Farhan
“Kamu mau ke mana Farhan?” tanya mama, ketika aku baru masuk ke dalam mobil.
“Mau jemput Raya ma. Katanya dia keluar rumah sakit hari ini.”
“Bagaimana dengan acara nanti sore? Jangan sampai dia tahu dan membatalkan semuanya. Ingat Farhan, kamu sudah menalaknya. Dia bukan lagi istrimu.”
Kalimat Mama tegas, bagai tamparan keras. Hatiku tak terima dengan kenyataan pahit ini. Benarkah Raya bukan lagi milikku?
Ingatan tentang Raya berkelebat di benakku. Rambut hitamnya, matanya yang indah, senyumnya yang tulus, tawanya yang renyah, dan kebaikan hatinya yang tak pernah luntur. Dia berbeda dari wanita-wanita lain yang pernah kukenal. Sederhana, tulus, dan tak pernah menuntut materi. Aku menyesal telah menjatuhkan talak karena emosi sesaat.
Selama ini semua orang mengira kalau Raya menerimaku karena harta. Tapi, sejak awal kami berkenalan dia tidak pernah sekalipun meminta barang mewah. Setiap kali aku mengajaknya ke mal-mal mewah, dia selalu menolak dengan halus. Dia lebih suka menghabiskan waktu di pasar malam atau pusat perbelanjaan sederhana.
Aku ingat, saat aku memberikan rumah mewah ini atas namanya, dia menolak dengan tegas. "Aku tidak butuh ini, sayang. Aku hanya butuh kamu." Katanya. Bayangkan jika perempuan lain, pasti dengan senang hati menerimanya, mungkin meminta lebih.
“Farhan.” teriakan mama memecahkan lamunanku.
“Batalkan saja ma.”
“Jangan permalukan keluarga!! Ingat harga dirimu Farhan, apa yang sudah dia lakukan padamu.”
Aku terdiam, menatap kosong ke luar jendela. Bayangan Raya terus menghantui. Aku merindukan kehangatan pelukannya, senyumnya yang menenangkan. Aku ingin meminta penjelasan darinya dan memeluknya erat.
“Dia sudah menghianatimu. Jangan bodoh kamu!”
Aku menelan saliva, teringat lagi dengan semua yang sudah Raya lakukan di belakangku. Sebuah kesalahan fatal yang tak bisa ku maafkan bernama ‘Penghianatan’. Seketika hatiku nyeri, bayang-bayang dia berselingkuh dengan pria lain sampai menghasilkan bayi itu. Rasanya sungguh sakit dikhianati dengan wanita yang sangat dicintai.
Aku menyalakan mesin mobil lalu mengendarainya, mengabaikan suara mama yang terus memanggil.
Cahaya matahari siang menyilaukan mata, menyinari setiap sudut ruangan mobil yang sunyi. Namun, kehangatan mentari tak mampu menghangatkan hatiku yang terasa beku. Ingatan pahit tentang pengkhianatan Raya kembali menghantuiku. Sebuah kesalahan yang telah menghancurkan hidupku.
Bayang-bayang wajahnya terus terlintas di pikiran. Wajah cantik yang dulu selalu menenangkan kini berubah menjadi monster mengerikan. Aku teringat senyum manisnya saat mengucapkan janji suci di altar, namun kini senyum itu terasa begitu palsu. Setiap inci tubuhku bergetar hebat, rasa sakit menusuk relung hati.
Aku membayangkan wajah bayi yang bukan darah dagingku. Aku dan Raya berwajah Asia, sedangkan bayi itu bermata biru cerah berambut pirang, yang menjadi bukti nyata pengkhianatan Raya.
Bagaimana bisa seorang istri tega melakukan hal seperti itu? Hatiku hancur berkeping-keping.
Aku menginjak pedal gas sekuat tenaga, membiarkan mobil melaju kencang. Angin menerpa wajahku, namun tak mampu meredakan amarah yang membara di dalam d**a.
"Raya! Bagaimana kau bisa setega ini?"
"Mengapa, Raya? Mengapa kau melakukan ini padaku?"