Hari kedua, keadaan Fany semakin buruk.
Bibirnya pecah-pecah dan mengelupas. Pipinya cekung, tulang selangkanya menonjol. Padahal baru dua hari, tapi tubuh gadis itu menyusut seperti orang yang sudah berminggu-minggu tidak makan.
Kami mencoba menyuapinya bubur encer. Sebagian besar tumpah keluar dari sudut bibir. Air pun begitu, hanya beberapa tetes yang tertelan, sisanya membasahi bantal.
"Bu, gimana kalau kita panggil perawat aja, biar dipasang infus," usulku.
"Panggil," jawab Ibu tanpa mengalihkan pandangan dari Fany.
Siang itu seorang perawat datang, dipanggil Mas Arif lewat kenalan di kantornya. Wanita itu memasang jarum di punggung tangan Fany dan menggantung kantong cairan di tiang yang biasa dipakai menjemur handuk.
"Sudah berapa lama, Bu?" tanyanya sambil merapikan plester.
"Dua hari."
"Sudah dibawa ke dokter?"
"Sudah. Katanya gak ada apa-apa."
Perawat itu menoleh ke arahku, lalu ke arah Ibu yang duduk memangku tasbih, lalu ke arah Dion yang bersandar di dinding dengan mata merah.
Ia tidak bertanya lagi.
Sebelum pulang, wanita itu sempat berbisik padaku di depan pintu, "Bu, maaf, ini di luar tugas saya. Tapi kalau boleh saran, jangan cuma diobati. Cari tau siapa yang gak suka sama anak ini."
"Mbak pernah lihat yang kayak gini?"
Perawat itu memandangi jalanan sebentar sebelum menjawab.
"Tiga kali, Bu. Yang dua selamat, yang satu ndak."
"Yang selamat itu diapain?"
"Yang satu keluarganya nemu barangnya, dibakar. Yang satunya lagi pindah rumah, jauh, ke luar pulau," jawabnya sambil memakai helm, "yang meninggal itu yang keluarganya ngotot cuma pakai obat dokter."
Ia pamit, dan aku berdiri di teras cukup lama sesudahnya.
***
Menjelang siang, Bibi memanggilku ke dapur dengan wajah yang aneh.
"Bu, tadi Bibi bersihin kamar Non Fany. Bibi nemu ini di bawah lemari."
Di telapak tangannya ada segenggam rambut. Panjang, hitam, diikat dengan karet gelang kecil di salah satu ujungnya.
"Ini rambut Fany, Bi?"
"Kayaknya iya, Bu. Warnanya sama."
"Bibi yakin ini dari bawah lemari? Bukan dari sisir?"
"Yakin, Bu. Kalau dari sisir mana mungkin diiket rapi begitu."
Kubawa temuan itu ke Ibu. Beliau melihatnya sekilas, lalu langsung menyuruhku membakarnya di halaman belakang, saat itu juga, tanpa dipegang lagi dengan tangan kosong.
"Ini apa, Bu?" tanyaku sambil memegangnya dengan sendok sayur.
"Sisa. Yang dipakai sudah dibawa, ini cuma sisanya yang jatuh."
"Dibawa ke mana, Bu?"
"Ke tempat yang bisa bikin dia jadi kuat," jawab beliau, "dan tempat kayak gitu ndak banyak, Nak. Cuma dua. Tempat yang ndak pernah dilewati orang, atau tempat orang mati."
Rambut itu terbakar dengan bau yang membuat perutku terbalik. Bukan bau rambut terbakar biasa. Baunya seperti daging.
***
Sore harinya, Ibu memanggil kami semua ke ruang tengah.
Aku, Mas Arif, Dion, dan Bibi duduk mengelilingi meja. Ibu duduk di kursi paling ujung, memandangi kami satu per satu sebelum bicara.
"Anak itu ndak bisa terus di rumah ini."
Semua terdiam.
"Maksudnya gimana, Bu?" tanyaku.
"Rumah ini sudah ndak bisa dipakai buat nyembuhin siapa pun," jawab beliau, "terlalu ramai. Ibu duduk di kamar itu dari kemarin, tiap kali Ibu mulai baca, ada saja yang datang. Ganti-ganti."
"Ganti-ganti gimana, Bu?" tanya Mas Arif.
"Ya ganti-ganti, Le. Yang satu pergi, yang lain masuk," ucap beliau, "ini rumah kalian dulu dipakai apa, ndak tau Ibu. Yang jelas, sudah lama ndak bersih."
Tengkukku meremang. Kuingat lagi ucapan Pak Sudrajat dulu, bahwa rumah ini sudah berkali-kali berpindah tangan. Kuingat lagi foto keluarga yang dulu terpajang di rumah yang batal kami beli, dan bagaimana rumah ini pun sebenarnya punya sejarah yang tak pernah kutanyakan pada siapa pun.
"Jadi Fany harus dibawa ke mana, Bu?" tanya Dion.
"Ke tempat yang sepi. Yang ndak ada apa-apanya."
"Rumah saya gimana, Bu? Saya tinggal sama nenek saya, sepi kok."
Ibu menggeleng. "Kamu belum halal sama dia, Le. Ndak baik."
Dion menunduk, telinganya memerah.
***
Malam itu aku menelepon Bude.
Sebenarnya ragu. Sudah cukup banyak yang keluarga itu korbankan untuk kami. Namun, aku benar-benar tak punya pilihan lain.
"Halo, Bude? Ini Risti."
"Ya Allah, Nduk! Kok baru telepon? Bude kira sudah lupa sama orang tua."
Suara beliau membuat mataku panas seketika.
"Maaf, Bude. Banyak kejadian di sini."
Kuceritakan semuanya. Tentang Fany, tentang rumah kosong itu, tentang Dion, tentang Ibu yang bilang rumah ini terlalu ramai. Bude mendengarkan tanpa memotong sekali pun.
"Bawa ke sini," ucap beliau begitu aku selesai.
"Bude serius? Saya gak enak. Rumah Bude `kan—"
"Nduk, rumah ini dulu tiap minggu diisi orang sakit. Bapak sudah ndak ada, tapi rumahnya masih rumah yang sama," potong beliau, "kamar bapak masih kosong. Bersih. Bawa anak itu ke sini."
Aku menangis di telepon, dan Bude malah menertawakanku.
"Sudah, jangan nangis. Bawa juga orang yang bisa masak, Bude sudah ndak kuat masak banyak-banyak."
"Ada, Bude. Bi Inem. Bibi malah dulu tetangga Bude waktu masih di sana."
"Inem? Yang anaknya dua itu?"
"Iya, Bude!"
"Ya Allah, sudah lama sekali."
***
Selesai menelepon, Mas Arif menemuiku di dapur ketika aku sedang mencuci gelas.
"Dek, boleh Mas jujur?"
"Boleh."
"Mas takut."
Kumatikan keran dan menoleh. Baru kali ini suamiku mengatakan kalimat itu dengan tenang, tanpa marah, tanpa membentak.
"Takut kenapa, Mas?"
"Mas takut kejadian dulu keulang. Waktu Mas dipakai orang, Mas gak ngerasain apa-apa. Yang sakit itu kamu, yang ngurusin Mas itu kamu, yang jadi tumbal itu orang lain," jawabnya, "sekarang keliatannya sama persis. Cuma korbannya ganti."
Aku bersandar ke wastafel, menatap lantai.
"Aku juga takut, Mas."
"Kalau kamu takut, kenapa masih maju terus?"
"Karena dulu waktu semua orang bilang aku lebay, cuma aku yang benar," jawabku, "dan gara-gara mereka gak percaya, Tania mati, Pak Burhan mati, istrinya mati, Mbak Ningsih mati di sel. Aku gak mau nambah nama lagi di daftar itu, Mas."
Suamiku menarikku ke dalam pelukannya dan tidak berkata apa-apa lagi cukup lama.
***
Keesokan paginya, semua orang sibuk.
Bibi mengemasi pakaian, tidak banyak, hanya beberapa potong. Katanya toh nanti bisa diantar lagi kalau kurang. Aku menyiapkan obat-obatan, popok dewasa, handuk kecil, dan botol minum bersedotan.
Mas Arif mengurus mobil, mengecek ban dan mengisi bensin penuh. Dion memaksa ikut, dan tak ada satu pun dari kami yang tega melarang.
"Bu, Ibu ikut ke sana terus di sana sampai kapan?" tanyaku sambil melipat mukena.
"Sampai anak itu bisa jalan sendiri."
"Kalau lama gimana, Bu? Ibu `kan gak enak badan juga belakangan."
"Nak," ucap Ibu sambil memegang tanganku, "kamu itu sudah kehilangan terlalu banyak orang. Ibu ndak mau kamu nambah satu lagi."
Aku tak bisa berkata apa-apa lagi setelah itu.
Yang paling repot justru mengurus Bi Inem. Wanita itu awalnya menolak keras.
"Bu, siapa yang masak buat Ibu sama Pak Arif kalau Bibi ikut?"
"Bisa beli, Bi."
"Ibu itu lagi hamil, ndak boleh makan sembarangan."
"Bi, Bibi tenang aja. Saya sama Mas Arif dulu juga pernah hidup cuma berdua," jawabku, "yang di sana itu butuh Bibi, bukan saya."
Ia menunduk, mengelap tangan ke celemek berkali-kali padahal tangannya kering.
"Ya sudah, Bu. Tapi Bibi minta satu."
"Apa, Bi?"
"Kalau di rumah ini ada apa-apa, Ibu telepon. Jam berapa pun. Bibi naik ojek pun jadi."
Kupeluk wanita itu, dan untuk sekian kalinya aku bersyukur pernah menawarinya tinggal di rumah ini bertahun-tahun lalu.
***
Sebelum berangkat, Ibu meminta kami semua keluar dari kamar Fany.
"Bu, saya di dalem aja gak papa?" tanya Dion memelas.
"Ndak boleh. Kamu ini yang paling ndak bisa diam."
"Saya janji diem, Bu."
"Le, kalau kamu diam pun, hati kamu ndak diam," jawab Ibu, "keluar."
Akhirnya kami menunggu di lorong lantai atas. Bibi duduk di anak tangga. Mas Arif bersandar di dinding. Dion mondar-mandir sampai aku pusing melihatnya.
Dari dalam kamar terdengar suara Ibu, pelan sekali, hampir seperti orang bersenandung.
Setengah jam berlalu.
Satu jam.
Sekitar pukul sembilan, suara itu berhenti. Yang terdengar berikutnya adalah suara Ibu memanggil, jelas dan tegas, memakai nama lengkap gadis itu.
Lalu hening lagi.
Dion berhenti mondar-mandir. Bibi mendongak. Mas Arif menegakkan punggung.
Suara Ibu terdengar lagi, kali ini bukan membaca. Beliau bicara, seperti orang membujuk anak kecil yang ngambek.
"Sudah, jangan di situ terus. Yang nunggu kamu di sini banyak."
Hening.
"Ayo, Nduk. Bukanya pelan-pelan saja, ndak usah buru-buru."
Dion menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Bibi mulai menangis tanpa suara di anak tangga.
Kami bertiga menatap pintu kamar itu, menahan napas, menunggu satu suara yang sudah dua hari tidak kami dengar.