Gayatri tidak memerlukan persiapan apapun. Semua sudah dilakukan oleh dayang-dayangnya untuk semua persiapan pesta. Walau kehamilannya sebuah berita bagus, Raja Sanjaya tetap tidak bisa datang. Dia hanya mengirimkan hadiah-hadiah.
Hadiah itu berupa tujuh ekor kuda terbaik di kerajaan dan satu perbukitan di belakang Puri Gayatri.
Namun setelah pesta usai dan Puri sepi. Gayatri menyadari apa yang dia butuhkan saat ini. Memadu kasih dengan Sanjaya. Mahkota berkedut sejak sore hari setelah dia mandi. Dia kecanduan bercinta.
"Kamu bilang kasim-kasim itu sudah dikebiri?" tanya Gayatri pada salah satu dayang senior.
"Benar, Ratu," kata dayang tersebut tanpa berani berpikiran macam-macam.
"Mereka tetap punya burung itu, kan?" tanya Gayatri penasaran.
"Iya, Ratu, yang dipotong hanya urat yang mengeluarkan benih hamil," dayang itu tidak tahu menahu tentang s****a atau sejenisnya.
Gayatri mempunyai ide dari rasa penasarannya. Dia minta dipanggilkan kasim-kasim yang masih muda, seumuran dengan Sanjaya. Alasannya untuk menghias dekor Puri dan kamarnya. Tidak ada yang curiga.
Ada lima kasim dengan tinggi yang hampir sama, masuk ke ruang tamu Gayatri.
"Kalian punya tugas apa selama ini?" tanya Ratu itu.
"Saya mengurus kuda, Ratu."
"Saya di kebun."
"Saya di pembangunan belakang puri."
"Saya memperbaiki loteng atas."
"Saya mengawasi keamanan puri."
Semua pekerjaan membutuhkan stamina dan tubuh yang kuat. Semua sehat.
"Aku ingin memeriksa kesehatan kalian, satu per satu. Masuk ke kamarku urut dari yang paling kiri."
Kemudian kasim-kasim itu berbaris dan saling menunggu. Yang pertama masuk ke kamar Gayatri adalah kasim keamanan.
Gayatri hanya sendirian di kamarnya. Semua dayang-dayangnya dia suruh pergi dari dalam puri. Dia tidak mau semua kegiatannya diketahui dayang yang suka menggosip.
"Kamu wajib merahasiakan apapun yang terjadi di ruangan ini," kata Ratu Cantik itu.
Kasim Keamanan itu berdebar karena baru pertama kalinya bertemu dengan Ratu yang dikabarkan sangat cantik dan seksi. Suaranya pun ternyata sangat merdu. Ketika melewati depannya, tubuh Ratu itu menguar bau wangi seorang Ratu.
"Baik, Ratu, apapun akan saya simpan," Kasim itu memang tidak mau menceritakan keberuntungannya berdua sekamar dengan Ratu Seksi.
"Sekarang lepas semua bajumu," perintah Gayatri dari kursi di pojok kamarnya. Kasim itu terlihat kaget dan bemetaran.
"Iya, semua baju kamu, aku ingin melihat kualitas tubuh kamu."
Kasim itu tidak bisa seketika melepas bajunya karena terlalu grogi. Mata Gayatri menatap apapun yang dia lakukan.
Gayatri mengagumi otot-otot kekar di bahu dan punggung kasim itu. Sanjaya masih malah kekar. Kulit kasim itu agak gelap yang menunjukkan maskulin lebih. Turun ke bawah, dia melihat senjata kecil. Semua normal.
"Kamu sudah dikebiri?"
"S-sudah, Ratu."
"Itu tidak bisa tegang?"
"M-maaf Ratu, dulu bisa, setelah dikebiri, saya belum pernah merasakan gairah."
"Kalau pagi bagaimana?"
"Tegang sedikit, Ratu."
"Baik, pakai lagi bajumu dan panggil yang lain," perintah Gayatri. Dia semakin penasaran dengan tubuh dan senjata kasim-kasim yang lain.
Ternyata ukuran senjata mereka tidaklah sama. Semua kecil dan tidak tegang. Gayatri penasaran dengan nafsu mereka. Apakah ada?
Hari berikutnya, Gayatri meminta kelima kasim datang dan masuk ke kamarnya. Masing-masing diberi kain untuk menutup mata mereka. Semua berdiri dengan jarak yang cukup sehingga tidak saling menyentuh.
Gayatri punya gagasan lain untuk memeriksa keampuhan senjata yang dikebiri.
Setelah semua menutup mata-mata mereka, Gayatri memeriksa apakah mereka bisa melihat satu sama lain. Ternyata tidak. Semua mata tertutup rapat.
"Selain kalian tidak boleh melihat, kalian juga harus tidak boleh bersuara, kalian harus merahasiakan apapun yang terjadi," pesan Gayatri.
Gayatri mulai menyentuh kasim pertama. Dia buka bajunya, tubuh kasim itu bergetar kaget tapi tetap diam. Lalu celananya, sampai dia telanjang. Senjata kasim itu masih kecil. Gayatri mengambil cairan di botol yang sudah dia siapkan. Dia elus senjata itu. Kasim terkesiap tapi menahan diri. Hanya satu elusan.
Gayatri melucuti satu demi satu kasim sampai kelimanya telanjang dan mendapat satu kali elusan di senjatanya.
Kasim ketiga punya senjata terbesar ketiga menegang padahal ketika lemas, senjatanya terkecil. Gayatri tersenyum. Ternyata kelima kasim bisa menegang senjatanya dalam satu elusan walaupun mereka sudah dikebiri, hanya ukurannya berbeda.
Satu demi satu baju dan celana dipakaikan lagi oleh Gayatri. Dia tidak keberatan melakukan itu karena dia sedang rindu bau laki-laki, siapapun itu, tidak selalu Raja Sanjaya.
Dia minta semua kasim kembali keluar. Gayatri sudah punya rencana untuk keesokan harinya.