua teman kelasnya yang masih di luar, masuk bersama Pak Zaki wali kelasnya.
Seketika semuanya duduk dengan rapi di bangku masing-masing, tidak ada yang berani bertingkah ketika lelaki botak itu sudah menginjakkan kaki di dalam kelas mereka.
Yoyo sang ketua kelas, berdiri dan memberi instruksi kepada teman-temannya.
"Beri salam!" teriak lelaki berpakaian paling rapi di antara teman-temannya.
"Selamat pagi pak!!!" seru semuanya secara bersamaan.
"Pagi." balas pak Zaki dengan wajah datar.
Yoyo duduk setelah itu. Kelas tiba-tiba hening, semua menatap pak Zaki dengan serius.
"Oh iya anak-anak, kita hari ini kedatangan Siswa baru."
"Siapa pak?!" sahut Friska dengan cepat, matanya berbinar.
"Saya lupa namanya, yang saya tau dia Pindahan dari Singapura."
Refleks Sisil membulatkan mata serta bibirnya yang terbuka pelan. Pak Zaki mengalihkan tatapannya ke pintu kelas.
"Tunggu sebentar, hei kamu yang di luar ayo masuk!"
Suara sepatu yang memberat, melantun mendekati kelas, saat itu juga semuanya mengalihkan tatapannya ke arah pintu. Perlahan sosok cowok itu muncul dengan menenteng tasnya bi bahu. Matanya langsung melirik Sisil yang membeku menatapnya. Dia melewati meja Sisil yang duduk di depan, barisan kedua dekat dengan pintu kelas.
Sepanjang ia berjalan mendekati pak Zaki bisik-bisik tetangga mulai terjadi. Kelas sedikit menjadi riuh akibat kedatangan cowok itu.
"Itu kan cowok yang gendong Pricilla ke UKS."
"Cogan anjir."
"Masya Allah, dapat hidayah apa kelas gue hari ini, bisa kedatangan malaikat dari surga."
"Lah diakan cowok yang sama-sama Sisil pas berantem sama Dion."
"Jangan-jangan pacarnya Sisil."
"Itu pacarnya sisil kan?"
Karena kelas tak terkondisikan pak Zaki memukul keras mejanya dengan tongkat kayu yang biasanya ia bawa. Hal itu membuat semuanya tersentak dan menutup mulut secara bersamaan.
"Diam!" tegas pak Zaki, auranya sangat kejam.
"Kalian ini kalau melihat cowok aja, langsung ribut." ucap pak Zaki dengan auranya yang menakutkan.
Tidak ada yang berani membuka suara.
Regas sudah berdiri di depan papan tulis, matanya lagi-lagi melirik Sisil, ketika Sisil tanpa sengaja menatapnya bibir Regas tersenyum bersamaan dengan sebelah matanya yang berkedip manja.
Kelakuannya itu membuat seluruh kaum hawa di dalam kelas ini menahan pekikan gemasnya, bahkan sampai menggigit bibir, karena barusan Regas terlihat sedang menggoda seseorang. Sempat tatapan mereka mencari arah pandang Regas,
Sisil yang merasa diperhatikan cepat memalingkan muka dan berpura-pura tidak tau. Dia hanya tidak ingin seluruh temannya berpikiran lain.
"Sekarang, perkenalkan nama kamu ke teman-teman baru mu."
"Siap pak!" Semangat Regas.
Semyumnya sangat meresahkan. Regas menaikan tali tasnya di bahu kemudian berbicara dengan penuh semangat.
"Kenalin, nama gue Regas Safaraid. Gue pindahan dari SMA Raffless institute Singapura, sekarang gue tinggal sama orang tua gue di Jakarta." kata Regas memulai perkenalan, semuanya manggut-manggut sok tau.
"Yang mau tau alamat rumah gue bisa dm gue, nama i********: gue. Regasgaksukangegas." lanjutnya dengan tampang sok serius, padahal aslinya kocak.
Semuanya menahan tawanya. terkecuali pak Zaki yang kini mengerutkan dahi. Regas mau memperkenalkan diri atau ajang mencari bakat, sampai-sampai alamat rumah serta i********: turut ia sebutkan. Ketika pak Zaki ingin memberi intruksi, Regas kembali melanjutkan ucapannya.
"Gue saat ini masih jomblo."
seketika gelak tawa memenuhi ruangan kelas itu. Tak ada yang bisa menahan diri lagi, tak peduli pak Zaki yang ada berdiri selangkah di belakang Regas. Mereka benar-benar tidak bisa menahan tawanya saat ini.
"HAHAHAHHAHAHA!"
"hehe."
Regas pun terkekeh sambil menggaruk tengkuk. Seketika acara ini terlihat seperti acara stand up comedy yang sering tayang di tv pada umumnya.
"Mantan gue ada 10, semuanya gue tinggal pas sayang-sayangnya," Kata Regas membuat semuanya kembali tertawa keras.
Pak Zaki menggeleng. Dia ingin menghentikan segala keributan ini, tapi Regas terlanjur membuatnya jadi seru. Semua orang terhibur dengan perkenalannya. Padahal tadinya mereka mengira Regas adalah cowok cool yang yang tidak banyak bicara, dingin sesuai tampangnya yang rupawan. Tapi semua itu terpatahkan saat melihat bagaimana ceritanya cowok itu memperkenalkan diri. Sampai Sisilpun dari tadi tertawa kecil melihatnya.
"Oh iya hobby gue main game online, domino. Kalian tau kan? Nah itu."
"Sehati kita man! Gue juga suka main game itu." Sahut Rian menepuk dadanya, akhirnya dia bisa menemukan temannya.
"Gebetan ada gak?" teriak salah satunya.
"Adalah pasti." jawab Regas sambil tersenyum miring.
"Huuuuuuu!" seru semuanya.
"Oke ada yang mau bertanya lagi? Seputar perjalan hidup saya siapa tau. "
Seketika semuanya terdiam sambil berpikir. Kemudian Cia buru-buru angkat tangan.
"Tipe cewek ideal!" tanya Cia semangat.
"Cerewet, suka marah-marah, suka maksa, manis, imut, dan yang pastinya dia suka aku."
"Wah itu gue, itu gue." tunjuk Cia pada dirinya sendiri diselingi tawa teman-temannya.
"Ngarep si Cia!" Seru Xelo
"Bang Dadang makan telor, muke lo kayak kerak telor, jangan ngarep." tambah Gira cowok di sebelah Cia.
"Sudah-sudah, kalian jangan gaduh seperti ini. Dan kamu Regas, saya minta kamu perkenalkan diri bukan malah stand up comedy disini." kata pak Zaki mendekati cowok itu.
"Begitu cara saya memperkenalkan diri pak."
"Saya gak mau dengar alasan kamu, ingat saya gak suka kelas saya ribut, saya paling gak suka mendengar keributan. Selama saya mengajar tidak ada yang boleh membuat gaduh." tegas pak Zaki.
Regas menarik pipi, paham dengan ucapan pak Zaki.
"Baik pak Guru." ucap Zaki mengangguk.
"Ya sudah, silahkan kamu cari tempat duduk, kamu bebas mau duduk di mana."
"Karena bapak sudah mengatakan itu, saya mau duduk di sebelah Sisil, boleh kan pak?"
Kedua bola mata sisil membulat mendengar itu. Pak Zaki mengulurkan telepak tangannya ke depan tanda mempersilahkan Regas mengambil tempat duduk di sebelah Pricilla yang kelihatan kosong.
"Cieee, sepertinya saya mencium bau-bau kemesraan yang akan terjadi di kelas kita, ya nggak teman-teman?" celetuk Joko si tukang usil, membuat semua temannya berseru mengiyakan.
"Teman baru Gebetan baruku!!!" teriak Naya ikut menggoda Sisil.
"Kayaknya ada yang mulai pdkt nih!"
"Hei, hei hei!" tegur pak Zaki memukul-mukul meja agar mereka semua berhenti.
"Kenapa kalian ribut lagi, kalian semua mau saya hukum?"
Seketika semuanya mendadak jadi patung.
Regas tertawa ringan melihat ekspresi lucu anak-anak kelas ini. Dia kemudian melangkahkan kakinya mendekati meja Sisil namun dengan cepat gadis itu berbicara membuat langkah Regas berhenti.
"Pak, bangku di sebelah saya ini milik Rifka!"
"Dimana Rifka?" tanya pak Zaki mencari keberadaan salah satu siswinya itu.
"Dia gak datang pak karena sakit." jawab Sisil dengan muka memelas, dia berharap supaya Regas tidak satu tempat duduk dengannya.
Asli Sisil tiba-tiba gugup, dia tidak terbiasa duduk satu bangku dengan cowok, apalagi cowok itu baru dia kenal. Sisil merasa tidak nyaman.
"Ya sudah nggak apa-apa, Regas duduk di sebelah kamu saja, nanti kalau Rifka datang dia bisa duduk di sebelah Alena."
Sisil langsung melirik Alena, namun gadis itu mengangkat jari yang membentuk tanda ok, Alena mengedipkan matanya tanda setuju, hal itu membuat Sisil menghela nafas.
Regas yang tidak ingin membuang waktu, cepat-cepat mendekat dan duduk di sebelah Sisil dengan tampang yang sangat menyebalkan menurut Sisil.
"Hei, akhirnya ketemu lagi, berasa jodoh. " tutur Regas dengan penuh senyuman.
Sisil memutar bola matanya dengan malas.
"Yah...terserah lo deh mau ngomong apa." Sisil memalingkan muka, dia tidak sanggup menatap muka Regas lama-lama. Tidak baik menatap cowok tampan lama-lama, itu tidak sehat untuk jantungnya sendiri.
"Lo udah baikan?" tanya Regas berapa detik kemudian.
Spontan Sisil menoleh, membuat tatapan mereka bertubrukan.
"Kepala lo udah gak sakit?" tanya Regas lagi dengan tatapan berubah lembut. "Tadi pas gue dari ruang guru, gue liat lo pingsan kena lemparan bola dan gak ada yang mau ngangkat badan lo karena katanya lo galak. Jadi, terpaksa gue yang gendong lo ke UKS." jelas Regas tanpa melepas tatapannya dari iris kelabu milik Sisil.
"Kepala lo masih sakit?" tanya Regas mengulurkan tangan ingin menyentuh kepala Sisil tapi dengan cepat Sisil menepisnya.
"Thanks udah nolong gue." balas sisil kemudian mengalihkan tatapanya ke depan dengan menahan gugup yang luar biasa.
Regas tersenyum, dia mendekatkan kepalanya lalu berbisik di telinga Sisil.
"Gue mau lo berterima kasih dengan cara gue."
Sisil langsung melirik Regas, lagi-lagi cowok itu mengunci tatapannya, Sisil mengerutkan kening, tak paham dengan apa yang dikatakan cowok itu.
"Dengan cara lo?"
"Hm." Regas mengangguk pelan.
Sisil menghembuskan nasfas dari hidung sambil mengangguk, tangannya terlipat di d**a.
"Okey, gimana caranya?"
Regas tersenyum kemenangan, kepala bergerak semakin dekat.
Dan detik itu juga Regas membuat jantung Sisil berhenti selama beberapa detik.
"Jadi pacar gue." bisiknya.
Sontak Sisil berdiri memandang Regas tak percaya.
"Lo Gila!"