Alena meraih tas ransel berwarna biru di atas kasur, lalu memakainya di depan cermin, membenarkan poni tipis yang menutupi dahinya. Setelah merasa sangat rapi, Alena mengambil buku paket mate-matika di atas meja belajar, lalu berjalan keluar dari kamarnya. Entah kemana Alena akan pergi hari ini.
Padahal hari ini adalah hari minggu, hari dimana anak remaja seusia dia berdiam diri di rumah untuk menikmati hari libur. Namun tidak dengan dirinya yang memilih keluar rumah di siang hari.
Jika dilihat dari penampilannya cukup sederhana mengenakan skinny jeans dan kaos putih lengan pendek yang ia masukkan ke dalam celana, memakai sepatu sneakers berwarna putih, rambutnya yang panjang, memperlihatkan leher jenjang miliknya. Dia hanya mengenakan riasan tipis, hanya memoles wajahnya dengan bedak dan juga memakai lipcream pink di bibir tipisnya. Tak bisa dipungkiri Alena memang cantik. Parasnya yang lembut sangat mirip Joy Red velvet . Kecantikan natural yang dimilikinya membuat orang tak bosan, selalu ingin menatapnya.
Alena melangkah menuruni tangga menuju lantai bawah, namun langkahnya terhenti saat melihat Arga yang berdiri tepat di ujung tangga lantai bawah. Alena menyorotkan tatapan dingin pada Arga, kemudian melangkahkan kembali kakinya ke bawah.
"Mau kemana Al?" tanya Arga saat gadis itu melewatinya begitu saja.
"Mau ke rumah temen, " jawab Alena datar terus berjalan ke depan.
"Alena!"
Arga langsung mengekori gadis itu, menarik pergelangan tangannya, hingga Alena berhenti membalikkan badannya dengan kesal.
"Apa sih!"
Alena menghempas tangannya hingga terlepas dari genggaman Arga.
"Cuma mau ngasih tau, kakak besok mau ke bandung. ada kerjaan lagi, jadi kamu pulang cepat ya, biar bisa makan malam sama-sama," ujar Arga dengan suara lembut. Berusaha membujuk adik tersayangnya itu. Tapi Alena malah tertawa dingin.
"Kakak urusin Aja kerjaan kakak, yang Al gak pernah tau itu kerjaan Apa! " sindir Alena tau Arga hanya tersenyum mendengar itu.
"Oke jangan pulang malam," pesan Arga tidak peduli dengan sindiran Alena.
"Gak tau juga sih, gue pulang atau enggak," Jawabnya Alena memberi kode, bahwa sia-sia saja jika Arga menunggu dirinya, karena Alena tidak merasa nyaman jika Arga datang dan pergi dari rumah. "Alena bakal pulang malam. Kakak gak usah nginap. Rumah Alena bukan penginapan, Lagi pula Kamar kakak udah gak ada di sini," terangnya.
"Kamu sebenarnya mau kemana? ke rumah Pricilla?" tanya Arga , ia hanya ingin memastikan Alena tidak pergi ke tempat yang salah.
"Kenapa kepo banget?" ucap Alena jengah menatap kakak laki-lakinya itu.
"Kakak cuma mau tau aja." Arga kemudian menjelaskan, "Seenggaknya kakak tau kamu pergi dengan siapa, dia orang baik atau jahat? biar kamu aman aja Al."
"Emang kak Arga peduli sama Al?" tanya Alena menohok.
Pertanyaan itu membuat Arga merasa tersudut, dengan Alena berkata seperti itu, Arga jadi tau posisinya sekarang. Alena sangat membencinya sampai ia merasa Arga tidak peduli lagi dengannya.
"Gue peduli sama lo Al. Peduli banget!" Ucap Arga dengan serius ada penekanan di setiap katanya.
Alena menyinggungkan senyum evil, dari sorot matanya terlihat Alena sedang meredam amarahnya.
"Oh jadi kakak peduli sama Al. peduli iya? kalau peduli kemana selama ini!" bentak Alena tiba-tiba mendorong d**a Arga hingga cowok tinggi itu hampir terjatuh.
"Al, selama ini gue kerja demi Lo!" bentak Arga tanpa sadar menyentak Alena.
"Kerja? kerja apa Hah?!" Alena berkacak pinggang. "Kak Arga gak pernah ngasih tau kerjaan kakak."
Keributan itu terdengar sampai dapur dan halaman belakang, membuat dua pembantu rumah tangganya langsung berlari ke Aula di mana ke dua majikannya itu sedang bertengkar. mereka tidak bisa melakukan apa-apa, takut ikut campur.
"Kak Arga selalu bohongin Alena!" teriak Alena tak bisa menahan diri lagi. Air matanya menets begitu saja, bersama suara tangisannya.
Alena mengeluarkan semua kekesalannya pada Arga. Selama ini Alena berharap kehadiran Arga, dia hanya ingin Arga tinggal di rumah bersamanya, menjaga dirinya. tidak dengan meninggalkan rumah dan tak tau tinggal di mana, apalagi keluarga satu-satunya yang dimiliki Alena hanya Arga. Alena hanya berharap kakaknya selalu di dekatnya dan menemani dirinya.
"Al lo dengerin gue dulu, gue bakal jelasin ke lo."
Arga mendekati adik perempuannya itu, tapi Alena mundur sembari menggeleng kuat. "Gak mau, Alena mau pergi."
Setelah mengatakan itu Alena langsung berbalik, berlari keluar rumah meninggalkan Arga yang menggeram frustasi. saat itu juga kedua pembantunya menghampiri Arga untuk menenangkan cowok itu.
"Den Arga yang sabar ya."
"Non, Alena sebenarnya sayang banget sama den. dia gak mau den Arga selalu pergi dari rumah."
"Tapi Arga kerja bi, Arga harus bisa cari nafkah buat hidup Arga dan juga Alena. kalau bukan saya, siapa yang bisa hidupin Alena."
****
Alena menyetop sebuah taxi yang melintas di depannya, Alena buru-buru menghapus air matanya seraya menunggu taxi itu mundur dan berhenti tepat di depannya. Alena segera memasuki taxi itu dan duduk di kursi penumpang.
"Mau kemana nih neng?" tanya supir taxi menatap gadis itu lewat kaca spion.
Alena tidak menjawab, ia sibuk menghapus air matanya dengan tisseu.
"Neng?" Sopir taxi itu sedikit menolehkan kepala ke belakang dan mendapati Alena menangis "Neng cantik mau saya antar kemana?" tanya sopir taxi itu lagi dengan logat khas orang sunda.
"Ke rumah Sisil Om," jawab Alena akhirnya. Dengan nafas yang masih terasa sesak.
"Rumah Sisil teh, dimana neng?" Sopir itu menggeleng, pasti mengira Alena mungkin gila.
"Om kok bawel sih!" Alena mendelik jengkel.
"Neng.. Neng..." pria parubaya itu menggeleng, karena merasa tidak nyambung berbicara dengan Alena. "Jadi saya harus ngantar ke mana nih neng?" tanya sopir itu dengan nada di lembutkan.
"Jalan Elang samudra. Dekat supermarket Pribumi, " jawab Alena lalu mengalihkan tatapannya keluar jendela.
"Oke neng, " dan sopir itu langsung membanting stir, berbalik Arah. Karena alamat yang di sebutkan Alena rupanya berlawanan arah dan mereka sudah cukup jauh dari jalan rumah Sisil.
Setelah beberapa menit di perjalanan, Alena masih menangis sambil tersedu-sedu. ia merasa sedikit bersalah sudah mengata-ngatai Arga terlalu kasar. dia jadi kasihan dengan kakanya itu, sebenarnya Alena juga tidak ingin Memarahi Arga. Apalgi cowok itu baru beberapa hari di rumah, tapi yang membuat Alena kesal ketika cowok itu mengatakan akan pergi lagi karena harus kerja, sementara Alena sampai sekarang tidak tau kerjaan kakaknya.
"Kenapa Neng, kok nangis? Di putusin pacar ya?"
"Biasanya nih neng, kalo nangis gini, cowoknya pasti selingkuh neng," ujar sopir itu bercanda.
"Om sok tau. Alena nangis karena Arga, bukan karena pacar. Alena belum punya pacar Om, gimana mau di selingkuhin. Issh Om ngeselin!"
Sopir taxi itu terkekeh, "hehehe... Cantik-cantik, masa belum punya pacar Neng?"
"Belum dapat jodoh om!" ucap Alena menyolot.
"Om tau kan, pepatah mengatakan jodoh itu di tangan siapa?" tanya Alena.
"Iya tau neng, di tangan Tuhan kan?" jawab sopir itu merasa paling benar. Kemudian si sopir nyengir menatap wajah cantik Alena lewat kaca spion.
"Salah!" jawab Alena membuat Sopir itu sedikit tersentak karena ucapan Alena yang tiba-tiba
"Kok salah neng? Emang di tangan siapa?"
"Di tangan saya lah om, masa di tangan om."
"Di mana-mana jodoh itu di tangan tuhan neng, masa di tangan Neng?"
"Ya iyalah di tangan saya. Saya yang nerima. Jadi tinggal Sayanya aja mau nerimah jodoh itu apa nggak, itu apa coba kalau bukan di tangan saya?" Alena mengejek menjulurkan setengah lidahnya.
"Iya deh om kalah debatnya, neng yang menang," ucap sopir itu pura-pura mengalah tanpa mengalihkan fokusnya pada jalan yang tidak terlalu ramai di siang ini.
Seribu dari penumpang yang pernah ia antar, hanya Alena yang kurang nyambung ketika diajak bicara. sopir itu hanya bisa sabar dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
****
Taxi yang membawa alena berhenti saat lampu merah. Alena menatap ke luar jendela, keadaan jalan sangat macet, banyak kendaraan yang akhirnya terjebak dan menunggu kendaraan di depannya cepat jalan. Keributan kendaraan mulai terjadi. suara klakson dimana-mana, di tambah lagi seseorang berkendara motor sedang marah-marah karena kendaraan di depannya tidak bergerak. Alena pikir mungkin cuaca siang ini sangat panas, sehingga orang-orang mulai kepanasan. Alena mengakui dirinya juga sedang merasakan panas, tapi panas itu berasal dalam hatinya. ya meskipun Ac dalam taxi menyala, tetap saja Alena merasa gerah.
saat taxi yang di tumpanginya berjalan lagi, tiba-tiba saja Alena meminta untuk berhenti ketika matanya tidak sengaja menangkap seseorang yang dia kenal sedang memarkir motornya di pinggir jalan.
"Om! Om! Berhenti di sini! "
"Kenapa berhenti di sini neng? ini bukan jalan Elang samudra, " ucap sopir itu tetap meminggirkan taxinya.
Tanpa menjawab apa-apa Alena turun dengan senyum di bibirnya, setelah turun gadis itu meminta sopir taxi menurunkan kacanya, lalu ia berbicara "Om sepertinya jodoh saya sudah di depan mata. Dan Alena menerimanya dengan lapang d**a, " ucapnya sembari menepuk d**a dengan bangga.
sopir taxi itu menatap ke arah seorang cowok memakai jaket hitam yang duduk di atas motor. cowok itu terlihat sedang menelpon.
"Oh cowok ganteng itu. Emang udah jadian neng?" sopir taxi itu tercengir.
Alena mengangkat dua jarinya sembari tersenyum sangat manis."Dua menit lagi om, "
setelah itu Alena langsung berbalik meninggalkan taxi, namun baru dua langkah, sopir taxi itu kembali memanggil dirinya
"Neng!!!"
Alena berbalik, melihat kepala sopir yang keluar di jendela, "bayarannya mana neng?, "
Alena menepuk jidat, "Oh iya lupa, " Alena langsung berlari kembali dan membayar uang taxinya.
"Ini om uangnya, kembaliannya ambil aja. Makasih ya Om. "
"Sama-sama neng. " setelah Alena membayar sewa, taxi yang dinaikinya tadi, langsung pergi dan bergabung dengan kendaraan yang ada di jalan raya.
lantas Alena berbalik dan segera menghampiri cowok yang sudah mengubah suasana hatinya dalan beberapa detik saja.
"Hai Alfi!"
Alfi langsung menurunkan ponsel di telinganya. ia terkejut bertemu dengan gadis ini lagi, melihat keterkejutan itu, Alena merasa telah berjodoh dengan Alfi karena tiba-tiba di pertemukan di tengah jalan
"Lo ngapain di sini? lo ngikutin gue?" tanya Alfi melihat Alena yang senyum-senyum.
"Enggak, gue gak ngikutin kok." Alena menggelengkan kepala dengan cepat. ia tak mau Alfi berpikir dirinya adalah penguntit seperti yang di bilang Dion.
"Kebetulan aja liat lo disini. lo ngapain?" tanya Alena
"Lagi ngangkat telpon," ucap Alfi singkat sambil memasukkan ponselnya ke saku jaket.
lagi-lagi Alena tersenyum menatap Alfi yang sangat tampan dengan penampilannya. biasanya Alena hanya melihat Alfi mengenakan seragam sekolah, tapi hari ini Alfi ternyata jauh lebih tampan di mata Alena.
"Eum...Fi, makasih ya udah nolongin gue kemarin, maaf juga udah ngerepotin sampai gendong dari lantai dua sampai lantai satu."
"I'ts oke, anggap aja gue lagi olahraga ngangkat beban." kata Alfi menaiki motornya.
"Gue beban ya?" tanya Alena merasa menciut.
Alfi menoleh menatap sebentar gadis itu, "Iya."
"Maaf kalau gitu." Alena tersenyum kecut.
"Ya." Alfi mengangguk tanpa perasaan.
"Lo mau pergi sekarang?" tanya Alena melihat Alfi buru-buru memakai helem.
Alfi menatap Alena dengan tatapan datar.
"Gue harus pergi sekarang." ucap Alfi lalu tanpa membuang waktu lagi dia langsung cabut dari hadapan Alena.
Alena menatap Alfi yang sudah pergi dengan perasaan yang tiba-tiba di selimuti kegelapan. Alena merasa Hampa. Ia berusaha tersenyum dan berterima kasih pada tuhan karena mempertemukan dirinya dengan Alfi walau hanya sebentar.
Alena berbalik menuruni trotoar dengan perasaan sedih. Alena menatap jalan sambil menghela napas berat.
"Yahh gue jadi naik taxinya dua kali." gumam Alena menutup wajahnya dengan buku paketnya karena merasa terik matahari membakar kulit wajahnya.
Tak lama sebuah taxi berhenti dan Alena segera naik ke taxi itu. Niatnya tadi meminta tumpangan pada Alfi, tapi itu dia urungkan ketika melihat Alfi tidak memberikan respect baik ketika melihatnya. Padahal ini adalah kesempatan baik untuk mengenal Alfi lebih dekat. namun sepertinya Alena tidak bisa melakukannya saat ini.
****Sementara itu Arga yang berada di rumah, menunggu Alena pulang. Menyempatkan diri mengelilingi rumahnya yang penuh kenangan bersama Ayah dan ibunya.
Arga melangkahkan kakinya selangkah-demi selangkah di halaman rumahnya yang terbilang cukup luas. Tak ada yang berubah semuanya terlihat seperti biasa. Kolam renang yang masih terawat sampai sekarang. Ayunan besi yang sering Alena duduki jika sedang bersantai sambil membaca buku. Semua itu terlihat di depan Arga. Bagaimana dulu dirinya membuat Alena terjatuh dari sepeda, saat mereka di hukum ibunya karena mengajak Alena bermain hujan.
Satu persatu kenangan itu muncul di memorinya. Hingga kecelakan maut yang mengakhiri hidup papa dan mamanya. Menelantarkan Alena sendirian, pergi karena merasa bersalah terlalu besar pada keluarganya.
"Den Arga!!!, " panggil Umar tukang kebunnya.
Arga melihat lelaki itu berlari kecil ke arahnya. "Ada apa Kang Umar?"
"Den udah makan?" tanya lelaki kurus memakai baju kemeja putih yang lusuh itu. "bibi udah masak di dalam."
Arga tersenyum lalu menggeleng pelan. "Nanti aja kang." Arga lantas duduk di ayunan besi "Saya nunggu adik saya pulang dulu." sambungnya.
"Bibi bilang Den Arga belum makan dari pagi."
"Gapapa Kang, Arga udah biasa puasa hahaha."
"Nanti sakit Den, kasian non Alena kalau kakak kesayangannya sakit."
mendengar Kang umar mengatakan 'kakak kesayangan'. Arga merasa terharu, seandainya saja itu berasal dari mulut adiknya Arga pasti merasa sangat bahagia. Namun situasi yang terjadi Alena membenci dirinya.
Tbc.