Sanjaya sudah diberi banyak bekal oleh para tabib untuk bermain semalaman. Tubuhnya segar bugar setelah meminum ramuan cair yang cukup pahit.
"Untuk stamina, Yang Mulia," kata tabibnya ketika Sanjaya tidak mau menghabiskan mangkuk ramuan itu.
"Yang Mulia akan mendapat kebahagiaan," janji tabib tua yang selalu setia dengannya dari kecil.
Sanjaya percaya saja dengan tabib yang sudah mumpuni itu. Walau ini pertama kalinya dia mendapat ramuan cinta. Selama ini semua ramuan untuk kekuatan pikiran dan fisik. Semua demi kelangsungan kerajaannya yang disegani oleh banyak kerajaan lain.
"Yang Mulia sekarang sudah punya istri, harus bertambah ramuannya, tidak hanya pintar tapi juga romantis," kata tabibnya lagi. Sanjaya hanya mengangguk.
Terus terang para tabibnya khawatir karena Sanjaya tidak pernah menyentuh perempuan. Dalam pikirannya hanya kekuasaan dan kehebatan kerajaannya. Banyak perempuan cantik yang selalu menggodanya tapi dia melirik saja pun tidak.
Ratu Gayatri sekali lagi dianggap beruntung karena akhirnya Raja Sanjaya memilihnya. satu pemikiran raja itu, dia akan bisa mengembangkan kerajaannya di daerah selatan tempat ayah Ratu Gayatri berkuasa.
Sanjaya juga percaya dengan penilaian patih dan para mentrinya bahwa Gayatri tidak hanya bertubuh molek tapi juga berotak cerdas. Kerajaan Sanjayakarta tidak akan rugi. Yah, untung dan rugi selalu menjadi pertimbangan raja itu.
Dia menemui Gayatri yang sudah sendirian, ditinggal oleh para dayang-dayang yang sedari tadi melirik mencuri pandang untuk melihat ketampanan rajanya.
Baju Gayatri masih lengkap tapi sudah memakai baju tidur tipis. Di belakang ratunya ada lampu yang membantu mengungkap lekuk tubuh wanita di hadapannya ini.
"Kamu masih perawan, kan?" tanya Sanjaya tidak sopan. Dia kikuk karena baru pertama kalinya berada dalam satu kamar berdua saja dengan perempuan.
"Raja menyinggung hati saya," kata Gayatri berani. Dia memang tidak takut apapun kecuali ulat dan cacing.
"Panggil aku Sanjaya," katanya sekali dengan geram.
"Baik, Sanjaya, jangan bilang begitu, ayo minta maaf, saya tersinggung," rajuk Gayatri.
"Raja tidak pernah minta maaf, tapi aku merasa bersalah," kata Sanjaya.
"Kalau Raja tidak pernah minta maaf, Ratu juga dong?" kata Gayatri semakin memberanikan diri.
Sanjaya dengan mudahnya sepakat. Dia tidak tidak terlalu ambil pusing dengan gengsi yang penting kekuasaannya terjaga dan dia pada posisi aman.
"Lalu kita mau apa sekarang?" tanya Gayatri sambil mendekati rajanya.
Sanjaya menengadah ke atas membaui sesuatu yang berbeda. Kewanitaan. Tiba-tiba tubuhnya memanas, ramuan dari tabib mulai bekerja. Dia menggeram lalu memegang kedua lengan Gayatri.
"Ayo, kita bermain," desis Sanjaya.
Gayatri yang sudah belajar bermain cinta dengan dayang-dayangnya di kerajaannya merasa semua itu tidak berguna karena tanpa dia melakukan apapun Sanjaya sudah mulai menyerangnya. Dia simpan ilmu cinta itu untuk lain kali. Sekarang dia ingin menikmati keberuntungannya.
Sanjaya masih perjaka. Dia tidak mau mengakui itu kalau tidak ditanya ratunya. Dia hanya belajar menyentuh wanita setahun lalu dengan petunjuk ibunya tapi itu hanya teori karena mereka merasa jengah satu sama lain. Kemudian tidak berapa lama Ibu Suri atau ibunya meninggal. Sanjaya harus berjuang sendirian. Gayatri juga di kerajaan yang asing ini.
Tapi raja muda itu tahu ada tali di gaun tidur gadis itu. Itu tali yang akan menyibakkan semuanya.
Dia tarik tali itu dengan sekali hentakan. Kemudian gaun tipis itu melayang turun, membuka semua yang tadi tertutup. Tubuh halus Gayatri yang keemasan dan berbau harum. Gadis itu memekik tertahan.
Gayatri melihat ada gundukan yang mulai muncul di tubuh bagian bawah rajanya. Dia senang ternyata rajanya pria tulen. Tidak hanya tampan dan pintar serta kaya tapi juga pria beneran.
Sanjaya membopong gadisnya ke peraduan yang luas. Dia ingat membawa satu kotak kecil yang dibekali oleh tabibnya. Dia buka kotak itu.
"Itu apa, Sanjaya?" bisik Gayatri yang sampai saat ini belum disentuh kewanitaannya oleh suaminya.
"Jel, pelumas untuk lubang mahkota kamu," kata Sanjaya. Dia buka dan mengambil satu usapan dan tangan satunya membuka kedua kaki Gayatri. "Supaya mulus, lancar, tidak sakit."
Sanjaya dengan yakin menaruh cairan itu ke lubang kewanitaan Gayatri yang masih kering. Perempuan itu hanya menatap bingung. Ilmu cairan ini belum pernah diketahuinya. Dia menunggu dengan penasaran. Usapan perlahan jemari Sanjaya sangat dinikmatinya. Tapi itu tidak lama ketika semua sudah terkena pelumas itu.
Kemudian dilihatnya Sanjaya membuka jubah kerajaannya dan senjatanya segera terlihat menggantung siap menusuknya.
Benar saja, Sanjaya mengarahkan senjata pejantannya langsung ke lubang mahkota Gayatri. Awalnya dengan pelan. Ketika Gayatri tidak protes, dia mulai menusuknya dengan keras. Gayatri memekik kesakitan.
"Sakit?" geram Sanjaya karena nafsu yang tidak terkira.
"Tidak," kata Gayatri dengan gengsi. Dia kesakitan tapi ada sepercik kenikmatan yang ingin dia pertahankan.
Dengan jawaban itu, Sanjaya semakin menusukkan simbol kejantanannya. Keluar masuk yang menyakitkan bagi Gayatri tapi ratu itu menahan diri.
Sanjaya mengakui belum pernah mendapatkan kenikmatan tiada tara seperti malam ini dengan masuk ke lubang Gayatri. Mereka menjadi satu yang nikmat. Tarikan kedua masih tertahan. Tapi tidak dengan tarikan keempat dan kelima.
Kepalanya terasa mau pecah karena dorongan ledakan di senjatanya.
Kemudian dia berteriak karena sudah tidak bisa mengatur senjata yang menusuk Gayatri itu. Meledaklah cairan hangat di dalam rahim Gayatri. Perempuan itu juga menjerit karena kehangatan yang tiba-tiba dan dorongan yang sangat kuat.
Sanjaya lalu terjatuh kelelahan. Gayatri juga seperti pingsan karena baru kali ini dia mengeluarkan energi luar biasa untuk menahan diri.
Keduanya tertidur setelah senjata Sanjaya terlepas dengan sendirinya. Gayatri sempat bangun untuk menyelimuti tubuh sempurna suaminya dan tubuhnya sendiri.
tempat tidur yang berantakan dan penuh dengan cairan tidak dipedulikannya. Ada sepercik darah yang mungkin luka di lubangnya karena tadinya masih kering, yang di dalam.
"Pria ini baru kali ini melakukannya," batin Gayatri. Tapi dia tersenyum. Keperawanannya direnggut oleh seorang perjaka.
Dengan pemikiran seperti ini, Gayatri terlelap sampai pagi.
Pagi harinya, ratu itu tercenung karena hanya tinggal sendirian di peraduan besar itu. Dayang-dayang membangunkannya dengan membuka tirai-tirai kamar.
"Sanjaya, eh Raja di mana?" tanyanya. Dia merasa kehilangan.
"Yang Mulia sudah bangun dini hari tadi lalu pergi ke puri utama, Ratu," jawab dayangnya dengan tertawa kecil. Dayang itu senang karena dipanggil raja tampan itu untuk meninggalkan pesan pada ratunya.
"Yang Mulia berpesan, nanti malam Yang Mulia akan datang lagi," kata dayang itu lagi.
Gayatri tersenyum. Baiklah, dia raja, banyak pekerjaan. Lalu pekerjaanku apa? Memuaskan raja tentunya dan punya anak.
"Siapkan air hangat untuk mandi, kita mempersiapkan diri untuk nanti malam," kata Gayatri yang segera dilakukan oleh dayang-dayangnya.
Tapi ternyata Gayatri tidak bisa bangun dengan kaki yang nyaman. Dia tidak tahu, kelakuan brutal suaminya semalam membuat otot-ototnya kaget. Kakinya kram dan butuh waktu lama untuk bisa berdiri.
Akhirnya para dayang mencari ramuan dari tabib supaya ratunya bisa siap melayani raja malam nanti.
Gayatri lalu berendam dalam ramuan dan air hangat untuk melemaskan otot-otot kakinya.
Dia ingin sempurna dan tidak kesakitan ketika menerima senjata nikmat sang raja malam nanti.