"DIONEL ALGERA!"
Teriak seorang perempuan membuat seisi kelas XI IPA 1 mengalihkan tatapan mereka ke arah pintu kelas.
Semuanya terkejut dan terheran melihat siapa yang berdiri di sana.
Tanpa disebutkan lagi, mereka sudah tau siapa gadis yang sedang berdiri dengan tatapan marah. Tak sendiri karena dia membawa seorang cowok bersamanya. Siapa lagi kalau bukan Sisil dan Regas. Dua insan yang baru saja berkenalan dan harus di satukan karena sebuah masalah.
Sisil dan Regas berdiri saling berpegangan tangan menyorotkan tatapan ke seluruh kelas. Tatapan Sisil langsung menangkap Dion yang tengah duduk di kursi barisan kedua bersama Alfi.
"Sini lo Dion!"
Baik Dion maupun Alfi sebenarnya tidak mengerti mengapa gadis itu memanggil Dion dengan suara keras. Mereka kembali terkejut, bukan karena melihat Sisil yang datang dengan teriakan, melainkan dia datang bersama cowok yang mereka kenal.
Seketika anak kelas IPA 1 tengah heboh berbisik membicarakan Sisil bagaimana tidak, dia datang bersama cowok ganteng yang kini tebar pesona dengan senyuman manisnya.
"Itu pacar Pricilla? Ganteng banget tuhan."
"Beneran pacar Sisil, kita kok gak bernah lihat dia di sekolah kita?"
"Anak baru, dilihat dari seragammnya masih polos dan rapi, pasti anak pindahan."
"Regas?" gumam Alfi memperhatikan cowok yang sedang d**a-d**a ke teman kelasnya.
"Itu Regas kan yon?" Alfi menoleh menatap Dion yang masih bengong dengan tatapan lurus ke pintu. Dion tidak bisa berkata-kata. Dia tidak salah melihat itu Regas. Sejak kapan anak itu di sekolah mereka.
Detik berikutnya Alfi dan Dion saling berpandangan. Kemudian kembali menatap cowok berambut pirang di sana. Mereka memastikan sekali lagi apa yang mereka lihat itu benar-benar Regas sahabat SMP mereka yang pernah pindah ke Singapura.
"SINI LO DION! " panggil sisil dengan suara meninggi. Tanpa sadar ia mengeratkan pegangannya pada telapak tangan Regas membuat cowok itu terkejut dan berhenti tersenyum, Regas menatap wajah Sisil yang sedang menahan amarah.
"Woi Dion! Ngapain lo masih bengong, sini gue bilang!" Sisil makin meninggikan suaranya.
Dion lantas berdiri menghampiri Sisil dengan berani, sementara Alfi diam di tempatnya dengan pertanyaan yang memenuhi pikirannya, dia penasaran tapi rasa tidak pedulinya membuat Alfi malas ikut campur dengan urusan orang lain.
Dion memasang ekspresi senang, saat mengetahui orang yang datang bersama Pricilla adalah Regas sahabatnya.
Saat tiba di depan Sisil, Dion tak lepas memandang Regas dengan senyuman lebar. Regas yang menyadari itu cepat-cepat menaruh telunjuk di bibir. Meminta Dion pura-pura tidak mengenali dirinya.
"Regas kapan lo datang?" tanya Dion tanpa memperdulikan Sisil yang sebentar lagi akan menghajarnya.
"Dasar berengsek!"
Dion langsung mengalihkan tatapannya mendengar Sisil mengatainya.
Sisil mendekati Dion dan berdiri di depan cowok itu tanpa melepas pegangan tangannya pada Regas.
"Kenapa lo ngatain gue breng—"
Belum sempat melanjutkan ucapannya, Sisil sudah menarik kerah baju cowok itu dan menyeretnya keluar dari kelas.
Perlakuan itu membuat semua teman kelas Dion heboh dan berlari keluar kelas. Terkecuali Alfi yang tetap tinggal di kelas. Cowok itu menggelengkan kepala. Ini Masih terlalu pagi, tapi ada saja keributan yang terjadi di sekolahnya. Alfi merasa selama seminggu ini, hidupnya mulai tidak setenang hari-hari kemarin.
"Lepasin gue Pricilla!"
Setelah sampai di koridor yang agak sepi, Sisil langsung menyudutkan Dion ke dinding koridor. Hingga kepala cowok itu terbentur.
"Apa-apaan si lo!" Dion mengusap belakang kepalanya.
Semua orang melewati koridor jadi heboh. Pertama kalinya Pricilla dan juga Dion bertengkar dan membuat keributan di pagi hari, untunglah yang datang ke sekolah masih separuh dari murid SMA Yadika, jika tidak ini kan menjadi tontonan, dan mereka berdua akan digosipi satu sekolah.
"Turunin nada suara lo, kalau lagi ngomong sama cewek!" titah Sisil dengan nada tajam.
"Lo siapa Hah!" bentak Dion "Beraninya perintah gue kayak gitu."
"Masih berani ngebentak, dasar cowok banci!" ucap sisil menghempas tangannya, hingga terlepas dari Regas.
Regas yang tak tau apa-apa kini berdiri di belakang gadis itu sambil menatap telapak tangan yang barusan di lepaskan oleh Sisil.
Regas kini menatap punggung Sisil yang naik-turun menandakan gadis itu di penuhi amarah.
"Lo gila ya?" tanya Dion berusaha menahan amarahnya.
"Gue gak gila!" kesal Sisil.
Dion menatap Sisil dengan tatapan tajam, sebenarnya dia tak tau kenapa Sisil bisa semarah itu padanya, Dion masih tidak paham, karena Sisil tidak menjelaskan apa-apa.
Datang-datang gadis ini langsung menyerangnya. Dion sangat marah karena Sisil memperlakukannya begitu kasar tanpa menjelaskan masalahnya apa, dan saat ini mereka saling melempar tatapan tajam.
"Ada masalah apa lo sama gue?" Dion merendahkan suaranya. Namun di detik itu juga sebuah tamparan mendarat di pipi Dion.
Plak!
Bunyi tamparan itu sangat keras sehingga membuat semua orang yang menyaksikan perkelahian itu terkejut.
Tanpa sadar Sisil telah menyulut kemarahan Dion. Cowok itu menatapnya dengan tajam, iris matanya menggelap seolah-olah ingin membunuh Sisil.
"Lo!"
"Apa? Sakit? Mau nampar gue balik?" Sisil mendelikkan tatapan sinis.
Dion memegang pipinya. Bekas tamparan Sisil masih terasa perih.
"Anjing, lo sebenarnya punya masalah apa sama gue huh! Kenapa lo datang-datang nyerang gue!"
Sisil berdecih sembari melipat tangannya di d**a.
"Sekarang gue tanya, lo ada masalah apa sama sahabat gue, sampai-sampai lo sebenci itu dan buat dia nangis?"
"Sahabat lo?"
"Alena!" jawab Sisil membuat Dion tersentak.
Tatapan Dion semakin menajam saat mengetahui kebenaran maksud dari ucapan Perempuan di depannya ini.
"Gue gak apa-apain sahabat lo!" ucap Dion dengan muka memerah.
"Tapi lo ngebentak dia, sampai nangis!" balas Sisil membuat Dion terbungkam dengan luapan emosi yang berusaha ia tahan, kedua tangannya sudah terkepal kuat. Dia bisa menahan, jika tidak Sisil bisa kena imbasnya. Dia tidak pernah berniat memukuli gadis ini. Hanya saja jika Sisil terus memojokkan dirinya apalagi sampai berlaku kasar mungkin saja Dion bisa melayangkan pukulan yang setimpal untuk gadis di depannya ini.
"Lo tau apa yang lo lakuin ke sahabat gue itu buat mentalnya down. Dia gak salah apa-apa lo bentak, kemarin juga lo kan yang buat dia pingsan."
"Lo jangan asal nuduh gue Pricilla!" geram Dion mengeraskan rahangnya.
"Kasar lo jadi cowok, padahal Alena gak pernah gangguin lo." ungkap Sisil kali ini dengan nada penekanan di setiap katanya.
"Dia ngeganggu sahabat gue Alfi!" tajam Dion. Dia maju selangkah membuat jarak mereka tak tersisa. Dion mendengus kasar. "Gue gak bakalan biarin dia ngeganggu sahabat gue."
Sisil pun tak takut sama sekali, dia tidak mundur malah semakin mendekatkan jaraknya, hingga tatapan mereka begitu dekat. Regas yang melihat itu melebarkan matanya. Dia ingin melerai tapi gerakan kakinya selalu terhenti saat Sisil mulai berbicara.
"Alena ngapain sahabat lo emang? nggak dia pukul kan, nggak dia bentak kan, dia nggak pernah kasar sama orang, terus apa masalahnya sama lo sampai lo ikut campur soal mereka?" tanya Sisil membuat Dion terdiam selama dua detik.
"Gue gak suka dia ngedeketin sahabat gue, apalagi sampai ngestalk dia kemana-mana!" jelas Dion tak kalah membalas dengan suara keras.
Sisil memutar bola matanya bibirya tersinggung sinis. "Apa urusannya sama lo dodol, Lo siapanya huh? Bapaknya? Atau...Pacarnya?"
Dion mendengus kasar, cewek di depannya ini benar-benar membuat emosinya naik.
"Sekarang lo mending pergi," usir Dion dengan sebelah tangannya menunjuk ke samping, tanpa melepas tatapannya yang berkilat. "Gue gak mau berantem sama cewek. Lo tuh bukan tandingan gue." kata Dion mencoba untuk damai.
"Lo nggak berani ngelawan gue, tapi lo berani bikin cewek nangis, cih. Cowok banci."
"Lo!"
Grep
Dion sudah melayangkan tangannya ke udara, akan tetapi sebuah tangan tiba-tiba mencengkal pergelangan tangannya dengan kuat. Detik itu juga Dion menoleh terkejut saat mengetahui Regas lah yang mencengkeram peregelangan tanganya.
Sisil juga tidak menyangka Regas sudah berdiri di sampingnya, bersikap seperti pahlawan yang tepat waktu. Sisi memandangi wajah Regas dari samping, cowok itu memperlihatkan aurah dinginnya.
"Lo balik ke kelas, biar gue yang urus." kata Regas pada Sisil tanpa melepas tangan Dion.
"Regas, lo!" Dion menatap marah Regas.
Sisil mengalihkan tatapannya pada Dion, dia menarik nafas kasar setelah itu berucap tegas.
"Lo berutang maaf sama sahabat gue, kalau lo gak mau minta maaf, gue bakal cari lo lagi dan nampar lo untuk yang ke dua kalinya." kecam Sisil dengan serius, setelah itu dia menarik tangan Regas yang memegang tangan Dion.
"Eh!"
"Lo ikut gue ke ruang guru!"
Sisil menarik cowok itu hingga mau tak mau ia melepaskan tangan Dion.
"Eh tapi—"
"Lo anak baru, gak usah sok jago mau nolongin gue."
Regas mengedipkan matanya pada Dion. Sebagai tanda dia akan menjelaskannya nanti. Setelah situasinya membaik.
"Dasar cewek Srigala!" teriak Dion ketika Sisil dan Regas sudah pergi.
Saat itu juga semua orang mengerumuni Dion dengan berbagai pertanyaan.
"Dion lo gak papa? Tadi itu Pricilla kenapa?"
"Dion cowok yang sama Pricilla itu siapa yon, lo kenal?"
"Yon, pricilla kenapa emosi gitu, sampai nampar lo. Ada masalah apa Yon lo sama dia."
"Yon lo gak ngehamilin anak orang kan yon."
Dion menatap kesal teman-temannya,tak ada satupun dari pertanyaan teman-temannya yang ia jawab, dia melangkahkan kakinya dengan tatapan kesal. Dia sendiri juga tidak mengerti kenapa sepagi ini banyak masalah yang harus ia alami dan semua itu karena gadis bernama Alena.
****
"Itu Ruangan Guru, di sebelah ruangan itu adalah ruangan kepala sekolah. Dan di sebelah tangga belok kanan setelah koridor, ruang Bk." Sisil menjelaskan secara detail Area sekolahnya.
Regas menatap ruangan di depan sana. Pintunya terbuka lebar, memperlihatkan beberapa guru memakai pakaian dinas yang sedang duduk dan berbicang di sana. Regas juga bisa membaca dengan jelas papan informasi yang tertempel di atas pintu.
"Gue antar sampai sini aja, gue balik kelas dulu." ucap gadis Sisil setelah itu berbalik dan berniat pergi akan tetapi Regas tiba-tiba menahan lengan Sisil membuat gadis itu sedikit terkejut karena cowok itu menyentuhnya. Sisil mendongak menatap Regas membuat tatapan mereka bertemu. Sisil merasakan detak jantungnya bertambah cepat ketika Regas menatapnya sangat intens.
"Lo gak mau temanin gue masuk?"
Sisil dengan cepat menarik tangannya. Dan berusaha menepis perasaan aneh yang menyerang hatinya. Entah kenapa saat regas menatapnya seperti itu, hati Sisil tiba-tiba sakit.
"Gue cuma nganterin lo sampai sini. Lagian ngapain juga gue harus temenin lo masuk." ucap Sisil dengan nada ketus.
"Gapapa temenin gue aja, gue masih canggung dengan sekolah baru gue, apalagi sama guru-gurunya." jelas Regas beralibi, sebenarnya ia hanya ingin gadis ini berlama-lama dengannya.
"Lo bukan anak Tk lagi yang minta di temenin kemana-mana." Sisil memutar bola matanya.
Regas menarik senyuman, membuat Sisil menatapnya dengan sedikit bingung, kenapa cowok itu malah memamerkan senyumannya. Mana senyumnya meresahkan lagi. Sisil berdecak kesal.
"Makasih."
Sisil mengerutkan dahi, bingung kenapa Regas malah mengucapkan terima kasih, bukannya kecewa karena dia menolak untuk menemaninya ke ruang guru.
"Sama-sama." jawab Sisil.
Regas tersenyum lembut dan tanpa sadar Sisil menarik senyum tipis.
Untuk beberapa detik mereka saling berpandangan, Regas mengagumi wajah manis Sisil, gadis itu punya mata yang sipit dengan pipi bulat, hidung dan bibirnya sangat mungil, dia mirip seperti bayi. rambut lurusnya tertiup angin, membuatnya terlihat mempesona. Tanpa sadar Regas menggerakkan tangannya menyentuh helaian rambut Sisil. Namun Sisil dengan kasar menepisnya.
"Eh?" kaget Regas dengan mata berkedip.
"Lo jangan seenaknya gitu, nyentuh gue, gak sopan." ucap Sisil dengan nada ketus.
Regas tertawa sambil mengangguk. Dia mengangkat kedua tangannya sembari mundur menjauhi Sisil
"Oke, gue kesana dulu,"
"Eum." Sisil mengangguk singkat.
"Sampai ketemu lagi."
Sisil hanya mengangguk, setelah itu Regas berbalik, berjalan menjauhi Sisil.
Sisil masih berdiri di tempatnya sambil menatap punggung Regas yang sudah menjauh memasuki ruang guru.
Entah kenapa Sisil merasa hatinya sedikit hampa. Perasaan ini jelas sama saat mantan pacarnya dulu.
Sisil kemudian melangkah pergi, kakinya terus berjalan melewati beberapa koridor. Hingga sampai di lantai koridor bawah, Sisil berjalan sambil bertanya-tanya pada dirinya. Kenapa saat Regas menatapnya tadi Sisil merasa ada yang aneh dalam dirinya. Sisil merasa sesak dan ingin menangis.
"Sisil awas!"
Sisil menoleh dengan gerakan lambat dan tanpa di duga sebuah bola basket melayang kearahnya. Kedua bola mata Sisil membesar saking terkejutnya, dan karena tak sempat menghindar bola itu dengan cepat menghantam kepalanya. Hingga membuat tubuh gadis itu ambruk ke lantai.
"Pricilla!"
Semua Murid yang ada di lapangan langsung berlari mengerumuni Pricilla. Sampai saat di mana tak ada yang berani mengangkat gadis itu.
"Ngapain pada diam aja, cepetan angkat!" seru salah seorang siswi yang terlihat panik.
"Iya kenapa kalian diam aja, cowok gak sih, kalian ini!"
Verdi, Agus, Tian yang menjadi tersangka kejadian ini malah bengong dan tidak berani mendekati Sisil. Mereka bertiga saling berkeras tidak ingin mengangkat Priccila yang kini di terbaring lemah di lantai.
"Bukan muhrim, lo aja Ver." kata Tian menyuruh Verdi.
"Lo aja, gue takut sama Sisil, entar kalau gue gendong yang ada gue malah di pukul pas dia bangun." ucap Verdi mundur.
"Gus, lo paling kuat, paling tinggi, paling gede badannya, lo pasti bisa, cepat angkat Sisil."
"Kaga mau, lo aja, entar gue digosipin lagi sama nih cewek, enggak lo aja." Agus juga berkeras.
"Ihh gimana si lo semua, Sisil pingsan buruan bawa ke uks!" seru seorang cewek mendekati sisil dan membangunkan tubuh sisil menjadi terduduk.
"Verdi, lo yang ngelempar bolanya, lo yang tanggung jawab!" Tian menunjuk Verdi.
"Kok malah gue sih, ini murni kecekalaan jangan salahin gue." ucap Verdi membela diri.
"Minggir, biar gue yang angkat!"
Seketika semua orang menoleh ke belakang, di waktu yang sama semuanya terkejut dengan bibir terbuka saat melihat seorang cowok tampan menghampiri mereka dengan tatapan datar.
Dan siapa yang akan menyangka kalau ternyata cowok itu adalah Regas.