Pagi itu, hujan telah berhenti. Cahaya matahari perlahan menembus awan, menyinari jalanan yang masih basah. Kedai kopi "Lestari" kembali ramai oleh pelanggan yang datang silih berganti. Aroma kopi yang baru diseduh memenuhi ruangan, menghadirkan kehangatan di setiap sudut.
Alina datang lebih awal dari biasanya. Sejak kejadian beberapa hari terakhir, pikirannya dipenuhi sosok Bara. Pria itu datang tanpa diduga, lalu perlahan mengisi ruang yang sebelumnya terasa kosong.
Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan menyusun cangkir dan membersihkan meja. Namun, sesekali matanya melirik ke arah pintu, seolah berharap seseorang akan masuk.
Bel pintu berbunyi.
Alina menoleh cepat. Untuk sesaat, ia berharap itu Bara.
Namun harapan itu pupus ketika yang masuk adalah seorang pria paruh baya yang menjadi pelanggan tetap kedai.
Alina tersenyum tipis, meski ada sedikit rasa kecewa yang tak bisa disembunyikan.
Di sisi lain kota, Bara berdiri di depan sebuah bangunan tua yang sudah lama tidak ia kunjungi.
Bangunan itu adalah rumah masa kecilnya.
Ia menghela napas panjang sebelum melangkah masuk. Banyak kenangan yang tersimpan di sana, termasuk kenangan yang selama ini ingin ia lupakan.
Di dalam rumah, ibunya sedang membersihkan ruang tamu.
"Bara... akhirnya kamu pulang juga," ucap sang ibu sambil tersenyum hangat.
Bara membalas pelukan ibunya dengan erat.
"Aku cuma ingin memastikan Ibu baik-baik saja."
Sang ibu mengangguk.
"Ibu baik. Tapi kamu sendiri terlihat memikirkan sesuatu."
Bara terdiam beberapa saat.
"Lagi ada seseorang yang membuatku ingin mencoba membuka hati lagi."
Ibunya tersenyum lembut.
"Kalau begitu, jangan biarkan masa lalu menghentikan langkahmu."
Ucapan itu terus terngiang di kepala Bara sepanjang perjalanan pulang.
Sore hari, Bara kembali mengunjungi Kedai Kopi Lestari.
Saat bel pintu berbunyi, Alina yang sedang merapikan meja langsung menoleh.
Kali ini, senyum tulus menghiasi wajahnya.
"Kamu datang lagi."
"Aku sempat janji ingin mencoba kopi lain, kan?" jawab Bara sambil tersenyum.
Alina mengangguk.
"Kalau begitu, hari ini aku yang memilihkan."
Beberapa menit kemudian, secangkir kopi hangat tersaji di hadapan Bara.
"Apa namanya?" tanyanya.
Alina tersenyum.
"Belum ada namanya."
"Kalau begitu... bagaimana kalau kita beri nama 'Harapan'?"
Alina menatap Bara beberapa saat.
Lalu ia tersenyum lebih lebar daripada sebelumnya.
"Mungkin... nama itu memang cocok."
Di luar, langit senja mulai berubah jingga. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, keduanya merasakan bahwa pertemuan mereka bukan sekadar kebetulan, melainkan awal dari kisah yang perlahan akan mengubah hidup mereka.