"Raya, sudah sampai." suara lembut Dokter Ardian memecahkan lamunan.
Aku menoleh dengan mata masih berkaca-kaca. "Eh, maaf Dok, saya jadi bengong."
Pandanganku tertuju pada rumah mewah dua lantai yang berdiri kokoh di hadapan kami. Dinding cat putihnya begitu bersih dan berkilau di bawah sinar matahari sore. Tapi di halaman, terparkir mobil-mobil sepertinya milik keluarga besar mas Farhan.
“Sepertinya ada acara di rumahmu, mungkin Farhan buat pesta kejutan untuk menyambut kalian," ujar Dokter Ardian yang ikut memandang rumahku.
Hatiku yang semula sedih seketika berbunga-bunga. Aku mengangguk setuju. Mas Farhan memang selalu pandai membuat kejutan. Aku masih ingat saat ulang tahun pernikahan kami, dia menyewa sebuah villa di tepi pantai dan mengadakan pesta kecil-kecilan hanya untuk kami berdua.
“Ayo segera temui suamimu. Tapi saya nggak bisa menemani karena ada pasien lagi yang menunggu.”
“Oh, iya dok nggak apa-apa. Terima kasih atas tumpangan dan bantuan dokter selama ini. Kalau nggak ada dokter, entahlah saya nggak tahu harus bagaimana.”
“Sama-sama Raya. Semoga hubunganmu dan Farhan selalu bahagia.”
“Aamiin, sekali lagi terima kasih dok.”
“Kalau ada apa-apa hubungi saya ya.” dia berpesan sebelum aku benar-benar turun.
Dengan seulas senyum aku bergegas pergi, melangkah masuk ke halaman rumah yang sangat ku rindukan. Biasanya aku, anak-anak dan mas Farhan bermain lari-larian, tamasya kecil-kecilan di taman depan rumah. Ah.. jadi tidak sabar untuk segera masuk.
Menahan rasa sakit bekas jahitan di perut, aku mempercepat langkah. Hatiku berdebar kencang, membayangkan Mas Farhan sedang berdiri di tengah ruangan, tersenyum lebar sambil menggendong dua anak kami. Aku tak sabar ingin segera memeluk mereka.
Dengan langkah pasti, aku memasuki ruang utama. Suara tawa dan musik mengalun lembut, membungkus rumah dalam suasana hangat. Dekorasi pesta sederhana namun elegan menyambutku. Bunga-bunga putih dan merah muda memenuhi setiap sudut ruangan, menciptakan suasana romantis.
Aku menuju tempat semua orang berkumpul di halaman belakang. Mataku terbelalak. Di hamparan taman hijau tempatku merawat bunga, berdiri sebuah pelaminan kecil bergaya Rustic yang dihiasi bunga-bunga. Mas Farhan berdiri mengenakan setelan jas pengantin berwarna putih, bersama Shinta — sahabatnya, memakai gaun pengantin yang berkilau.
Seketika, dunia terasa berhenti berputar. Rasa sakit menusuk hati, kali ini bukan lagi satu tapi ribuan pisau yang menghujam. Aku tidak menyangka akan melihat pemandangan seperti ini. Aku menggigit bibir bawah, berusaha menahan air mata yang mendesak keluar.
"Raya..." Panggilan lembut Mas Farhan seakan menusuk jantungku.
Aku menatapnya dalam-dalam, berharap menemukan sedikit penyesalan di matanya. Namun, yang kulihat hanyalah kehampaan.
Aku berjalan semakin mendekat, hatiku hancur berkeping-keping. Bayi yang tertidur nyenyak di gendonganku tentu tidak tahu badai yang sedang menerpa kami. Mas Farhan menghampiri, namun belum sempat dia menyentuhku, Ibu Dini sudah lebih dulu menampar keras pipi ini.
"Tidak punya malu, masih berani kamu datang ke sini hah?" hardiknya.
"Siapa yang tidak punya malu? Aku atau anak Mama? Menikah diam-diam sementara istrinya baru saja melahirkan." aku membalas dengan suara bergetar, campuran amarah dan sedih.
Wanita itu terkejut, karena menantu yang biasanya diam menerima semua cacian kini berani melawannya. Aku pengar dan tidak ingin harga diriku terus diinjak. Aku lelah dengan semua ini.
"Beraninya kau, dasar jalang!" teriaknya, sambil mendorongku hingga terjatuh.
Aku meringis, bayiku menangis histeris. Sambil menahan sakit berusaha bangkit dan menenangkannya.
"Bu, sini biar Bi Sumi gendong dedeknya." Bi sumi membantuku bangkit.
"Berani kamu menyentuhnya, kamu akan kehilangan pekerjaan, dan aku pastikan tidak ada yang mau menerimamu bekerja lagi Sumi." ancam ibu Dini.
Tentu wanita yang sudah bekerja di rumahku sejak awal pernikahan kami, beringsut mundur karena takut.
Mas Farhan hanya bisa menatapku dengan tatapan kosong. Shinta menggenggam tangannya erat, seakan ingin memastikan bahwa Mas Farhan tidak akan berubah pikiran. Namun, pria itu melepaskan tangannya.
"Raya..." Mas Farhan menghapus air mataku.
“Farhan, kamu lupa kalau dia bukan lagi istrimu?” ucap Shinta setengah berteriak.
Mas Farhan dengan mata berkaca-kaca menatapku. Jangan ditanya bagaimana suasana di sini, tentu kami menjadi tontonan seru. Semua keluarga mas Farhan yang tidak pernah menyukaiku berbisik-bisik menatapku sinis, mereka mendukung tindakan mas Farhan dan orang tuanya.
Bejat.. Itulah satu kata yang pantas untuk mereka.
“Shinta benar Farhan, kamu sudah menjatuhkan talak, dia bukan lagi siapa-siapa. Jangan percaya dengan air mata buayanya itu, ingat apa yang dilakukan di belakangmu.” ibu Dini menimpali.
“Ingat harga dirimu sebagai laki-laki Farhan, jangan mau diinjak-injak perempuan, lihat saja wajah bayi itu tidak mirip sama sekali dengan kamu dan Raya.” ayah mertua kali ini bersuara.
Aku tergugu. Mas Farhan yang semula menatapku sendu, kini wajahnya mengeras ada kilatan amarah di matanya.
“Raya, pergi kau dari sini.” suara mas Farhan menggelegar.
“Mas, dengarkan aku.” aku terisak.
“Aku sudah menceraikanmu Raya. Kita sudah cerai, aku kecewa padamu. Kamu nggak berarti lagi bagiku.”
“Mas aku mohon dengarkan dulu.” dengan bodohnya aku mengemis padanya, harusnya aku yang marah dan menuntut penjelasan.
“Pergilah Raya. Jangan pernah injakkan kaki ke sini dan menemui anak kita. Aku haramkan kamu untuk menemui mereka.”
“Mas.. Nggak mas.. Nggak.. Sadarlah mas dengan semua ini.”
“Aku melakukan semuanya dengan sadar. Nggak ada harapan lagi kita bersama, kamu bukanlah lagi wanita sempurna, rahimmu sudah nggak ada Raya! Terimalah itu sebagai hukuman karena kamu sudah berselingkuh sampai menghasilkan anak itu.”
“Teganya kamu menuduh tanpa bukti. Aku berani bersumpah, aku nggak pernah selingkuh!!”
“Kurang bukti apa Raya? Anak itu bukanlah anakku, nggak ada kemiripan dengan kita. Wajahnya sangat beda dengan Alexa dan Freya. Sudah pasti dia mirip selingkuhanmu.”
“Plak!!” aku menamparnya.
Kata-katanya seperti pisau yang menusuk hati. Aku berusaha tersenyum pahit menahan hinaan seperti ini.
"Dia mirip dengan Papaku, Mas."
Mas Farhan menatapku tajam. "Bisa kamu tunjukkan hah?" tantangnya.
Aku terdiam, menimbang keputusan. Jika rahasiaku terbongkar pasti mas Farhan semakin marah karena selama ini aku membohonginya.