Sekitar pukul 8 malam. Alena berdiam diri di kamar bernuansa pink, milik pricilla, gadis yang Alena panggil dengan sebutan Sisil. Tak ada yang di lakukannya selain menghela nafas. Memikirkan apakah ia akan pulang atau menginap saja.
Ia bingung apakah harus memilih egonya lagi kali ini atau sedikit memberi kesempatan untuk orang itu lagi di hidupnya. Alena mencoba menutup mata namun tetap saja bayangan orang tuanya meninggal tragis di rumah sakit kembali memenuhi kepalanya. Juga yang paling menyakitkan adalah Arga yang pergi meninggalkan dirinya saat itu juga. Pria itu pergi disaat Alena membutuhkannya.
Alena selalu menangis sendiri jika merindukan kedua orang tuanya. Air matanya sudah cukup banyak ia keluarkan setiap malamnya, ketika kecelakan maut yang menimpa orang tuanya itu hadir di mimpinya setiap malam.
Mimpi buruk itu selalu datang dan menghancurkan semangat hidup Alena.
"Lo kenapa si Al? muka kayak habis bayar utang gitu, " Sisil menolehkan kepalanya sebentar menatap Alena, lalu kembali fokus pada aktifitasnya.
Alih-alih menjawab, Alena memilih menghela napas panjang.
'Hhh'
Alena hanya menghela nafas sebagai jawaban. Kedua matanya menatap langit-langit kamar Sisil dengan perasaan resah. Alena memikirkan Arga.
"Kalo ada masalah cerita sama gue, kita kan teman," ujar Sisil yang sedang duduk di karpet kamarnya sambil memangku sebuah laptop. "Jangan di pendam sendiri Al."
"Gapapa." sahut Alena dengan suara lemas.
Sisil geleng-geleng kepala, tidak biasanya Alena datang dengan burat wajah yang lemas, biasanya gadis itu selalu ceria dan selalu heboh bercerita. Yang mengherankannya lagi Alena masuk ke rumahnya dengan muka pias dan mata yang sembab
"Gapapa Sil, gue cuma mikirin kakak gue, " jawab Alena lagi-lagi dengan helaan nafas.
"Arga kenapa lagi Al, bukannya Arga lagi di rumah lo sekarang, ngapain di pikirin?" tanya Sisil sibuk dengan laptopnya. "Al, lo happy aja kenapa sih, gak usah galau gitu deh."
Alena langsung membangunkan dirinya tiba-tiba di tepi ranjang, ia menyusutkan kakinya ke bawah. lalu matanya memperhatikan sisil yang duduk di lantai sambil menyandarkan bahunya di tepi ranjang, gadis manis itu sedang mengetik sesuatu di laptop.
"Sisil." Panggil Alena.
"Hem, kenapa Al?" tanya sisil sepertinya begitu serius dengan laptop di depannya, sampai-sampai ia tidak menoleh melihat Alena.
"Kenapa ya, Arga gak mau ngasih tau kerjaannya sama ke gue?"
"Ya buat apa juga lo tau Al." sisil menanggapi.
"Gue merasa selama ini Arga tuh aneh banget, dia gak pernah tinggal di rumah, emang sesibuk itu kerjaan dia sampai gak pernah tinggal d rumah?" pikir Alena berspekulasi tentang kerjaan Arga yang begitu misterius.
"Ya kalau gak sibuk, bukan kerja namanya Al, santai-santai, lehai-lehai cantik." komentar Sisil tak membuat fokusnya teralihkan dari laptop.
"Tapi dia gak mau kasih tau kerjaannya ke gue Sil, itu kenapa coba?" tanya Alena sedikit frustasi.
"Ya kenapa juga lo harus tau? cukup nikmatin aja hasilnya Al."
"Harus dong Sil, gimana kalau ternyata kakak gue kerja yang gak bener? gue makan uang haram dong."
Sisil tiba-tiba menekan tuts keyboardnya cukup keras mendengar Alena. Sisil menolehkan kepalanya benar-benar menatap Alena tak habis pikir.
"Lo percaya Arga ngelakuin hal yang ada di pikiran lo?" tanya Sisil seperti menghantam Alena sendiri.
"Lo tega mikir yang enggak-enggak sama kakak lo yang selama ini berusaha hidupin lo?" tanya Sisil lagi.
Alena bungkam, dia tidak menyangka pertanyaannya malah menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Alena Lantas menggeleng dengan wajah sedih.
"Arga gak mungkin kasih makan gue uang haram." lirihnya tepat di depan sisil.
"Ya udah gak usah mikir aneh-aneh mulai sekarang." sungut Sisil kembali menoleh pada laptop yang hampir saja menganggur karena perdebatannya dengan Alena.
"Ck, tapi bisakan gak usah ninggalin rumah juga." cebik Alena belum merasa puas menghakimi Arga.
"Kan kerjaannya gak di rumah Al sayang..." greget Sisil geleng-geleng sama sahabatnya ini.
"Tapi kan, gak harus berbulan-bulan gak pulang."
"Ck, ck, Al...Al...entah pake cara apa lagi gue ngertiin lo, hem...hidup lo kayaknya perlu di kasih asupan pelajaran hidup yang banyak dari tuhan. Biar lo ngerti gimana kerasnya hidup."
Alena diam, menatap Sisil sambil menimbang-nimbang ucapan sahabatnya itu dengan pikirannya sendiri, apa dia sebodoh ini tentang mengerti seseorang.
"Nulis novel lagi?" tanya Alena mencoba menepis persoalan Arga, matanya kemudian, memperhatikan paragraf demi paragraf yang di tulis Sisil di laptopnya.
"Yap! Always, " jawab Sisil dengan tangan yang begitu lincah di atas keyboard.
Alena angguk-angguk saja, berbeda dengan dirinya yang suka baca novel, sisil malah sebaliknya suka menulis novel.
"Emm... Sil, Kamu pernah gak,benci sama orang dan kamu gak bisa maafin kesalahannya?" Alena menggoyang-goyangkan kakinya yang menggantung di tepi ranjang sisil.
"Maksud Lo?" tanya Sisil menolehkan sedikit kepalanya, lalu kembali mengetik karena ide dan imajinasinya begitu lancar, mengalir seperti air.
"Ya... Ceritanya Kamu sulit maafin dia."
Sisil mengernyitkan dahinya berusaha mencerna pertanyaan Alena.
"Ini lo ngomongin si Arga lagi ya?" tanya Sisil karena Alena memang belum puas dengan pembahasannya soal kakak laki-laki Alena yang ternilai sangat baik di matanya. Sisil tidak akan pernah setuju jika Alena selalu mengklaim Arga pria yang tidak bertanggung jawab atas Alena.
"Gak pernah, " jawab Sisil jujur, singkat dan jelas.
Alena menghela nafas "kalau gitu percuma aku ceritanya." Alena menghempas kembali tubunya di atas kasur.
Sisil menoleh ke atas, melihat Alena yang kembali berbaring dengan nafas yang sesekali di hembuskan.
Sisil menghela nafas segera meletakkan laptopnya di karpet. Lalu gadis itu bangkit dari duduk dan Berdiri. Menatap Alena dari atas sebentar. Alena hanya mendengus menatap Sisil.
"Seharusnya lo gak kayak gini." ucap sisil prihatin dengan kondisi sahabatnya.
Lalu gadis itu naik keranjang dan ikut berbaring seperti Alena.
"Lo dengerin gue ya Al, " ucap Sisil mulai memberikan wejangan.
Jadilah Alena mendengar siraman rohani malam ini, lupakan Sisil yang asik-asiknya menulis the next part dari novel yang dia buatnya malam ini, karena Alena terus bawel mengajaknya cerita.
Alena menoleh pada Sisil, menatap Wajah Sisil yang begitu cerah karena pelembab malam yang selalu di gunakan gadis itu sebelum tidur.
"Semua orang di dunia ini pasti punya Kesalahan, gak harus itu kecil atau besar. Yang terpenting adalah gimana cara lo mengiklaskan dan mau maafin kesalahan yang terjadi di masa lalu, "
"Setiap orang berhak dapat maaf, " Sisil menoleh dan kala itu terdiam menatap Alena yang juga menatapnya dengan lembut.
"Gue pernah di posisi loh, sama halnya dengan lo Al, gue sulit maafin orang itu." ucapnya kembali menatap langit-langit kamarnya.
"Siapa?" tanya Alena kini merubah posisinya menyamping dengan kedua tangan menjadi bantal.
Kini Alena semakin antusias, ingin mendengar cerita sisil, itung-itung dia tidak perlu membaca novel sebelum tidur karena Alena yakin Sisil akan menceritakan kisahnya yang romantis melebihi kisah-kisah yang ada di novel.
"Dulu gue punya cowok, namanya Raka. Gue sayang banget sama dia sampai gak bisa lupa sampai sekarang, gue pacaran selama 2 tahun dan dia mutusin gue gitu aja tanpa ngomong apa-apa dan besoknya gue lihat dia gandeng cewek barunya, " cerita Sisil.
Itu baru intro dari cerita, tapi sukses membuat Alena membuka mulut tak percaya dengan mata membulatnya.
"Gak usah gitu juga ekspresinya." decak Sisil membuat suasana hati Alena yang tadinya mellow berangsur lenyap.
"Terus, terus lanjut dong Sil, "
Sisil menghela napas, lalu menatap ke arah langit-langit kamarnya yang disinari lampu yang berkedip-kedip dari tadi. karena sebentar lagi token listriknya habis, dan tidak ada waktu untuk mengisinya. Mungkin sebentar lagi mamanya memanggil untuk menyuruhnya membeli token.
"Gue marah banget sama Raka, sampai-sampai berantem sama ceweknya." lanjut Sisil.
"Issh jahat banget sih jadi cowok!" komentar Alena merasa kesal dengan Raka.
"Kok tega mutusin lo, padahal kan udah dua tahun pacaran." komentar Alena merasa tak masuk akal.
"Sisil selingkuh kali."
"Enak aja!" Sisil menyolot keras.
"Trus alasannya minta putus ada?" tanya Alena makin penasaran. "Raka nggak bilang kenapa mutusin lo?"
"Dia nggak bilang,"
"Raka kok jahat banget sih?" kesal Alena uring-uringan.
"Gue yang jahat Al,"
"Bagaimana?" Alena terkejut mendengar Sisil. "Kok jadi lo yang jahat?"
Sisil tersenyum tipis ke arah Alena, dia tidak menyangka akan menceritakan ini pada sahabatnya, padahal Sisil sudah mengubur kisahnya yang pahit itu dalam dirinya.
"Gue yang bodoh. Gak bisa ngerti kalau dia mutusin gue karena gak mau gue nantinya lebih sakit kalau dia pergi, "
Alena semakin tidak mengerti, Sisil menarik sudut bibir, tersenyum seperti membayangkan sosok pria yang di ceritanya.
"Raka masuk rumah sakit, setelah sebulan gue putus sama dia, gue gak tau, karena dia memberi dinding ke semua orang untuk gak ngasih tau gue tentang keadaannya. 5 bulan berlalu gue gak pernah ketemu lagi sama dia dan kabar datang gitu aja, Kalau Raka meninggal, "
Sisil tersenyum namun tiba-tiba air matanya mengalir begitu saja. Alena yang menyadari itu langsung menggengam tangan sahabatnya itu.
"Awalnya gue gak percaya Al, tapi setelah baca surat dari dia gue mulai bisa ikhlas. Raka minta maaf dalam suratnya. Dan asal lo tau gak ada yang dia tulis selain maaf, maaf, maaf dan maaf. "
Sisil membuang nafas, sembari menghapus air matanya "Kok gue jadi cerita panjang gini, "
"Gak papa lanjutin aja, " Alena tersenyum rintih.
Sisil menoleh lagi pada Alena, "Menurut lo, gue harus maafin Raka atau nggak? " Sisil bertanya dengan menatap mata Alena yang berkaca-kaca.
"Ya harus dong Sil, Raka kan gak maksud nyakitin lo, dan kelihatan banget kalau Raka itu sayang banget sama lo. Lo juga udah ikhlasin kepergian dia kan?"
"Semua punya alasan karena di mana ada alasan di situ ada maksud. Bagitupun sebaliknya, " Alena berucap Lancar sembari tersenyum.
Sisil merubah posisinya menyamping persis dengan Alena dan mereka sekarang saling berhadapan, Sisil terdiam sesaat lalu berucap "lo sadar gak, lo barusan ngejawab pertanyaan lo sendiri?"
Senyum Alena tiba-tiba luntur, sorot matanya menggelap. Alena bangkit dan mengusap wajahnya "Aku belum ikhlas Sisil, "
"Karena lo belum mencoba, dan lo gak pernah mau coba " Sisil ikut bangkit, bersamaan dengan itu pintu kamar Sisil di ketuk.
"Anak-anak makan malam sudah siap, mari makan dulu!"
"Iya Mah!" teriak sisil menunduk meraih laptopnya di lantai lalu Berdiri dan berjalan ke arah meja belajar yang terletak di samping lemari pakaiannya.
Alena menatap Sisil yang menaruh laptopnya di atas meja belajar. Kemudian ia melihat Sisil menarik laci dan mengeluarkan sebuah foto dan amplop surat dari dalam laci. Alena mengerutkan Alis saat Sisil kembali lalu duduk di sampingnya.
"Ini foto Raka dan surat terakhir dari dia, " Sisil memberi foto dan Amplop putih itu pada Alena.
Alena menerimanya sedikit ragu. Tapi Melihat Sisil mengangguk membuat Alena memegang foto Raka.
"Raka ganteng banget," gemas Alena memperlihatkan deretan gigih putihnya yang rapih.
Senyum Sisilpun ikut langsung tercetak. "Gantengan mana sama Alfi?, "
Sisil memiringkan kepala menggoda Alena. "Hayoo gantengan siapa?"
Alena tersenyum malu, "Gantengan Alfi lah, "
"Hahaha, " Sisil tertawa.
Alena memberikan foto itu pada Sisil kembali, beralih membuka surat Raka dan benar saja isinya hanya kata 'Maaf'
"Wah! Surat yang Aneh, " Alena terkekeh, "aku baru nemuin orang yang nulis surat terakhir dan isinya hanya kata maaf, "
Alena menggeleng menatapi tulisan tangan Raka sangat rapi dan bersih.
Sisil mengangguk, tak melepas senyum di bibirnya "Itu yang gak bisa gue lupa dari seorang Raka Siolan. Dia selalu minta maaf, padahal dia gak salah sama sekali"
Alena menatap Sisil, "Dan Raka beruntung dapat cewek yang mudah memaafkan kayak lo Sil, "
Sisil tersenyum, lalu mencium foto Raka.
"I love you Raka, " ucapnya sembari menatap cowok berlesung pipi di dalam foto. Seorang cowok mengenakan jaket kulit hitam yang di padukan kaus putih polos, berdiri dengan kedua tangan terlipat gagah di d**a.
"I love you Raka, " lirihnya lagi.
"I love you to Sisil, " jawab Alena, senyumnya semakin lebar. "Gue yakin Raka pasti bilang itu."
Sisil tiba-tiba menoleh saat Alena mengucapkan itu, bibir Sisil semakin lebar dan gerakan selanjutnya gadis itu memeluk Alena.
"Makasih Al, udah buat gue ngingat Raka lagi makasih, " Sisil memeluk Alena erat.
"Iya sama-sama, makasih juga karena lo buat gue sadar tentang suatu hal, "
Sisil melepas pelukannya, "Makan yuk! "
"Gak usah, aku makan di rumah aja udah di tungguin sama Arga, " Alena Berdiri meraih ransel kecilnya di nakas lalu memakainya.
"Ya sayang banget, tapi gak papa deh" ucap Sisil mengikuti Alena keluar dari kamar. Lalu mencari Mama dan papa sisil yang sedang makan malam. Alena sempat di tahan untuk makan malam bersama. Tapi Alena memberi Alasan bahwa ia harus pulang sekarang.
***
Sisil mengantarkan Alena sampai gerbang. untuk menunggu taxi yang lewat. Karena belum larut, masih banyak kendaraan yang lewat. Ada beberapa angkutan umum yang singgah namun Alena hanya membutuhkan taxi sekarang, karena jalur rumahnya dengan sisil sangat jauh, tidak cocok jika harus menggunakan angkot.
"Taxinya sebentar lagi datang, lo masuk aja sil, " suruh Alena melihat Sisil yang masih berdiri di depan gerbang menunggunya.
"Gak, gue masuk kalau lo udah pergi,"
"Yaudah. "
Tidak lama taxi yang di tunggu-tunggu Alena akhirnya datang dan berhenti di depan gadis itu. Alena menoleh ke Sisil dengan senyum lembut.
"Gue pulang dulu ya Sil," pamit Alena, kemudian masuk ke dalam taxi.
"Iya Al, kabarin kalau udah nyampe rumah yah." Sisil melambaikan tangannya saat melihat Alena menurunkan kaca dan tersenyum ke arahnya.
"Bye Sisil." Alena membalas lambaian tangan Sisil, dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Sampai mobil kecil berwarna kuning itu bergerak meninggalkan gerbang rumah Sisil.
"Salam sama abang ganteng Al!" teriak sisil tak usai melambaikan tangannya.
Alena mendengar itu sudah jauh hanya mengulum senyum bahagia. Dia tidak sabar bertemu Arga dan memeluk kakak kesayangannya itu. Alena akan memaafkan Arga dan menerima apapun yang Arga lakukan.