Kepalaku semakin berat, tapi tak mungkin kuminta salah satu dari mereka menggantikan menyetir. Dion hampir tak bisa duduk tegak, dan Fany tidak punya SIM.
Jalanan desa itu gelap sekali. Lampu penerangan hanya ada di dua tiang, sisanya mengandalkan lampu mobil. Beberapa kali kulihat ada bayangan melintas di pinggir jalan, tapi setiap kali kupelankan mobil, tidak ada apa-apa.
"Mbak, jangan pelan-pelan," ucap Fany dari belakang.
"Kenapa?"
"Udahlah, Mbak. Jalan aja."
Kutancap gas, dan tanpa sadar aku menahan napas sampai mobil kami keluar dari jalan tanah itu dan menyentuh aspal.
Baru setelah lampu-lampu warung mulai terlihat, aku berani melirik kaca spion. Dion tertidur dengan kepala bersandar di kaca, sementara Fany duduk tegak, matanya terbuka lebar, menatap lurus ke depan tanpa berkedip.
"Dek, kamu gak ngantuk?"
"Enggak, Mbak."
"Tidur aja, masih jauh."
"Aku gak berani merem," jawabnya pelan, "tiap merem, dia ada di situ."
Sampai di rumah hampir pukul sebelas malam.
Lampu teras masih menyala, dan dua orang sudah menunggu di situ. Mas Arif berdiri sambil melipat tangan, wajahnya keras sekali. Ibu duduk di kursi rotan dengan tasbih di tangan.
"Dari mana?" tanya suamiku begitu aku turun dari mobil.
"Nanti aku ceritain, Mas. Bantuin Dion dulu."
Melihat Dion dipapah Fany dengan kaki yang hampir tak bisa menapak, amarah Mas Arif langsung berubah jadi panik. Ia menyambut anak itu dan membopongnya masuk ke ruang tamu.
Ibu menyusul, memeriksa Dion dari kepala sampai kaki.
"Buka bajunya," perintah beliau.
Dion menurut, meski menahan sakit setiap kali menggerakkan lengan. Begitu kaosnya dilepas, aku menutup mulut dengan kedua tangan.
Di punggungnya ada bekas merah membiru. Bukan lecet, bukan memar karena jatuh. Bentuknya jelas sekali, seperti telapak tangan yang mencengkeram, lengkap dengan jejak lima jari yang memanjang ke arah bawah.
Dan ukurannya terlalu besar untuk telapak tangan manusia dewasa mana pun yang pernah kulihat.
"Ya Allah," bisik Bibi.
"Ini kena apa, Le?" tanya Ibu.
"Gak tau, Bu. Saya cuma inget lagi jalan di halaman rumah itu, terus ada yang narik saya dari belakang. Abis itu gelap," jawab Dion dengan suara serak.
Ibu tidak berkomentar. Beliau hanya meminta minyak kelapa dan mengoleskannya pelan-pelan sambil membaca sesuatu. Dion sesekali meringis, tapi tak lama kemudian wajahnya berangsur lega.
***
Setelah Dion tertidur di kamar tamu bawah, kami berkumpul di ruang tengah.
Aku menceritakan semuanya dari awal. Bagaimana Fany bersikeras ingin melihat rumah tempat kami dulu melihat sosok yang memakan tangan manusia. Bagaimana Dion ikut karena tak mau Fany pergi sendiri. Bagaimana aku, yang seharusnya lebih tua dan lebih waras, malah ikut mengantar.
"Kamu ini gimana, sih, Dek?!" bentak Mas Arif, "kamu udah pernah lihat sendiri isi rumah itu apa, terus sekarang balik lagi ke sana bawa dua anak muda?!"
"Aku gak bisa nahan mereka, Mas."
"Ya kunci mobilnya! Sembunyiin! Masa gitu aja gak kepikiran!"
Aku menunduk. Ia benar, dan aku tak punya bantahan.
"Sudah, sudah," lerai Ibu, "yang sudah terjadi ndak usah diributkan. Sekarang yang penting, di rumah itu tadi kalian ketemu siapa?"
"Ada perempuan tua, Bu," jawabku, "duduk di kamar paling belakang. Kami kira dia penjaga rumah, tapi pas diajak ngomong, dia cuma senyum. Gigi depannya gak ada."
"Kalian tanya namanya?"
"Tanya, Bu. Dia gak jawab."
Ibu terdiam cukup lama, memutar-mutar tasbih di tangannya.
"Nak, rumah kalian ini sekarang sudah ditandai."
"Ditandai gimana, Bu?"
"Kalian datang ke tempat orang, terus pulang bawa oleh-oleh," ucapnya, "yang tadi nyekik anak itu ndak berhenti di sana. Dia ikut."
Bulu kudukku berdiri semua. Kutengok pintu depan yang sudah terkunci, jendela yang sudah tertutup, lampu yang menyala terang di seluruh ruangan. Semuanya sia-sia kalau yang datang bukan manusia.
"Terus kita harus gimana, Bu?" tanya Mas Arif.
"Sekarang ndak usah ngapa-ngapain dulu. Yang penting jangan ada yang keluar rumah sampai pagi," jawab Ibu, "dan satu lagi, Le. Kalau nanti malam ada yang manggil dari luar, siapa pun itu, jangan dijawab."
"Walaupun suaranya kenal, Bu?"
"Apalagi kalau kenal."
Bibi langsung beristigfar dan mengunci pintu belakang untuk yang kedua kalinya malam itu.
***
Fany duduk di sofa sepanjang pembicaraan itu, memeluk bantal, tidak ikut bicara sama sekali.
Yang kuperhatikan, sejak pulang tadi gadis itu belum minum setetes pun. Kutawari teh hangat, ditolak. Kutawari air putih, ditolak. Bibi sampai membuatkan bubur karena mengira ia lapar, tapi mangkuknya hanya diaduk-aduk lalu ditinggalkan.
"Dek, kamu gak enak badan?" tanyaku sambil duduk di sebelahnya.
"Enggak, Mbak. Cuma ngantuk banget."
"Ya udah, tidur gih. Besok Sabtu, gak ada kuliah `kan?"
"Gak ada."
Ia bangkit, dan aku sempat menahan lengannya.
"Dek, maafin Mbak, ya. Harusnya Mbak lebih tegas tadi. Harusnya kita gak ke sana."
Fany menoleh. Ia tersenyum, tapi senyum itu terlalu lambat, seperti orang yang harus mengingat dulu cara tersenyum.
"Gak papa, Mbak. Emang aku yang maksa."
Ia naik ke lantai atas, dan itu kalimat terakhir yang kudengar darinya malam itu.
***
Ibu tidur di kamar Fany malam itu, atas kemauannya sendiri.
Katanya tidak enak membiarkan anak gadis tidur sendirian setelah kejadian seperti tadi. Aku ingin ikut, tapi Ibu menyuruhku istirahat karena wajahku sudah seperti mayat, katanya.
Sekitar pukul tiga dini hari, aku terbangun karena mendengar sesuatu.
Suara orang mengunyah.
Pelan, basah, berulang. Suara yang sama persis dengan yang kudengar di rumah kosong berbulan-bulan lalu.
Kudorong Mas Arif sampai ia terbangun.
"Mas, denger gak?"
"Denger apa?"
"Ada yang makan."
Ia memasang telinga, lalu menggeleng. "Gak ada apa-apa, Dek. Itu paling tikus di plafon."
"Mas, tikus gak bunyi kayak gitu!"
Aku turun dari ranjang dan membuka pintu kamar. Suara itu berhenti seketika, tepat pada detik pintu terbuka. Lorong lantai atas gelap dan kosong. Pintu kamar Fany tertutup rapat.
Kembali ke ranjang, aku tidak bisa memejamkan mata lagi sampai azan subuh.
Menjelang pagi, Bibi mengetuk pintu kamar kami.
"Bu, maaf, ini kalau boleh Ibu lihat sendiri," ucapnya.
Kuikuti wanita paruh baya itu ke dapur. Tudung saji sudah terbuka, dan seluruh isi meja makan berantakan. Nasi tumpah, lauk tercecer, dan di antaranya ada bekas cakaran di permukaan meja kayu.
"Semalem Bibi tutup semua, Bu. Bibi juga kunci pintu belakang."
"Ada yang masuk, Bi?"
"Kalau maling, mana ada maling yang cuma ngacak-ngacak nasi terus gak bawa apa-apa," jawabnya sambil menunjuk lemari, "duit belanja masih di laci, utuh."
Aku hanya bisa menghela napas dan menyuruh Bibi membersihkannya. Baru saja hendak kembali ke atas, kulihat sesuatu di lantai dekat pintu belakang.
Jejak kaki. Basah, berlumpur, dan mengarah masuk ke dalam rumah.
Tidak ada satu pun yang mengarah keluar.
***
Pagi harinya, sekitar pukul tujuh, Ibu turun ke bawah sendirian.
"Fany mana, Bu?" tanyaku sambil menuang teh.
"Masih tidur."
"Tumben. Biasanya dia yang paling pagi bangun."
Ibu tidak menjawab. Beliau duduk, mengambil gelas, tapi tidak meminumnya.
"Nak," ucap beliau akhirnya, "coba kamu bangunkan dia."
Ada sesuatu di nada suara Ibu yang membuatku langsung meletakkan teko.
Aku naik, mengetuk pintu kamar Fany, lalu masuk. Gadis itu berbaring telentang di tengah ranjang, selimut rapi sampai ke dada, kedua tangan di sisi tubuh. Terlalu rapi untuk orang yang tidur semalaman.
"Dek, bangun. Udah pagi."
Tidak ada respons.
"Fany?"
Kuguncang bahunya. Hangat. Dadanya naik turun. Ia bernapas, ia hidup, tapi ia tidak bangun.
"Dek! Fany!"
Kutepuk pipinya, kupanggil namanya keras-keras, kuangkat kelopak matanya. Bola matanya ada di sana, bergerak sedikit ke arah cahaya, tapi tidak ada satu pun tanda bahwa gadis itu mendengarku.
"Mas! Mas Arif! Bu!"
Semuanya berhamburan naik. Dion datang paling akhir sambil berpegangan pada pagar tangga karena punggungnya masih sakit.
"Fany kenapa, Mbak?!"
"Gak bisa dibangunin!"
Dion menyeruak ke depan, memegang wajah gadis itu dengan kedua tangan, memanggil namanya berkali-kali sampai suaranya pecah.
Tidak ada gunanya.
Ibu berdiri di ambang pintu, tidak ikut panik, hanya memandangi Fany dengan tatapan yang sulit sekali kubaca.
"Bu, ini kenapa? Ibu tau sesuatu, `kan?" tanyaku.
"Bawa ke dokter dulu," jawab beliau pendek.
"Tapi, Bu—"
"Bawa dulu, Nak. Biar kalian ndak penasaran."
Mas Arif sudah mengambil kunci mobil, dan aku sibuk mencari-cari jaket dan dompet dengan tangan yang tak berhenti gemetar.
Dion menggendong Fany turun tangga, meski punggungnya sendiri masih dipenuhi bekas cengkeraman. Setiap kali ia meringis, Bibi hendak menahan, tapi anak itu selalu menggeleng.
"Gak papa, Bi. Dia enteng banget kok," ucapnya.
Dan itu benar. Gadis itu memang jauh lebih ringan daripada seharusnya, dan justru itu yang paling membuatku takut.