Cahaya lampu kamar yang temaram menciptakan suasana hangat dan intim, namun tak mampu mengusir rasa canggung yang menyelimutiku.
Shinta, dengan gaun tidur biru yang lembut membalut tubuh indahnya, berdiri di samping ku. Rambutnya yang panjang terurai bebas, bertiup lembut mengikuti hembusan angin malam yang menerobos celah jendela. Aroma parfum yang khas, campuran bunga melati dan vanilla, menyapa penciuman.
“Farhan, kamu mau menghabiskan malam pertama kita dengan berdiri terus di jendela kaya gitu?” suaranya lembut, namun ada nada kekesalan yang tersirat di dalamnya.
Aku tersenyum kecut. Sejak tadi, mataku terpaku pada butiran hujan yang menari-nari di luar jendela. Suara gemuruhnya seakan menjadi tembok penghalang antara aku dan kenyataan di hadapan. Raya, istriku yang dulu, selalu tidur di sisi kiri ranjang. Kini, tempat itu telah terisi oleh Shinta, sahabat sekaligus istri baruku. Aneh rasanya. Dulu, aku tak pernah membayangkan akan ada di sini, bersama Shinta, dalam suasana yang seharusnya merupakan malam yang paling indah bagi pengantin baru.
Aku jadi teringat malam-malam panas yang aku habiskan bersama Raya. Dia tidak pernah menolak ajakanku. Meskipun dia ngantuk dan lelah dia selalu tahu bagaimana memuaskan biologis suaminya. Bahkan saat malam hari sebelum dia perdarahan, kami melakukan hubungan suami istri.
Shinta memelukku dari belakang, tubuhnya yang hangat dan dadanya yang kenyal menempel sempurna di tubuhku.
“Aku sangat mencintaimu,” bisiknya.
Aku bisa merasakan nafasnya yang hangat berhembus di leherku. Sentuhannya yang lembut membuatku terdiam sejenak. Di dalam hati, aku masih merasa ada yang kurang. Aku membalikkan tubuh, menatap wajahnya yang cantik. Mata sayunya berkilau di bawah cahaya lampu. Bibirnya yang merah merekah membentuk senyuman manis.
“Kau sangat cantik.”
Dia tersenyum semakin lebar. Tangannya perlahan merayap ke dadaku, sentuhannya membuat jantungku berdebar kencang. Sejak dulu, Shinta memang sangat menarik perhatian banyak pria. Namun, bagiku, dia hanyalah seorang sahabat. Sahabat yang kini menjadi istriku. Jemari lentiknya menggoda, bergerak di bawah pusarku. Dia mencium setiap inci wajah, lalu dia mencium bibirku. Aku memejamkan mata, membalas pagutannya dan menikmati sentuhan tangannya, tapi yang terlintas wajah Raya. Di mana dia? Apakah dia baik-baik saja? Tuhan, aku mengkhawatirkannya.
“Farhan, kenapa ciumanmu berhenti?” ucap Shinta dengan nafas terengah-engah, matanya sayu. Sepertinya sudah terbakar gairah.
“Maaf Shin, aku belum bisa. Aku masih memikirkan Raya.”
Tangan lembutnya yang masih melingkar di pinggang kutepis perlahan. Aku butuh ruang, butuh waktu untuk menjernihkan pikiran.
Aku merebahkan tubuh di atas kasur, diikuti olehnya yang memunggungiku. Isak tangisnya pecah dalam keheningan malam. Hatiku menjerit mendengarnya, namun apa daya, aku terbelenggu oleh bayang-bayang masa lalu.
“Maafkan aku Shin, beri aku waktu untuk melupakannya. Kamu tahu kan, kalau aku masih sangat mencintainya.” aku mengusap bahunya yang bergetar.
"Sampai kapan kamu akan terus begitu, Farhan?" suaranya bergetar, penuh kepedihan. "Aku tahu dia cinta pertamamu, tapi akulah istrimu sekarang yang ada di sini. Aku yang selalu setia menemanimu, yang selalu ada untukmu sejak kecil."
Aku menghela napas panjang. "Aku tahu, Shin. Aku sangat menghargai itu. Tapi rasa cinta pada Raya, begitu kuat. Seperti akar yang sudah menggurat dalam jiwaku."
"Kuat? Lebih kuat dari harga dirimu yang sudah dia injak-injak?" tanyanya lagi, nada suaranya meninggi.
Aku terdiam. Kata-katanya seperti tamparan keras di wajahku. Aku memang bodoh, terlalu membiarkan masa lalu menghancurkan masa depanku.
"Aku menikahimu karena aku berharap bisa melupakannya. Karena aku ingin memulai hidup baru bersamamu. Tapi nyatanya, aku masih terjebak dalam lingkaran yang sama."
Shinta terduduk di tepi ranjang, air matanya mengalir deras. "Lalu apa yang harus kulakukan, Farhan? Harus sampai kapan aku menunggu?"
Aku ingin memeluknya, ingin memberinya semua yang dia inginkan. Tapi aku tak bisa berbohong. Aku tak bisa memberikan cinta yang utuh padanya selama hatiku masih terikat pada orang lain.
#
Flashback
Lima hari yang lalu, Shinta datang ke rumah ini dengan membawa berbagai makanan dan keperluan untuk anak-anak. Aku tak merasa heran dengan sikapnya, karena sejak dulu ia selalu baik dan penuh perhatian. Namun, sejak aku menikah, persahabatan kami menjadi sedikit renggang.
Menurut Shinta, aku dan Raya bukanlah pasangan yang sepadan. Beberapa kali aku mempertemukan mereka, tetapi Shinta selalu bersikap dingin. Padahal, Raya begitu ramah meski sering diabaikan. Meski begitu, Raya tidak pernah melarangku untuk tetap berteman dengan Shinta. Dia sadar betul akan perbedaan kasta di antara mereka, dan mungkin itulah yang membuat sikap Shinta seperti itu. Raya juga memahami betapa pentingnya persahabatan, terutama karena aku dan Shinta sudah berteman sejak lama, jauh sebelum aku dan Raya menjalin hubungan.
Ketika Shinta datang ke rumahku, Mama dan Papa menceritakan tentang masalahku dengan Raya. Mereka mengungkapkan lebih setuju jika aku menikahi Shinta daripada dengan Raya, yang menurut mereka hanya berpura-pura baik dan polos. Dalam hati, aku membenarkan ucapan mereka, menyesali keputusan untuk menikahi Raya yang ternyata sangat kejam. Wanita yang kuanggap lugu dan sederhana itu ternyata tega berselingkuh dan melakukan hal menjijikkan hingga melahirkan bayi. Padahal, aku sudah sepenuhnya mempercayainya.
“Kamu harus membalas rasa sakitmu, Farhan,” kata Papa dengan nada penuh emosi.
“Sudah, Pa. Farhan sudah menceraikannya, semua rekening yang dia pegang sudah diblokir. Dia tak bisa lagi berfoya-foya, bahkan Mama yakin dia pasti bingung untuk membayar tagihan rumah sakit yang ratusan juta itu,” jawab Mama dengan nada puas.
“Itu belum cukup. Dia pasti akan mencari cara untuk menggoda Farhan agar mau kembali,” tambah Papa dengan tatapan tajam.
Aku dan Shinta hanya bisa terdiam mendengarkan. Di dalam kepalaku, rasa amarah berkecamuk, ingin meledak setiap kali bayangan pengkhianatan Raya melintas.
“Farhan, jika kamu berpacaran atau menikah lagi, itu baru pembalasan yang setimpal,” saran Papaku dengan senyum tipis di wajahnya.
“Menikah? Tidak, Pa. Aku tidak berniat menikah dalam waktu dekat. Bahkan, aku berpikir untuk menduda seumur hidup,” jawabku tegas.
“Kalau kamu tetap sendiri, nanti Raya pasti akan merayumu lagi dan kamu bisa saja luluh. Ingat harga dirimu, Farhan. Kalau kamu menikah, pikiranmu tidak akan lagi terpaku padanya dan kamu tak akan berniat untuk kembali padanya.”
“Dengan siapa aku harus menikah?” tanyaku setengah mengejek, menertawakan ide gila itu.
“Shinta adalah yang paling cocok untukmu,” jawab Mama tanpa ragu.
Aku menoleh ke arah Shinta yang duduk di sebelahku. Meski dia tertunduk, aku bisa melihat senyum tipis di wajahnya yang mulai merona.
“Tidak mungkin, Pa. Aku tidak ingin menyakiti Shinta dan menjadikannya sebagai pelampiasan, sementara aku masih belum bisa melupakan Raya,” ucapku dengan suara tegas.
Shinta mengangkat wajahnya, perlahan menggenggam tanganku dengan lembut.
“Tidak apa-apa, Farhan. Aku rela menjadi pelampiasan sementara waktu. Aku akan membantumu melupakannya. Lagi pula… sejak dulu aku mencintaimu,” ucapnya penuh keyakinan, membuatku terkejut.
Aku tak pernah tahu bahwa Shinta mencintaiku. Selama ini, aku tidak peka terhadap perasaannya, mungkin itulah alasan mengapa dia tidak pernah bisa akur dengan Raya. Perasaan bersalah menyeruak di hatiku.
“Tidak, Shinta. Aku menyayangimu sebagai sahabat. Jika aku menikahimu hanya untuk membalas dendam, itu sama saja aku menyakitimu,” ucapku penuh keraguan.
“Farhan, tidak apa-apa. Kita akan bersama-sama mengobati lukamu,” balas Shinta dengan senyum tulus, membuatku tertegun.
Betapa bodohnya aku selama ini tertipu oleh topeng Raya. Shinta, yang selama ini aku anggap dekat dengan pergaulan bebas dan sering ke klub, ternyata jauh lebih baik daripada Raya.
“Papa setuju. Lagi pula, kami dan orang tua Shinta pernah berencana menjodohkan kalian. Selain urusan bisnis, Papa juga melihat Shinta tulus mencintaimu dan cocok menjadi istrimu,” tambah Papa.
Dan begitulah, di saat hatiku masih terluka, aku membuat keputusan yang akan mengubah segalanya.
#
Shinta tertidur lelap tanpa mengenakan sehelai benangpun. Rambut hitamnya terurai di atas bantal. Aku mengelus lembut pipinya, menikmati kehangatan kulitnya. Aku menyelimuti Shinta yang sudah terpejam. Di sampingku ia tampak damai, begitu berbeda dengan pergolakan batinku yang jauh dari tenang. Kami baru selesai melakukan ritual sakral sebuah pernikahan.
Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sebagai suami, tapi yang kurasakan hanyalah penyesalan. Karena, aku bisa menyentuhnya ketika membayangkan wajah Raya. Tidak ingin menyakiti Shinta yang sudah baik dan berkorban, tapi aku juga tidak bisa mengendalikan hatiku.
Aku memutuskan pergi sebentar untuk mencari ketenangan, dan mungkin mencari Raya. Ah.. Raya lagi yang ada di pikiran, aku sangat khawatir dan merindukan Raya. Semoga saja kita bertemu.