Ketika Gayatri sudah hampir tertidur karena kelelahan menunggu, Sanjaya muncul tiba-tiba dan semua dayang pergi menjauhi kamar peraduan sang ratu. Tinggal mereka berdua lagi malam ini.
Gayatri lebih siap hari ini, dia sudah mempersiapkan kelenturan tubuhnya. Wewangian kulitnya dan keharuman rambut hitam legamnya.
Namun sekali lagi tidak ada yang perlu dipersiapkan. Sanjaya menyerangnya lagi dengan buas. Sekali sentak tali di gaun tidur Gayatri ditarik dengan ganas. Tubuh sintal itu muncul dan menggairahkan raja muda yang beringas itu.
Tanpa melepas jubahnya, Sanjaya hanya menyibakkan bagian bawah bajunya yang tidak pakai celana. Senjatanya sudah mencuat ke atas dan siap menembak Gayatri. Gadis itu memekik kaget dengan serangan yang tidak terduga itu.
Tanpa persiapan dan tanpa romantisisme. Tidak ada kemesraan. Serangan beruntun dengan sebelumnya modal kotak kecil Sanjaya dikeluarkan.
Raja itu sekarang dengan fasih mengoleskan krim pelembut dan pelicin lubang masuk ke mahkota Gayatri. Begitu rata, Sanjaya langsung menusukkan dengan penuh semangat.
"Ah," teriak Sanjaya keenakan.
Gayatri awalnya tidak merasakan enak namun setelah gesekan keluar masuk dari batang senjata Sanjaya yang lembut dan semakin beringas, kenikmatan untuk perempuan itu akhirnya datang.
Mereka berdua berlomba menarik napas dan melenguh. Tapi Sanjaya masih sama seperti malam sebelumnya. Baru beberapa tarikan dia sudah meledak di dalam.
Keduanya jatuh tertidur lagi. Pagi-pagi benar Sanjaya sudah lenyap kembali ke istananya untuk bekerja sebagai raja.
Gayatri bangun dengan kenangan semalam yang lebih indah karena dia sudah mulai merasakan kenikmatan walau sebentar.
"Wah, segera nanti kita akan mendapatkan putra mahkota, Ratu," kata dayang yang masuk pertama kali ke kamarnya untuk membuka tirai-tirai besar.
"Kenapa begitu, Dayang?" tanya Gayatri tidak mengerti.
"Yang Mulia sangat menyukai Sang Ratu, setiap malam akan ke sini, menemani Sang Ratu tidur," kata dayang itu lagi. Gayatri tersenyum kecil, dia merasa senang karena malam nanti akan merasakan kenikmatan lagi.
Dia tidak peduli putra mahkota. Dia ingin kenikmatan yang baru dua kali ini dia rasakan.
Para dayang di puri Gayatri itu juga senang karena bisa menikmati wajah raja muda yang tampan setiap malam dan pagi. Walaupun mereka tidak tinggal di puri itu, mereka bisa melihat raja masuk ke gapura puri. Salah satu dari mereka pasti dipanggil untuk pamit dan memberikan pesan kepada ratu yang masih tidur.
Malam kedua berlanjut ke malam ketiga, keempat dan akhirnya ketujuh. Semua dengan kecepatan ledakan yang sama dari senjata Sanjaya. Gayatri sudah hapal. Strategi serangan selalu sama.
Tali baju ditarik, jubah tanpa dilepas. Senjata mencuat langsung usap dan oles pelicin dan pelumas. Sekali tusuk, dua tusuk dan tak sampai lima tusuk, meledaklah Sanjaya di perut hangat Gayatri.
Semakin hari Gayatri semakin bisa menikmati kenikmatan gesekan yang tadinya terasa perih menyakitkan. Semakin hari dia bisa membuat goyangan yang semakin nikmat untuknya sendiri.
Bahkan ketika dia bergoyang sedikit, Sanjaya malah lebih cepat keluar. Kadang Gayatri kecewa tapi dia tidak mau mengungkapkan perasaannya di depan raja yang dikaguminya.
Dia heran, mengapa raja tidak segera menyesuaikan diri dengan kebiasaannya. Dia berharap raja akan bisa semakin bertahan bermain dengannya, semakin lama. Tapi malah tidak semua selalu sama setiap hari.
Gayatri sangat tahu bahwa raja tidak punya perasaan cinta apapun padanya. Dia juga, hanya melayani sebagai kewajiban. Sebagai istri dan ratu yang meneruskan keturunan raja.
"Gayatri, malam ini malam terakhir kita," kata raja setelah terengah-engah selesai menembakkan calon keturunannya ke rahim Gayatri.
"Mengapa, Sanjaya? Apakah aku akan diceraikan?" tanya Gayatri dengan pertanyaan aneh.
Sanjaya tertawa mendengar ucapan Gayatri. Dia tidak sempat bicara lebih jauh karena segera terlelap kelelahan, kepayahan menyerang perempuan itu.
Gayatri tidak kecewa tapi cemas dengan ucapan rajanya.
Pagi-pagi benar, raja seperti biasa sudah meninggalkannya. Ada yang terasa beda pagi itu. Ratu itu merasa kosong. Peraduannya terasa sepi dan dingin.
"Yang Mulia meninggalkan pesann apa, Dayang?" tanya Gayatri pada dayang yang pertama masuk ke kamarnya. Seperti biasa dayang itu membuka tirai-tirai tebal yang menutupi jendela kaca yang lebar.
"Saya tidak bertemu Yang Mulia, Ratu," kata dayang itu langsung beranjak pergi keluar dari kamar.
Gayatri teringat dayang tua yang pertama kali menemuinya. Menyambutnya di puri tersebut.
Setelah selesai mandi, Gayatri minta dayang tua itu untuk menghadapnya.
"Adakah pesan dari Yang Mulia, Dayang?" kata Gayatri dengan pertanyaan yang sama.
"Tidak ada, Ratu, tumben pagi ini Yang Mulia langsung bergegas ke istana pusat. Namun akan saya cari kabar," kata dayang itu yang lalu beringsut pergi.
Sampai tengah hari masih belum ada kabar dari dayang maupun dari Sanjaya. Kecewa, Gayatri menghabiskan waktu seharian untuk tidur. Dia kelelahan jiwanya.
Sesuai kata-kata Sanjaya yang bilang tidak akan datang malam ini, Gayatri tidak mempersiapkan apapun pada tubuhnya.
Setelah lelah tidur dan berbaring, Gayatri menghabiskan sore harinya dengan berjalan-jalan di luar puri yang belum pernah dilakukannya karena sibuk mempersiapkan diri seharian untuk rajanya.
Di sekeliling puri itu banyak dayang-dayang berlalu lalang. Semua menghormatinya dan menundukkan kepala bila berpapasan dengannya. Ada dua dayang yang selalu mendampinginya. Satu dayang tua dan satu dayang paling muda.
Dayang tua menjelaskan bahwa para dayang tinggal di samping puri. Ada ratusan di puri ini dan ratusan lainnya di puri istana pusat. Totalnya ada ribuan di istana kerajaan. Semua bergantian bekerja sehingga puri terawat bagus dan raja dan ratu terawat kebutuhannya.
"Dayang itu perempuan semua?" tanya Gayatri ketika dia melihat beberapa pemuda dengan warna baju kecoklatan yang sama dengan dayang-dayang perempuan.
"Oh, ada yang laki-laki tapi namanya kasim, karena mereka sudah dikebiri, tidak bisa membuat hamil perempuan, Yang Mulia," kata dayang tua. Gayatri kaget.
"Mengapa begitu?" dia heran karena di kerajaan ayahnya tidak ada yang demikian.
"Supaya dayang-dayang perempuan di sini tidak hamil, Yang Mulia," kata dayang tua. "Nanti akan bahaya kalau ribuan dayang hamil karena ada dayang laki-laki."
Dayang muda tertawa geli tapi langsung ditegur oleh dayang tua.
Esok paginya baru ada kabar dari istana pusat bahwa Raja Sanjaya pergi ke ujung kerajaan karena ada bencana alam yang merusak benteng dan beberapa desa di ujung utara.
"Mengapa Raja pergi ke sana? Dia bisa saja menyuruh prajurit dan panglimanya untuk mengawasi, bukan?" tanya Gayatri bingung dan sedih.
"Raja Sanjaya memang demikian, Ratu. Yang Mulia suka pergi ke lapangan dan melihat semua peristiwa sendiri. Ini yang disukai rakyat dan sepertinya setelah menikah pun dia akan melakukan hal yang sama seperti saat ini," kata dayang muda.
"Yang Mulia Ratu Gayatri dimohon untuk mengerti," kata dayang tua menghibur. "Dan lagi, tugas Sang Raja untuk melakukan kewajibannya sebagai suami sudah cukup selama tujuh hari, Ratu."
"Hanya tujuh hari bercinta dengan aku?" tanya Gayatri terkejut setengah mati. Langsung emosinya tercabik-cabik. Dia merasa menyesal dan merindukan kehadiran Sanjaya di peraduannya dan di lubang mahkotanya.
"Iya, Yang Mulia, lalu setelah sebulan, Yang Mulia akan diperiksa oleh tabib istana apakah sudah berhasil menghasilkan keturunan atau belum. Begitu Yang Mulia Sang Ratu belum hamil, Raja Sanjaya akan berkunjung lagi selama tujuh hari. Demikian seterusnya," kata dayang tua.
Gayatri bingung, dia merasa kecewa atau sedih. Semua campur aduk.