“Ma, pa.. Tolong jelaskan apa yang terjadi dengan mas Farhan ?”
Ibu Dini tersenyum mengejek, ada kilat kemenangan di matanya.
“Karena kamu nggak punya rahim lagi, nggak bisa memuaskan hasrat seksual Farhan.”
“nggak mungkin, mas Farhan bukan orang seperti itu. Aku sangat mengenalnya.”
“Tahu apa kamu tentang anakku? Aku yang lebih mengenalnya, aku yang melahirkannya. Jangan sok tahu kamu Raya! Sudah saatnya kamu bangun dari mimpi untuk bisa hidup nyaman dengan pria kaya seperti Farhan. Sekarang kamu bukan siapa-siapa lagi untuk anakku. Kamu hanyalah wanita miskin tanpa rahim yang tak berguna!”
Aku memegang d**a yang nyeri. Kata-kata ibu Dini bagaikan belati yang mengiris-iris hati.
“Mohon mengerti. Sekarang kamu sudah tidak memiliki rahim Raya, kamu tidak akan bisa lagi memberikan Farhan anak laki-laki sebagai penerus keluarga kami. Terimalah semua ini, sekarang kamu bukan lagi wanita sempurna. ” ayah mertuaku menimpali, nada bicaranya lembut tetapi berisi hinaan.
“Sejak dulu dia tidak sempurna. Hanya perempuan miskin yang asal-usulnya nggak jelas. Farhan saja yang keras kepala, aku rasa dulu kamu guna-guna Farhan kan sampai dia tergila-gila? Makanya sekarang adalah karma yang harus kamu tanggung.” ibu Dini menimpali.
Aku baru sadar kalau sikap mereka akhir-akhir ini baik, mungkin karena hasil USG menunjukan kalau bayiku laki-laki. Mereka yang biasanya acuh, membuat acara tujuh bulanan dengan meriah, membelikan berbagai perlengkapan bayi laki-laki, dan ruang perawatan ini tadi pagi mereka yang menghiasnya — mengisi pernak-pernik serba biru.
Orang tua mas Farhan juga datang ke rumah sakit setelah mendapat kabar kondisiku, bahkan mereka rela menunggu proses operasi. Padahal, dulu saat hari pernikahan kami dan sampai kelahiran anak kedua, mereka tidak hadir. Sikap mereka seperti semula mungkin karena bayi yang terlahir perempuan. Lagi-lagi aku merasa salah di mata mereka, yang padahal ini semua diluar kendaliku.
“Kenapa mama jahat sekali, menuduhku seperti itu? Aku bersumpah tidak seperti apa yang mama pikirkan. Aku tulus mencintainya.”
“Sudahlah Raya. Kamu tidak ada artinya lagi bagi Farhan. Tunggu saja surat panggilan pengadilan, bila perlu jangan datang sidang agar prosesnya semakin cepat.”
Aku hanya bisa menangis. Berbicara apapun juga percuma, karena cuma kebencian yang ada dalam hati mereka.
Setelah puas menyakiti dan menghina, mereka pergi. Ruangan bernuansa ceria yang seharusnya diisi dengan tawa bahagia, malah menjadi saksi kesedihanku. Aku menangis sekencang-kencangnya hingga membuat bayi dalam pelukanku terbangun. Suara tangisan kami berlomba menggema di ruangan ini.
Siapa yang tidak sakit hati? baru saja melahirkan, kehilangan rahim lalu ditalak cerai. Sudah jatuh tertimpa tangga, bahkan langit-langit ikut runtuh menimpaku. Sakit? Tentu, kalian bayangkan saja bagaimana rasanya.
#
Seminggu di rumah sakit. Tidak ada satu suara familiar pun yang menyapa. Setiap hari, aku habiskan dengan menatap langit-langit dan dinding kamar yang monoton. Dulu, kamar ini selalu riuh dengan suara tawa dan canda Mas Farhan, namun kini hanya suara jam dan televisi yang menemani.
Aku coba menghubungi Mas Farhan, berharap seulas sapaan hangat darinya. Namun, telepon dan chat tidak dibalas satu pun.
Bi Sumi, Bi Inah, dan Bang Mamat yang biasanya sigap membalas pesan, kali ini seolah menghilang ditelan bumi. Aku mulai curiga, apakah mereka baik-baik saja? Atau, jangan-jangan… ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku?
Dokter Ardian dan para perawat yang sudah seperti keluarga, turut memahami kesedihanku. Mereka tahu betapa pentingnya kehadiran seorang suami di samping istri yang baru saja melahirkan. Namun, Mas Farhan yang dulu selalu mendapat pujian dari perawat, karena dia sosok suami yang sempurna. Kini, seolah lenyap.
Aku sangat terpukul. Air s**u yang dulu mengalir deras, kini mengering karena nestapa yang mendera hati. Aku merasa sangat lemah, sangat sendirian. Dalam keputusasaan, pernah hampir bunuh diri dan menghabisi bayi mungilku. Syukurlah, ada perawat yang sigap datang dan menenangkanku.
Sore ini, di Lobby rumah sakit aku menunggu kedatangan mas Farhan yang sangat kuharapkan.
"Raya, saya antar saja ya," tawar Dokter Ardian.
"Terima kasih atas tawarannya. Saya di sini saja, mungkin Mas Farhan sedang dalam perjalanan."
Padahal aku tidak tahu mas Farhan menjemput atau tidak. Aku ingin sekali pulang ke pelukan suami dan anak-anak.
Dokter Ardian menatapku iba. "Jika nanti dia kesini nggak menemukan kamu, pasti dia tahu ke mana kamu pulang."
Kata-kata Dokter Ardian menyadarkanku. Sudah menunggu berjam-jam, tapi tak ada tanda-tanda kehadiran Mas Farhan. Akhirnya, aku mengikuti saran Dokter Ardian.
Selama perjalanan, aku tak henti-hentinya menangis. Sakit fisik akibat persalinan tak seberapa dibandingkan sakit di hati. Aku ingin berteriak melampiaskan semua kesedihan ini. Berharap semua ini hanya mimpi.