Rintik hujan masih membasahi jalanan di luar Kedai Kopi Lestari. Suasana yang semula hangat mendadak terasa tegang sejak kedatangan Nadia.
Bara berdiri diam, sementara Nadia menatapnya dengan mata yang menyimpan banyak penyesalan.
"Aku hanya ingin bicara," ucap Nadia lirih.
Bara menghela napas panjang.
"Setelah semua yang terjadi, apa masih ada yang perlu dibicarakan?"
Nadia menundukkan kepala.
"Aku tahu aku salah. Tapi aku ingin menjelaskan semuanya."
Alina yang berada di balik meja kasir memilih kembali melayani pelanggan. Meski begitu, pikirannya terus tertuju pada percakapan mereka. Ia sadar, ada masa lalu yang belum selesai di antara Bara dan Nadia.
Beberapa menit kemudian, Bara mengajak Nadia keluar dari kedai agar tidak mengganggu suasana.
Mereka berdiri di bawah kanopi, sementara hujan masih turun pelan.
"Aku tidak pernah berniat menyakitimu," kata Nadia.
"Lalu kenapa kamu pergi tanpa satu penjelasan pun?" tanya Bara dengan suara tenang, meski hatinya masih dipenuhi luka.
Nadia menarik napas dalam.
"Waktu itu ayahku jatuh sakit. Kami harus pindah ke luar kota secepat mungkin. Ponselku rusak, dan semua kontak hilang. Saat semuanya membaik... aku sudah terlambat untuk kembali."
Bara terdiam. Selama bertahun-tahun ia mengira Nadia meninggalkannya begitu saja.
"Kenapa baru sekarang?"
"Aku baru tahu kamu kembali ke kota ini."
Hening menyelimuti mereka. Hanya suara hujan yang terdengar di antara keheningan itu.
"Aku tidak datang untuk memintamu kembali," lanjut Nadia. "Aku hanya ingin meminta maaf."
Bara memejamkan mata sejenak.
"Aku sudah memaafkanmu. Tapi memaafkan bukan berarti semuanya bisa kembali seperti dulu."
Nadia tersenyum tipis. Meski matanya berkaca-kaca, ia tampak lega mendengar jawaban itu.
"Terima kasih."
Dari balik jendela kedai, Alina melihat Nadia berjalan pergi dengan payung di tangannya. Bara baru masuk beberapa menit kemudian.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Alina pelan.
Bara tersenyum kecil.
"Lebih baik dari sebelumnya."
Alina menyodorkan secangkir kopi hangat.
"Ini... untukmu."
Bara menerima cangkir itu.
"Kopi 'Harapan' lagi?"
Alina mengangguk.
"Bukan supaya melupakan masa lalu, tapi supaya punya keberanian melangkah ke depan."
Bara menatap Alina cukup lama sebelum tersenyum tulus.
"Terima kasih."
Malam itu, setelah kedai tutup, Bara mengantar Alina pulang. Di sepanjang perjalanan, mereka banyak bercerita dan sesekali tertawa.
Saat tiba di depan rumah Alina, keduanya berhenti sejenak.
"Aku senang kita bertemu," kata Bara.
Alina tersenyum.
"Aku juga."
Belum sempat Bara menjawab, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan rumah Alina.
Seorang pria berjas keluar dari mobil. Wajahnya tampak serius saat melihat Alina.
"Alina... akhirnya aku menemukanmu."
Alina membeku. Senyum di wajahnya perlahan menghilang.
"Mas... Raka?"
Bara mengernyit, tidak mengenal pria itu. Namun dari ekspresi Alina, ia tahu bahwa kedatangan Raka akan membawa perubahan besar dalam hidup mereka.