Hari ini Mas Arif berangkat lebih pagi dari biasanya, katanya ada rapat besar di kantor pusat dan mungkin pulang larut.
Aku hanya bisa mengantarnya sampai teras. Berdiri terlalu lama saja membuat kepalaku berputar, jadi setelah mobilnya keluar halaman, aku langsung kembali berbaring di sofa.
"Nak, jangan tiduran habis makan. Nanti lambungmu makin ndak enak," tegur Ibu dari dapur.
"Iya, Bu. Bentar lagi."
"Bentar lagi, bentar lagi. Dari tadi bentar terus."
Aku terkekeh, lalu memaksa diri duduk. Ibu datang membawa segelas air hangat dan sepiring pisang rebus.
"Makan yang banyak. Kamu itu sekarang berdua."
Kupegang perutku yang masih rata. Rasanya masih aneh, masih takut berharap terlalu banyak setelah yang dulu.
"Bu, aku takut," ucapku pelan.
"Takut kenapa?"
"Takut kejadian lagi."
Ibu meletakkan piring dan duduk di sebelahku.
"Nak, yang dulu itu bukan salah kamu."
"Salah aku, Bu. Aku yang gak nurut waktu itu."
"Ya sudah, kalau memang salah kamu, berarti sekarang kamu sudah tau caranya jangan diulang," jawab beliau sambil mengusap punggung tanganku, "orang yang pernah jatuh itu bukan orang yang paling gampang jatuh lagi. Justru dia yang paling hafal jalannya."
Namun, ada yang lebih mengganjal pagi itu, dan sudah beberapa hari kupendam.
Ibu berubah.
***
Sudah hampir seminggu Ibu tidak tidur nyenyak.
Setiap kali aku bangun tengah malam untuk ke kamar mandi, selalu ada cahaya lampu dari kamar tamu. Kadang kudengar suara beliau membaca. Kadang kudapati beliau berdiri di dekat jendela, menyibak tirai sedikit, memandangi halaman depan.
Kalau kutanya, jawabannya selalu sama. Ndak apa-apa, cuma ndak bisa tidur, orang tua memang begitu.
Pagi itu akhirnya kudesak.
"Bu, Risti minta jujur."
"Jujur apa?"
"Ibu tiap malam ngapain di jendela?"
Beliau meletakkan gelas, lalu duduk di kursi seberang. Untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah ini, wajah Ibu terlihat betul-betul lelah.
"Ada anak perempuan, Nak."
Tengkukku langsung meremang. "Anak perempuan gimana, Bu?"
"Sejak Ibu sampai sini, tiap malam ada yang berdiri di ujung kasur Ibu. Perempuan, masih muda, rambutnya panjang, bajunya basah semua," jawab beliau pelan, "awalnya Ibu kira si Fany yang jalan sambil tidur. Ibu panggil-panggil, ndak nyahut."
"Terus, Bu?"
"Ya cuma berdiri. Ndak ganggu, ndak neror, ndak apa-apa. Cuma berdiri sampai subuh, terus hilang."
Bulu kudukku berdiri semua. Kupeluk bantal sofa erat-erat.
"Kenapa Ibu gak cerita dari kemarin?"
"Buat apa? Kamu lagi hamil muda, banyak pikiran, terus Ibu mau nambah?" jawabnya, "lagian Ibu pikir dia bakal pergi sendiri."
"Terus kenapa sekarang Ibu cerita?"
Ibu menghela napas panjang.
"Karena dua malam yang lalu dia ngomong."
Aku menahan napas.
"Ngomong apa, Bu?"
"Cuma satu kata. Diulang-ulang sampai Ibu hafal."
"Kata apa?"
"Naya."
Gelas di tanganku hampir terjatuh. Rasanya seperti ada air es yang dituang dari ubun-ubun sampai ke kaki. Dua suku kata. Dua suku kata yang sama dengan yang kudengar di ujung rekaman itu.
"Bu ... Ibu yakin Naya?"
"Yakin. Kenapa? Kamu kenal?"
"Enggak, Bu. Cuma ...."
Kuceritakan soal rekaman di ponsel Fany, tentang suara perempuan yang memanggil sesuatu di detik-detik terakhir, tentang bagaimana aku dan Mas Arif berkali-kali memutarnya tanpa berani menebak.
Ibu mendengarkan sampai selesai, lalu mengangguk-angguk pelan.
"Berarti bukan Ibu yang salah dengar."
"Bu, kalau dia cuma berdiri diem, kenapa Ibu sampai gak bisa tidur?"
"Bukan dia yang bikin Ibu ndak bisa tidur, Nak."
"Terus apa?"
Ibu memandangi jendela ruang tengah yang tirainya masih tertutup.
"Yang di belakang dia."
Aku menelan ludah. "Ada yang lain, Bu?"
"Ada. Ndak masuk, cuma nunggu di halaman. Anak perempuan itu kayak dikejar, terus lari ke sini karena di sini ada orang yang bisa lihat."
"Ibu gak takut?"
"Takut," jawab beliau sambil tertawa kecil, "makanya Ibu baca terus. Orang takut itu ndak apa-apa, Nak. Yang bahaya itu orang yang ndak takut sama sekali."
***
Sebelum berangkat, kusempatkan menengok kamar Fany.
Gadis itu berbaring miring menghadap dinding, dengan Bi Inem duduk di kursi kecil di sampingnya sambil mengipasi. Sejak dibawa pulang dari Kedungwaru, keadaannya naik turun. Ada hari-hari ia bisa duduk, makan sendiri, bahkan tertawa kecil. Ada hari-hari ia sama sekali tak mau membuka mata.
"Gimana, Bi?"
"Semalem panas lagi, Bu. Sekarang sudah turun, tapi gak mau makan."
Kudekati ranjangnya dan kuusap rambutnya yang semakin tipis.
"Dek, Mbak keluar bentar, ya. Nanti Mbak beliin es krim."
Ia tidak menjawab. Namun, jari-jarinya bergerak sedikit, seperti hendak meraih tanganku lalu kehabisan tenaga di tengah jalan.
"Bi, kalau ada apa-apa, telepon."
"Siap, Bu. Oh iya, Bu, satu lagi."
"Apa, Bi?"
"Semalem Bibi denger Non Fany ngomong sendiri. Dua kali."
"Ngomong apa, Bi?"
"Ndak jelas, Bu. Cuma yang terakhir kedengeran, dia bilang, iya nanti aku bilangin."
Bulu kudukku berdiri. "Bilangin ke siapa?"
"Nah, itu Bibi ndak tau. Bibi cuma denger segitu."
***
Siang itu aku pergi ke warung Mbak Nana, ditemani Ibu.
Sebenarnya badanku belum enak, tapi rasa penasaran ini lebih kuat daripada mual.
"Mbak, saya mau nanya. Di sekitar sini ada yang namanya Naya, gak?"
Mbak Nana yang sedang menghitung uang langsung berhenti. Ia mendongak, menatapku agak lama.
"Naya? Naya siapa, Bu?"
"Gak tau, Mbak. Cuma denger namanya aja."
Wanita itu meletakkan uangnya, lalu duduk di kursi plastik depan warung.
"Dulu ada, Bu. Sudah lama, kira-kira tiga tahun lalu. Waktu itu Ibu belum pindah ke sini."
Jantungku berdegup lebih cepat.
"Naya yang mana, Mbak?"
"Anak perempuan, umurnya dua puluhan. Tinggalnya di komplek belakang, yang sekarang kosong itu."
Aku dan Ibu saling beradu tatap.
"Meninggalnya kenapa, Mbak?"
"Nah, itu yang orang-orang sini gak berani ngomong," jawabnya sambil menurunkan suara, "pagi masih kelihatan nyapu halaman. Sorenya sudah ndak ada. Katanya sakit mendadak. Tapi ya, Bu, mana ada orang sakit mendadak terus sorenya langsung dikubur."
"Langsung dikubur hari itu juga?"
"Iya. Cepet banget. Yang nganter cuma beberapa orang. Habis itu keluarganya pindah, rumahnya dikunci sampai sekarang."
"Dikubur di mana, Mbak?"
"Di makam lama, Bu. Yang deket sungai."
Makam lama. Tempat Tania dimakamkan. Tempat yang dijaga Mbah Tejo.
"Mbak, dia punya keluarga di sini?"
"Katanya sih ada bapaknya. Cuma habis anaknya meninggal, langsung pindah, Bu. Rumahnya ditinggal gitu aja."
"Rumah yang mana, Mbak?"
Mbak Nana menunjuk ke arah komplek belakang dengan dagunya.
"Yang paling ujung. Yang gentengnya bolong itu."
Aku hampir menjatuhkan bungkusan yang kupegang.
Rumah paling ujung. Rumah dengan genteng bolong dan halaman yang terlalu bersih. Rumah tempat aku dan Mas Arif dulu melihat sosok berkain hitam mengunyah jari manusia. Rumah yang sama tempat Dion dicengkeram dari belakang beberapa minggu lalu.
Rumah itu dulu rumahnya Naya.
***
Sepanjang perjalanan pulang, Ibu tidak bicara sama sekali.
Baru ketika sampai di teras, beliau berhenti dan memegang lenganku.
"Nak."
"Iya, Bu?"
"Anak itu ndak datang buat nakut-nakutin kamu."
"Terus buat apa, Bu?"
"Kalau setan mau nakuti, dia ndak akan cuma berdiri diam berhari-hari," jawab beliau, "yang begitu itu namanya minta tolong. Cuma dia ndak bisa ngomong banyak, jadi cuma nyebut namanya sendiri, biar kita cari."
Aku menelan ludah.
"Ibu ... Ibu mau kita ke makamnya?"
"Ya."
"Bu, aku hamil muda. Kata orang gak boleh ke kuburan."
"Kata siapa?"
"Ya ... kata orang-orang."
Ibu tersenyum kecil sambil membuka pintu.
"Nak, yang bikin celaka itu bukan kuburan. Yang bikin celaka itu orang yang punya niat jelek. Dan orang kayak gitu ndak cuma ada di kuburan, di ruang tamu pun ada."
Aku terdiam.
"Besok kita ke sana," lanjut beliau, "pagi-pagi, biar terang."
***
Malam itu aku tidak bisa tidur sama sekali.
Mas Arif pulang hampir tengah malam, langsung mandi dan tidur karena kecapean. Kuputuskan untuk tidak menceritakan apa-apa dulu sampai besok, biar ia bisa istirahat.
Sekitar pukul dua, aku ke dapur untuk minum.
Ketika melewati ruang tengah, aku berhenti.
Pintu belakang yang menuju halaman tidak tertutup rapat. Terbuka sekitar sejengkal, dan dari celah itu masuk angin dingin yang membawa bau tanah basah.
Padahal sejak sore tidak hujan sama sekali.
Kudorong pintu itu sampai tertutup, kuputar kuncinya dua kali, lalu kembali ke kamar dengan langkah cepat tanpa berani menoleh ke belakang.
Di ambang pintu kamar, aku sempat menengok ke arah kamar tamu.
Lampunya menyala. Ibu masih duduk di sana, membelakangi pintu, menghadap ke ujung ranjang yang kosong.
Bibirnya bergerak tanpa henti.
Kuurungkan niat memanggil. Kututup pintu kamarku pelan-pelan, lalu berbaring memunggungi Mas Arif yang tidur pulas.
Sepanjang sisa malam itu aku menghitung sendiri di dalam kepala. Kana, Tania, Pak Burhan dan istrinya, Mbak Ningsih, Mbah Parto, anak kecil di persimpangan, dan Sarah. Delapan orang.
Sekarang bertambah satu nama lagi, dan yang ini bahkan sudah meninggal tiga tahun sebelum aku pindah ke sini.