Hujan di luar semakin deras. Butiran air menghantam kaca Kedai Kopi Lestari tanpa henti, seolah ikut menjadi saksi atas pertemuan dua hati yang telah lama terpisah.
Di atas meja, dua cangkir kopi mengeluarkan uap tipis. Aroma robusta memenuhi udara, namun tak mampu menghangatkan kecanggungan yang menyelimuti Alina dan Bara.
Tak satu pun dari mereka berani memulai percakapan.
Bara memandang Alina dengan sorot mata yang dipenuhi penyesalan. Sementara Alina memilih menatap hujan di balik jendela, berusaha menenangkan detak jantungnya yang kembali kacau.
"Aku sering membayangkan momen ini," ujar Bara akhirnya.
Alina tersenyum tipis.
"Benarkah?"
"Iya."
"Berkali-kali."
"Tapi setiap kali kubayangkan, kamu selalu pergi sebelum aku sempat meminta maaf."
Alina menghela napas pelan.
"Lucunya... aku juga sering membayangkan pertemuan ini."
Bara mengangkat wajahnya.
"Dan di bayanganmu?"
"Aku tidak pernah tahu harus marah... atau memelukmu."
Keheningan kembali hadir.
Namun kali ini tidak lagi terasa asing.
Mereka sedang belajar menerima kenyataan bahwa waktu memang telah mengubah banyak hal.
"Aku membaca semua novelmu," kata Bara pelan.
Alina menatapnya, sedikit terkejut.
"Semuanya?"
Bara mengangguk.
"Termasuk novel kedua."
Alina tersenyum pahit.
"Tokoh laki-lakinya menyebalkan, ya?"
Bara ikut tersenyum.
"Bukan."
"Ia hanya terlalu bodoh karena meninggalkan perempuan yang begitu mencintainya."
Kalimat itu membuat d**a Alina sesak.
"Ternyata kamu sadar."
"Aku sadar... hanya saja terlambat."
Pelayan datang membawa sepotong cheesecake dan meletakkannya di tengah meja.
"Ini bonus dari pemilik."
Alina tersenyum.
"Terima kasih."
Pelayan itu tersenyum kecil.
"Sudah lama tidak melihat kalian duduk bersama lagi."
Kalimat sederhana itu membuat keduanya saling berpandangan.
Rupanya...
Bahkan kedai ini masih mengingat mereka.
"Apa yang sebenarnya terjadi selama di Eropa?" tanya Alina.
Bara menatap cangkirnya.
"Aku bekerja tanpa henti."
"Setiap hari berpindah kota."
"Memotret perang."
"Memotret pegunungan."
"Memotret laut."
"Memotret manusia."
"Lalu?"
"Tapi setiap selesai memotret..."
"Aku selalu merasa ada yang kurang."
"Apa?"
"Kamu."
Suara Bara begitu pelan.
Namun cukup membuat Alina menundukkan kepala.
"Aku pernah menulis surat."
"Puluhan."
"Tapi tidak pernah kukirim."
"Kenapa?"
"Aku malu."
"Aku tidak tahu bagaimana meminta maaf setelah menghilang begitu lama."
Alina tersenyum hambar.
"Aku juga pernah menulis."
"Email?"
Bara mengangguk.
"Setiap malam."
"Aku selalu berharap ada balasan."
"Aku membuka kotak masuk berkali-kali."
"Berbulan-bulan."
"Lalu suatu hari..."
"Aku berhenti berharap."
Bara mengepalkan tangannya di bawah meja.
Penyesalan memenuhi wajahnya.
"Maaf."
Alina menggeleng pelan.
"Maaf tidak bisa mengembalikan lima tahun."
"Aku tahu."
"Tapi izinkan aku menebusnya."
Malam mulai larut.
Hujan belum juga reda.
Beberapa pelanggan mulai meninggalkan kedai.
Lampu-lampu kota terlihat semakin indah di balik tetesan air yang menempel pada kaca.
Bara mengambil sesuatu dari tas kameranya.
Sebuah foto.
Foto lama yang warnanya mulai memudar.
Alina langsung mengenalinya.
Foto itu diambil tepat di depan Kedai Lestari.
Saat mereka masih berusia dua puluh tiga tahun.
Alina sedang tertawa sambil memegang secangkir cappuccino.
Sedangkan Bara berdiri di belakangnya, tersenyum ke arah kamera.
Di balik foto itu terdapat tulisan tangan yang mulai pudar.
"Suatu hari nanti, kita akan kembali ke tempat ini."
Air mata Alina akhirnya jatuh.
Ia tak mampu lagi menahan semua emosi yang selama lima tahun dipendamnya.
"Aku menyimpan foto itu setiap hari," ucap Bara lirih.
"Ke mana pun aku pergi."
"Paris."
"Roma."
"Amsterdam."
"Kyoto."
"New York."
"Foto ini selalu ikut bersamaku."
Alina menggigit bibirnya agar tangisnya tidak pecah.
"Kamu bodoh..."
Bara tersenyum.
"Iya."
"Sangat bodoh."
"Tapi aku ingin berhenti menjadi orang bodoh."
Ia mengulurkan tangan perlahan.
Namun kali ini...
Alina tidak langsung menyambutnya.
Ia menatap tangan itu cukup lama.
Lalu berkata dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Hatiku tidak lagi sama seperti lima tahun yang lalu."
Bara mengangguk.
"Aku tahu."
"Kalau begitu..."
"Kenapa kamu masih kembali?"
Bara tersenyum kecil.
Karena baginya, jawaban itu sangat sederhana.
"Karena rumah selalu layak diperjuangkan, meski kita harus menemukan jalannya sekali lagi."
Alina menatapnya lama.
Untuk pertama kalinya sejak Bara kembali, senyum kecil muncul di wajahnya.
Bukan senyum karena bahagia.
Melainkan senyum karena harapan.
Harapan yang perlahan tumbuh, setenang hujan yang mulai mereda di luar jendela.
Namun, mereka belum menyadari bahwa pertemuan malam itu hanyalah awal. Masa lalu belum sepenuhnya selesai, dan seseorang dari kehidupan Alina akan segera datang membawa pilihan yang jauh lebih sulit daripada sekadar memaafkan.