Dion datang menjemput kami pukul delapan pagi.
Anak itu memang paling bisa diandalkan belakangan ini. Sejak Fany dibawa pulang dari Kedungwaru dan kondisinya naik turun tak menentu, Dion hampir setiap hari mampir. Kalau tidak mengantar buah, ya mengantar obat. Kalau tidak keduanya, ya cuma duduk di teras sambil menatap jendela kamar Fany.
"Kita ke makam lama, Mbak?" tanyanya sambil membuka pintu mobil untuk Ibu.
"Iya. Kamu gak ada kerjaan?"
"Ada, tapi bisa diatur."
"Jangan gitu, Yon. Kerjaan itu penting."
"Fany juga penting, Mbak."
Aku tidak membalas lagi. Percuma berdebat dengan anak muda yang sedang jatuh cinta dan sedang marah pada saat yang sama.
***
Makam lama itu tidak berubah sejak terakhir kali kudatangi.
Letaknya di pinggir sungai, dipagari pohon-pohon besar yang membuat suasananya selalu remang meski matahari sedang terik. Bagian depan lumayan terurus, tapi semakin ke belakang semakin liar. Rumput setinggi lutut, nisan-nisan yang miring, beberapa bahkan sudah tidak terbaca lagi tulisannya.
Kami disambut suara burung yang entah burung apa. Nyaring dan pendek-pendek.
"Mbak, saya boleh nunggu di mobil aja?" tanya Dion sambil melihat ke sekeliling.
"Tadi katanya mau ikut."
"Iya, tapi baru nyampe udah gak enak badan."
"Ya udah, kamu tunggu di mobil. Jangan tidur, ya."
"Siap, Mbak. Malah gak mungkin bisa tidur."
Namun, ketika kami mulai berjalan masuk, anak itu justru menyusul dari belakang sambil menutup kepalanya dengan jaket.
"Nyari makam siapa, Nak?"
Suara itu datang dari samping, membuatku tersentak. Seorang lelaki dengan caping dan sabit di tangan berdiri di antara dua nisan.
Wajahnya kukenal. Wajah yang dulu mengusir sesuatu di belakang punggung suamiku sambil menakut-nakutinya dengan korek api.
"Mbah Tejo?"
Beliau memicingkan mata, lalu tersenyum lebar.
"Lho! Yang dulu itu, ya? Yang suaminya diikuti itu?"
"Iya, Mbah. Risti."
"Ya Allah, sudah lama sekali. Suamimu gimana sekarang?"
"Alhamdulillah sudah sembuh, Mbah."
"Alhamdulillah. Yang nolong siapa?"
"Mbah Parto, Mbah."
Senyum beliau langsung memudar. Beliau melepas caping, memegangnya di dada, lalu menunduk.
"Saya dengar. Innalilahi," ucapnya pelan, "orang baik itu. Saya ndak sempat melayat, kaki saya lagi sakit waktu itu."
Suasana hening sebentar. Ibu yang sedari tadi diam akhirnya bersuara.
"Pak, saya mau nanya. Di sini ada makamnya anak perempuan namanya Naya?"
Mbah Tejo mengangkat kepala. Ekspresinya berubah.
"Ada. Kenapa nyari makam itu?"
"Nanti saya ceritakan. Bisa ditunjukkan dulu?"
Beliau memandangi kami bertiga bergantian, lalu berbalik dan berjalan tanpa berkata apa-apa.
Sebelum diantar ke makam Naya, langkahku berhenti sendiri di satu tempat.
Nisan yang catnya masih agak baru, dengan kerikil putih di atasnya. Nama yang tertulis di situ membuat dadaku langsung sesak, padahal sudah berbulan-bulan berlalu.
Tania.
"Kamu duluan, Mbah. Saya nyusul bentar," ucapku.
Kuletakkan telapak tangan di atas gundukan itu. Rumputnya sudah tumbuh rapi, tanahnya sudah padat. Tidak ada yang menandakan bahwa di bawah sana ada jasad yang dikubur tanpa tangan dan kaki.
"Tan, gue masih di sini," bisikku, "masih ngurusin yang sama."
Angin bertiup sedikit, menggoyangkan kembang kamboja di atas kepala. Entah kebetulan atau bukan, aku memilih menganggapnya jawaban.
***
Makam Naya ada di bagian paling belakang, dekat pagar bambu yang sudah lapuk.
Berbeda dengan makam di sekelilingnya yang penuh rumput, makam ini justru bersih. Bukan bersih karena dirawat, tapi bersih karena tanahnya baru diinjak-injak.
Aku berhenti tiga langkah sebelum sampai.
Nisannya miring ke kiri, hampir roboh. Di sekelilingnya ada bekas galian, tanahnya menggunduk tidak rata. Dan di bagian kepala makam, ada lubang selebar ember, cukup dalam, dengan bekas cangkul yang masih jelas di dindingnya.
Dari dalam lubang itu terlihat sesuatu berwarna putih kekuningan, sudah kotor, sudah robek.
Kain.
"Ya Allah," bisik Ibu.
Dion menutup hidung dengan lengan bajunya.
"Mbah, ini kenapa?" tanyaku dengan suara bergetar.
Mbah Tejo berjongkok, memeriksa pinggiran lubang itu, mengambil segenggam tanah dan meremasnya.
"Masih baru. Paling lama tiga hari," ucapnya.
"Ini ada yang bongkar?"
"Ya jelas ada yang bongkar, Nak. Tanah ndak bisa gali sendiri."
Beliau berdiri, lalu mengusap wajah dengan telapak tangan yang bergetar.
"Ini yang ketiga tahun ini," lanjutnya.
Kami bertiga menoleh serentak.
"Ketiga, Mbah?" tanya Dion.
"Iya. Yang pertama makam anak kecil di sebelah timur, bulan puasa kemarin. Yang kedua makam orang tua, ndak ada keluarganya, jadi ndak ada yang ribut. Sekarang yang ini."
"Yang diambil apa, Mbah?"
"Kalau yang dua kemarin, kain kafannya. Sama tanah bagian kepala," jawabnya, "ndak diambil jasadnya. Cuma itu."
"Bapak ndak lapor?" tanya Ibu.
"Lapor, Bu. Ke pak lurah, ke polisi juga. Tapi mau diapakan? Ndak ada saksi, ndak ada CCTV, malam-malam pula. Paling dijawab, ya sudah nanti dipantau."
Ibu mengangguk pelan.
"Pak, tolong dijaga makam ini beberapa malam. Kalau ada yang datang lagi, tolong dilihat orangnya."
"Ibu ini siapanya almarhumah?"
"Bukan siapa-siapa," jawab Ibu, "cuma dia yang minta tolong."
Mbah Tejo terdiam agak lama, lalu mengangguk.
"Ya sudah. Saya jaga. Kalau ada apa-apa, saya kabari."
Kutuliskan nomor ponselku di kertas bekas struk yang ada di dompet, lalu kuserahkan pada beliau.
"Mbah, boleh saya nanya satu lagi?"
"Nanya apa?"
"Almarhumah ini meninggalnya kenapa?"
Mbah Tejo melipat kertas itu dan memasukkannya ke saku baju.
"Saya cuma penggali, Nak. Saya ndak tanya-tanya orang meninggal kenapa," jawabnya, "tapi kalau kamu tanya apa yang saya lihat, saya jawab."
"Ya, Mbah. Apa yang Mbah lihat?"
"Waktu itu jenazahnya diantar sore, buru-buru sekali. Yang ngantar cuma empat orang laki-laki, ndak ada perempuan satu pun. Bapaknya ndak nangis. Ndak ada yang baca doa."
"Terus, Mbah?"
"Terus mereka minta liangnya digali lebih dalam dari biasanya," ucapnya, "saya tanya kenapa, jawabnya biar ndak digali anjing."
Ibu menoleh cepat ke arah Mbah Tejo.
"Anjing ndak menggali kubur yang dalamnya normal, Pak."
"Nah, saya juga mikir begitu, Bu. Makanya saya ingat sampai sekarang."
"Mbah, keluarganya sekarang di mana?"
"Pindah semua, Nak. Rumahnya dikunci, ndak pernah ditengok lagi."
"Bapaknya?"
"Yang saya dengar sih ikut adiknya di luar kota," jawab beliau, "tiap tahun saya nunggu, siapa tau lebaran dia pulang ziarah. Tiga tahun ini ndak pernah."
Ibu menatap makam itu lagi, lalu bergumam pelan.
"Kasihan. Sudah ndak diziarahi, makamnya dibongkar pula."
***
Sebelum pulang, Ibu meminta kami menunggu di jalan setapak.
Beliau kembali ke makam itu sendirian, berjongkok di sisi nisan yang miring, dan mulai membaca. Suaranya tidak terdengar sampai ke tempat kami berdiri, tapi aku bisa melihat bibirnya bergerak terus-menerus.
Angin berubah.
Sebelumnya panas dan pengap, tiba-tiba dingin sekali sampai lenganku meremang. Daun-daun di atas kami bergoyang keras, padahal pohon-pohon yang lebih jauh diam saja.
Dion berdiri lebih dekat ke arahku, sikapnya jelas melindungi.
"Mbak, ini ...."
"Diem, Yon. Jangan ngomong dulu."
Bau itu datang. Bau tanah basah yang bercampur bau bangkai, bau yang sudah terlalu sering kucium seumur hidup ini.
Ibu tidak bergerak sedikit pun.
Setelah entah berapa lama, angin itu berhenti mendadak, seperti diputus. Bau itu hilang. Suara burung yang tadi nyaring pun tidak terdengar lagi.
Ibu bangkit, membersihkan tanah di lututnya, lalu berjalan menghampiri kami dengan wajah datar.
"Ayo pulang."
"Bu, tadi itu apa?"
"Nanti di mobil."
***
Namun, di mobil pun Ibu tidak banyak bicara.
Beliau hanya menyandarkan kepala ke jendela dan memejamkan mata sepanjang jalan. Dion sesekali melirik lewat kaca spion, tapi tak berani bertanya.
Baru ketika kami hampir sampai rumah, Ibu membuka mata.
"Nak."
"Iya, Bu?"
"Anak itu ndak sendirian di sana."
Dadaku langsung sesak.
"Maksudnya gimana, Bu?"
"Ada yang jaga makamnya. Bukan Pak Tejo," jawab beliau, "sesuatu yang ditaruh di situ biar ndak ada yang berani ganggu. Ibu ndak bisa masuk lebih jauh."
"Terus doa Ibu tadi kena apa enggak?"
"Kena. Tapi cuma di pinggir."
Kami turun dari mobil dengan perasaan yang sama sekali tidak lebih ringan daripada waktu berangkat tadi. Dion pamit setelah memastikan kami masuk rumah, dan sebelum menghidupkan mesin, ia menurunkan kaca jendela.
"Mbak."
"Ya?"
"Yang bongkar kuburan itu manusia, `kan?"
"Iya."
"Berarti ada orang yang bisa kita cari."
Anak itu pergi, dan aku berdiri cukup lama di halaman sambil memandangi jalan yang sudah kosong.
Malamnya, kuceritakan semuanya pada Mas Arif lewat telepon karena ia masih di kantor pusat. Reaksinya sudah bisa kutebak, tapi kali ini ia tidak membentak.
"Dek, hati-hati," ucapnya, "orang yang berani bongkar kuburan itu artinya udah gak mikir dosa lagi. Kalau kuburan aja berani, apalagi rumah orang."
"Iya, Mas."
"Dan satu lagi. Jangan sekali-kali kamu ke sana malem-malem."
"Iya, Mas. Janji."
Kalimat itu terasa mudah diucapkan malam itu, ketika semuanya masih terang dan aku masih punya waktu untuk berpikir jernih.