Dan aku terpaku tidak bisa bergerak. Apa katanya tadi? Menangkap ku? Aku ?
"Run!!" Amel mendorongku "ayo cepet Lo mau jadi rempeyek di tangan Davino?"
Aku yang masih syok dan kebingungan langsung lari saat itu juga.
Harus kabur kemana? Ini kan sekolah dan saat jam sekolah semua gerbang di tutup. Tidak ada jalan keluar yang bisa kupakai untuk kabur. Apa aku kabur lewat pintu belakang? Tapi tidak ada jaminan kalo pintunya tidak terkunci, apa sembunyi di gudang ?. Itu pilihan paling buruk, pasti disana ada sarang tikus, kecoa dan binatang menjijikan lainnya.
Sekelompok siswa mengejar ku dengan cepat. Dan ketika akhirnya salah satu dari mereka menemukan ku, aku lari ke gerbang belakang. Berharap gerbangnya tidak terkunci.
"Sial"umpatku.
Gerbangnya terkunci. Tidak ada waktu lagi, derap langkah kaki semakin mendekat, mereka telah mengepung ku. Dan satu-satunya cara untuk melarikan diri hanyalah memanjat pagar tinggi itu.
Tunggu! Fikiran ku bergejolak itu bukan ide yang bagus mengingat tinggi pagar sekolah ini dua kali tinggi badan ku yang hanya 155 cm.
Tapi ketika melihat sekelompok siswa yang bertubuh tinggi kian mendekat. Tidak ada lagi yang namanya ragu-ragu. Untuk menghindari konflik dan kejaran mereka aku harus memberanikan diri untuk melewati pagar itu.
Jadi dengan kekuatan tekad dan takut. Aku mulai memanjat gerbang besi yang kokoh. Ku jejalkan kakiku di antara sela sela pagar dan mulai bergerak naik perlahan namun pasti.
"Aku pasti bisa"kataku menyemangati diri sendiri yang mulai gemetar ketakutan.
"Hei Elo yang diatas sana... TURUN!!!"suara Davino menggelegar di bawahku. Membuat ku terkejut dan menghentikan langkah sesaat. Dia sudah berada di bawah pagar yang ku panjat.
Ketika aku melihat ke bawah kepalaku langsung terasa berputar. "Astaga pagar ini sangat tinggi". Kaki ku gemetar bukan main entah karna takut jatuh atau takut tertangkap Davino. Yang pasti aku terpaku dan tidak bisa bergerak naik ataupun turun.
"Ga mau!!! Kalian pergi sana!! "usir ku.
Davino dan beberapa kawannya mendekat. Rendy yang ada di belakang mereka malah tertawa sambil memegangi perutnya. Dasar manusia ampas! Ini kan semua gara-gara dia.
"Ayo turun, lo ga mau minta maap dulu?!"perintah Davino sembari mulai menaiki pagar.
Aku memberanikan diri lagi untuk bergerak naik namun rok ku tersangkut di salah satu bagian pagar yang berbentuk tajam kebawah. Membuat ku tak bisa memanjat lebih tinggi.
"Oh ya ampun"panik ku.
Aku berusaha melepaskan rokku yang tersangkut dengan salah satu tanganku. Dan tangan ku yang lain memegangi pagar dengan erat.
Jantungku berdegup semakin cepat. Dan aku mulai kehabisan nafas.
"Turun!! Kalo Lo ga mau turun, apa pun caranya gue bakal turunin Lo dengan paksa!"lagi-lagi dia memerintahkan ku untuk turun,
"Minta maaf saja sudah cukup!"lanjutnya
"Gue gak percaya, setelah gue turun pasti Lo bakal mukulin gue!!"
"Gue janji ga akan pukul Lo!! Sekarang turun! Bahaya diatas sana!"tangannya hampir saja menggapai kaki ku.
"Gue turun setelah kalian pergi" aku menatapnya dari atas sini.
Alis tebalnya bertaut, bibirnya yang tipis terus mengucapkan kata-kata agar aku turun dengan segera. Ya Tuhan, seharusnya aku fokus pada situasi ini, bukan pada wajahnya.
Beberapa detik mata kami bertemu dan semacam kilatan listrik yang aneh kembali menyengat dari dalam diriku. Dan rasa itu mulai mengaliri seluruh kepalaku. Tak butuh waktu lama kepalaku terasa di kerubungi oleh ribuan semut.
"Wa... pink polkadot!!" seru salah seorang dari tim basket yang mengejarku.
Dengan cepat ku alihkan pandanganku ke sumber suara itu. Aku menatapnya bingung, tapi Ia tersenyum penuh arti, aku tidak mengerti apa yang dia maksud dengan pink polkadot.
Aku menatapnya lagi, wajahnya memerah lalu membisikan sesuatu ke orang di sebelahnya. Kemudian mereka berdua terkekeh.
Akupun melihat ke arah yang jadi perhatiannya. Ternyata dia sedang memperhatikan bagian dalam rok ku. Ini gila. Apa yang dia lihat sungguh membuat ku sangat marah.
"Dasar m***m cowok cowok m***m!! Pergi sana kalian semua b******k!!" teriak ku sisa tenaga yang kuhabiskan untuk memanjat.
Astaga bagaimana ini. Aku benar-benar malu. Kenapa hari ini aku tidak memakai celana pendek di bawah rok ku. Apa aku turun saja. Jika begini terus mereka semua akan melihatnya.
"Kalian semua mundur!" perintah Davino. Cukup satu kalimat dari Davino dan mereka semua melangkah mundur.
"Dan Elo" tunjuknya padaku "Turun sekarang juga atau... "
"Gak mau..."tolak ku.
"Lo juga m***m!!. Pergi sana!!" kataku sambil menendang-nendang tangannya yang mulai menggapai kakiku. Tapi dia tidak mudah menyerah.
Ketika Davino sudah bisa menangkap kakiku. Dia menarikku dengan dengan mudahnya. Pengangan ku pada pagar terlepas, dengan refleks ku tutup mataku dan jatuh dengan keras.
Tubuhku sakit, aku mengerang sesaat, namun anehnya kepalaku mendarat pada sesuatu yang empuk kemudian aku membuka mata, dan ternyata Davino berada di bawah ku. Dengan posisi tangannya berada di bawah kepalaku. Dia pun mengerang kesakitan.
Aku berusaha bangkit berdiri dan anggota tim basket mulai mengerubungi kami. Mereka membantu Davino berdiri. Namun ketika salah satu anggota menyentuh tangan kanannya Davino mengaduh dengan keras.
"ARGH!! b******k!!!"
Mereka semua panik dan membantu Davino lebih hati-hati lagi.
"Vin.."panggil Rendy. Dia menatap nanar lengan kiri Davino yang mulai terlihat memerah. "Kita ke UKS sekarang!" perintahnya.
"Gue gak kenapa kenapa. Coba Lo cek Cewek itu" Davino menunjukku dengan dagunya.
"Gue gak papa. Sebaiknya Lo ke UKS dulu" kataku lemah dan merasa bersalah.
"Guru UKS hari ini ga masuk. Tadi gue baru dari sana. Mending sekarang kalian ke rumah sakit deh" salah seorang anggota tim basket berkata.
"ELO!!" tunjuk Davino " Elo yang anter gue ke rumah sakit!"
Kali ini gue bener-bener mati.
===============================================
Di rumah sakit
"Jadi demi kebaikan mu, sebaiknya kamu ga main basket dulu" kata dokter setelah memeriksa keadaan Davino.
Dokter itu sangat tampan dan terlihat masih muda. Kemungkinan usianya menginjak tiga puluhan. Aura yang terpancar di wajahnya terasa menenangkan juga membuat mataku tak ingin berhenti memandang wajahnya.
Jantungku berdebar debar. Bukan karna dokter muda ini. Aku sangat gugup selama perjalanan dari sekolah ke rumah sakit. Ini kali pertama aku menyetir di jalan raya tanpa didampingi oleh ayahku. Tentu saja tanpa sim dan masih amatirnya aku dalam menyetir.
Bersyukur bisa sampai dengan selamat hingga rumah sakit.
Ketika kami sampai di rumah sakit, kami menuju IGD dan dokter muda ini langsung menangani kami. Aku mengetahui namanya dari name tag di jubah dokternya.
Namanya Daniel, kulitnya putih, suara baritone yang keluar dari setiap kata yang dia ucap, membuatku terkesima. Aku sampai tidak bisa berkedip menatapnya.
Jika saja aku yang di periksa oleh dokter yang bernama Daniel ini, mungkin saja dia akan langsung merujuku ke cardiologist.
"Berapa lama?" tanya Davino dengan ketus.
Apakah Davino memang orang yang tidak belajar sopan santun? Kenapa cara bicaranya sangat tidak sopan kepada orang yang lebih tua darinya.
Tapi ada yang aneh. Rasanya dari tadi aku dan Davino tidak menyebut nyebut soal basket. Dari mana dokter ini tau bahwa Davino merupakan pemain basket?.
Davino memakai seragam sekolah, bukan pakaian olahraga ataupum basket. Apakah hanya dari tinggi badannya saja dokter bisa menyimpulkan bahwa seseorang itu pemain basket atau bukan? Tapi bukankah banyak juga orang-orang bertubuh tinggi yang bukan pemain basket? Contohnya atlet renang.
"Mungkin satu sampai dua minggu. Paling lama satu bulan. Agar lengan Mu benar-benar pulih" jawab Dr.Daniel dengan tenang sambil tetap mencatat sesuatu di buku medis.
Wah.. tulisannya sangat rapih. Apakah benar dia dokter? Setau ku dokter itu punya ciri khas tulisan yang hanya bisa di baca oleh orang orang tertentu.
"Ok!"jawab Davino singkat.
"Jangan memaksakan diri. Saya tahu kamu tidak akan menuruti perintah saya. Tapi jika kamu ingin benar-benar sembuh tanpa masalah. Istirahatkan lenganmu untuk sesaat. Meskipun hanya sedikit retak tapi bisa saja semakin parah jika kau terus memakainya"
"Ini tangan gue! Dan terserah gue mau di pakai untuk apapun yang gw mau!"
"Ia benar itu terserah kamu. Tapi kamu juga harus memperhatikan orang yang mungkin akan kawatir dengan keadaan mu sekarang.." dokter Daniel menatapku sambil tersenyum "..contohnya pacarmu"lanjutnya.
"Apa??"aku terperanjat. "Aku bukan.."
"Mungkin maksud Lo orang tua itu yang akan khawatir?"Davino memotong ucapan ku.
Tunggu sebentar. Aku tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Orang tua siapa? Oh mungkin Dr. Daniel kenal orang tua Davino.
"Aku hanya sedikit bersimpati, dan kau tau pasti, Dia hanya punya kita berdua" Dr.Daniel menatap Davino dengan tatapan aneh yang tidak ku mengerti. Apa mereka sudah mengenal satu sama lain?
"Hallo.. apa ada yang bisa menjelaskan tentang situasi ini?"