Dalam sekejap, aku langsung mengerti maksud Vincent.
Aku menurut dan masuk ke kamar mandi.
Saat keluar dengan tubuh terbalut handuk, lampu kamar sudah dimatikan. Suasana di sekeliling terasa sangat gelap.
Tiba-tiba, sebuah lengan yang kuat menarikku sehingga tubuhku terjatuh ke atas ranjang.
Vincent menyipitkan mata. Dia membungkuk dan menatapku cukup lama sebelum akhirnya membuka suara.
"Bukankah kamu ingin bercerai? Lakukan seperti yang kukatakan, maka aku akan memenuhi keinginanmu."
"Apa yang harus aku lakukan?"
Aku langsung teringat percakapannya dengan Kakek Albert saat makan malam tadi.
Anak?
Vincent ingin aku melahirkan seorang anak untuknya!
"Anak Monika ...?"
Suaraku bergetar saat tiba-tiba teringat genangan darah yang kulihat di bawah tubuh Monika ketika dia terjatuh.
"Itu utangmu kepadanya."
Vincent menatapku tanpa emosi.
"Jadi, kamu harus menggantinya. Selama kita punya anak, Keluarga Winata tidak akan mempersulitmu maupun Keluarga Gunawan di kemudian hari. Agnes, ini kesepakatan yang sangat menguntungkan bagimu."
Betapa santainya dia mengucapkan semua itu.
Anak Monika tidak dapat diselamatkan dan Vincent ingin menjadikan anakku sebagai penggantinya.
Jantungku seakan berhenti berdetak sesaat.
Dadaku terasa sesak dan nyeri.
Akhirnya, pertanyaan yang selama ini kusimpan dalam hati mendapatkan jawaban.
Untuk pertama kalinya, aku malah merasa beruntung karena Vincent tidak mengetahui kalau aku sedang mengandung.
"Apa kamu pikir aku akan menyetujui permintaanmu yang tidak tahu malu itu?"
Tubuhku gemetar karena marah.
Aku berusaha sekuat tenaga mendorongnya menjauh.
‘Nak, Ibu tidak akan pernah membiarkanmu menjadi sebuah alat untuk ditukar dengan apa pun.’ batinku.
Vincent mencibir.
"Agnes, jangan terlalu menganggap penting dirimu sendiri, dan jangan pernah bermimpi bisa menantangku."
Handuk yang membalut tubuhku ditarik begitu saja, lalu Vincent mulai menciumku.
Aku dapat merasakan suhu tubuhnya perlahan meningkat.
Selama dua tahun terakhir, aku sudah terbiasa menghadapi cara Vincent melampiaskan amarahnya.
Aku mencintai Vincent.
Sebrutal apa pun dia memperlakukanku, tubuhku tetap bereaksi secara naluriah.
Sungguh menggelikan.
Saat seseorang mencintai orang yang tidak pernah mencintainya, dia memang bisa merendahkan dirinya hingga sedemikian rupa.
Namun, kali ini aku harus memikirkan anak yang ada dalam kandunganku.
"Bisa lebih pelan?"
Aku memohon dengan hati-hati.
Gerakannya sempat terhenti.
Dia menatapku dengan senyum yang sulit diartikan, sementara sorot matanya semakin dalam.
Vincent hanya mendengus pelan.
Setelah itu, dia tetap bersikap kasar.
Aku menggigit bibir menahan rasa sakit, tetapi tidak berani memberi tahu bahwa aku sedang mengandung.
Satu jam kemudian, Vincent bangkit dari ranjang dan mulai mengenakan pakaiannya.
"Sudah malam. Kamu mau ke mana?"
Aku refleks bertanya, padahal sebenarnya sudah mengetahui jawabannya.
Monika baru saja keguguran dan dia masih berada di rumah sakit.
Vincent pasti tidak mungkin tega meninggalkannya sendirian.
Dia pulang bersamaku malam ini, hanya demi menjalankan rencananya agar aku melahirkan anak sebagai pengganti anak Monika.
Vincent mengangkat kelopak matanya.
Tidak ada lagi sedikit pun gairah di sorot matanya.
Yang tersisa hanyalah dingin dan rasa tidak sabar.
"Ke mana aku pergi bukan urusanmu."
Setelah berkata demikian, dia melangkah keluar dari kamar.
Aku berbaring di atas ranjang sambil menertawakan diriku sendiri.
Benar-benar bodoh.
Pernikahanku dengan Vincent hanya tinggal nama.
Di mata orang lain aku memang masih istrinya.
Namun, di mata Vincent, aku adalah wanita yang paling dibencinya.
Aku mengusap perutku dengan lembut menggunakan kedua tangan.
'Nak, untung masih ada kamu yang menemani Ibu.'
Keesokan paginya, aku menerima telepon dari Ibu.
"Agnes, cepat cari cara untuk menyelamatkan ayahmu!"
Suara Ibu dipenuhi isak tangis.
"Karena masalah di proyek itu, ayahmu dibawa polisi. Sekarang keluarga para pekerja datang ke rumah kita untuk menuntut ganti rugi!"
"Bu, jangan panik. Aku akan segera ke sana!"
Aku langsung mengemudi menuju rumah Keluarga Gunawan.
Di depan gerbang vila, belasan orang yang berpakaian seperti buruh bangunan sudah berkumpul.
Mereka membentangkan spanduk merah bertuliskan:
"Nyawa Dibayar Nyawa, Utang Harus Dibayar."
Di bawah pengawalan petugas keamanan kompleks, aku berhasil membawa mobil masuk ke dalam halaman rumah.
Di ruang tamu, Ibu dan Sarah sedang duduk di sofa dengan wajah panik.
"Bu, sebenarnya apa yang terjadi?"
Aku segera menghampiri mereka.
Mata Ibu sudah merah karena menangis.
Dengan suara terbata-bata dia berkata, "Keluarga pekerja yang meninggal itu sengaja mencari masalah. Mereka bukan hanya meminta uang ganti rugi, tapi juga memaksa ayahmu mengenakan pakaian berkabung dan berlutut di depan altar duka almarhum untuk meminta maaf. Ayahmu bertengkar dengan mereka, lalu mereka memanggil polisi dan ayahmu dibawa pergi ...."
"Kak, bukannya Kakak punya uang? Cepat berikan saja supaya mereka pergi, lalu jemput Ayah!"
Sarah mengernyit seolah semua itu adalah urusan yang sangat mudah diselesaikan.
Mendengar perkataannya, Ibu langsung menggenggam tanganku erat.
"Benar! Ayahmu bilang kamu sudah berjanji akan membantu menyelesaikan masalah ini. Agnes, apa kamu sudah membawa uangnya?"
Aku menundukkan pandangan.
"Bu, untuk sementara aku memang belum punya uang sebanyak itu ...."
Aku bahkan belum selesai berbicara ketika Ibu langsung melepaskan tanganku dengan kasar.
"Apa?! Jadi kamu mau membiarkan Ayahmu begitu saja? Agnes, selama ini ayahmu benar-benar menyayangimu dengan sia-sia! Dasar anak tidak tahu balas budi!"
Sambil memarahiku, tangisan Ibu semakin keras.
Sarah buru-buru mengambil tisu untuk menyeka air mata Ibu.
Namun, dia juga tidak lupa menyindirku.
"Kak, jangan lupa asal-usulmu. Meskipun Kakak bukan anak kandung Keluarga Gunawan, Ayah dan Ibu sudah bersusah payah membesarkan Kakak selama lebih dari dua puluh tahun. Uang sebanyak itu memang tidak ada artinya bagi Kakak, kan? Apa Kakak tega melihat Ayah dipenjara?"
Mendengar semua makian Ibu, lalu mengingat bagaimana dulu dia sangat menyayangiku, dadaku terasa begitu sakit.
Aku menahan rasa putus asa yang memenuhi hati.
"Kalian tenang saja. Aku tidak akan membiarkan Ayah dipenjara."
Setelah keluar dari rumah, aku langsung mengemudi menuju Grup Gunawan.
Perusahaan sedang menghadapi kasus yang menyangkut nyawa manusia, sementara pemimpinnya juga sudah ditangkap polisi.
Tidak heran jika seluruh karyawan diliputi kepanikan.
Aku segera menemui bagian hukum dan meminta mereka mencari cara agar Ayah bisa segera dibebaskan dengan jaminan.
Setelah itu, aku pergi ke bagian keuangan dan bertanya kepada Direktur Keuangan.
"Paman Henrik, berapa sisa uang di rekening perusahaan?"
Paman Henrik merupakan salah satu karyawan senior Grup Gunawan.
Dia mengembuskan napas panjang sebelum menjawab, "Nona Agnes, perusahaan sudah kehabisan uang."
Dia menjelaskan bahwa Ayah sangat yakin proyek yang sedang dibangun itu akan berhasil, sehingga seluruh arus kas perusahaan telah diinvestasikan ke dalam proyek tersebut.
Aku seakan disambar petir.
Sambil menelusuri laporan keuangan, kepalaku terasa semakin pening.
"Bagaimana dengan proyek-proyek lainnya? Apa ada cara supaya pembayaran dari klien bisa segera diterima?" tanyaku.
Paman Henrik tiba-tiba teringat sesuatu.
Dia segera mengambil alih keyboard komputer, lalu membuka sebuah dokumen penyelesaian pembayaran.
"Aurora Studio masih menunggak sisa pembayaran sebesar satu miliar. Mereka selalu mencari berbagai alasan untuk menunda pelunasan!"
Satu miliar rupiah.
Kalau uang itu bisa segera diterima, setidaknya kami dapat menenangkan keluarga korban untuk sementara dan memberiku waktu mencari dana tambahan.
Orang yang bertanggung jawab menangani kerja sama dengan Grup Gunawan adalah wakil direktur Aurora Studio bernama Ronald Wibisono.
Aku segera meneleponnya.
Tak lama kemudian, panggilanku diangkat.
"Siapa ini?"
Aku memperkenalkan diri dan langsung menjelaskan tujuanku.
"Pak Ronald, ayah saya sedang mengalami masalah. Kami sedang sangat membutuhkan dana. Saya berharap perusahaan Anda bisa segera melunasi sisa pembayaran sebesar satu miliar.”
Di seberang telepon terdengar suara musik yang sangat bising.
Entah dia benar-benar mendengarkan atau tidak.
Dia bersendawa pelan, lalu berkata dengan suara yang tidak jelas.
"Putrinya Yosef Gunawan? Aku sedang berada di The Crown Club, Ruang VIP nomor 3. Kalau ingin berdiskusi, datang saja ke sini."
Sambungan telepon langsung terputus.
Aku segera mengemudi menuju The Crown Club.
Di Ruang VIP nomor tiga, aku akhirnya bertemu dengan Ronald Wibisono.
Pria bertubuh tambun itu sedang mabuk bersama beberapa pria lain.
Di pelukan mereka masing-masing terdapat wanita-wanita dengan riasan wajah yang tebal, sementara mereka bernyanyi sepuasnya.
Asap rokok memenuhi seluruh ruangan.
Botol-botol minuman kosong berserakan di lantai sehingga membuatku kesulitan melangkah.
"Selamat malam, Pak Ronald. Saya Agnes, yang tadi menelepon Bapak."
Aku berhasil berjalan mendekatinya dengan susah payah.
"Saya ingin meminta waktu Bapak beberapa menit. Bisakah kita berbicara di luar mengenai sisa pembayaran kerja sama itu?"
"Apa yang perlu dibicarakan? Bukannya kamu datang mau minta uang?"
Ronald membuka sebotol bir lalu membantingnya ke atas meja.
"Begini saja. Habiskan dulu sebotol bir ini!"
Aku jarang sekali minum alkohol.
Terlebih lagi, sekarang aku sedang mengandung.
Meski amarahku hampir meluap, aku tetap memaksakan senyum.
"Maaf, saya tidak bisa minum."
"Tidak bisa minum?"
Ronald tersenyum m***m.
"Kalau begitu, menemani pria pasti bisa, kan?"
Tangannya menyentuh pahaku, sementara napasnya dipenuhi bau alkohol.
"Kalau kamu bisa membuat kami semua senang malam ini, jangankan sisa pembayaran itu, aku bahkan bisa memberimu uang tambahan."
Sambil berbicara, dia berusaha menarik tanganku.
Aku bersikap sopan kepadanya bukan berarti aku wanita yang bisa diperlakukan sesuka hati.
Prang!
Aku meraih botol bir di atas meja, lalu menghantamkannya sekuat tenaga ke kepalanya.