Pagi itu rumah sakit ramai sekali.
Kami menunggu hampir dua jam sebelum Fany akhirnya dibawa masuk ke ruang pemeriksaan. Dion tidak mau duduk, ia berdiri di depan pintu sepanjang waktu, sesekali mengintip lewat celah kaca.
"Duduk, Yon. Punggung kamu masih sakit," tegurku.
"Gak bisa, Mbak."
Aku tidak memaksa lagi.
Ruang tunggu itu penuh orang. Ada bayi yang menangis, ada bapak-bapak yang batuk terus-menerus, ada ibu-ibu yang bertengkar soal antrean. Ramai, hidup, normal. Dan di tengah semua itu, ada satu brankar berisi gadis berumur dua puluh tahun yang tidak bisa dibangunkan oleh siapa pun.
Aku duduk sambil memandangi wajah Fany yang tertutup selimut sampai dagu.
Dulu, waktu pertama kali gadis ini masuk ke rumahku, ia datang dengan koper dan mata sembab karena baru kehilangan kedua orang tuanya. Aku yang menawarinya tinggal. Aku yang bilang, di sini kamu tidak akan sendirian.
Sekarang aku duduk di kursi plastik rumah sakit sambil bertanya-tanya, jangan-jangan justru aku yang menyeretnya ke dalam semua ini.
Darahnya diambil. Kepalanya di-scan. Matanya disorot senter berkali-kali. Dokter bahkan mencubit lengannya cukup keras untuk melihat apakah ada reaksi. Tidak ada.
Menjelang siang, kami dipanggil masuk.
"Bu, dari hasil pemeriksaan, sejauh ini tidak ditemukan kelainan," ucap dokter sambil membalik-balik kertas.
"Maksudnya gimana, Dok? Anak saya gak bangun-bangun dari kemarin malem."
"Iya, saya paham. Hanya saja, hasil laboratorium bagus. Tidak ada infeksi, tidak ada perdarahan di kepala, gula darah normal, elektrolit normal. Tekanan darah juga baik."
"Terus dia kenapa?"
Dokter itu melepas kacamatanya dan menghela napas.
"Ada kondisi-kondisi tertentu yang penyebabnya bukan dari fisik. Biasanya kami rujuk ke bagian saraf dulu, kalau tetap bersih, baru ke psikiatri."
"Anak itu gak gila, Dok!" sela Dion dengan suara meninggi.
"Saya tidak bilang begitu, Mas. Tolong tenang dulu."
Kutarik lengan Dion supaya mundur. Ia menurut, meski rahangnya masih mengeras.
Akhirnya kami memutuskan membawa Fany pulang. Bukan karena tidak percaya dokter, tapi karena percuma juga membayar kamar rawat kalau yang bisa dilakukan hanya menunggu.
***
Yang membuatku merinding terjadi di lorong rumah sakit, ketika kami sedang menunggu Mas Arif mengambil mobil.
"Mbak Risti?"
Aku menoleh, dan Alvaro sudah berdiri di sana. Memakai jaket, membawa sekantong buah, wajahnya sedih sekali.
"Fany gimana, Mbak? Udah sadar?"
Aku menatapnya cukup lama sebelum menjawab.
"Kamu tau dari mana Fany di sini?"
"Dari temen kampus, Mbak."
"Temen kampus yang mana?"
"Ya ... anak-anak, Mbak. Rame yang ngomongin."
Dion yang sedari tadi diam langsung berdiri.
"Bohong," ucapnya datar, "gue baru bawa dia ke sini tiga jam lalu. Gue gak kasih tau siapa-siapa. Mbak Risti juga enggak. Jadi anak kampus mana yang lo maksud?"
Wajah Alvaro berubah. Hanya sesaat, sepersekian detik, tapi aku melihatnya jelas. Bukan panik, bukan malu ketahuan berbohong.
Ia kesal.
"Ya udah kalau gak boleh jenguk," ucapnya sambil meletakkan kantong buah itu di kursi tunggu, "titip aja buahnya."
"Vro," panggilku sebelum ia benar-benar pergi.
"Ya, Mbak?"
"Rumah kosong di komplek belakang itu, kamu pernah ke sana?"
Ia berhenti melangkah. Bahunya menegang sedikit, lalu ia menoleh dengan senyum yang lebar sekali.
"Rumah kosong mana ya, Mbak? Saya gak pernah ke daerah situ."
Padahal aku tidak menyebutkan daerah mana pun.
Ia pergi tanpa menoleh lagi.
Dion hendak mengejar, tapi kutahan sekuat tenaga.
"Jangan, Yon!"
"Mbak, dia bohong di depan muka kita!"
"Iya, Mbak tau. Tapi bohong itu bukan bukti," jawabku, "kalau kamu hajar dia sekarang, yang masuk penjara kamu, bukan dia. Terus siapa yang jagain Fany?"
Anak itu akhirnya diam. Namun, tangannya tetap terkepal sampai mobil kami masuk halaman rumah.
Kantong buah pemberian Alvaro tidak kami bawa. Kutinggalkan begitu saja di kursi tunggu rumah sakit.
***
Sesampainya di rumah, hal pertama yang kami lakukan bukan mengobati, melainkan mencari.
Ibu menyuruh kami membongkar kamar Fany sampai ke sudut-sudutnya. Kasur diangkat, dipannya digeser, laci dikeluarkan semua, bantal dan guling dirobek jahitannya. Mas Arif bahkan naik ke plafon lewat lubang di kamar mandi atas.
"Cari apa sih, Bu?" tanya Dion sambil mengangkat karpet.
"Bungkusan. Bisa kain, bisa kertas, bisa botol kecil. Yang jelas ndak biasa."
Kami mencari sampai lewat zuhur. Halaman digali di beberapa titik yang tanahnya terlihat gembur. Pot-pot bunga dibalik. Bibi bahkan memeriksa isi tempat sampah belakang.
Nihil. Tidak ada apa-apa.
"Ndak ketemu berarti bukan di sini," ucap Ibu.
"Terus di mana, Bu?"
"Ndak semua barang begituan dipendam di rumah korbannya," jawab beliau, "kadang dipendam di rumah orangnya. Kadang di kuburan."
***
Setelah itu, Ibu langsung mengambil alih.
Kamar Fany dibersihkan, jendelanya dibuka lebar-lebar sepanjang siang, gordennya diganti yang tipis supaya cahaya masuk. Ibu meminta baskom, air putih, dan sebotol minyak zaitun.
Sepanjang sore beliau duduk di samping ranjang. Membaca, lalu mengusapkan air ke ubun-ubun Fany, ke tengkuk, ke telapak tangan dan kaki. Diulang terus, entah berapa kali.
Aku dan Bibi bergantian menemani. Dion tidak pernah lebih jauh dari ambang pintu.
Sekitar pukul lima, tubuh Fany bereaksi untuk pertama kalinya.
Jari-jari tangannya bergerak. Lalu kakinya. Lalu seluruh tubuhnya mengejang selama beberapa detik sebelum kembali diam.
"Bu! Bu, dia gerak!" seruku.
"Iya, Ibu lihat."
"Berarti dia mau bangun, `kan?"
Ibu menggeleng pelan sambil terus mengusap kening gadis itu.
"Itu bukan Fany yang gerak, Nak."
***
Malamnya, sekitar pukul sebelas, kami mendengarnya bicara.
Sebelumnya, ponsel Fany yang tergeletak di meja rias bergetar terus-menerus. Kuraih benda itu dan kulihat layarnya.
Dua puluh tiga panggilan tak terjawab. Semuanya dari nomor yang sama, semuanya dari nama yang sama.
Alvaro.
Kutunjukkan pada Dion, dan anak itu langsung berdiri dari lantai.
"Mbak, biar saya angkat."
"Jangan," cegahku, "kalau kamu yang angkat, dia bakal tau kita curiga. Selama dia ngerasa aman, dia bakal terus gerak. Dan orang yang gerak terus itu pasti ninggalin jejak."
Dion menatapku lama, lalu duduk kembali sambil mengusap wajah.
"Mbak ini serem juga ya kalau lagi mikir."
"Mbak udah setahun ini belajar dari orang yang lebih serem."
***
Aku sedang duduk di lantai bersandar ke sisi ranjang, hampir tertidur, ketika terdengar suara dari atas.
"... jangan ditutup ...."
Aku langsung bangkit. "Dek? Fany?"
Matanya masih terpejam. Bibirnya bergerak pelan, hampir tak terbuka.
"Jangan ditutup jendelanya."
Suaranya bukan suara Fany. Lebih rendah, lebih lambat, dengan logat yang aneh sekali. Seperti orang tua yang lidahnya sudah kaku.
"Bu! Ibu!" panggilku.
Ibu masuk sambil membetulkan kerudung, disusul Dion dan Mas Arif.
"Siapa kamu?" tanya Ibu langsung, tanpa basa-basi.
Bibir gadis itu bergerak lagi.
"Yang punya rumah."
"Rumah yang mana?"
"Yang kalian masuki tanpa permisi."
Dion menutup mulutnya dengan telapak tangan. Mas Arif berdiri kaku di ambang pintu.
"Anak ini bukan urusan kamu," ucap Ibu, "pulang."
"Yang mengundang saya bukan kalian," jawab suara itu, "jadi yang bisa menyuruh saya pulang juga bukan kalian."
Setelah kalimat itu, Fany diam lagi. Wajahnya kembali damai seperti orang tidur biasa.
Kami bertiga saling beradu tatap, dan tidak ada satu pun yang berani bicara selama beberapa menit.
***
Malam itu juga aku menelepon Pak Aji.
Deringnya lama sekali sebelum diangkat, dan yang menjawab justru suara perempuan.
"Halo, ini keluarganya Pak Aji?" tanyaku.
"Iya, saya anaknya. Ini siapa, ya?"
"Saya Risti, Mbak. Dulu Bapak pernah bantu keluarga saya. Bapaknya ada?"
Terdengar helaan napas di seberang.
"Bapak lagi sakit, Mbak. Sudah seminggu di rumah sakit, paru-parunya."
Dadaku langsung sesak.
"Parah, Mbak?"
"Lumayan. Beliau belum boleh banyak ngomong."
"Ya Allah. Saya doakan lekas sembuh, Mbak. Maaf, saya gak tau."
"Iya, Mbak. Nanti kalau sudah baikan, saya kabari."
Kutaruh ponsel di meja, lalu menutup wajah dengan kedua tangan.
Mbah Parto sudah tidak ada. Pak Aji terbaring di rumah sakit. Dan di lantai atas ada seorang gadis yang tidak bisa dibangunkan, ditunggui seorang perempuan tua dari kampung dan seorang pemuda yang punggungnya penuh bekas cengkeraman.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku benar-benar merasa tidak punya siapa-siapa lagi untuk dimintai tolong.
"Dek, tidur," ucap Mas Arif dari belakang.
"Gak bisa, Mas."
Ia duduk di sebelahku dan menggenggam tanganku erat.
"Kita gak bakal kalah lagi," ucapnya, "sekali udah cukup."
Aku menyandarkan kepala ke bahunya dan menangis tanpa suara, sementara dari lantai atas terdengar suara Ibu yang tak berhenti membaca sepanjang malam.
Menjelang subuh, suara itu berhenti sebentar. Kudengar langkah kaki Ibu turun ke dapur, mengambil air, lalu naik lagi.
Sebelum masuk kamar, beliau berhenti di depan pintu kamarku.
"Nak, kamu masih bangun?"
"Masih, Bu."
"Ibu cuma mau bilang satu hal," ucapnya dari balik pintu, "yang begini ini biasanya ndak lama. Bukan karena gampang, tapi karena yang ngirim itu buru-buru."
"Buru-buru kenapa, Bu?"
"Ndak tau. Yang jelas, orang yang sabar ndak akan pakai cara sekasar ini."
Langkah beliau menjauh, dan aku terjaga sampai azan.