Di tengah lamunan mencari jawaban atas sikap suamiku, pintu kamar terbuka. Dokter Ardian yang selama ini menjadi penolongku, datang bersama perawat membawa malaikat kecil kami.
“Selamat sore, Raya.” sapa Dokter Ardian ramah.
Aku hanya mengangguk lemah, menghapus air yang tergenang di pelupuk mata.
“Letakkan di sisi saya saja, Sus,” pintaku saat melihat putri kecilku yang akan diletakkan di dalam boks bayi.
Perawat itu menuruti. Aku tersenyum bahagia saat menatap wajah cantik putri kami, berusaha melupakan sejenak rasa sakit yang masih menghantui.
“Sus, bisa minta tolong ubah posisi bagian atas ranjangnya?” pintaku lagi.
“Baik,” jawab suster sigap.
“Terima kasih, Sus.”
“Bagaimana, ada keluhan?” tanya dokter Ardian lembut.
Aku menggeleng pelan, tak mampu menjawab.
“Sepertinya baik-baik saja, Dok,” jawab Mas Farhan datar, suaranya terdengar dingin. Tiba-tiba saja dia berada di sisi ku tepat di seberang dokter Ardian.
Dokter Ardian menatap kami bergantian, seolah membaca yang terjadi di antara kami.
“Yang sabar ya, Raya. Saya mengerti kalau rahim adalah hal yang sangat berharga bagi seorang wanita. Jangan terus sedih, lihatlah anugerah yang telah Tuhan berikan padamu.”
Air mataku tumpah mendengar ucapan Dokter Ardian. Pria lansia itu memberikan tisu. Betapa baiknya beliau, seorang dokter yang orang lain saja, lebih mengerti perasaanku daripada suami sendiri.
“Banyak perempuan yang mendambakan seorang anak, tapi tak bisa memilikinya karena rahimnya terpaksa harus diangkat akibat kecelakaan ataupun sakit. Ada juga yang memiliki rahim tapi belum bisa memiliki keturunan. Kamu masih lebih beruntung, Raya. Segera pulih dan fokuslah pada masa depan.”
Aku berusaha mengangguk, tapi hatiku masih terasa sesak. Aku sadar, ini adalah ujian hidup yang harus kujalani. Namun, rasanya begitu berat.
Mas Farhan hanya diam, biasanya dia kritis menanyakan banyak hal karena tidak ingin terjadi apa-apa padaku.
“Jaga istrimu baik-baik, Farhan. Berikan dukungan yang dia butuhkan. Tidak mudah baginya melalui semua ini. Bayangkan jika kau kehilangan kemampuan untuk menjadi seorang ayah, pasti kau akan merasa hancur.”
Dokter Ardian menatap Mas Farhan, mungkin dia merasa perubahan sikapnya.
Mas Farhan hanya mengangguk singkat.
Dokter Ardian beralih padaku menjelaskan berbagai hal terkait pemulihan, setelah itu dia pamit pergi meninggalkan kami bertiga. Mas Farhan kembali ke posisinya semula.
Dulu, dia selalu sigap mengurus bayi kami agar aku bisa beristirahat cukup, sekarang dia bahkan tak menggubris tangisan putri kecil kami. Cukup sulit untuk menenangkannya karena pergerakanku masih terbatas, beberapa saat bayiku kembali tenang saat aku memberikan ASI. Aku mengabaikan tatapan tajam Mas Farhan dari seberang sana yang terasa menusuk.
“Farhan.” mertuaku datang tiba-tiba, sedikit membuat gaduh di ruangan yang besar ini.
“Ma.” sapaku sambil tersenyum.
Ibu mertuaku melirik sinis, lalu duduk di sisi mas Farhan, begitu juga dengan ayah mertua. Aku tak lagi aneh dengan sikap mereka, karena memang mereka tidak pernah setuju dengan pernikahan kami. Sikapnya berubah baik ketika aku hamil anak ketiga.
“Farhan, kamu sudah bilang ke istrimu yang tidak berguna itu?” tanya ibu mertua dengan nada tinggi.
“Belum, nanti saja ma.” jawab mas Farhan pelan. Raut wajahnya sangat kacau — seperti ada beban berat.
“Nanti ataupun sekarang apa bedanya ? Kamu harus cepat ambil tindakan.”
“Ma.. tolong..”
“Bilang apa mas? Tindakan apa? Cepat katakan.” tanyaku tegas memotong ucapan mas Farhan.
Dia bangkit menghampiriku. Air wajahnya tidak sedingin tadi, aku menemukan suami yang seperti biasanya. Wajah tampannya menggambarkan kesedihan, bimbang dan marah yang berpadu. Tapi ketika dia mengusap pipiku dengan lembut dan berbisik “maaf,” aku merasa seperti terjatuh dari tebing yang curam. Maaf untuk apa? Firasatku berkata buruk.
“Apa mas ? Kamu mau ada meeting ke luar negeri ? Aku nggak apa-apa kok. Kamu nggak usah khawatir, ada bi Sumi dan bi Inah yang membantu.”
Aku menebak dan mencoba mencari alasan yang masuk akal dari sikapnya yang berubah drastis. Tapi dia hanya menatapku penuh kesedihan.
“Nggak usah kepedean kamu Raya.” sahut ibu mertuaku, yang sudah berdiri di sisi anaknya.
Ibu Dini, ibunya Farhan, selalu tahu bagaimana cara menggali luka dan gemar merendahkanku, terus mendesak anak tunggalnya. “Kamu yang bilang atau mama yang ambil tindakan?”
Aku mengernyitkan dahi, bingung.
“Raya… ak-aku.. Ceraikan kamu.” kata mas Farhan.
Deg!!
Duniaku terasa runtuh. Kata-katanya seperti ribuan pisau yang menusuk jantung menembus hingga ke punggung, ah rasanya lebih sakit dari itu.
"Mas..." bisikku pelan, berharap aku salah mendengar.
"Aku ceraikan kamu Raya. Kamu bukanlah lagi istriku, kita cerai."
“Kamu bercanda kan, mas?”
Dia hanya menatapku dengan mata yang memerah, aku berharap ini hanya lelucon.
“Farhan tidak bercanda Raya, talak bukan untuk main-main..”
Pak Toni, ayah mertuaku, yang sebelumnya diam, kini ikut campur dalam drama ini. Aku merasa seperti boneka yang ditarik-tarik oleh takdir dan keputusan orang lain.
“Papa benar, aku serius. Kita cerai Raya. Tidak ada yang bisa diperbaiki, aku kecewa padamu!”
Aku menangis, semakin mengerat pelukan pada bayiku yang tak tahu kalau dunia kami telah berubah di hari pertama dia lahir ke dunia.
“Kecewa karena aku tidak memiliki rahim lagi mas ? Kalau memang itu penyebabnya, ini semua bukan kuasaku. Kalian yang selalu memaksaku hamil.”
Mas Farhan mematung, membuang wajahnya.
“Mas.” suaraku kini meninggi menuntut penjelasan.
Dia pergi begitu saja, aku hanya bisa menangis menatap punggungnya sampai menghilang di balik pintu.
(Ada Give Away untuk teman-teman pembaca, baca di kolom catatan ya)