Dua minggu berlalu tanpa satu pun kejadian aneh.
Aku mulai berani mematikan lampu ruang tengah saat tidur. Bibi mulai berani menjemur pakaian sampai magrib. Mas Arif tidur pulas setiap malam tanpa mengigau. Bahkan pohon rambutan di belakang rumah, yang dulu jadi tempat mengubur gumpalan-gumpalan daging itu, sekarang berbuah lebat.
Namun, rumah sebesar ini tetap terasa kosong kalau isinya hanya aku dan Bibi dari pagi sampai sore.
"Ibu kenapa sih dari kemarin bengong terus?" tanya Bibi sambil mengulek sambal.
"Kangen Ibu, Bi."
"Ya telpon, Bu. Gampang."
"Takut ketauan nangis."
Bibi tertawa. "Ibu ini, sudah gede masih takut ketauan nangis sama emaknya."
Siang itu akhirnya kuberanikan diri menelepon.
"Waalaikumsalam, Nak. Tumben siang-siang," sapa Ibu.
"Kangen aja, Bu."
"Kamu sakit, ya?"
"Enggak, Bu. Sehat kok."
"Bohong. Suaramu itu suara orang yang sudah lama nangis," ucap beliau, dan detik itu juga pertahananku runtuh.
Aku menceritakan sebagian. Bukan semuanya, karena kalau kuceritakan semuanya, Ibu pasti langsung menyuruhku bercerai lewat telepon detik itu juga. Kuceritakan soal keguguran, soal Mas Arif yang sempat sakit lama, soal teman-teman yang meninggal berturut-turut, soal Mbah Parto.
Ibu diam mendengarkan sampai selesai.
"Kamu itu kenapa gak cerita dari dulu?"
"Takut nambahin beban Ibu."
"Nak, ibu ini sudah lima puluh tahun hidup. Yang bikin ibu tua bukan masalah, tapi anak yang nyimpen masalah sendirian."
Aku menangis lagi.
"Ibu ke situ, ya."
"Serius, Bu? Ibu `kan gak kuat naik bus jauh-jauh."
"Nanti ibu diantar Lek Karyo sampai terminal. Sisanya gampang. Minggu depan ibu berangkat."
Setelah menutup telepon, aku duduk lama sekali di tepi ranjang sambil memandangi layar ponsel. Entah kenapa, rasanya seperti baru saja meletakkan karung beras yang sudah berbulan-bulan kupanggul sendirian.
***
Ada yang berubah dari Fany belakangan ini.
Gadis yang dulu berangkat kuliah dengan wajah kusut, sekarang berdandan lima belas menit lebih lama. Ia mulai memakai lip balm. Ia mulai memilih-milih baju. Dan yang paling mencolok, ponselnya tak pernah lepas dari tangan.
"Cieee," godaku suatu pagi.
"Apaan sih, Mbak," jawabnya sambil menutup layar ponsel buru-buru.
"Ada yang lagi deket, ya?"
"Enggak ada."
"Bohong. Muka kamu tuh papan pengumuman, Dek. Ketauan semua."
Ia tertawa sambil melempar bantal sofa ke arahku.
"Ya, ada sih. Tapi belum apa-apa, Mbak. Masih temenan," akunya akhirnya, "namanya Dion, kerja, bukan anak kampus."
"Wih, om-om?"
"Ih, enggak! Cuma beda tiga tahun!"
Kami tertawa. Sudah lama sekali rumah ini tidak diisi tawa dua perempuan yang membicarakan hal sesepele itu.
"Terus, yang sering nganterin kamu pulang itu siapa? Yang naik motor putih."
Ekspresinya langsung berubah datar.
"Oh, Alvaro. Temen sekelas, Mbak."
"Kenapa mukanya jadi gitu?"
"Gak papa. Cuma dia agak lengket aja orangnya," jawabnya sambil mengangkat bahu, "dulu pernah nembak aku, terus aku tolak. Sekarang jadi temen biasa, tapi ya gitu, masih suka aneh."
"Aneh gimana?"
"Ya kayak nanyain aku lagi di mana terus. Nanyain aku sama siapa. Kadang tau-tau udah nunggu di depan kelas padahal aku gak bilang jadwalku."
Bulu kudukku berdiri, entah kenapa. Padahal yang ia ceritakan hal biasa, hal yang mungkin dialami banyak perempuan seusianya.
"Dek, hati-hati sama orang kayak gitu."
"Iya, Mbak. Santai aja, dia gak bahaya kok."
***
Alvaro pertama kali masuk ke rumah ini pada hari Sabtu.
Ia datang membawa dua kotak martabak dan sekantong buah, memakai kemeja rapi, rambutnya disisir licin. Sopan sekali. Salim ke aku, salim ke Bibi, tanya kabar Mas Arif yang sedang tidak di rumah.
"Mbak Risti ini kelihatan muda banget, saya kira kakaknya Fany," ucapnya sambil tertawa.
"Bisa aja kamu."
Anak itu ramah, pintar mengobrol, dan pandai membuat orang merasa dihargai. Namun, ada satu hal yang mengganjal di kepalaku sejak sepuluh menit pertama.
Pertanyaannya terlalu banyak.
"Rumah ini luas ya, Mbak. Sudah lama tinggal di sini?"
"Belum setahun."
"Beli dari siapa, Mbak? Kalau boleh tau."
"Dari agen. Kenapa?"
"Gak papa, saya kagum aja. Kamarnya berapa?"
"Lima."
"Yang dipakai berapa?"
Aku menoleh, dan ia langsung tertawa sambil menggaruk kepala.
"Maaf, Mbak. Saya emang kebiasaan kepo, hehe. Papa saya kerja di properti soalnya."
Bibi yang sedang menyajikan teh sempat melirikku sekilas. Setelah anak itu pulang, wanita paruh baya itu langsung bicara.
"Bu, temennya Non Fany itu ...."
"Kenapa, Bi?"
"Waktu dia salim tadi, tangannya dingin banget. Kayak orang habis pegang es."
"Mungkin dia baru minum es di jalan, Bi."
"Bibi juga mikir gitu, Bu. Tapi kok ya bikin merinding."
Kupikir Bibi hanya belum terbiasa dengan tamu baru. Belakangan ini kami memang mudah curiga pada apa saja.
Malamnya, Bibi tetap tak bisa tidur. Ia sampai membawa bantal ke sofa ruang tengah dan berbaring di situ, katanya lebih tenang dekat lampu.
"Bi, kalau gak enak badan bilang, ya."
"Bukan badan, Bu. Cuma perasaan," jawabnya, "Bibi ini sudah tua, sudah sering salah. Tapi seumur-umur, kalau tangan orang dingin waktu salim, itu ndak pernah salah."
***
Minggu berikutnya, Alvaro datang lagi. Lalu datang lagi. Lalu datang lagi.
Selalu dengan alasan yang masuk akal. Mengembalikan buku, mengantar tugas kelompok, mengantar Fany yang kehujanan. Selalu sopan, selalu membawa sesuatu.
Namun, aku mulai memperhatikan pola yang aneh.
Setiap kali datang, ia selalu izin ke kamar mandi. Selalu lama. Dan setiap kali keluar, wajahnya selalu sedikit berkeringat, padahal AC di ruang tamu menyala kencang.
Sekali waktu, aku memergokinya berdiri di depan tangga menuju lantai atas.
"Cari apa, Vro?"
"Eh, Mbak! Saya nyari toilet."
"Toiletnya di bawah, di deket dapur."
"Oh, iya, maaf, saya lupa," jawabnya sambil tertawa canggung dan buru-buru turun.
Ia sudah lima kali ke rumah ini. Tidak mungkin ia lupa letak kamar mandi yang selalu ia pakai.
Malamnya kuceritakan hal itu ke Mas Arif.
"Ya namanya anak muda, Dek. Mungkin dia penasaran aja sama rumah orang," jawabnya enteng sambil membuka laptop.
"Mas, dia nanyain kamar kita berapa. Yang dipakai berapa. Itu pertanyaan orang mau ngerampok, bukan tamu."
"Atau dia emang anak orang properti kayak yang dia bilang."
"Mas, tolong dong seriusan dikit."
Suamiku menghela napas, menutup laptop, lalu menatapku.
"Dek, Mas ngerti kamu masih trauma. Wajar. Tapi kita gak bisa curigain semua orang yang masuk rumah ini seumur hidup," ucapnya lembut, "nanti yang capek kita sendiri."
Aku terdiam. Sebagian dari diriku tahu ia benar. Namun, sebagian lagi terus berteriak bahwa dulu, waktu pertama kali aku bilang ada yang aneh dengan Sarah, semua orang juga bilang aku terlalu curiga.
Dan ternyata aku benar.
***
Kamis sore, kamar tamu paling depan kubersihkan sendiri.
Seprai baru, gorden dicuci, lemari dilap sampai mengilap. Bibi membantu memasang kelambu karena Ibu paling tidak tahan nyamuk. Aku juga membeli bantal baru dan sajadah baru.
"Ibunya Ibu datang besok, ya, Bu?" tanya Bibi.
"Iya, Bi. Berangkat pagi, sampai sini sore."
"Alhamdulillah. Ibu jadi ada temen ngobrol."
"Jangan lupa masakin yang enak, Bi. Ibu saya suka pecel."
"Siap, Bu!"
Rasanya sudah lama sekali aku tidak sesemangat ini menyiapkan sesuatu. Bahkan Mas Arif sampai mengomentari, katanya wajahku berbeda sejak dua hari lalu.
"Ya iyalah beda, Mas. Aku mau ketemu Ibu."
"Nanti Mas jemput ke terminal, ya?"
"Beneran? Gak sibuk?"
"Mertua datang, masa Mas gak jemput. Bisa dipotong kupingnya Mas nanti."
Malam itu aku sempat membuka lemari dan mengeluarkan mukena lama milik Ibu, yang dulu sengaja kubawa waktu pertama kali pindah ke sini. Baunya masih sama. Bau minyak kayu putih dan sabun batangan murah.
Kupeluk kain itu cukup lama sebelum kembali melipatnya, lalu kuletakkan di atas bantal baru di kamar tamu.
***
Jumat siang, sehari sebelum Ibu datang, Alvaro muncul lagi.
Kali ini bersama Fany, pulang dari kampus. Katanya mereka baru selesai kerja kelompok dan Fany kehujanan di jalan.
"Aku mandi dulu ya, Mbak. Kedinginan banget," ucap Fany sambil naik ke lantai atas.
"Iya, sana. Nanti masuk angin."
Aku menoleh ke Alvaro yang sudah duduk di sofa ruang tengah sambil memainkan ponsel.
"Vro, kamu tunggu di sini aja, ya. Nanti Bibi bawain minum."
"Siap, Mbak."
Aku pergi ke dapur, membantu Bibi menyiapkan makan siang. Sekitar dua puluh menit kemudian, sambil membawa nampan berisi teh dan pisang goreng, aku kembali ke ruang tengah.
Sofa itu kosong.
"Vro?" panggilku.
Tidak ada jawaban. Sepatunya masih ada di rak depan, jadi ia belum pulang.
Kuletakkan nampan, lalu naik ke lantai atas. Dari arah kamar mandi terdengar suara air, tanda Fany masih di dalam.
Pintu kamar Fany terbuka lebar.
Padahal gadis itu selalu menutupnya, bahkan ketika hanya keluar sebentar.