"Hallo.. apa ada yang bisa menjelaskan tentang situasi ini?"tanyaku penasaran "Saya tidak mengerti apa yang sedang kalian bicarakan?"lanjut ku
Seperti tersadar akan ada kehadiran orang lain di ruangan ini. Dokter Daniel melihat ke arahku kemudian tersenyum.
"Dia baik-baik saja, hasil rontgen memperlihatkan hanya sedikit retak di bagian tulang hasta, namun sebisa mungkin tidak dipakai untuk melakukan kegiatan berat" jelasnya sambil tersenyum. Senyumnya menular, membuatku ikut tersenyum kepadanya. Dan anehnya membuat dunia di sekitar ku berubah menjadi cerah.
Baru pertama kali aku melihat ada pria yang nyaris sempurna. Gambarannya seperti pria dalam novel ataupun webtoon yang pernah k*****a. Dia pria yang mapan, pintar, tampan, ramah dan yang terpenting dia ini nyata tidak gepeng ataupun hanya sekedar kata-kata deskripsi saja seperti di novel. Aku tidak melihat ada kekurangan dalam dirinya.
Pria seperti ini sangat pantas untuk dijadikan suami idaman. Sepertinya aku akan menjadikan pria seperti Dokter Daniel sebagai type pria idaman untuk di jadikan seorang suami.
Jika nanti aku lulus SMA dan bekerja di toko roti orang tuaku. Aku akan mencari pria idaman seperti dirinya.
"Hei! Denger ga tuh?" Davino memecah lamunan ku.
"Ah... Ia saya mengerti Dokter, saya akan pastikan Davino tidak melakukan pekerjaan berat"
"Baik jika sudah mengerti. Kalian boleh pulang sekarang. Dan ini resep obatnya, saya meresepkam dua jenis obat. Yang pertama obat penghilang rasa sakit, di minum ketika benar benar terasa sakit. Dan yang ke dua, kalsium untuk membantu proses pemulihan" Dokter Daniel menyerahkan kertas resep kepada perawat yang sedari tadi mendampinginya.
"Hanya dua obat ini Dok? Tidak ada obat lainnya seperti antibiotik atau antivirus?"tanyaku.
"Tidak ada karna kondisi ini tidak berhubungan dengan virus dan bakteri, dan kelihatannya juga tidak ada luka luar"
"Baik Dokter terimakasih. Dokter.. apa aku boleh minta nomor Hp anda?"
Sontak saja Davino terkejut dia menyiku lenganku.
"Nanya apaan sih? Buat apa no hpnya? " Davino menimpali.
Dokter Daniel tertawa kecil, menatap kami bergantian.
"Ini siapa kamu Vin? Pacar?"
"BUKAN!!" Aku dan Davino menjawab berbarengan.
"MANA MUNGKIN ORANG INI.." lagi-lagi kata-kata keluar dari mulut kami secara bersamaan hal itu membuat Dokter Daniel terkekeh renyah.
"Kalian serasi kok."
"Gak mungkin Dok, Kalau Dokter tau kelakuannya di sekolah, Davino bukan cowok yang bisa di jadikan pacar. Dokter pasti bisa menilai dari sikap dan kata-katanya yang sangat tidak sopan, bisa-bisa wanita yang jadi pacarnya kena mental. Pacar yang baik itu ya seperti Dokter Daniel"kataku. Ups aku juga kaget kenapa tiba-tiba bisa to the point seperti ini.
"Dia ud punya istri!! Gak usah gatel!!" Davino menjitak kepalaku. Aku mengaduh kesakitan sambil memelototinya.
"Gw ga gatel kok. Emang gw garuk-garuk dari tadi?" Kujulurkan lidah untuk mengejeknya. "Kok Lo bisa tahu? Suka juga ya sama Dokter Daniel?" Lanjutku dan jitakan ke dua mendarat lagi di kepala ku.
Dokter Daniel Menjawab pertanyaan ku"Davino ini adik saya. Sebagai kakak, saya minta maaf atas perbuatan dan perkataannya ya. Semoga Kamu tidak membencinya"
"Astaga" aku syok dan menutup mulutku dengan kedua tangan lalu menatap keduanya bergantian.
"Ini beneran?"tanyaku penasaran.
"Ia benar! Udah lah jangan banyak tanya"jawab Davino.
"Maaf Dokter, saya hanya memastikan karena Anda dan Davino sangat berbeda layaknya Angel and Devil" aku menunjuk Dokter Daniel dan Davino bergantian.
"Cewek ini!!" hampir saja jitakan ke tiga mendarat kembali di kepalaku. Tapi aku dengan sigap langsung membuat tanda silang dengan kedua lenganku untuk menghalaunya.
Dilihat bagaimanapun mereka berdua tidak mirip. Meskipun sama sama berwajah tampan. Namun aura yang terpancar dari keduanya saling bertolak belakang.
"Sudah sudah.. kalian jangan ribut terus. Pulang sana! Kasian pasien selanjutnya menunggu lama hanya karena kalian tidak cepat keluar dari sini"
"Siap dokter.. sampai ketemu lagi. Senang bertemu denga Anda."
"Lo tuh bodoh banget! Ya jangan sampai ketemu dia lagi lah. Lo mau sakit terus ketemu dia?" Davino menimpali.
"Bukan ketemu di Rumah Sakit Vino. Barang kali kita kebetulan bertemu di jalan atau di manapun. Kan bisa saling menyapa. Otak Lo ni psikopat banget!"
"Udah ayo... berisik bgt Lo" Davino menarik tanyan kiri ku dengan tangan kanannya yang tidak di gips. Cengkramannya menyakitkan.
Aku mendengar kekehan renyah Dokter Daniel sesaat sebelum pintu di tutup. Dia pasti menganggap situasi ini sangat lucu.
Setelah di luar ruangan praktek dokter Davino kemudian melepaskan cengkramannya. Aku meniup-niup lenganku yang sakit. Tanda kemerahan pun muncul di sana.
Davino menatap ku. Aku balik menatapnya sambil melayangkan pandangan kesal kepadanya. Sinar matanya berubah ketika melihat pergelangan tanganku yang memerah. Apa dia merasa bersalah ?
"Kenapa? Mau minta maaf?" kataku setelah beberapa saat kami hanya diam membisu.
Davino tidak menjawab pertanyaanku. Aku tahu dia tidak akan meminta maaf semudah itu, egonya saja setinggi gunung everest.
Dia merogoh kantong celananya mengambil dompet dan berusaha menggambil sebuah kartu dengan tangannya yang di gips. Setelah berhasil dia lalu menyerahkan kartu berwarna hitam kepadaku.
"Bayar sana di kasir! Jangan lupa tebus obatnya sekalian di bagian farmasi! Jangan sampai salah urutan. Bayar dulu baru ke bagian farmasi. Kalo enggak sesuai urutan bakal lebih lama lagi nunggunya ! Gw tunggu di Mizz Cafe sebelah sana" tunjuknya ke salah satu bagian rumah sakit.
"Vin.. biar pake duit gw aj.."
"Ok!" Davino menyelipkan kembali kartu itu ke dompetnya.
Aku merogoh saku rokku dan saku kemejaku berusaha mencari dompet ataupun ponsel. Beberapa saat kemudian aku baru tersadar dan menepuk jidatku pelan. Bodohnya aku. Tadi kan kita cepat cepat ke rumah sakit. Aku meninggalkan dompet di tasku. Dan ponsel tentunya ada di ruang BK karna selama pelajaran di sekolah kami di larang membawa ponsel.
"Ga ada Vin.."melas ku.
"Apanya yang ga ada?"
"Dompet dan ponsel gue" kataku.
Davino memutar kedua bola matanya kemudian dia menyibakan poninya kebalakang dengan tangan kanannya. Lalu kembali menatap mu. Wajahnya mengeras menahan kekesalan seakan dia ingin mengatakan "Dasar bodoh!!" kepadaku.
Aku akui memang sepertinya aku bodoh. Maka dari itu aku menundukan kepala karna takut dan juga malu terhadapnya. Apa yang akan dia lakukan sekarang. Apa dia akan memarahi ku di depan semua orang yang berlalu lalang di koridor rumah sakit ini?
"Ya sudah pake ini aja. Pinnya 778899" katanya sembari menyerahkan kartu debitnya, wah, ini di luar prediksi ku tapi aku mengaga mendengarnya dengan mudah memberikan pin kartu atmnya pada orang yang baru dia kenal.
"Lo ga takut gue bawa kabur kartu Lo terus di pake belanja sepuasnya?"tanyaku heran.
"Apa Lo akan ngelakuin itu?"tanyanya santai.
"Vin, Lo itu bahkan ga kenal gue! Dari saat di sekolah sampai saat ini, Lo ga pernah sebut nama gue. Gue tebak Lo pasti gak tau nama gw. Ya kan?"
Davino mengerutkan dahinya lalu menggangguk tanda setuju dengan apa yang aku katakan. "Bener, gue gak tau nama Lo. Jadi siapa nama Lo?"
Aku menghela nafas, "Selvie"
"Ya udah sana buruan urus administrasinya dan ambil obatnya!!"
Aku melangkah pergi. Apa dia termasuk orang yang selalu berfikir positif? Kenapa sikapnya sesantai itu.
Enggak bukan!! Sadarlah Selvie, dia itu pria paling skeptis yang ada di muka bumi ini. Kata-katanya saja sangat kasar, rasanya mulutnya memang harus di sekolahkan.
Aku pun menuju bagian pembayaran rumah sakit. Menyerahkan surat bukti penerikasaan dokter. Ketika nama Davino dipanggil aku bergegas untuk membayar tagihan rumah sakit. Dan melanjutkan dengan pengambilan obat.
Setelah membayar tagihan rumah sakit dan mengambil obat. Aku pun menghampiri Davino yang sedang duduk di Mizz Cafe yang masih berada di area rumah sakit.
Dia melihat ku dan berkata "Udah ?" Aku mengangguk dan menyerahkan kartu serta obat kepadanya seraya menjelaskan jenis obat dan aturan minumnya.
"Ya udah sekarang kita pulang"katanya lalu berdiri dan bergegas berjalan melewatiku.
"Pulang ke sekolah kan?" tanyaku sambil berusaha menyamakan langkah kami.
Kakinya yang panjang membuat langkahnya lebar sehingga aku pun harus berusaha keras untuk mengimbanginya.
"Ya kerumah lah. Udah jam berapa ini. Semua orang di sekolah juga pasti udah pada pulang"
"Kerumah gue?"tanyaku memastikan.
"Yang cidera itu Lo apa gue?!"
"Ya Elo lah"
"Jadi Lo mau gue nyetir sendiri dari rumah Lo ke rumah gue?"
"Ya Enggak"
"Terus!! Apa Lo mau gue nginep di rumah Lo dan ngerawat gue sampai gue sembuh?"
"Hah... ya enggak juga"
"Ya makannya! Pulang ke rumah gue lah"
Aku masih memproses perkataannya
"Hah.. jadi gue yang harus nginep di rumah Lo dan ngerawat Lo sampai sembuh?"