“Non Raya.. Permisi.” suara ketukan pintu terdengar dari luar.
“Masuk saja, tidak dikunci.”
Seorang wanita muda berpakaian sederhana, tersenyum menghampiriku yang sedang menyusui anakku di sofa single yang menghadap ke taman. Matanya berbinar melihat wajah cantik bayiku yang sedang menyedot s**u formula dari botol.
“Dedeknya sudah bangun ya?” tanyanya sambil mengelus lembut pipi bayiku. Aku mengangguk.
“Biar Bi Tinah yang mandikan. Non Raya bisa sarapan dulu. Mas Dion sudah menunggu di bawah.”
“Nggak apa-apa bi, biar saya saja. Bi Tinah pasti repot.”
“Ndak non, bibi diminta mas Dion untuk membantu non Raya.” katanya.
Perempuan itu keluar kamar, tak lama kemudian dia masuk sambil mendorong tempat tidur bayi berwarna pink. Aku bisa melihat di dalam sana terdapat banyak pakaian dan perlengkapan bayi.
“Loh itu punya siapa bi?” tanyaku heran, mataku mengikuti gerak bi Tinah yang meletakan benda itu di sisi tempat tidur.
“Ini punya dedek bayi non, mas Dion yang membelikannya... Mas Dion memang baik pada siapapun.” senyum bi Tinah semringah.
Aku terdiam. Sejak bertemu semalam, meski awalnya aku takut tapi setelah kami berbicara, aku memang merasa Dion adalah orang yang baik. Tapi, semua ini terasa terlalu cepat. Aku tetap harus berhati-hati, karena belum mengenal dia sebaik itu.
“Apalagi sama non Raya, perempuan yang sudah lama ditunggu-tunggu. Jadi ndak perlu heran.” lanjut bi Tinah.
“Ditunggu? Maksudnya?” aku bingung, tidak mengerti maksud dari perkataan bi Tinah.
“Bi, Dion bilang apa saja tentang saya?” tanyaku penasaran. Bi Tinah tersenyum misterius.
“Mas Dion ndak pernah cerita apa-apa sama saya, lah wong saya cuma pembantu non. Tapi Dia punya foto Non di kamarnya, saya beberapa kali melihat mas Dion berbicara sama foto itu.”
“Foto?” tanyaku curiga.
“Eh.. apa hanya mirip non Raya saja ya.” bi Tinah gugup, menghindari tatapanku.
Hatiku berdebar kencang. Fotoku? Dari mana dia dapat? Siapa sebenarnya Dion? Sejuta pertanyaan berkecamuk di benakku. Aku semakin penasaran dengan pria yang satu ini.
“Non Raya, ditunggu mas Dion untuk sarapan.”
Baru aku ingin bicara, mbok Yum, wanita yang semalam mengurus anakku datang mengejutkan.
“Tinah, jangan ngobrol terus cepat dedek bayinya dimandikan. Nanti airnya keburu dingin.”
Bi Tinah tersenyum kikuk seperti tertangkap basah oleh orang yang dighibahi. Setelah aku menyerahkan bayiku, dia membawanya ke kamar mandi. Sementara aku mengikuti mbok Yum yang mengantarku ke ruang makan. Jantungku berdebar hebat, ketika melihat sosok Dion yang sudah memakai setelan jas duduk di ujung meja. Dia tersenyum ramah, mata bulatnya berbinar.
Cahaya pagi menembus jendela, menerangi wajah tampan Dion yang tampak tenang. Namun, di balik ketenangan itu, aku merasakan ada sesuatu yang disembunyikan.
“Terima kasih.” ucapku pelan, ketika dia menarik kursi untukku.
"Selamat pagi.”
"Selamat pagi."
“Raya. Bagimana? Kamu sudah lebih baik?”
Aku hanya bisa mengangguk canggung.
"Terima kasih atas semua bantuanmu, pak Dion," ucapku.
"Sama-sama, Raya. Aku senang bisa membantu. Panggil aku Dion saja." Dion tersenyum tipis.
Kami terdiam sejenak saat mbok Yum menyajikan makanan ke piring kami masing-masing.
"Dion, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanyaku, setelah mbok Yum pergi.
Dion mengangguk, "Tentu saja."
"Siapa sebenarnya kamu? Kenapa kamu begitu baik padaku? Apa benar kita pernah saling mengenal?" aku membombardirnya pertanyaan karena rasa penasaran yang kian membuncah.
Wajah Dion beruba tegang, dia menghentikan kunyahan makanannya. Dia meneguk air putih, lalu matanya beralih ke ponsel yang tergeletak di atas meja. Dengan cepat, ia meraih ponsel itu dan mengetikkan pesan atau apapun lah itu. Aku mengerutkan kening, merasa ada yang disembunyikan oleh Dion. Tatapanku mengikuti setiap gerakannya.
"Dion..." aku memanggilnya, namun Dion seolah tak mendengar.
Tiba-tiba, Bi Tinah datang sambil menggendong bayiku yang sudah bersih dan wangi.
"Dedeknya sudah siap, Non. Gemes sekali, ya?" kata bi Tinah.
Aku menyambut bayiku dengan penuh kasih sayang. Mengelus lembut pipi mungilnya.
"Iya, Bi. Terima kasih."
Dion mengalihkan perhatiannya pada bayiku. "Boleh aku gendong?" tanyanya lembut.
Aku mengangguk. Dion dengan hati-hati menggendongnya. Bayiku tampak tenang di pelukan Dion. Dejavu, suasana ini mengingatkan dengan pernikahanku yang dulu bahagia.
“Siapa namanya?”
Aku terdiam, rasa sesak menghimpit d**a. Sudah seminggu kelahirannya, aku sampai lupa memberinya nama karena hanya fokus pada rasa sakitku selama ini. Ingatan tentang perlakuan kasar Farhan dan keluarganya kembali menghantui.
"Dia belum punya nama. Ayahnya belum memberinya."
Dion menatapku iba, “Maaf Raya, jadi membuatmu sedih. Aku nggak bermaksud apa-apa.”
“Aku nggak menyangka akan mengalami semua ini.”
Dion menarik kursi duduk mendekatiku, lalu menggenggam tanganku dengan lembut. Kehangatan tangannya membuatku tenang. Rasanya sangat aneh, dulu aku selalu marah karena risih disentuh oleh pria manapun selain Farhan.
"Tenanglah, Raya. Aku akan ada untukmu dan anakmu."
Aku menatap Dion dalam-dalam, menemukan ketulusan di dalamnya. Meskipun begitu, rasa curiga di hatiku masih belum sepenuhnya hilang.
“Boleh aku yang memberinya nama?”
Aku mengangguk sambil menyeka air mata yang terus mendesak keluar. Sementara Dion sedang berpikir, sepertinya mencari nama yang pas untuk anakku.
“Uhmm.. Andira.. Andira, bagus nggak?”
“Bagus.” aku tersenyum sambil mengangguk. “Artinya apa?”
“Apa ya? Aku sendiri nggak tahu ha..ha..ha.. Terdengar cantik saja namanya, cocok dengan wajah anakmu.” dia tersenyum menatapku dan Andira bergantian.
“Tapi, harus tahu dulu artinya. Karena nama adalah doa.”
“Coba kita lihat dulu di mbah Google, apa artinya.” jarinya mengetikkan sederet huruf di ponsel. Sementara aku memperhatikan wajahnya, aku merasa tak asing dengan mata Dion. Tapi, sampai detik ini memoriku tak berhasil mengingatnya.
“Andira, artinya rumah. Bayi ini bisa menjadi rumah yang memberimu kehangatan layaknya seperti rumah yang diimpikan. Bagus nggak?” tanyanya dengan wajah semringah.
“Cocok dengan kehidupan kami yang luntang-lantung kayak sekarang.” aku tersenyum getir.
“Kehidupan adalah misteri. Di dalamnya, kita pasti menemukan suka dan duka. Rumah tangga adalah bagian dari misteri itu, sebuah perjalanan yang penuh dengan kejutan dan pembelajaran. Kamu wanita kuat Raya, pasti suatu saat nanti kamu akan bahagia.”
“Bahagia? Aku sendiri ragu, bisa lagi bahagia atau nggak. Karena sumber kebahagiaanku sudah bersama orang lain.” aku menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.
“Maksudnya? Suamimu selingkuh?”
“Dia sudah menikah dengan sahabatnya, di rumah kami kemarin sore. Bertepatan dengan kepulanganku dari rumah sakit, dia mengusirku dan melarang untuk membawa dua anak kami.”
“Apa? Bahkan kalian belum resmi cerai secara hukum.”
Dia terkejut, karena semalam aku tidak menceritakan sedetail ini. Aku ingin menyimpannya rapat-rapat tapi hatiku ingin sekali bercerita. Aku tahu, seharusnya aku tidak menceritakan masalah rumah tangga pada pria asing. Namun, aku butuh tempat bersandar, tidak bisa menyimpan kesedihan sendirian.
“Ya begitulah. Makanya, aku ingin sekali menemukan cara untuk bisa merebut kedua anakku. Aku sudah tidak peduli dengan suami, maksudku mantan suami. Aku khawatir anakku diperlakukan buruk oleh istri barunya, karena wanita itu sifatnya sangat…” aku tak bisa melanjutkan kalimat, tak sanggup membayangkannya.
Dion mengusap lembut rambutku. Posisi kami seperti keluarga kecil bahagia. Dion sebagai suami menimang-nimang anak, sambil menenangkanku yang sedang bersedih.
“Kita cari solusi sama-sama, aku akan selalu di sampingmu.”
Kata-kata Dion semanis senyumannya. Haruskah aku percaya dengan pria misterius ini?