Bi Imah sibuk menata makanan di atas meja. Bersama bang umar yang terpogoh-pogoh dari dapur membawa nampan berisi air minum.
Sambil menunggu ke dua Asisten rumah tangga mereka menyiapkan makanan. Arga dan Alena membuka obrolan kecil.
"Gimana sekolah kamu yang baru, suka gak di sana?" tanya Arga meyentuh helaian rambut, yang menjuntai di pipi Alena.
"Suka, Kak langsung punya banyak teman. Sekolahnya seru gak kayak yang lama." cerita Alena.
"Pelajarannya gimana? Susah gak?" tanya Arga lagi.
"Ya tergantung sih kak, paling susah menurut Alena itu pelajaran mate-matika, kalau yang paling mudah bahasa Indonesia." Jawab Alena tersenyum tipis memandang wajah kakaknya.
Arga mengangguk kecil, dari dulu adiknya memang selalu mengeluhkan satu pelajaran di sekolahnya. Alena tidak pandai mate-matika, padahal dia cukup pandai dalam pelajaran yang lain. Saat mendengar Alena memilih jurusan IPS di sekolah barunya Arga tidak heran karena Alena memang dari TK tidak suka pelajaran mate-matika.
"Sebenarnya gak susah sih Al, kalau kamu mau coba belajar." ujar Arga mengerutkan hidung.
"Gak suka." Balas Alena cepat.
"Hem, kakak paham, kamu memang dari dulu gak suka pelajaran mate-matika. Tapi asal kamu tau, sekarang apa-apa butuh perhitungan. Contohnya dalam dunia bisnis ekonomi, kalau kita gak pandai berhitung, kita bisa ditipu loh sama orang."
"Kan ada kalkulator kak, gak perlu capek-capek pake otak tinggal masukin angka-angka hasilnya langsung keluar dalam hitungan detik."
Arga terdiam selama beberapa detik, menatap Alena.
"jaman udah canggih kali kak," sambung Alena menggeleng lelah.
Arga terkekeh, ucapan Alena benar juga kenapa harus pusing mikirin soal perhitungan, semuakan bisa dihitung menggunakan kalkulator. Arga menggeleng merasa gaptek.
"Ayo di makan, makanannya non Alena, Den Arga. Nanti dingin gak enak loh." titah wanita berdaster mempersilahkan kedua anak majikannya.
"Iya Bi, terima kasih ya." Balas Alena sembari mengambil piring lalu meletakkannya di depan Arga.
"Makasih Al." ucap Arga mengacak puncak kepala Alena.
"Sama-sama." Jawab Alena lalu mengambil piring untuknya. "Eh Bi, udah makan?" tanya Alena saat melihat Bi Imah berjalan keluar dari dapur.
Bi Imah yang berniat melangkah ke luar dari ruang makan berhenti saat Alena bertanya padanya.
"Sudah non, tadi sama Umar, " jawab wanita paruh baya itu kemudian pamit keluar.
"Kamu mau makan apa?" tanya Arga saat setelah makanan sudah tersaji di atas meja, dan Arga bingung sendiri ingin makan apa.
Perutnya sangat lapar, Arga rasanya ingin makan semua makanan di atas meja.
"Harusnya Alena yang nanya gitu, Kakak mau makan apa? Biar Alena yang ambilin." Tanya Alena menuangkan sesendok nasi di piring Arga.
"Ya udah, Kakak ngikutin mau kamu aja deh, apapun yang kamu makan kakak pasti juga makan. " Arga tersenyum sambil mengelus pipi Alena.
Alena berpikir sejenak.
"Em.. " Gumam Alena melihat semua makanan yang tersaji di atas meja.
Al, menatap satu persatu makanan itu. Tumis kangkung, Ayam kecap, ikan kuah Kari, ada juga rendang kambing, semua makanan itu terlihat sangat lezat di mata Alena.
"Apa ya..?" pikir Al, menatap semua makanan di meja.
"Den Arga sukanya tumis kangkung Neng, " sahut bang Umar seraya meletakkan piring berisi buah mangga yang sudah di potong-potong. Matanya mengarah pada Arga yang sedang tersenyum kearah bang Umar.
"Bener tuh bang, saya sukanya tumis kangkung buatan Mama-, " sahut Arga dengan wajah berubah masam, sadar dengan ucapannya.
Alena menoleh pada Arga dengan tatapan serius.
"Andai aja mama di sini, pasti seru, Alena suka semua makanan yang mama buat. Alena pasti akan muji-muji mama." Wajah Alena yang tersenyum berubah masam mengingat masa lalunya dengan sang mama.
Arga mengusap kepala Alena dengan lembut. Ia tidak mau melihat Alena bersedih malam ini. "Udah makan yuk,"
Alena mengangguk, dirinya juga tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan. Mamanya juga pasti sedih jika melihatnya bersedih. Yang terpenting Arga berada di sisinya sekarang itu sudah lebih dari cukup.
"Kakak makan yang banyak, " titah Alena.
"Kamu juga makan yang banyak, badan kamu kurus," balas Arga menyangkan tubuh adikknya itu.
"Al gak kurus!"
"Hehehe, ya udah kamu gemuk kalau gitu, "
"Kakak aku gak gemuk juga," rengek Alena.
Arga begitu gemas tidak tahan mencubit pipi Alena. Semuanya terlihat bahagia Bi imah, Bang umar. Mereka keluarga yang lengkap. Tak ada lagi yang akan bersedih hati, karena seseorang telah berjanji untuk merubah semuanya. Memulai kehidupan yang lebih baik.
****
Pagi ini sangat cerah, matahari kembali memunculkan sinarnya. Suara kendaraan yang berisik berlalu-lalang kesana kemari, khusunya mobil angkot yang sudah sibuk menarik penumpang yang kebanyakan anak sekolahan.
Namun keributan mulai terjadi ketika sebuah mobil angkot behenti di depan gerbang sekolah SMA Yadika. Seorang cewek turun dari angkot dan berdebat dengan sopirnya perkara uang sepuluh ribu yang tak kurun di kembalikan. Gadis yang memakai ransel pink itu adalah Sisil sahabat Alena. Sisil tak mau pergi dari angkot sebelum uangnya di kembalikan. Enak saja, uangnya di ambil gitu aja.
"Saya gak terima bang! Biasanya saya bayarnya tiga ribu sama angkot-angkot yang lain, di mana-mana anak sekolah ya bayarnya tiga ribu, masak lima ribu, " oceh gadis itu.
"Neng, saya juga gak terima, tadi neng minta putar balik di rumah Neng, karena buku neng ketinggalan. Anggap aja itu tambahan ongkos kesana, " balas sopir angkot itu, tak mau kalah.
Gadis berambut sebahu itu terus meminta kembaliannya, dia tidak akan mengalah untuk menegakkan keadilan yang harus dia perjuangakannya.
"Saya gak mau! kembalian saya tujuh ribu. Bukan lima ribu!" Kekeuh gadis itu terus memaksa agar uangnya di kembalikan.
"Ini pak lima ribu. Kembaliannya bapak ambil aja, "
Gadis itu mengerut dahi melihat seorang cowok tiba-tiba datang dan membayar sewa angkotnya. Setelah angkot itu pergi gadis itu sadar dan berniat mengejar, namun gerakan cowok itu lebih cepat menangkap lengannya. gadis itu terkejut sambil membalilkan badan, menatap bingung cowok itu dari bawa sampai atas. Penampilan yang tidak terlalu buruk di matanya.
"Uang lo biar gue yang ganti. " ucap cowok itu dengan gampangnya.
Gadis itu menatap kesal, "lepasin tangan gue! "
Cowok itu menatap tanganya yang masih mencekal lengan gadis di depannya. Lantas ia lepaskan tangan itu sambil tercengir.
"Oh Sorry! gue gak maksud, " ucap cowok itu berlagak santai.
Sisil menghela nafas sembari menatap cowok di depannya.
"Uang gue di bawa kabur, dan itu gara-gara lo, lo tau gak? orang kayak tadi kalau dibiasain, malah menjadi-jadi lo mau di kasih bayar 50 ribu sama dia?" Omel Sisil sangat kesal.
Cowok itu terkekeh, "Gak papa, selama gue bisa sampai tujuan itu gak masalah, " ucapnya.
"Wahh!" seru Sisil menepuk tangan sekali membuat cowok itu menaikkan sebelah alis.
"Emang dasar penyakit orang kaya! SOMBONG! "
Ucapnya kemudian berbalik, berjalan ke arah gerbang sekolah, namun lagi-lagi cowok itu mengejar Sisil dan menahan lengannya.
Sisil terkejut, ia terpaksa menghentikan langkahnya. tidak hanya itu, cowok mengenakan Hoodie merah dan mempunyai tatapan tajam itu, dengan lancang membalikkan tubuh gadis di depannya lalu menarik pinggang kurus gadis itu sedikit keras, membuat tubuh mereka nyaris menempel sempurna.
Sisil yang sudah hampir copot jantung, mendorong d**a cowok itu sedikit kasar.
"Lo apa-apaan sih!" Teriak Sisil dengan emosi yang memuncak. "Gak sopan banget lo sama cewek!"
"Sorry gerakan gue refleks tadi," ucap cowok itu lagi-lagi tercengir tanpa dosa.
"Emang sengaja kan lo, dasar m***m!"
Kesal Sisil memeluk dirinya. Dia berusaha mengatur detakan jantungnya. Tadi itu benar-benar membuat Sisil hampir kehilangan kesadarannya. Di peluk oleh seorang cowok yang tak di kenal dan dengan lancangnya tersenyum seperti itu.
"Lo cantik juga ya, kalau lagi marah-marah. Nama lo siapa sih?" Cowok itu merunduk mencoba membaca nametag Sisil.
Namun Sisil cepat-cepat menyilangkan tangan di d**a, lalu mengayunkan kakinya ingin menendang kaki cowok itu tapi dengan cepat cowok itu mundur seraya tertawa.
"Mau ngapain lo hah?!" Galak Sisil.
"Hahaha, jadi nama lo Pricilla?" Cowok itu bersedekap sambil tersenyum misterius.
"Iya kenapa emang? lo naksir sama gue?" sewot Sisil.
"Lo mau tau nama gue gak?" tanya cowok itu seperti menawarkan.
Sisil mendelikkan matanya menatap ogah-ogahan. "Ngapain juga gue harus tau nama lo siapa, gue aja gak kenal sama lo."
"Ya maka dari itu kita kenalan dong, tukaran nama, biar gue tau lo dan lo tau gue." bibir cowok itu tersenyum.
"Gak mau!"
Sisil membalikkan badan lalu meninggalkan cowok itu, namun seperti yang di sangka cowok itu kembali mengejar Sisil hingga di pelataran Sekolah.
"Gue udah nolong lo, sekarang lo harus nolong gue, "
Kelakuan cowok itu mengundang tatapan sejumlah siswa yang lewat. tak kala heboh ketika mereka mengenal objek yang menjadi pandangan mereka.
"Itu Sisil kan? Cowoknya kok, ganteng banget!" pekik salah satu cewek di antara lima cewek yang sedang berkumpul di parkiran.
"Gue gak pernah liat cowok itu, Jangan-jangan anak baru!, "
"Apa-apaan main peluk gue gak terima! "
"Itu Sisil lagi ngapain di depan gerbang, sama cowok ganteng huwaaa!!! "
"Hey guys Sisil sama Cowok ganteng!!! "
Mendengar teriakan-teriakan heboh dari teman-temannya, Sisil langsung tersadar dan betapa malunya ketika melihat beberapa siswa berkumpul menontonnya dengan cowok ini.
"Mendingan lo pergi sekarang! Sebelum kita di gosipin aneh-aneh sama mereka." perintah Sisil mengusir cowok di depannya.
"Gue anak baru, jadi gue mau minta tolong temenin gue masuk, gue belum tau sekolah ini. " terang cowok itu akhirnya dengan wajah memelas.
Sisil menolak pinggang, menampilkan wajah lelah "Lo bukan anak kecil lagi kan, lo bukan anak yang setiap saat minta di temenin pipis, lo udah besar punya kaki punya otak. Apa perlu gue bilang kalo lo itu udah mimpi basah juga?!"
"Udah lo bilang, " cowok itu tersenyum miring. "Ternyata ucapan lo senonoh juga, " goda cowok itu.
"Bodo amat!"
"Cantik-cantik mesum." kekeh cowok itu membuat Sisil semakin kesal.
Sisil meremas tali tasnya karena kesal, rasanya Sisil ingin memberi bogem tepat di tulang pipi cowok itu. Tak ingin berdebat lama Sisil langsung pergi dan berjalan memasuki sekolah.
Tapi lagi-lagi cowok itu membuat emosi Sisil memuncak, membuat gadis itu rasanya ingin berteriak saat cowok itu dengan bebas berteriak di depan semua orang.
"KALAU LO GAK MAU NOLONGIN GUE!! GUE BAKAL BILANG KE SEMUA ORANG KALAU LO PACAR GUE!!! "
Sisil berbalik dengan tatapan berapi-api.
"ITU LO UDAH NGOMONG t***l!"
Teriaknya sangat keras membuat semua orang yang berada di situ menjadi terkejut sekaligus heboh berkepanjangan.
Seperti tak peduli cowok itu mengejar Sisil dan berjalan di sampingnya. Ia tidak peduli lagi cowok itu mengikutinya masuk ke dalam sekolah, Sisil terus mengomel dan meminta cowok itu pergi, tapi cowok itu terus mengekori sisil dari belakang.
****
Di sisi lain, mobil Alena baru saja tiba di depan sekolah, Alena turun dari mobil Bersamaan dengan Arga yang membuka pintu kemudi dan menghampiri Alena yang berdiri di samping mobil.
"Jangan lupa telfon Alena ya kak, " ucap Alena seraya turun dari Mobil.
Arga mengangguk sembari tersenyum ia meraih tas Alena di kursi penumpang setelah itu menutup pintu mobil.
"Iya kamu sekolahnya yang baik, jangan lupa makan siang. Ini tas kamu, " balas Arga seraya memberikan tas Alena.
Alena mengambil tasnya dari Arga memakainya setelah itu memeluk manja Kakaknya itu. "Alena sayang sama kak Arga, "
"Kakak lebih sayang sama kamu, udah masuk sana nanti kamu telat, "
Alena melepas pelukan tidak lupa mencium pipi kakaknya.
Cup.
"Sampai nanti kak Arga, " Arga sedikit terkejut baru kali ini setelah mereka bertemu kembali gadis itu mencium pipinya.
Arga mengacak pelan rambut Alena, kemudian gantian mencium kening Alena.
"Kakak pergi dulu." pamit Arga setelah itu menjauhi tubuh Alena. Cowok itu kembali memasuki mobil dan pergi. Meninggalkan Alena yang berdiri di pinggir jalan.
Senyum Alena tercetak, begitu mobil Arga berlalu. Alena berbalik dan senyumnya tiba-tiba luntur melihat seorang cowok di atas motor menatap dirinya dengan sorotan tajam. Tak kala mengejutkannya saat cowok itu menarik sudut bibir dan tersenyum miring pada Alena.
"Alfi?" Kaget Alena.
Sejak kapan Alfi memperhatikannya dengan tatapan seperti itu. Apakah Alfi sedang mengira dirinya bersama pacar. Entah kenapa jiwa ingin menjelaskan Alena tiba-tiba muncul.
Gadis itu melangkahkan kakinya mendekati Alfi, ia berniat menyapa cowok itu sekaligus mengenalkan Arga padanya. Namun saat akan sampai di depan cowok itu. Alfi tiba-tiba cabut menjalankan motornya memasuki gerbang sekolah.
"Alfi cemburu gak ya liat gue sama Arga?" Bodohnya Alena sekarang berdiri di tengah jalan sambil tersenyum-senyum sendiri.
Piiiiippp...piiipp...
Alena terkejut, menoleh kebelakang, melihat seorang cowok mengenakan helem fullface berteriak keras memarahinya.
"ANJING! LO MAU MATI BERDIRI DI SITU!"
Alena membulatkan matanya saat tau Dionlah yang berteriak dan membunyikan klakson motornya. Cowok itu hampir saja menabraknya.
"MINGGIR b*****t NGAPAIN LO MASIH DI SITU!" teriak Dion kesal karena Alena tak juga pindah dari hadapannya.
Dion, membuka helmnya dengan kasar, wajah kesalnya langsung terlihat, cowok itu turun dari motor dan menghampiri Alena, mengayunkan tangannya yang memegang helem dan dengan satu kali hentakkan Dion membanting helmnya ke tanah, hingga Alena tersentak. Gadis itu ketakutan, matanya berkaca-kaca ingin menangis.
"Lo tuh ya, selalu aja buat gue marah, di mana-mana lo bikin orang kesal aja anjing!" Bentak Dion tak ada habis-habisnya.
"Gue salah apa sih sama lo? Kenapa lo kasar banget sama gue?" tanya Alena dengan suara bergetar.
"Lo masih nanya segala salah lo apa? Lo gak liat gue mau lewat dan lo ngehalangin jalan gue!" Kesal Dion penuh emosi.
"Iya, gue tau gue salah, tapi bisa kan bicara baik-baik, gak perlu ngebentak orang apalagi lo sampai manggil gue Anjing, gue punya nama Dion." sabar Alena.
"Gak peduli gue sama cewek gila kayak lo!"
Dion berjalan mengambil helm yang tadi ia lempar, lalu kembali ke motornya, tak lama setelah itu cowok itu meninggalkan Alena yang menangis karena tak tahan lagi. Mentalnya jatuh tak mampu menahan hatinya yang sakit akibat bentakan Dion.