"Arif, sini," panggil Mbah Parto pelan.
Mas Arif mendekat, lalu berjongkok di depan kursi rotan itu. Tangan tuanya yang bergetar meraih kepala suamiku dan mengusapnya seperti mengusap anak sendiri.
"Kamu ini sudah dipakai orang lama sekali, Le. Sekarang sudah bersih. Jangan dikotori lagi, ya."
"Iya, Mbah."
"Jangan tinggalkan salat. Bukan Mbah yang jaga kamu selama ini. Mbah cuma dipakai."
Mas Arif mengangguk, tapi bahunya mulai berguncang. Baru kali ini kulihat suamiku menangis di depan orang lain.
"Mbah, jangan ngomong kayak orang mau pergi," ucapku sambil menggenggam tangan beliau lebih erat.
Mbah Parto tersenyum, senyum yang paling tenang yang pernah kulihat seumur hidupku.
"Mbah kemarin sudah pernah ke sana, Nduk. Sudah dilihatkan dua-duanya. Mbah dipulangkan lagi karena masih ada tugas. Sekarang tugasnya sudah selesai."
"Tugas apa, Mbah?"
"Ngantar kamu sampai selamat."
Kata-kata itu belum sempat kubalas ketika tangan beliau melemas di dalam genggamanku.
"Mbah?"
Kepalanya miring ke bahu. Matanya masih setengah terbuka, menatap langit sore yang sudah berubah jingga tua.
"Mbah! Mbah Parto!"
Bibi menjerit. Mas Arif langsung memeriksa nadi di leher beliau, lalu menempelkan telinga ke dada. Wajahnya berubah pucat.
"Dek ...."
"Jangan, Mas! Jangan bilang apa-apa!" teriakku, "Mbah cuma capek! Mbah cuma tidur!"
Namun, suamiku menggeleng.
Aku memeluk tubuh ringkih itu sambil menangis sekencang-kencangnya di teras rumah, tanpa peduli sudah hampir magrib dan tetangga mulai berdatangan.
Untuk kedua kalinya, aku menyaksikan Mbah Parto pergi. Dan kali ini, tidak ada yang mengembalikan beliau.
***
Malam itu rumah kami penuh orang.
Pak Aji datang paling cepat, disusul Farhan yang mengendarai motor dari Kedungwaru dengan mata sembab. Bude tiba menjelang tengah malam, diantar Bu Atun. Wanita tua itu tidak menangis meraung-raung seperti dugaanku. Beliau hanya duduk di samping jenazah suaminya, mengelus rambut putih itu berkali-kali sambil membaca sesuatu.
"Bude, maaf. Maafin saya," ucapku sambil bersimpuh di sebelahnya.
"Kenapa minta maaf, Nduk?"
"Kalau bukan karena saya, Mbah gak bakal ke sini. Kalau bukan karena masalah saya, Mbah masih di rumah, masih berkebun sama Bude."
Bude menoleh, lalu memegang kedua pipiku dengan tangan yang kasar oleh kerja.
"Nduk, dengar. Bapak itu sudah puluhan tahun begini. Sebelum kamu, sudah banyak yang ditolong. Sesudah kamu, memang sudah waktunya."
"Tapi, Bude ...."
"Kalau kamu terus-terusan merasa jadi penyebab, itu namanya kamu menganggap Allah ndak punya kuasa apa-apa," ucapnya lembut, "sudah, ndak usah begitu."
Aku menangis lagi. Kali ini di pangkuan seorang perempuan yang seharusnya paling berhak marah kepadaku.
***
Jenazah Mbah Parto dibawa pulang ke Kedungwaru menjelang subuh.
Kami ikut, satu mobil penuh. Mas Arif menyetir, Bibi dan Fany duduk di belakang, Pak Aji di sebelahku. Sepanjang perjalanan tak ada yang bicara. Hanya suara mesin dan sesekali isak Fany.
Pemakaman dilakukan setelah zuhur. Yang datang ramai sekali, jauh lebih ramai daripada perkiraanku. Ternyata bukan hanya kami yang pernah ditolong lelaki tua itu. Ada yang datang dari kota sebelah, ada yang bahkan menyeberang pulau, katanya dulu anaknya pernah disembuhkan.
Aku berdiri paling belakang, memandangi gundukan tanah merah yang baru.
"Nduk," panggil Pak Aji.
"Iya, Pak."
"Kamu tau kenapa Parto ndak mau dibawa ke rumah sakit kemarin?"
Aku menggeleng.
"Karena dia sudah tau. Sejak hidup lagi itu, dia bilang ke saya, waktunya dipinjam. Sisa waktunya cuma buat menyelesaikan urusan kamu."
Kepalaku semakin berat mendengarnya.
"Pak, urusannya udah selesai, `kan? Sarah udah gak ada. Suami saya udah sembuh."
Pak Aji tidak langsung menjawab. Beliau memandangi barisan makam tua di ujung sana, yang rumputnya kering dan nisannya lapuk.
"Ndak sesederhana itu, Nduk."
"Maksudnya gimana, Pak?"
"Ilmu semacam itu ndak mati bareng orangnya. Dia itu seperti hewan piaraan. Kalau yang piara mati, dia cari majikan baru."
Aku menoleh cepat. "Jadi masih ada?"
"Saya ndak bilang masih ada. Saya cuma bilang, jangan buru-buru merasa aman," jawabnya, "kalau ada apa-apa, kabari saya. Nomor saya jangan dihapus."
***
Kami pulang sore harinya, setelah tahlil pertama selesai.
Sepanjang jalan, Fany bersandar di bahuku sambil tertidur. Gadis itu sudah dua kali kehilangan orang tua, dan sekarang kehilangan orang yang mulai ia panggil Mbah juga, meski dulu sempat menuduh beliau mendoakan hal buruk untuknya.
Sebelum tidur tadi malam ia sempat berbisik padaku, "Mbak, aku nyesel banget marah-marah sama Mbah Parto waktu itu."
"Beliau gak pernah marah kok sama kamu, Dek."
"Aku gak sempet minta maaf."
"Doain aja. Itu sama aja."
Sesampainya di rumah, semuanya terasa berbeda.
Kursi rotan di teras itu masih ada di tempatnya. Gelas kopi Mbah Parto masih ada di atas meja dapur, setengah penuh, sudah dingin. Bibi tidak berani mencucinya. Katanya sayang.
Kamar tamu yang selama berminggu-minggu ditempati beliau kini kosong. Sarung yang dijemur di belakang masih tergantung, sudah kering sejak kemarin.
Aku duduk di ruang tamu, memandangi semua itu, dan baru benar-benar sadar bahwa rumah ini pernah punya seorang penjaga.
Malam itu, sebelum tidur, kuambil sarung yang masih tergantung di jemuran belakang. Kulipat rapi, kumasukkan ke lemari kamar tamu, dan kutinggalkan di situ.
Bibi bertanya kenapa tidak dikirim saja ke Bude.
"Nanti aja, Bi," jawabku, "biar rumah ini masih punya titipannya."
***
Tiga hari kemudian, hidup mulai berjalan lagi.
Mas Arif kembali bekerja. Katanya tidak enak dengan kantor, sudah terlalu lama izin. Setiap pagi ia berangkat pukul tujuh, dan setiap sore pulang membawa oleh-oleh kecil untukku. Kadang martabak, kadang buah, kadang cuma keripik singkong dari warung dekat kantor.
Fany kembali kuliah. Kakinya sudah bisa dipakai jalan meski masih pincang. Ia berangkat naik ojek daring setiap pagi dan pulang menjelang magrib.
Bibi kembali ke rutinitasnya, menyapu, mencuci, memasak. Rumah bersih, harum, tidak ada bau busuk, tidak ada suara aneh, tidak ada benda yang berpindah tempat.
Seharusnya aku senang.
Malam Jumat pertama setelah pemakaman, kami mengadakan tahlil kecil di rumah. Bukan untuk Mbah Parto saja, tapi untuk semua yang sudah pergi sejak masalah ini dimulai. Kana, Tania, Pak Burhan dan istrinya, Mbak Ningsih, sampai anak kecil yang tertabrak di persimpangan itu.
Waktu Bibi menuliskan daftar namanya di kertas untuk dibacakan, aku baru sadar betapa panjang daftarnya.
"Sarah dibacain juga, Bu?" tanya Bibi ragu.
Aku terdiam agak lama.
"Bacain aja, Bi. Dia juga manusia."
Mas Arif yang sedang menyusun tikar sempat menoleh, tapi tidak berkomentar apa-apa. Malam itu, nama wanita yang menghancurkan rumah tangga kami ikut disebut di antara nama-nama lain, dan anehnya, dadaku terasa lebih ringan sesudahnya.
***
"Dek, gimana kalau kita jadi pindah?" tanya Mas Arif suatu malam.
"Pindah ke mana, Mas?"
"Ke mana aja. Yang penting bukan di sini."
Aku menggeleng pelan. "Sekarang malah aku yang gak mau, Mas."
"Loh, dulu kamu yang paling ngotot."
"Iya, dulu. Sekarang beda," jawabku, "kalau kita pindah sekarang, rasanya kayak kabur. Padahal yang bikin masalah udah gak ada. Sarah udah meninggal, Mas. Masa kita kalah sama rumah?"
Ia tertawa kecil dan mencubit pipiku.
"Ya udah, terserah Bos."
"Lagian, Mas, kalau dipikir-pikir, mau pindah ke mana pun kita bawa badan yang sama," lanjutku, "yang diikuti itu orangnya, bukan temboknya."
Ia terdiam, lalu mengangguk pelan. "Bener juga."
Namun, entah kenapa, justru di masa tenang inilah aku merasa paling tidak tenang.
"Bi," panggilku suatu siang ketika kami sedang melipat baju bersama.
"Ya, Bu?"
"Bibi ngerasa gak, rumah ini kayak lagi nunggu sesuatu?"
Bibi berhenti melipat. Ia menatapku agak lama.
"Ibu jangan mulai mikir yang enggak-enggak. Ibu baru kehilangan orang, wajar perasaannya gak enak."
"Bukan gitu, Bi. Ini beda."
"Beda gimana?"
Aku bingung menjelaskannya. Rasanya seperti rumah yang tiba-tiba jadi terlalu sepi, terlalu rapi, terlalu tidak terjadi apa-apa. Seperti laut yang surut jauh sekali sebelum ombak besar datang.
"Ya udah, gak jadi," ucapku akhirnya.
Bibi tersenyum dan kembali melipat baju.
***
Malam harinya aku duduk sendirian di teras, di kursi rotan yang dulu diduduki Mbah Parto.
Langit bersih, banyak bintang. Angin sejuk. Dari dalam rumah terdengar suara televisi dan tawa Fany yang sedang menelepon temannya.
Untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, aku bisa duduk di luar tanpa memeluk lutut dan tanpa memeriksa bahu sendiri.
Kuraih ponsel, membuka galeri, dan menemukan satu-satunya foto Mbah Parto yang kupunya. Diambil diam-diam waktu beliau sedang menyeruput kopi di dapur, wajahnya setengah tertutup asap.
"Makasih, Mbah," bisikku.
Ada yang menetes ke layar. Kuseka cepat-cepat, lalu masuk ke dalam rumah sebelum Fany melihat mataku merah lagi.
Aku belum tahu bahwa ketenangan itu hanya sisa napas terakhir sebelum semuanya dimulai lagi dari awal, dengan wajah yang berbeda.