Cahaya lampu menyilaukan saat perlahan aku membuka mata. Aku tersentak ketika menyadari kini tertidur di kamar luas dan tidak memeluk bayiku. Aku tak lagi mencium bau asap knalpot dan debu jalanan, berganti wangi parfum ruangan beraroma bunga lily.
“Apakah aku dikuburan? Katanya di dalam kubur itu gelap, tapi….”
Aku menyentuh kepala yang rasanya ingin pecah. Sebuah waslap basah di kening terasa dingin di telapak tangan. “Tidak, aku belum mati.”
“Syukurlah kamu sudah sadar.” suara bariton seorang pria mengejutkan.
Aku berusaha duduk. Pria dengan mata teduh dan wajah tampan yang terpahat sempurna itu menghampiri dan duduk di sisi tempat tidur, dia menatapku khawatir.
"Tenanglah." ucap Pria itu saat aku menutup seluruh tubuhku dengan selimut, aku takut.
“Anda siapa? Saya di mana?” aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar tidur mewah berdesain modern minimalis ini.
“Saya Dion, kamu di rumah saya, tadi saya menemukanmu pingsan di tengah jalan, syukurlah saya langsung injak rem. Kalau tidak….” pria itu menggantukan ucapannya.
“Seharusnya Anda tabrak saya saja, biarkan saya mati.”
Pria itu terkejut, mata indahnya melebar. “Jadi, kamu tadi mau bunuh diri?”
Aku tercekat, tidak ingin menjawab pertanyaannya. Memilih mengalihkan pembicaraan.
"Di mana anak saya?" tanyaku khawatir, takut kehilangan lagi anakku.
"Anakmu ada di kamar sebelah, sedang diurus oleh asisten rumah tangga. Kamu, kenapa mau bunuh diri?”
“Aku mau anakku, pasti dia kehausan.” Aku enggan menjawab pertanyaannya.
“Dia sedang tidur. Maaf, tadi saya terpaksa memberikan s**u formula. Karena kamu pingsan cukup lama.”
Meskipun wajah dan penampilannya seperti orang baik-baik, tapi aku tidak mau percaya begitu saja. Takutnya dia orang jahat yang biasa melakukan ‘Human Trafficking’. Dengan susah payah aku beringsut melewati tubuhnya lalu mencoba berdiri, kakiku terasa seperti jelly. Dunia di sekelilingku berputar.
"Hati-hati," pria itu cepat-cepat menopang tubuhku. "Kamu masih demam."
"Di mana anak saya?" tanyaku lagi, kali ini dengan nada yang lebih mendesak. "Jangan bohong! Kamu menculiknya, kan?"
Pria itu menggeleng sambil tersenyum, "Tenanglah, aku tidak akan melakukan hal seperti itu, tunggu sini."
Dia keluar kamar sebentar, lalu kembali dengan seorang wanita paruh baya yang menggendong bayi mungilku. Aku menangis saat melihat wajah polosnya, langsung memeluknya erat-erat ingin melindunginya dari segala bahaya.
“Ketika kamu pingsan, syukurlah dia masih kamu peluk jadi dia tidak terbentur aspal.” katanya.
Pikiranku masih saja melayang, mengulang-ulang kejadian pahit sore tadi. Aku masih tak percaya dengan kenyataan ini. Rumah tangga yang dulu begitu harmonis, kini hancur berkeping-keping. Aku yang dulu dipuja dan diratukan, kini dibuang seperti sampah.
“Kenapa menangis? Apa ada yang sakit?” Dion begitu khawatir, dia menyentuh keningku yang masih panas.
“Kita ke rumah sakit ya.”
Aku menggeleng sambil menghapus air mata. “Tidak perlu pak, saya boleh minta makan dan obat pereda demam?”
Meski tidak selera, aku tetap harus makan agar bisa segera membaik dan bisa segera pergi dari sini.
“Ah, sampai lupa. Mbok, tolong bawakan makanannya ke sini ya.” titah Dion.
“Baik mas.”
Wanita paruh baya yang dipanggilnya ‘mbok’ keluar kamar, setelah beberapa menit dia kembali membawa nampan berisi sepiring nasi, lauk dan sup hangat yang masih mengepulkan asap, dia meletakkan di atas nakas.
“Makanlah dulu.” ucap pria itu. Dia tersenyum sambil menuangkan sedikit sup ke piring, lalu hendak menyuapiku.
“Terima kasih pak, saya bisa sendiri.”
“Baik.”
Aroma sup dan lauk yang terlihat menggoda, mampu membangkitkan selera. Karena terlalu lapar, aku melahap habis semua makanan dengan cepat, seperti berhari-hari tak makan. Dion hanya menatapku tak percaya.
“Maaf” gumamku lirih, “aku belum makan sejak siang.”
“Kenapa ?” Suaranya begitu lembut dibalut dengan senyumnya yang manis, kontras sekali dengan kenyataan yang sedang kualami.
“Memangnya kamu dari mana, mau kemana dan kenapa kamu ingin bunuh diri?”
Aku terdiam, tak sanggup menjawab pertanyaannya.
“Saya antar kamu pulang ya, suamimu pasti menunggu.”
Andai saja rumah tanggaku baik-baik saja, pasti tidak bingung pulang ke mana. Tidak… kalau semuanya tidak terjadi tentu aku tidak berada di sini, pasti saat ini aku tidur dalam pelukan mas Farhan.
“Antarkan saja saya ke Terminal pak, saya bisa pulang sendiri. Atau ada masjid di sekitar sini? Biar saya bermalam di sana saja.”
“Kenapa harus ke masjid? Apa kamu…” dia terhenti, matanya menatapku penuh tanya.
“Sa-saya diusir dari rumah dan.. “ aku menangis tak sanggup menceritakan padanya. Kisah hidup yang berubah drastis, rasanya begitu menyesakkan.
Dion mengusap bahuku yang bergetar. Tangisanku pecah sejadi-jadinya. Tanpa disadari aku sudah dalam pelukannya yang hangat, seakan menjadi satu-satunya pelabuhan di tengah badai kesedihan yang menerjang. Ironis bukan? Seharusnya yang memelukku erat saat ini adalah Farhan, bukan pria asing yang baru saja kukenal.
“Meskipun tangisan bukan sebuah jalan keluar tetapi bisa membantu untuk meredakan kesedihan. Menangislah sepuasmu Raya.” ucapnya menenangkan. "Raya, apa alasan kamu diusir dengan membawa bayi seperti ini?"
Tunggu, tahu dari mana dia namaku? Aku melepaskan diri dari dekapannya, menatapnya curiga.
"Dari mana Anda tahu nama saya?"
Dia mengerjap, terdiam beberapa saat.
“Dar- dari… dari KTPmu.. Iya dari KTP. Ma-maaf saya tadi membuka dompetmu.” dia tergagap lalu menghindari tatapanku.
“Tidak apa-apa, terima kasih Anda sudah menolong saya. Sekarang saya mau pamit.”
“Kamu bermalam di sini saja dulu. Besok kita cari solusi dari masalahmu.”
“Terima kasih.” jawabku dengan suara bergetar.
"Pasti dia sedang menikmati malam pertama dengan Shinta," gumamku pelan.
Dion mengerutkan kening. "Kenapa kamu bilang begitu?"
Aku menceritakan semuanya, tentang perceraian mendadak dan operasi pengangkatan rahim.
"Apa? Dia tega melakukan itu padamu?" suaranya meninggi. "Mungkin kamu melakukan kesalahan besar sampai dia menceraikanmu?"
"Apa setiap suami yang menyakiti istri selalu salah istrinya?"
Siapa dia berani-beraninya menghakimi, tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dasar manusia sok tahu!
“Maaf kalau membuatmu tersinggung. Tidak selalu, tetapi bisa saja kan?”
“Kenapa anda menghakimi saya? Jangan-jangan anda teman mas Farhan untuk memata-matai saya kan?”
“Bukan, saya tidak mengenal suamimu. Sekali lagi maaf kalau membuatmu tersinggung. Minumlah obatnya dan istirahat, pasti kamu lelah. Besok kita bicara lagi.”
Dia bangkit dan berjalan ke pintu, lalu berbalik. "Aku harap kamu ingat siapa aku."
Kami beradu pandang, dia menatapku lekat.
“hmm… Lupakan saja. Kalau butuh sesuatu, kamar saya ada di sebarang. Jangan coba bunuh diri lagi, kasihan anakmu.” dia beranjak pergi meninggalkanku yang masih bingung.
Siapa dia? Pria baik hati yang tiba-tiba muncul saat aku berada di titik terendah. Atau... ada sesuatu yang disembunyikan di balik kebaikannya?