"Kenapa lo?" tanya Alfi saat mendapati raut muka Dion yang terlihat kesal sejak tadi.
Cowok itu dua menit yang lalu, memasuki kelas dengan ekspresi marah seperti baru saja mengalami sesuatu yang membuatnya uring-uringan.
"Kesal gue sama tuh cewek, pengen gue pukul aja mukanya." cerita Dion dengan ekspresi jengkel.
Alfi menutup bukunya, sembari menoleh pada sahabatnya itu, senyum di bibirnya terlukis. "Siapa sih?" Alfi mengedikkan dagu, "Cewek yang mana yon?" tanya Alfi penasaran dengan matanya yang mulai menyipit.
Tidak biasanya Dion, bercerita soal cewek, apalagi sampai membuatnya semarah itu. Dion itu cowok petakilan, banyak tingkah namun juga keras ketika ketenangannya di usik.
Dion menghela napas berat, sesaat tatapannya bertemu dengan Alfi. "Masa lo gak tau sih? Atau emang lo sengaja, pura-pura gak tau." tunjuk Dion.
Alfi mengedikkan bahu, kedua sudut bibirnya tertarik, antara ingin tau tapi sebenarnya tak peduli. "Gue gak pura-pura."
Brak!
Dion saking kesalnya memukul meja Alfi hingga membuat Alfi sedikit terjengkang.
"Alena fi, tadi dia hampir aja gue tabrak gara-gara ngehalangin jalan gue depan gerbang." terang Dion dengan mata menghunus tajam ke depan. "Kalau gue jahat, gue tabarak aja biar mampus!"
"Alena?" beo Alfi, teringat dengan gadis yang tadi tidak sengaja ia lihat di depan gerbang bersama seorang cowok.
Dion menoleh lagi pada Alfi.
"Iya Alena, cewek yang selalu ngintipin kalau lo lagi sendiri.cewek gila itu fi!" geram Dion.
Alfi terdiam sesaat, namun bola matanya melirik Dion yang kini menyandarkan kepalanya di sandaran bangku.
"Gue liat tadi dia sama cowok di depan gerbang, kayaknya dia punya pacar." ucap Alfi, sadar telah membicarakan gadis itu terlalu bayak.
Dion geleng-geleng tak percaya.
"Cewek centil macam dia, pasti punya banyak cowok fi, secara dia selalu ngandelin tampangnya yang cantik buat memikat semua hati cowok, gue saranin lo jauh-jauh kalau cewek itu mendekat sama lo." ucap Dion lebih tepatnya memberi peringatan agar Alfi jauh-jauh jika melihat Alena.
"Gue juga gak peduli sama tuh cewek Yon, jadi lo gak usah khawatir." Alfi menarik senyum miring. "Gue cuma suka Shasa."
Dion menepuk-nepuk bahu Alfi, dia sendiri merasa legah mendengar sahabatnya mengatakan itu. "Iya fi, lo emang harus fokusnya sama Shasa aja."
Dion selalu protect dengan Alfi. Dia tidak ingin sahabatnya itu berpaling dari Shasa. Dion takut Alfi meninggalkan Shasa demi cewek lain. Dion dari dulu mati-matian mendekatkan Alfi dengan Shasa. Berbagai cara ia lakukan agar Alfi suka sama Shasa. Sampai akhirnya Alfi pacaran dengan Shasa Dion masih protectif dengan Alfi. Menurutnya Alfi hanya boleh menyukai Shasa, Alfi harus selalu di samping gadis itu sampai kondisinya pulih. Dion hanya ingin melihat sepupunya bahagia dengan orang yang tepat, dan Alfi, cowok itulah yang Dion pilih untuk menjadi pacar sepupunya.
Shasa, gadis itu menderita penyakit Bipolar yang belakangan ini muncul tiba-tiba dan mengharuskan gadis itu tinggal di rumah sakit jiwa untuk waktu yang lama. Semasa pacaran Alfi tidak mengetahui gadis itu memiliki penyakit bipolar. Shasa gadis cantik dan teramat lugu di mata Alfi, tak ada tanda-tanda bahwa gadis itu gila. Namun suatu ketika, gadis itu tiba-tiba memgalami perubahan yang aneh, dia menjauh dari Alfi dan kadang-kadang menangis tiba-tiba. Bahkan Shasa sudah berkali-kali hampir bunuh diri karena depresi yang terlalu tinggi. Tentu saja Alfi sangat khawatir dengan Shasa. Dia mencintai gadis itu dan berjanji menjaga hatinya untuk Shasa.
****
"Berhenti ngikutin gue bisa gak sih?!"
Sisil menatap marah cowok yang terus mengikutinya sampai di depan kelasnya.
Sekarang cowok itu berdiri di hadapannya dengan memasang muka sok cool, membuat Sisil geram setengah mati.
"Gak bisa, gue anak baru dan gue gak tau harus kemana. cuman lo yang bisa gue mintain tolong." terang cowok itu sangat enteng.
"SMA Yadika punya murid kurang lebih 500 orang guru kurang lebih 20 orang, lain lagi para staff. Lo bisa ke ruang guru yang ada di lantai satu, kenapa lo harus milih gue di antara banyaknya manusia di sekolah ini?" tanya Sisil.
"Lo yang pertama kali ketemu gue, tadi juga gue udah bayarin ongkos angkot lo, jadi gak masalah kan gue minta tolong balik ke elo."
Sisil menepuk jidatnya sangat kesal. "Tau gitu ngapain lo gak ngomong dari tadi."
"Gak ada kesempatan, lo marah-marah dan ngusir gue mulu."
"Karena lo nyebelin, gimana gue gak marah lo teriak bilang gue pacar lo, semua orang jadi dengar, gue gak mau di gosipin satu sekolah, gue paling anti di gosipin orang!" Sisil mengepal kedua tangannya.
"Yaudah gue minta maaf."
Sisil menghela napas, wajahnya berubah tenang.
"Ya udah sekarang mending lo ke ruang guru di lantai satu dekat ruang kepala sekolah lo tinggal belok kanan aja," terang sisil sambil menatap cowok itu. "Lo mau ke ruang guru kan?" ulang Sisil saat cowok itu bengong di depannya.
Cowok berambut pirang itu mengangguk, memang sebenarnya dia harus ke ruang guru, tapi dia tidak tau letak ruang guru di mana.
"Gue gak tau ruang guru di mana." Jujur cowok itu.
"Kan barusan gue udah jelasin,"
"Gak bisa! lo harus temanin gue ke sana." potong cowok itu.
Sisil menghela napas, menyelip kasar rambutnya ke belakang telinga. Dia menarik nafas lalu menghembuskannya dengan berat.
"Gini ya, gue gak tau nama lo siapa, gue gak kenal sama lo." tatapannya tersorot tajam kepada cowok yang dengan santainya memamerkan senyum yang meresahkan.
"Gue ajak kenalan lo gak mau." balas cowok itu dengan senyuman di bibir.
Sisil hampir kehilangan kesabaran, kedua tangannya terkepal, dia maju selangkah dengan hembusan nafas. Iris matanya bertemu dengan cowok itu. Cowok di depannya ini terus saja membalas ucapannya dan itu membuat Sisil kesal setengah mati.
"Lo!" Sisil menunjuk muka cowok itu.
Dan tanpa tau diri cowok itu malah mendekatkan kepalanya pada Sisil sambil tersenyum simpul.
"Hmm?"
Sisil menurunkan telunjuknya dengan kesal. "Terserah lo deh, gue cuma mau bilang, kalau emang lo gak tau ruang gurunya di mana, harusnya lo gak ngikutin gue sampai sini, tadi di depan ada satpam, kenapa lo gak nanya, malah ngekorin gue sampai kelas." omel sisil sambil berkacak pinggang.
Cowok itu mengedikkan bahu.
"Ya...gue bingung, dari tadi lo marah-marah, dan gue gak ada kesempatan buat ngomong sama lo."
Sisil memutar bola matanya tidak tahan dengan segala sandiwara yang di perbuat cowok di depannya ini. Mereka baru saling mengenal tapi mengapa cowok ini mendekatinya dan seolah-olah mereka sudah sangat akrab.
"Tau gitu kenapa lo ngikutin gue, kenapa lo gak pergi cari orang yang lain aja buat bantu lo nyari ruang guru?" tanya Sisil menyipitkan matanya, bibirnya berdecak kesal. Dia tau cowok ini memang ingin membuatnya kesal. "Lo sebenarnya ada niat apa ngikutin gue huh?"
"Karena gue tertariknya sama lo." ucap cowok itu mengakui.
"Huh?" Sisil terperangah.
Cowok itu mengangguk santai, tak ada yang salah dengan ucapannya.
"Gue baru pertama kali, ketemu cewek yang malakin supir angkot."
"Lo! -" lagi-lagi Sisil tidak bisa berucap.
Cowok itu mengerutkan dahi menunggu gadis itu melanjutkan ucapannya.
"Gue gak malakin supir angkot, gue minta duit gue dikembalikan. Lo jangan buat alur cerita yang salah."
"Alur cerita?" kening cowok itu mengerutkan kening, kata-kata gadis di depannya ini memang terdengar beda.
Sisil sendiri meruntuki diri karena ucapannya yang terlalu kesastraan, akibat sering menulis novel sisil jadi terbawa sampai ucapan sehari-hari kadang dibuat baku olehnya.
"Lo ngomong kalau gue malakin supir angkot, mana bisa gitu. Lo sengaja kan mau buat reputasi gue sebagai cewek baik, hancur."
Cowok itu tertawa, di menjitak pelan dahi Sisil tanpa sadar membuat Sisil terkejut.
"Cewek baik mana bisa marah-marah sama orang yang baru di temuinya. Lo tuh cewek unik, kita baru kenal dan langsung akrab gini sama gue. Gue suka." ucap cowok itu di akhiri kedipan mata.
"Hah? Maksud lo? lo naksir sama gue?" bingung Sisil sama sekali tidak mengerti dengan cowok yang baru saja ia kenal ini.
Cowok itu tanpa dosa mengangguk di depan Sisil.
"Siapa yang gak naksir sama cewek manis kayak lo." cowok itu tercengir. "Mana hobinya marah-marah, terus gitu tukang paksa. "
"Lo-"
Cowok itu memiringkan kepalanya, lagi-lagi mulut Sisil terkancing. "Gak bisa ngomong?"
"Uhh!"
"Lo... unik, bikin gue semakin tertarik." Ujar cowok itu mengelus dagunya.
"Lo cowok paling aneh yang pernah gue temuin!" ucap Sisil sambil menolak pinggang. Dia menyorotkan tatapan tajam yang dibalas santai oleh cowok itu.
"Ya tau gue emang cowok langka, ganteng lagi." ucap cowok itu mengedipkan sebelah matanya.
Langsung saja Sisil memasang wajah ingin muntah saja.
"Sok ganteng!"
"Emang gue ganteng." ucap cowok itu,menaikkan tali tasnya di bahu sembari tersenyum menatap Sisil. lalu tangan cowok itu tiba-tiba terulur di depan gadis itu. Sisil mengernyit menatap telapak tangan cowok itu tepat di depan perutnya.
"Dari pada berantem pagi-pagi, mending, kenalan sama gue."
Sisil mengerutkan dahi, ekspresinya berubah sesaat menatap tangan cowok itu.
"Gua Regas, gue pindahan dari Singapure." Cowok itu mengenalkan diri.
"Jauh juga." sahut Sisil.
Tanpa membalas uluran tangan cowok itu, Sisil menjawab malas.
"Gue Pricilla lo boleh manggil gue apa aja."
Regas tercengir, akhirnya cewek itu bisa jinak juga.
"Bener gue boleh manggil apa aja?"
"Iya terserah lo!"
"Gue panggil lo pacar boleh gak?" Canda Regas, sebelum akhirnya tertawa karena medapat pelototan tajam dari sisil. "Gue bercanda Pric,"
"Sisil aja," Sisil lalu melangkahkan kakinya ke dalam kelas tapi lagi-lagi cowok berambut pirang itu menarik tangannya.
"Apa lagi?" tanya Sisil kesal.
"Temanin gue ke ruang Guru." tatapan cowok itu serius.
lagi-lagi Sisil menghela napas, ia menatap Regas seraya berpikir. detik berikutnya Sisil mengangguk.
"Oke, tapi gue taruh tas gue dulu di dalam."
"Yes!"
Regas menekuk siku sembari tersenyum senang.
Bersamaan dengan itu Alena berjalan melewati Sisil dan Regas, gadis itu menangis tanpa suara.
"Alena!"
Sisil mengikuti Alena, tepat saat gadis itu duduk di sampingnya, Alena langsung berbalik memeluk Sisil. Gadis itu menangis.
"Lo kenapa?" tanya Sisil, air matanya ikut jatuh mendapati Alena tiba-tiba menangis. Diusapnya pelan-pelan punggung Alena agar gadis itu sedikit tenang. "Al, lo kenapa?"
"Hiks...hiks...hiks...gue salah apa Sil?" tanya Alena, hatinya sangat sakit, tanpa sadar air matanya menetes begitu deras sampai-sampai Alena tidak bisa menahan untuk mengeluarkan isakan tangisnya makin menjadi.
"Gue...gue... Gak pernah jahat sama dia, gue juga selalu berlaku baik di depan dia, gue gak pernah bermaksud jahat, gue juga gak pernah berurusan sama dia hiks.... Huweeee... Gue kayaknya jahat banget ya sil, hati gue sakit banget Sil, Arga aja gak pernah ngebentak gue. Tapi dia...hiksss... Dia ngebentak gue sampai gue gak bisa tahan air mata gue..."
Sisil melepaskan pelukannya, dia menatap wajah Alena dengan helaan nafas, pasti gadis ini sedang mendapat masalah, mungkin karena Arga kakaknya lagi.
"Al, tenangin diri lo..." Sisil mengusap air mata Alena dengan jarinya.
"Coba cerita pelan-pelan siapa yang udah buat lo nangis."
"Hiks... Hiks..."
Bukannya menjawab, Alena malah semakin terisak, gadis itu terlihat menyedihkan sampai Sisil bingung harus menenangkannya.
"Al, malu tau nangis pagi-pagi. Bentar lagi teman-teman kelas datang, dan liat lo nangis kayak gini." ucap Sisil dengan lembut.
Alena menatap sisil, pipinya sangat basah di banjiri air mata, setiap melihat Alena menangis seperti itu, Sisil jadi ikutan sedih, hatinya ikutan sakit.
"Apa gue salah?" tanya Alena benar-benar Absurd.
"Gue gak tau kesalahan lo apa, makanya diam dulu ya, cerita pelan-pelan sama gue." Sisil melepaskan pelukannya, mengusap air mata di pipi Alena.
"Lo berantem sama Arga lagi?" tanya Sisil memastikan.
Alena menggeleng.
"Arga pergi tanpa pamit lagi makanya lo nangis?" Sisil menebak lagi.
Alena menggeleng, seketika suaranya tangisannya makin keras.
"Al... Udah, cerita dulu baru nangis."
"Siapa yang ngebentak lo?" tanya Sisil sekali lagi.
"Di.. Di... Hikss..."
"Di?" Sisil memiringkan kepalanya semakin penasaran.
"Dion Sil, gue gak tau kenapa dia benci sama gue."
"Dion?!" kedua mata Sisil langsung melebar mendengar nama cowok itu
Alena mengangguk, gadis itu menutup matanya meredam tangisannya yang tak bisa ia tahan.
"Dion b******k, lo udah buat sahabat gue nangis, liat aja tangan gue ini pantas ngehantam muka lo!" ucap Sisil dengan sorot mata yang tajam, Sisil meninju telapak tangannya sendiri, sebagai tanda kalau dirinya sangat marah dan ingin memukul Dion.
"Lo tunggu di sini Al, gue bakal buat si Dion bangke itu menyesal karena buat lo nangis."
Tanpa buang waktu lagi Sisil beranjak dari tempatnya, menghampiri cowok yang sedang bersandar di pintu dengan kedua tangan terlipat di d**a.
"Comehere beb," ucap Regas tanpa sadar.
Cowok itu tersenyum, saat melihat Sisil menghampirinya, Regas menanti Sisil sembari mengulurkan tanganya. Dan dalam waktu yang sama, tangan sisil terulur, meraih telapak tangan Regas.
Regas sedikit terkejut saat gadis itu, menariknya keluar dari kelas. Regas tidak bisa berkata-kata selain mengikuti gadis itu.
Munurutnya hari ini adalah hari paling menyenangkan dalam hidup Regas. Keputusannya untuk pulang ke Indonesia tidak salah. Dan dia sangat beruntung bisa masuk sekolah ini. Tak hanya beruntung karena sekolahnya, tapi dia sangat merasa bahagia karena hari ini dia pertemukan dengan seorang gadis yang sangat unik. Tanpa Regas sadari, dia tersenyum, tak henti-hentinya tersenyum.
Tbc