Senja mulai menghilang, berganti langit malam yang dihiasi bintang-bintang. Kedai Kopi Lestari perlahan sepi. Satu per satu pelanggan berpamitan, hingga hanya tersisa Alina yang sedang merapikan meja dan Bara yang masih menikmati secangkir kopi "Harapan".
"Apa kopi ini sesuai dengan namanya?" tanya Alina sambil tersenyum.
Bara mengangguk pelan.
"Rasanya hangat. Seperti memberi keyakinan kalau besok bisa lebih baik dari hari ini."
Alina tersenyum. Sudah lama ia tidak mendengar seseorang menggambarkan kopi dengan cara seperti itu.
Malam semakin larut. Sebelum pulang, Bara berdiri di depan pintu kedai.
"Besok kamu bekerja lagi?"
"Iya. Seperti biasa."
"Kalau begitu... aku akan datang lagi."
Alina hanya mengangguk, tetapi senyum yang muncul di wajahnya sudah menjadi jawaban.
Keesokan harinya, suasana kedai lebih ramai dari biasanya. Alina sibuk melayani pelanggan hingga hampir tidak sempat beristirahat.
Saat jam makan siang tiba, Bara datang membawa sebuah kotak makan.
"Kamu belum makan, kan?" tanyanya.
Alina sedikit terkejut.
"Kok kamu tahu?"
"Dari tadi kamu terus bekerja."
Alina menerima kotak makan itu dengan ragu.
"Terima kasih."
Mereka duduk di meja dekat jendela. Untuk pertama kalinya, mereka tidak hanya berbicara tentang kopi, tetapi juga tentang mimpi.
"Apa impianmu?" tanya Bara.
Alina menatap keluar jendela.
"Aku ingin suatu hari nanti punya kedai kopi yang lebih besar. Tempat di mana semua orang bisa datang, bercerita, dan merasa pulang."
Bara tersenyum.
"Itu impian yang indah."
"Lalu kamu?"
Bara terdiam cukup lama.
"Aku ingin berhenti lari dari masa lalu."
Jawaban itu membuat Alina memahami bahwa di balik senyum Bara, masih ada luka yang belum benar-benar sembuh.
Menjelang sore, hujan kembali turun. Beberapa pelanggan memilih berteduh di dalam kedai.
Di tengah keramaian, seorang wanita berpakaian rapi masuk ke dalam. Tatapannya langsung tertuju pada Bara.
"Bara..."
Bara membeku.
Alina yang melihat perubahan ekspresi Bara ikut terdiam.
Wanita itu melangkah mendekat.
"Aku sudah mencarimu ke mana-mana."
Suasana mendadak menjadi canggung.
Alina bisa merasakan ada cerita yang belum selesai di antara mereka.
Bara menarik napas panjang.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Nadia?"
Nama itu membuat suasana berubah. Tatapan Nadia menyiratkan penyesalan, sementara Bara tampak bingung antara menghadapi masa lalu atau tetap melangkah ke depan.
Alina hanya bisa memperhatikan dari balik meja kasir, bertanya-tanya siapa sebenarnya wanita yang baru saja datang dan mengapa kehadirannya membuat Bara begitu gelisah.