Menunggu tiga minggu tanpa Sanjaya terasa menyakitkan buat Gayatri. Di kerajaan ayahnya dulu, dia setiap hari ada kesibukan. Kegiatannya selain berkebun juga berkuda. Dia punya beberapa hewan peliharaan yang menyibukkannya setiap waktu.
"Ada kuda di sini?" tanya Gayatri pada dayang yang ada di dekatnya.
"Apakah Sang Ratu ingin berkuda?" tanya dayang agak heran.
"Ada tidak?" Gayatri kesal.
"Semua yang ada di istana ini milik Sang Ratu. Kuda jelas ada, tapi apakah Sang Ratu ingin berkuda?" tanya dayang itu lagi.
"Kenapa? Tidak boleh?" Gayatri kesal karena tidak segera mendapatkan jawaban yang diinginkannya.
"Begini, Sang Ratu. Karena kewajiban setelah pernikahan adalah memberikan keturunan, Sang Ratu tidak boleh berkuda dulu. Baru boleh setelah melahirkan. Kita masih menunggu jawaban Tabib beberapa minggu lagi," kata dayang tua dengan sabar.
"Oh, baiklah," Gayatri langsung paham efek berkuda buat rahimnya. "Bawa aku ke kandang kuda saja, aku tidak ingin berkuda."
Sampai di kandang kuda, Gayatri disambut oleh beberapa kasim yang bertugas merawat kuda-kuda puri. Mereka para pemuda yang tangkas dan terampil tapi tidak banyak bicara.
Para dayang lalu meninggalkan Gayatri di kandang kuda karena sudah disambut oleh para kasim.
"Tunjukkan padaku kuda terbaik di kandang ini," perintah Gayatri pada kasim yang ada di dekatnya.
Tiga orang kasim mendampingi ratu itu dan mengantarnya ke kandang terujung. Ada satu kuda besar yang berbintik-bintik hitam.
"Inikah yang terbaik?" tanya Gayatri.
"Secara stamina terbaik, Yang Mulia, secara warna bulu memang tergantung selera," kata satu kasim dengan rambut keriting.
"Aku mau kuda polos warna putih, coklat dan hitam dengan stamina yang sama dengan ini. Ada tidak?" tanya ratu itu lagi.
Kasim itu menoleh pada kasim lain yang kelihatannya jauh lebih senior.
Kasim senior itu yang menjawab ratu.
"Ada tapi di istana pusat, Yang Mulia. Akan kami atur pengirimannya hari ini, besok pagi mereka akan tiba," jawab kasim itu.
"Jadi yang ada di puriku bukan yang terbaik?" Gayatri kesal.
"Tetap yang terbaik, Ratu, namun selera warna bulu akan menyesuaikan Ratu," jelas kasim itu.
Gayatri paham dan minta kuda bintik itu untuk dikeluarkan.
Seharian dia berada di kandang kuda mengobrol dengan tiga kasim itu tentang perawatan kuda. terungkap bahwa ratu mereka sangat piawai dalam pengetahuan tentang kuda. Para kasim menjadi penasaran bagaimana penampilan ratu mereka bila berkuda.
"Tunggu aku setahun lagi," kata Gayatri. Para kasim itu paham. Mereka harus menunggu Gayatri melahirkan dulu baru boleh naik kuda.
Hari-hari Gayatri menjadi lebih baik kian hari. Terutama ketika ketiga kuda itu datang keesokan harinya. Setiap hari setelah sarapan, dia menghabiskan waktu di kandang kuda.
Tapi setelah satu minggu, ratu itu menjadi bosan. Apalagi dia tidak boleh berkuda. Menyisir surai dan badan kuda menjadi tidak menarik lagi. Dia butuh pengalihan perhatian.
Sanjaya masih berada di benteng. Tugas dan kewajiban dia sebagai raja lebih banyak di luar peraduannya dengan ratu.
Para dayang mencoba mencari tahu ke dayang di kerajaan ayah Gayatri. Mereka menemukan banyak kegiatan yang aman dilakukan oleh ratunya, juga pantas sebagai ratu. Yaitu berkebun.
"Yang Mulia, tanaman di sini sangat berbeda dengan di belahan asal kerajaan Yang Mulia. Apakah ingin melihat-lihat?" ajak dayang tua.
Jadilah kegiatan mengurusi kuda bergantian dengan pergi ke taman. Sang Ratu kembali membuktikan bakatnya di dunia bunga. Dia mampu menyelamatkan tumbuhan yang hampir mati. Dia mampu membuat tanaman yang tidak pernah berbunga, dalam seminggu saja sudah keluar pucuk bunga yang banyak. Tangannya sangat sakti untuk hewan dan tumbuhan.
Para penghuni puri semakin suka dan sayang dengan ratu mereka. Tidak percuma Raja Sanjaya, raja paling tampan, paling pintar, paling bijak dan paling tangguh mereka mempersunting ratu yang cantik, berbudi lembut dan bertangan dingin dengan hewan dan tanaman.
Mereka yakin, kerajaan ini akan semakin sejahtera karena ada limpahan kesaktian ahli penguasa dan perawat hewan dan tanaman yang tinggal bersama mereka.
Sebulan setelah pesta pernikahan raja dan ratu pun tiba. Semua bekas-bekas pesta sudah dibersihkan dari alun-alun dan halaman istana. Kehidupan kembali seperti biasa.
Yang tidak biasa adalah kunjungan para tabib di puri Gayatri.
"Di mana Sang Ratu," kata tabib kepala pada dayang-dayang di depan puri.
"Ada di kandang kuda, Tuan Tabib," kata mereka.
"Ratu di kandang kuda? kenapa kalian biarkan?" tabib tua itu marah.
"Yang Mulia tidak menunggang kuda, Tuan Tabib, hanya merawat saja," kata dayang tua itu.
"Tidak boleh. Sang Ratu harus menjaga kesehatannya. Bagaimana kalau banyak bibit penyakit di kandang kuda?" teriak tabib itu.
Para dayang tergopoh-gopoh berlari ke kandang kuda untuk menjemput Sang Ratu. Mereka sebenarnya tidak setuju dengan pendapat para tabib karena kandang kuda adalah sumber kebahagiaan ratunya. Tapi tabib dianggap paling mengerti tentang penyakit, mereka menurut saja.
Gayatri segera membersihkan diri di peraduannya. Tiga tabib wanita masuk untuk memeriksa tubuhnya. Semua berharap Gayatri sudah berbadan dua.
"Pagi hari besok baru bisa kami beri kabar, Yang Mulia," kata tabib wanita itu.
"Sementara ini, mohon Yang Mulia menjaga diri dari penyakit. makan yang sehat dan jangan melakukan hal-hal yang berhubungan dengan hewan dan tanah," kata tabib satunya.
Gayatri serasa ingin menjerit ketika mendengar larangan itu. Semua kebahagiaannya direnggut hanya gara-gara dia wajib hamil memberikan keturunan.
Namun dia sadar, menikah dengan raja adalah penting dan memberi keturunan sama pentingnya.
Gayatri memilih menghabiskan waktu dengan mengasah otaknya. Berenang dan bermain catur bersama dayang-dayang.
"Apakah aku tidak bisa punya teman?" suatu kali Gayatri bertanya kepada para dayangnya.
"Kami teman Yang Mulia," kata dayangnya bingung.
"Kalian bukan teman, kalian selalu mengalah bila bertanding dengan aku," kata Gayatri. Para dayang itu tersenyum mengakui.
Dayang tua mengatur Gayatri untuk mendapat kunjungan dari para saudara raja. Ratunya tidak punya ibu dan mertua untuk dikunjungi, maka dia yang mendapat kunjungan dari orang lain.
Saat menjamu tamunya, tiga tabib itu datang memberikan kabar.
"Ijinkan kami pamit, Sang Ratu," kata sepupu-sepupu raja yang bertamu.
"Tidak perlu, saya tidak ingin sendirian mendapat kabar dari tabib," kata Gayatri.
Di ruang tengah itu, didampingi tiga sepupu, tiga dayang, Gayatri menghadapi tiga tabib wanita yang membawa daun lontar untuk dibuka. Semua yang tertulis itu maklumat hasil pemeriksaan kemarin.
"Dengan ini kami bertiga memberitahukan bahwa Yang Mulia Sang Ratu Gayatri Sanjayakarta telah mengandung, berbadan dua. Kami menyampaikan kebahagiaan seluruh rakyat Kerajaan Sanjayakarta," kata tabib tertua.
Kemudian terdengar suara-suara lega dan senang di ruangan itu. Gayatri tercenung karena tidak bisa membayangkan apa artinya. Yang jelas dia telah lolos di ujian tersulit.
"Terima kasih," ucap Gayatri. Lalu dia memberi tanda bahwa dia senang.
Tepuk tangan meriah bergaung. Para dayang segera mempersiapkan pesta syukur di puri itu.