“Tidak bisa kan?”
Dengan tangan bergetar, aku merogoh tas untuk mengambil ponsel. Selama beberapa saat mencari foto di galeri, sialnya aku tidak menemukannya.
“Sudahlah Raya, kamu tunjukkan juga percuma, tidak akan merubah segalanya. Farhan sudah lebih dari tiga kali mengucapkan cerai, itu sama saja sudah jatuh talak tiga. Kamu tahu kan apa artinya?” suara ayah mas Farhan menginterupsi.
Benarkah sudah termasuk talak tiga? Itu berarti kami tidak akan pernah bisa rujuk sebelum aku menikah lagi, lalu bercerai setelahnya.
Mas Farhan dan aku sama-sama terdiam, aku lihat matanya berkaca-kaca dan ada keterkejutan juga di wajahnya. Aku menarik nafas dalam-dalam menyusun kekuatan karena tak sanggup menahan ini semua.
“Aku terima cerai mu, tapi aku tidak terima semua tuduhanmu. Aku bisa membuktikan kalau ini darah dagingmu. Terserah jika kamu ingin menikah dengan wanita manapun, aku tidak peduli. Aku akan meninggalkan rumah ini tanpa meminta sedikitpun hartamu, tapi aku akan membawa anak-anak kita.” tegasku, sambil berbalik melangkah pergi.
“Berani kamu menyentuh anakku, kamu akan…”
“Apa? Membunuhku? Silahkan… Kamu pasti akan dipenjara dan kedua anak kita pasti membencimu.” aku berlalu pergi mengabaikan dia yang terus mengekor.
Aku masuk ke dalam, mencari-cari keberadaan Alexa dan Freya yang tidak terlihat sejak tadi.
“Lexa, Freya mama sudah pulang nak.” ucapku dengan nada dibuat riang agar mereka tidak tahu betapa hancur hati ibunya. Aku masuk ke dalam kamar mereka, tapi kosong.
“Mama..” Suara riang Alexa memanggilku.
Alexa dan Freya yang memakai dress cantik berwarna putih, keluar dari ruangan bermain, aku langsung memeluk dan menangis sejadi-jadinya.
“Mama kangen.” aku menciumi mereka bergantian.
“Adik.. ini adik bayi Eca ma?” Alexa tersenyum senang melihat adiknya dalam gendongan.
“Iya nak, ini adik Lexa dan Freya.” betapa sedihnya, hanya dua malaikat kecilku yang menerima kelahiran bayi yang tak berdosa ini.
“Bukan, itu bukan adik kalian.”
Dengan kasar mas Farhan menarik kedua putriku menjauh, sampai mereka berdua meringis kesakitan.
“Mas, kamu boleh menyakitiku tapi jangan sakiti mereka.” bentakku tak terima.
“Justru kelakuanmu yang sudah menyakiti mereka Raya. Pergilah.. Atau aku akan menyeret dan melemparmu keluar?” bentaknya, hingga membuat ketiga anak kami menangis serempak.
Selama ini kami tidak pernah bertengkar hebat, apalagi sampai kami saling membentak. Anak-anak selalu merasakan kelembutan dan curahan kasih sayang tanpa henti, pasti mereka kaget melihat ayahnya yang penuh kasih kini bagai harimau yang siap menerkam.
“Aku nggak akan pergi sebelum kamu menyerahkan mereka.” aku berusaha mencari celah agar bisa meraih kedua tubuh putriku.
Namun, tenagaku tak sebanding dengan mas Farhan. Anak-anak yang menangis, dibawa paksa oleh mertuaku untuk naik ke lantai dua. Alexa dan Freya menangis memanggilku meminta pertolongan. Aku geram melihat anak-anakku diperlakukan kasar. Aku berusaha menerobos tubuh tinggi tegapnya, namun sia-sia.
“Kau tega sekali, Mas! Bagaimana bisa kau memisahkan aku dengan anak-anakku?” teriakku histeris.
Namun, Mas Farhan justru mendorongku dengan kasar. Aku tak menyangka pernikahan yang pernah kucintai berakhir sekejam ini.
Dia menyeretku keluar tanpa mempedulikan aku yang terus meringis kesakitan, dia mendorongku dan menutup pintu rapat-rapat, kembali ke riuhnya pesta pernikahan yang diadakan secara tertutup. Aku terus menggedor pintu secara brutal, berharap ada seseorang yang berbelas kasih untuk membukakan.
Aku sudah tidak peduli lagi dengan pernikahannya, hanya ingin membawa kedua anakku. Apalah arti hidup tanpa dua belahan jiwaku. Biarlah kehilangan suami, asal jangan mereka.
Selama ini aku merawat mereka sendiri tanpa bantuan pengasuh, para ART hanya membantu pekerjaan rumah. Aku mengabdikan diri menjadi Ibu Rumah Tangga, semua kebutuhan anak-anak dan mas Farhan aku yang mengurus. Dengan suka rela aku meninggalkan kehidupan lamaku.
Satu jam menunggu tak menghasilkan apapun, sampai langit yang tadinya cerah berangsur mendung. Seolah alam mengerti apa yang terjadi.
Dengan langkah gontai aku meninggalkan rumah yang menyimpan banyak kenangan indah, namun ditutup dengan memori menyakitkan. Melangkah tanpa tujuan membawa derita dan beban pikiran.
Di perumahan elite ini tentu tidak ada kendaraan umum yang melintas, aku terpaksa berjalan cukup jauh sampai ke jalan raya utama yang banyak transportasi. Langkahku semakin terburu-buru, seolah berusaha kabur dari kenyataan yang terlalu pahit untuk dihadapi. Hujan yang kian deras meresap ke dalam pakaian, seolah turut menangisi luka yang sudah terlalu dalam. Setiap tetesnya terasa seperti ingin menghapus semua kenangan, seolah dunia ini tak lagi menginginkanku di sini.
Dengan tertatih, aku melangkah menuju halaman minimarket, berharap setidaknya bisa berteduh sejenak dari dinginnya malam yang kejam. Bayiku masih tertidur dalam pelukan, tak tahu bahwa ibunya tengah berada di ambang keputusasaan. Aku menatap langit yang kelabu, berharap mungkin saja ada keajaiban yang turun bersama hujan. Ingin rasanya melarikan diri, terbang bersama rintik-rintik yang mengguyur, lenyap dari dunia yang terlalu menyesakkan. Tapi, aku tahu aku harus bertahan. Seorang ibu harus kuat, demi anak-anaknya.
"Kasihan kamu, Nak, harus merasakan penderitaan ini," lirihku, sambil mengusap tubuh kecilnya yang mulai basah dengan handuk kecil dari dalam tas. Untung saja, tas ini anti air, sehingga pakaian kami masih kering.
"Seharusnya kamu beristirahat dengan tenang, tidak terombang-ambing seperti ini. Tuhan, tolonglah kami."
Namun, hujan terus mengguyur tanpa ampun. Malam semakin pekat, dan aku kembali melangkah tanpa tujuan, merasa kehilangan arah. Ingin rasanya meminta tolong, tapi kepada siapa? Sejak aku berpacaran dengan Mas Farhan, aku kehilangan semua teman. Dia terlalu posesif, melarangku pergi dengan siapapun selain dengannya. Selain itu, aku tak ingin rahasia kelam yang kupendam terbongkar.
Dengan uang seadanya, aku menaiki bis, lalu berpindah ke angkutan umum lain, tanpa peduli ke mana kendaraan itu membawaku.
"Nak, maafkan Mama," bisikku pelan, air mata mulai membasahi wajahku. Bis yang aku tumpangi membawa kami ke Terminal Labuan, Banten.
Kini, malam semakin larut. Terminal tampak kosong, hanya beberapa orang yang tersisa. Aku berjalan keluar terminal dan duduk di kursi kayu yang sudah lapuk, sambil merenung, mencoba mencari secercah harapan di tengah kegelapan.
Bayiku mulai rewel, tangisnya memecah sunyi. Aku mencoba memberinya ASI, namun yang keluar hanya beberapa tetes. Tangisnya tak juga berhenti, mungkin karena aku terlalu stres dan hanya makan sedikit tadi pagi. Terpaksa aku memberinya air putih, meski aku tahu itu berbahaya bagi bayi seusianya. Tapi apa lagi yang bisa kulakukan? Aku tak ingin dia mati kehausan.
Jika saja aku memiliki uang, aku pasti sudah menyewa penginapan, membeli makanan, dan s**u formula. Namun, semua simpananku sudah habis untuk membayar tagihan rumah sakit. Mas Farhan memblokir ATM tabungan, aku tahu dia melakukannya dengan sengaja. Dia tak ingin menafkahi anak ini.
"Tuhan, tolonglah, aku tak kuat lagi menghadapi semua ini."
Tangisan bayiku semakin keras, kepalaku berdenyut, dan perutku melilit. Dalam kebingungan dan keputusasaan, hanya satu pikiran yang melintas di benakku.
"Bunuh diri! Mungkin itu jalan terbaik. Hidupku sudah tak ada artinya lagi. Ya, aku ingin mati saja."
Dengan lutut yang gemetar dan pandangan yang semakin kabur, aku berjalan dengan langkah berat menuju tengah jalan raya yang sepi. Sejak tadi, aku memperhatikan kendaraan yang melintas dengan kecepatan tinggi, karena tak ada yang menghalangi mereka di jalan yang sunyi ini.
"Maafkan Mama, Nak, hidup kita akan berakhir di sini."
Aku menatap kosong ke arah cahaya lampu mobil yang semakin mendekat. Napasku terhenti, mataku tertutup rapat, mencoba mempersiapkan diri untuk benturan yang akan datang.
"Satu... Dua... Tiga..." aku menghitung dalam hati, menunggu akhir yang tak terelakkan.
Brugg!