Rupanya Monika sudah mengenaliku sejak awal. Dengan sorot mata yang jernih, dia menatapku sambil menyunggingkan senyum penuh arti.
"Aku Monika. Tadi malam kita bertemu di rumah sakit."
"Ya."
Aku menjawab asal sambil merapikan riasan dan rambut di depan cermin.
Monika tiba-tiba mengajakku mengobrol dan aku tidak tahu apa tujuannya.
Namun, Kiara memang benar. Dia sama sekali bukan wanita yang sederhana.
Setelah Vincent menikah denganku, dia mengirim Monika ke luar negeri untuk melanjutkan studi.
Monika bukan hanya menerima kenyataan bahwa pria yang dicintainya telah meninggalkannya, tetapi sekarang dia malah bisa kembali ke Indonesia tanpa rasa bersalah dan menjadi orang ketiga dalam rumah tangga kami.
Aku benar-benar kagum pada kebesaran hati dan sikap tidak tahu malunya.
Aku meliriknya sekilas, lalu berbalik hendak keluar.
"Aku sedang hamil anak Vincent."
Suara Monika terdengar penuh kemenangan dari belakangku.
Aku langsung menoleh.
Topeng polos di wajahnya sudah lama menghilang. Dia menatapku dengan senyum menyeramkan.
"Agnes, selama dua tahun terakhir kamu sudah menikmati posisi sebagai Nyonya Winata. Kali ini, aku pulang untuk mengambil kembali semua yang seharusnya menjadi milikku."
Aku tertegun.
Namun, semakin kupikirkan, semua ini malah terasa ironis sekaligus menggelikan.
Monika baru pulang ke Indonesia tadi malam.
Kalau dia benar-benar mengandung anak Vincent, berarti selama dua tahun terakhir mereka sama sekali tidak pernah putus hubungan.
Terakhir kali Vincent pergi ke luar negeri untuk urusan pekerjaan adalah dua bulan yang lalu.
Tanpa kusangka, aku dan Monika mengandung anak Vincent pada saat yang bersamaan.
Aku tidak dapat menahan tawa.
"Dari nada bicara Nona Monika, sepertinya Anda masih belum menyadari kalau diri Anda adalah orang ketiga. Anak yang Anda kandung itu adalah anak di luar nikah."
"Siapa yang kamu bilang sebagai orang ketiga?"
Monika yang semula tenang langsung murka. Dia menunjukku sambil membentak.
"Agnes, kalau dulu kamu tidak ikut campur, wanita yang dinikahi Vincent pasti aku! Seharusnya, akulah Nyonya Winata! Kamulah yang merebut semua milikku!"
"Apa kamu benar-benar berpikir Vincent akan menikahimu kalau aku tidak ada?"
Aku menatapnya tenang, lalu langsung menusuk titik paling sensitif dalam hidupnya.
"Menurutmu, Kakek Albert akan mengizinkan putri seorang pembantu masuk ke Keluarga Winata? Apalagi, pembantu itu dipenjara karena kasus pencurian."
Karena mencintai Vincent, aku pernah menyelidiki semua hal tentang Monika.
Ibu Monika bernama Rita.
Selama dua puluh tahun, Rita bekerja sebagai pembantu yang merawat Vincent.
Ibu Vincent meninggal saat dia masih kecil.
Oleh karena itu, Vincent sangat bergantung kepada Rita dan secara alami juga sangat peduli kepada Monika.
Mereka tumbuh bersama sejak kecil.
Lima tahun yang lalu, karena keserakahannya, Rita mencuri perhiasan milik Keluarga Winata.
Setelah ditangkap, dia dijatuhi hukuman penjara selama sepuluh tahun dan hingga kini masih menjalani masa hukumannya.
Monika jelas tidak menyangka aku akan mengungkit masa lalu keluarganya.
Matanya langsung memerah karena marah.
"Agnes, dasar perempuan murahan!"
Sambil berteriak, dia mengangkat tangan dan menamparku.
Tentu saja, aku tidak mungkin menerima tamparannya dalam diam.
Aku refleks memiringkan tubuh untuk menghindar.
Namun, Monika masih belum menyerah. Dia langsung mengubah arah dan menerjang ke arah perutku.
Aku tidak punya ruang untuk menghindar.
Naluri pertamaku adalah melindungi anak di dalam kandunganku.
Tanpa sempat berpikir, aku mengerahkan seluruh tenagaku dan mendorong Monika menjauh.
"Ah ...!"
Monika menjerit.
Tubuhnya terjatuh ke lantai. Dia memegangi perutnya sambil merintih kesakitan.
"Anakku ... anakku …."
Tangis Monika menggema memenuhi ruangan.
Tak lama kemudian, darah merah segar mulai mengalir dari bawah tubuhnya.
Dua rekan kerja wanita yang mendengar keributan buru-buru masuk untuk melihat keadaan.
Begitu melihat pemandangan itu, keduanya langsung menjerit ketakutan.
Tidak lama kemudian, Vincent datang setelah mendengar kabar tersebut.
Wajahnya tampak sangat muram.
Dia segera berjongkok dan mengangkat Monika ke dalam pelukannya.
"Vincent, selamatkan anak kita ...."
Wajah Monika sepucat kertas. Butiran keringat memenuhi dahinya saat dia memohon dengan suara yang menyedihkan.
"Jangan takut. Ambulans akan segera datang."
Vincent menenangkannya dengan suara pelan.
Aku bisa mendengar kepanikan yang tersembunyi dalam nada bicaranya.
Tiba-tiba, Vincent mengangkat kepala dan menatapku tajam.
Sorot matanya dipenuhi amarah, seolah ingin mengakhiri hidupku.
Aku berdiri mematung.
Aku membuka mulut untuk memberi penjelasan.
Namun, apa yang bisa kukatakan?
Vincent tidak akan mempercayaiku.
Ambulans segera tiba.
Vincent ikut pergi ke rumah sakit bersama Monika.
Dalam sekejap, aku menjadi bahan tertawaan seluruh karyawan di perusahaan.
Aku tidak ingin terus menerima tatapan aneh dari orang-orang di sekitarku, jadi aku memutuskan pulang lebih awal.
Setibanya di rumah, Ayah langsung memanggilku ke ruang kerja.
"Agnes, perusahaan sedang mengalami masalah. Bisakah kamu meminjamkan uang sebesar enam miliar?”
Wajah Ayah tampak dipenuhi kecemasan.
"Aku tidak punya uang sebanyak itu." balasku sambil tersenyum pahit.
Dulu, seluruh mahar yang diberikan Keluarga Winata telah dipakai untuk menutupi kesulitan keuangan keluarga.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kamu bicara dengan Vincent?"
Ayah mondar-mandir di ruang kerja sambil menjelaskan bahwa terjadi kecelakaan di salah satu proyek yang sedang dibangun perusahaan. Ada korban meninggal dunia, dan sekarang kami sangat membutuhkan uang untuk memberikan ganti rugi.
"Agnes, Ayah mohon. Tolong pikirkan cara apa pun untuk membantu keluarga melewati masa sulit ini."
Karena Ayah sudah memohon seperti itu, aku hanya bisa mengangguk.
Aku tidak berani menemui Vincent.
Dalam keadaan seperti sekarang, mustahil dia bersedia meminjamkan uang kepadaku.
Setelah berpikir sejenak, aku memutuskan pergi ke kediaman utama Keluarga Winata.
Aku berniat meminta bantuan Kakek Albert.
Beliau selalu memperlakukanku dengan baik. Sebagai cucu menantu, mungkin aku masih punya kesempatan untuk meminjam uang darinya.
***
Di bawah arahan Pak Simon, aku berjalan memasuki ruang tamu vila.
Di atas sofa kulit hitam yang luas, sosok Vincent dengan kemeja putih langsung menarik perhatian.
Aku sedikit terkejut melihatnya.
Awalnya, aku mengira dia akan tinggal di rumah sakit untuk menemani Monika.
"Agnes, kenapa baru datang?"
Kakek Albert tersenyum hangat. Tatapannya penuh kasih sayang.
"Aku sudah mendengar dari Vincent. Kalian mulai merencanakan punya anak. Bagus sekali! Tapi, badanmu terlalu kurus. Mulai sekarang kamu harus makan lebih banyak."
Aku tertegun.
Vincent memberi tahu Kakek kalau kami sedang merencanakan punya anak?
Lalu, bagaimana dia bisa tahu aku akan datang menemui Kakek?
Aku menoleh ke arah Vincent dengan bingung.
Tatapan matanya yang dalam sedang tertuju kepadaku.
Ekspresinya begitu sulit ditebak sehingga aku sama sekali tidak memahami maksudnya.
"Siapkan makan malam."
Vincent memberi perintah kepada para pelayan dengan nada datar.
Makan malam itu sangat mewah.
Demi menambah giziku, Kakek Albert memaksaku menghabiskan dua mangkuk sup ayam ginseng. Setelah makan, beliau juga mengajakku mengobrol cukup lama.
Beberapa kali, aku ingin membicarakan soal pinjaman uang.
Namun, aku sama sekali tidak menemukan kesempatan.
"Kakek, sudah malam. Kami pamit dulu."
Baru lewat pukul delapan malam, Vincent mengajakku pulang.
Dia menyetir, sementara aku duduk di kursi penumpang.
Suasana di dalam mobil terasa sedingin bongkahan es. Dadaku terasa sesak sehingga sulit bernapas.
Akhirnya, aku memecah keheningan.
"Bagaimana keadaan Monika ...?"
Aku memang membela diri.
Aku benar-benar tidak pernah berniat menyakiti anaknya.
Begitu kata-kata itu keluar, Vincent langsung menginjak rem mendadak.
Mobil berhenti tepat di tengah jalan.
Tubuhku terdorong ke depan karena benturan.
Aku terkejut dan refleks melindungi perutku dengan kedua tangan.
Pada saat yang bersamaan, sebuah tangan besar tiba-tiba mencengkeram kerah bajuku dan membantingku kembali ke sandaran kursi.
Wajah Vincent begitu muram.
Tatapan mata hitamnya dipenuhi amarah yang bergolak.
"Kamu tidak pantas menyebut namanya!"
Suara dinginnya terdengar begitu berbahaya.
Jantungku bergetar hebat dan telingaku berdenging.
Setelah merasakan sesak dan pedih yang luar biasa, aku malah merasa diriku begitu rendah hingga tampak menggelikan.
Aku menatapnya sambil tersenyum sinis.
"Kalau dia memang sepenting itu bagimu, bukankah seharusnya sekarang kamu berada di rumah sakit menemaninya? Kamu buru-buru pulang ke kediaman utama karena takut aku mengadu kepada Kakek, ya? Vincent, sepertinya Monika juga tidak sepenting itu di hatimu."
Kata-kata provokatifku ternyata tidak berhasil membuatnya semakin marah.
Entah aku memang telah menebak isi hatinya, atau sejak awal Vincent hanyalah pria berdarah dingin yang tidak memiliki perasaan.
Dia tidak memberikan tanggapan.
Dia hanya duduk tegak, lalu kembali melajukan mobil.
Tak lama kemudian, mobil memasuki halaman vila.
Vincent turun tanpa menoleh sedikit pun.
Aku ragu sejenak, tetapi aku tetap mengikutinya masuk ke dalam rumah.
Ruangan itu masih dipenuhi aroma pengharum yang sangat kukenal.
Tata letak dan seluruh perabotnya juga sama seperti sebelum aku pergi.
Tidak ada sedikit pun jejak yang menunjukkan Monika pernah datang ke sini.
Aku diam-diam menghibur diri.
Mungkin, Vincent memang belum pernah membawa Monika pulang untuk menginap.
Saat aku masih tenggelam dalam lamunan, Vincent sudah selesai mandi.
Dia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi putih yang terpasang longgar di tubuhnya.
Otot-otot dadanya tampak kokoh.
Setiap garis tubuhnya seolah dipahat dengan sempurna, memancarkan daya tarik yang sulit diabaikan.
Mungkin karena menyadari tatapanku, dia sedikit mengernyit.
"Apa kamu perlu kumandikan?"