Alena mencoba membuka pagar rumahnya sedikit terburu-buru. Entah mengapa bayangan Arga yang meninggalkan rumah karena kecewa dengan kata-katanya terus menyusup di kepalanya di seperjalanannya menuju ke sini. Alena Ingin segera masuk dan memastikan Arga masih di rumah.
"Neng Alena?"
Lelaki kurus berusia 48 tahun itu berlari ketika melihat anak majikannya di depan gerbang berusaha membuka gerendel pagar yang ternyata di kunci olehnya sejak siang.
"Udah pulang neng?" tanya lelaki yang disapa bang Umar itu lagi, sambil membawa serentetan kunci untuk membuka pagar.
"Iya, cepetan buka pagarnya bang," perintah Alena tak sabar.
"Kenapa neg, kok kayaknya buru-buru?" tanya umar melihat raut kegelisahan Alena.
"Cepetan bang!" pekik Alena sudah tak tahan ingin masuk ke rumahnya.Umarpun tak membuang waktu, segera membuka gembok yang dari tadi susah karena mencocokkan 1 gembok dengan 10 kunci tidaklah mudah seperti yang di bayangkan.
Saat Baru saja bang Umar menarik pagar, Alena sudah berlari melewati Umar, yang bingung dengan sikap majikannya itu. Umarpun kembali menutup pagar dan tak lupa menguncinya.
Alena masuk ke dalam rumah seperti mencari orang hilang, Alena menyebarkan tatapannya keseluruh ruang utama, ketika tak menemukan keberadaan Arga, Alena mencari ke sisi ruangan menuju taman belakang, saat tak menemukan siapa-siapa di sana Alena mutar tubuhnya, dia langsung berlari kedalam Aula dan bernafas legah ketika ia di sambut dengan suara Tv yang menyala cukup keras. Alena memasuki ruangan Luas yang berisi sofa dan lemari tv itu. Ia berjalan ke tengah ruangan dan menemukan Arga sedang tidur di atas sofa panjang denga tubuh melengkung.
Perasaan Alena yang tadinya hampir mati gelisah, sekarang terbayar oleh sosok Arga yang nyatanya masih berada di rumahnya. Alena mendekati kakaknya itu, sembari terengah-engah, karena lelahnya berlari di dalam rumahnya sendiri yang begitu luas.
"Neng."
Alena menoleh melihat Umar berdiri depan pintu. Entah sejak kapan pembantunya itu ada di sana.
"Dari tadi Den Arga nungguin Neng Alena sampai-sampai ketiduran di sofa. Kasian banget Den Arga, " ucap Umar menyampaikan.
Hati Alena mencelos begitu saja saat mendengar ucapan Umar. Alena rasanya ingin menangis saat ini juga. Ini semua salahnya, kakaknya tidur di sini. Jika saja hubungan mereka bisa baik-baik saja. Arga pasti tidak mungkin bersikap seperti ini, apalagi sampai membuat tubuhnya lapar demi dirinya. Alena merasa sudah menghukum Arga terlalu berlebihan.
"Arga bilang dia belum makan dari bandung sampai sini. Bi Imah udah nawarin makan malam, tapi Den Arga nungguin neng pulang, gak taunya ketiduran di sofa. Bang umar juga gak tega banguninnya neng."
Lagi-lagi bang Umar mengatakan hal yang membuat Alena ingin menghukum dirinya sendiri, bagaimana bisa ia memperlakukan Arga sebegitu jahatnya. Arga sayang padanya, Arga peduli padanya, bahkan ia rela tidak makan dari pagi hanya karena menunggu agar bisa makan dengannya. Kurang baik apa lagi Arga untuknya. Sementara dia sendiri tidak bisa memaafkan kesalahan Arga.
Hati Alena semakin dibuat sakit saat melihat Pergerakan Arga yang tertidur dengan keadaan melengkung di atas sofa. Tanpa selimut, padahal udara yang masuk melalui pentilasi malam ini sangatlah membuat orang menggigil, terlihat bagaimana Arga kini meringkuk di atas sofa.
"Kak Arga..." panggil Alena dengan suara kecil, antara niat ingin membangunkan tapi dia tidak tega.
"Neng, abang ke belakang dulu. mau manggil bi Imah, buat siapin makan malam, " pamit Umar.
Alena sadar dengan pembantunya itu, lantas Alena mengangguk sebelum bang Umar akhirnya berjalan ke dapur untuk membantu bi Imah menyiapkan makan malam.
Alena melangkahkan kakinya perlahan mendekati Arga di sofa,kemudian mematikan tv yang dari tadi menyala tanpa ditonton oleh siapapun.
Alena Menguatkan hatinya, dia tak mau egois kali ini. Saat melihat wajah Arga yang tidak nyaman dengan posisi tidurnya, Alena jadi semakin merasa bersalah.
Gadis itu meletakkan buku paket yang sejak tadi di pelukannya ke atas meja sofa. Kemudian mendudukkan dirinya di lantai, kepalanya sudah sejajar dengan kepala Arga yang menghadap padanya.
Alena tersenyum melihat Arga tertidur pulas dengan kedua tangan di bawa pipi sebagai bantal, kebiasaan Arga yang tidak pernah hilang sejak dulu, Alena menggerakkan tangan menyentuh bahu Arga, menggoyang-goyangkan bahu cowok itu perlahan.
"Kak? Kak, Arga bangun Al udah pulang," ucap Alena menepuk-nepuk pipi Arga pelan. "Kak...bangun ayo makan dulu."
"Eum..." Gumam Arga setengah sadar. Perlahan Arga bangun dari sofa. Mengusap wajahnya yang luar biasa mengantuk.
"Al udah pulang." ulang Alena saat Arga belum mengambil penuh kesadarannya.
Arga menggelengkan kepalanya, sembari membuka matanya lebar yang memerah. Saat sadar ada seorang perempuan cantik di depannya Arga langsung tersadar bahwa adikknya memang berada di depannya saat ini.
"Al...?" tanya Arga dengan suara berat khas bangun tidur, cowok itu masih belum percaya dengan sosok perempuan di depannya.
Alena tersenyum sambil mengangguk." Iya ini Al."
Arga menghela napas, akhirnya Arga tidak sia-sia menunggu adiknya pulang sampai ketiduran di sini, buktinya Alena pulang lebih cepat dari yang ia bayangkan. Arga tau semarah-marahnya Alena, dia tetaplah bayi polos yang dulu papanya bawah ke rumah ini bersama mama. Bayi yang dari jaman orok sampai sekarang Arga terus lihat perkembangannya. Meski jarang bertemu Arga sangat tau sifat adiknya itu. Dia tidak akan mampu marah lama dengan seseorang, hatinya sangat lembut dan mudah rapuh. Arga sangat senang Alena tersenyum lagi. Tapi tunggu sebentar apakah dia sedang bermimpi?
"Maaf, kakak ketiduran, kapan kamu pulang?" tanya Arga dengan suara serak.
Alena bangun dari lantai dan mendudukkan dirinya di samping Arga. memperhatikan Arga yang masih mengumpulkan seluruh nyawanya
"Alena baru aja nyampe, kakak kenapa tidur di sofa? "
Arga menggerakkan kepala sembilan puluh derajat, menatap adiknya sedikit menuai tanda tanya. Apa ia sedang bermimpi melihat Alena bersikap lembut padanya sekarang.
"Kamar kakak dijadiin gudang sama kamu ya hehehe." kekeh Arga menggaruk tengkuknya merasa kaku berbicara dengan Alena untuk bertahun-tahun lamanya.
"Kan banyak kamar yang lain."
"Tadinya mau masuk kamar mama papa, tapi katanya bang Umar, kakak gak di bolehin masuk sama kamu."
Alena lagi-lagi merasa bersalah, sejak kepergian Arga yang hampir setahun gak pernah balik, Alena yang mengatur semua urusan rumah. Bahkan kamar Arga yang berada di lantai dua Alena jadikan kamar itu sebagai tempat penyimpanan barang-barang yang tidak terpakai, sebenarnya Alena tidak pernah niat menjadikan kamar itu sebagai gudang apalagi letaknya di lantai dua berada tepat di ujung balkon lantai dua, dan sebenarnya di dalam rumah mereka yang terbilang luas juga memliki gudang yang besar, dan letaknya itu di belakang rumah, bangunanya pun terpisah dari rumah . Jadi sebenarnya itu hanya sebagai sindiran keras untuk Arga supaya cowok itu lebih sadar kesalahannya yang tak pernah mau tinggal di rumah.
"Iya Alena udah jadiin kamar kakak gudang, siapa suruh gak pernah tinggal di rumah, ck." decak Alena.
"Maaf, kakak gak bisa pulang soalnya...."
"Untuk sementara tidur di kamar papa mama aja, nanti aku minta bang umar rapihin kamar kak Arga lagi." potong Alena agar tidak berbicara lagi. Alena sangat tidak tega melihat wajah memelas Arga.
"Kakak lagi mimpi yah, lihat kamu ngomong lembut sama kakak, rasanya kakak gak pengen bangun-bangun, " ucap Arga tertawa.
Alena menggeleng dengan wajah berubah sedih, menahan air matanya agar tidak keluar saat ini.
"Mau Alena cubit?" tawar Alena.
"Buat apa?" bingung Arga menaikan sebelah alisnya.
"Biar sadar kalau kak Arga lagi gak mimpi."
"Hahaha."
Alena menarik senyuman, melihat wajah Arga yang tertawa, sudah lama mereka tidak bercengkrama seperti ini, saling melepas tawa satu sama lain. Arga pun mengacak pelan puncak kepala adiknya.
"Kamu istirahat sana, udah malam." lanjut Arga
"Udah makan?" tanya Alena akhirnya membuat Arga terdiam.
"Eum...belum sih," ucap Arga menggaruk pipinya sembari tersenyum malu.
"Udah berapa jam kakak puasa demi nungguin Alena?" tanya Alena ingin marah karena kebodohan kakaknya yang satu itu.
"Kakak tadi pagi sarapan rati kok, siangnya ngopi sambil makan kue bareng bang Umar."
"Mana kenyang makan roti, emang cacing perut kak Arga berkamuflase jadi cacing perut orang barat gitu, yang cuma kenyang makan roti selapis doang hem?" omel Alena menarik napas. "Jangan nyiksa diri deh kak."
Arga terkekeh, benar bahwa Alena memanglah sangat pengertian, dan berhati penuh kasih, tapi Alena hanya tidak ingin menunjukkan secara langsung kecemasannya.
"Ya udah makan yuk." ajak Arga beranjak dari sofa.
Alena mengangguk lalu ikut berdiri, dia merasa bahagia bisa kembali berbaikan dengan Arga. Melihat Arga yang terus berjalan menuju pintu Aula, Alena langsung berlari memeluk Arga dari belakang.
"Eh?"
Kaget Arga berhenti saat merasakan sebuah tangan melingkar erat di perutnya. Arga tersenyum menggenggam erat tangan alena di perutnya. Bersama dengan itu, tangisan Alena terdengar di balik bahunya.
"Alena udah jahat banget sama kakak hiks...hiks..."
"Alena selalu kasar sama kak Arga, Alena minta maaf..." sungut Alena membiarkan air matanya keluar dan membasahi kaos hitam Arga.
Arga melepas kedua tangan Alena, lalu berbalik untuk menarik tubuh gadis itu masuk ke dalam pelukan hangatnya, mendekap erat perempuan yang Arga punya satu-satunya saat ini. Arga juga ingin menangis namun air matanya sulit untuk keluar.
"Alena dengerin Kak Arga, kamu gak pernah salah. Kakak yang salah, kakak minta maaf udah ninggalin kamu sendirian selama ini."
Alena menggeleng lagi, Apa yang di katakan Arga mengenai dirinya adalah kesalahan, selama ini dialah yang salah bukan Arga.
"Alena yang salah," ucap Alena dengan suara gemetar, air matanya semakin mengalir merasakan Arga semakin merengkuh tubuhnya. Hangat pelukan Arga, membuat Alena rindu dengan ke dua orang tunya yang juga selalu memeluknya seperti ini.
"Sudah jangan menangis, kakak ada di sini, kakak akan selalu mengusahakan untuk selalu ada di samping kamu." ucap Arga dengan suara lembut, tangannya mengelus-elus kepala Alena, menenangkan gadis itu agar tidak menangis lagi.
Sebuah bayangan masalalu kembali menyelimuti pikiran Arga di mana saat-saat tersulit dalam hidupnya datang. Sebuah kecelakan, kabar buruk dan dua mayat yang tergeletak di atas brangkar. Saat Arga hanya berdiri dalam kegelapan dan Kesalahan besar, rasa ingin membunuh diri sendiri dan berakhir dengan pelarian dan datang setelah 2 tahun telah berlalu.
Ia meninggalkan adiknya yang masih berusia 10 tahun pergi merantau entah kemana. Sekarang Arga datang dan berjanji untuk memperbaiki semuanya. Tinggal di sisi adikknya adalah satu-satunya yang ia harapkan saat ini.
Arga menghapus air matanya, mengakhiri acara mengingat masa lalunya berganti dengan senyuman. Alena mengangkat kepalanya, saat menyadari Arga juga menangis, tapi dengan cepat lelaki itu menghapus jejak air matanya. Arga tersenyum, menatap wajah cantik yang banyak berubah selama ini. Gadis di depannya bukan lagi gadis kecil yang selalu menagis agar Arga menggendongnya, gadis cantik di depannya bukan lagi gadis kecil yang menguras uang jajan Arga hanya untuk membelikannya ice cream dan syomai Bang Ari di kompleks perumahan mereka, kesukaan gadis itu.
Gadis kecilnya sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan terlihat dewasa. Wajah cantiknya sendiri adalah turunan dari mamanya kembali bersalah jika ia harus mengingat itu lagi. Arga menggeleng mencoba melupakan masa lalu. Mendekatkan kepala mencium dahi adikknya cukup dalam setelah itu melepasnya.
"I love you my princess."
Alena tersenyum hangat, hatinya tersentuh saat Arga mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang selalu di gunakannya untuk menyenangkan hati Alena. Untuk pertama kalinya setelah hubungan mereka kembali baik Arga memanggil Alena princess lagi. Dulu di waktu kecil, Arga selalu memanggil Alena dengan sebutan Princess, karena Arga selalu menganggap gadis itu putri dari dongeng yang lahir di keluarga mereka.
"I love you to my King."
Jika Arga menjuluki adiknya sebagai 'princess' maka Alena punya sebutan juga untuk Arga. 'King' raja yang selalu melindunginya. Raja yang selalu membuat Alena selalu tersenyum.
"Makan yuk, udah laper banget." Arga melepaskan pelukannya dari Alena, mengajak adiknya ke dapur segera.
"Seandainya Al gak pulang, kak Arga bakal tetap puasa sampai pagi."
"Iya besoknya gue gak lagi di rumah, tapi di rumah sakit, dan difonis kena busung lapar."
Alena langsung tertawa mendengar itu, gila juga sih kalau sampai Arga di fonis seperti itu, tidak sepadan dengan tubuh tinggi berisi milik Arga. Cowok itu sepertinya memperhatikan makan selama di luar sana. Tidak seperti yang Alena pikirkan.
Melihat adiknya menertawainya seperti itu, Arga mengangkat tangan mengacak gemas puncak kepla Alena.
"Uuuh gemar banget ledekin kakaknya."
"Al gak bisa bayangin kalau kakak kena busung lapar hahaha."
Arga geleng-geleng, berbalik meninggalkan Alena yang masih tertawa geli. Melihat Arga meninggalkannya Alena langsung mengikuti cowok itu dengan tawanya yang belum lepas.
"Kak Arga puasa aja sampai besok, biar kena busung lapar hihihi."
Alena masih gencar menggoda kakaknya, sampai Arga hanya terkekeh mendengar itu.
"Lo tega liat gue kena busung lapar?" ucap Arga menoleh pada Alena yang berjalan di belakangnya.
"Alena gak tega sih, tapi Alena ketawain dulu hahaha."
Arga menggeleng-gelengkan kepalanya sambil duduk di depan meja makan, padahal itu sama sekali tidak lucu, tapi Alena sampai-sampai mengeluarkan air matanya karena tertawa.
"Udah, dari pada ketawa terus,mending duduk sekarang makan bareng gue," Arga menarik kursi di sebelahnya menyuruh Alena duduk. "Nanti gila ketawa terus kayak gitu."
Alena menggeleng, dengan tawanya yang perlahan hilang. "Alena ke atas dulu, mau mandi, kak Arga makan duluan."
"Ya elah nie anak gak ada peka-pekanya sama sekali, jadi perjuangan gue nunggu lo sampai kelaparan berakhir dengan gue yang makan duluan. Hadeuh, "
"Kan, Al udah pulang."
"Iya tapi gue nunggu lo, buat makan bareng sama gue, bukan nunggu lo nunjukin muka biar gue bisa makan, gak gitu konsepnya Alena." kesal Arga dengan kepolosan adiknya ini.
"Iya...iya...bawel." Alena akhirnya mendekati kursi dan duduk dengan tenang sambil senyum-senyum menatap Arga.
"Lepas dulu tasnya." tegur Arga.
"Oh iya lupa."
Alena langsung melepas ranselnya dan menaruhnya di kursi sebelahnya yang kosong.
Arga lagi-lagi hanya bisa menggeleng melihat tingkah adiknya. Sepertinya dia salah menilai Alena yang sudah dewasa. Karena nyatanya masih saja seperti dulu, tidak bisa mengurus dirinya sendiri.
*****