"Hah.. jadi gue yang nginep di rumah Lo dan ngerawat Lo sampai sembuh?"
Davino agak terkejut dengan perkataan ku, tapi kemudian dia menyeringgai. "Ide bagus.. ayo!!"kemudian dia meraih pergelangan tanganku, membawaku keluar dari cafe.
Kami menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang tidak ada habisnya. Kakiku yang pendek sangat sulit untuk menyesuaikan langkahnya yang panjang dan cepat.
Sampai akhirnya kami hampir tiba di parkiran mobil rumah sakit ini.
"Tunggu sebentar.. lepasin dulu... bentar. Ini sakit!"aku melepaskan genggaman tangannya yang semakin menyiksa.
Pergelangan tangan ku memerah. Dia menggenggam terlalu erat. Davino hanya menatap, tidak tampak menyesal.
Kemudian dia kembali berjalan di depan ku. Aku mengikutinya. Sesaat sebelum masuk ke dalam mobil aku teringat sesuatu yang penting.
"Vin.. Gw lupa tas gw masi ada di sekolah"
"Ud di bawa sama Rendy"
"Tau dari mana?"
Davino merogoh saku celananya. Mengeluarkan smartphone seri terbaru yang harganya setara dengan harga sebuah sepedamotor.
"Bukannya tadi kita langsung ke rumah sakit. Tapi kok lo bisa bawa smartphone, bukannya di tinggalin di ruang BK"kataku.
"Gue taro di dashboard mobil!" Dia mengetuk ngetuk samping kepalanya dengan jari telunjuk. Seakan akan ingin menyampaikan bawa dia memakai otaknya.
Aku memutar bola mataku lalu membuka pintu mobil dengan malas.
Perjalanan terasa panjang dari rumah sakit ke rumah Davino. Tentu saja karna kemampuan menyetir ku yang sangat buruk. Untung saja Rumah Sakit dan rumah Davino jaraknya tidak terlalu jauh.
( dan ini kejadian di Bab 1 awal )
Meski tetap di hujani oleh klakson kiri kanan depan belakang aku mengendarai mobil Davino dengan seaman mungkin.
Rumah megah milik Davino berada di kawasan elit Ibu Kota. Dari pagarnya yang tinggi saja aku sudah merasa jika ini bukanlah sebuah rumah melainkan istana. Satpam membukakan pintu pagar begitu kami sampai di depan pintu.
Satu..
Dua..
Tiga..
Setidaknya aku melihat tiga orang satpam berjaga di pintu depan. Ketika kami turun di depan rumahnya aku menatap sekeliling dengan takjub.
"Selamat datang Den Vino" sapa seorang pria paruh baya kepada kami.
Davino menatap sekilas kemudian menyuruhnya memarkirkan mobil yang tadi kami naiki.
Davino melangkahkan kaki ke dalam rumah, Dia tidak berkata apapun kepadaku. Sepertinya dia tenggalam dalam fikirannya sendiri, sehingga tidak sadar bahwa aku masih bersamanya. Mengikutinya menaiki tangga di teras depan dan kemudian tiba tiba berhenti.
DUK!!
"Aduh.." erangku karna menabrak punggungnya yang keras.
Davino berbalik, dan seakan tersadar dia memijat keningnya. Bukankah harusnya aku yang melakukan itu? Kepalaku yang terbentur bukan kepalanya.
"Lo masih di sini?"tanyanya seakan aku adalah hama pengganggu yang ingin memasuki rumah megahnya.
"Kan tadi Elo yang nyuruh ke rumah Lo?" jawabku.
"Kenapa?" dia bertanya.
Pertanyaan macam apa itu. Apa dia mengalami amnesia mendadak. Tentu saja dia yang menyuruhku mengantarkan dia kerumahnya.
Memang aku tidak setuju untuk tinggal di rumahnya dan merawatnya. Tapi setidaknya dia harus memberikan penjelasan dengan detail, apa yang harus aku lakukan sekarang. Lagi pula aku meninggalkan tasku di sekolah.
"Ya udah kalo gitu gue pamit pulang"kataku.
"Ya udah sana pulang!"perintahnya lalu membalikan badan acuh tak acuh. Refleks aku menghentikannya. Aku meraih pergelangan tangannya. Dan dia kembali menatapku. Dia tidak berkata apapun. Tapi ekspresi wajahnya mengatakan seakan akan berkata 'apa lagi?'
"Tas gue.." kataku, tapi Davino memotong penjelasanku.
"Gue kan udah bilang ada di Rendy!"
"Ia tapi.."
"Apa lagi?!"
"Tunggu sebentar!! Tolong dengerin dulu. Tas gw di Rendy.."
"Terus?!" lagi-lagi Davino memotong perkataan ku.
"Gue ga bawa dompet karna tas gue dibawa Rendy. Dan gue juga ga bawa HP karna yang pasti masih ada di ruang BK. Apa Rendy nganterin tas gue kesini?"tanyaku.
"Gak, dia langsung pulang ke rumahnya."jawabnya datar.
"Terus gw pulang naik apa? Apa gw boleh pinjem Hp Lu buat pesen Taxi Online?"
Seakan sadar akan situasi yang ada dia menatap sekitar sesaat. Dan kemudian melambaikan tangannya memanggil Pria yang sudah memarkirkan mobilnya barusan.
Pria itu mendekatinya kemudian Davino berkata "Pak Tirta anterin cewek ini kerumahnya" dan pria yang ternyata bernama Tirta itu mengangguk.
"Eh.. ga perlu. Gue naik Taxi aja!"
Lagi-lagi tanpa berkata apapun dia hanya menatapku. Dengan tatapannya saja aku sudah mengerti apa yang ada di dalam fikirannya. Seakan akan ingin berkata 'Jangan Membantah!! Dan lakukan aja apa yang aku suruh!!'
Kemudian dia melangkah pergi. Memasuki rumahnya yang besar. Aku menatap punggungnya sesaat. Cowok itu terlihat sangat menyebalkan dan sifatnya benar bemar angkuh, tapi anehnya ada sesuatu yang mengganjal dari raut wajahnya ketika masuk ke rumahnya. Seakan akan dia tidak ingin berada di sana.
Aku menghela nafas, Pak Tirta sudah siap dengan membuka pintu belakang mobil. Ini bukan mobil Davino, dia akan mengantarku dengan mobil yang berbeda.
"Mau di anterin ke daerah mana non?" tanya Pak Tirta.
"Ke Cluster Villa Raflesia Pak, yang ada di Jalan Pemuda. Bapak tahu tidak?"
"Oh disana, tahu kok Non. Saya pernah anterin temennya Den Vino. Namanya Rendy"
"Ia Pak di sana rumah saya. Percis di sebelah rumah Rendy"
Mobil minibus berwarna silver melaju dengan mulus di jalanan. Keheningan di dalam mobil membuatku memikirkan hal hal yang terjadi hari ini. Seakan akan mimpi buruk yang sangat panjang. Ini membuatku lelah.
Beberapa saat di perjalanan pulang. Setelah keheningan menyapa. Akhirnya Pak Tirta bertanya "Non pacarnya Den Vino ya?"
Hah??? Kenapa sih semua orang beranggapan aku pacaran sama cowok itu.
"Bukan pak, saya adik kelasnya"
Pak Tirta berkata. "Habis Den Vino ga pernah bawa perempuan ke rumah. Baru Non aja"
"Itu juga terpaksa pak. Karna kan Vino terluka gara-gara saya. Bapak lihat kan tangannya di gips tadi. Dan saya harus anterin dia ke rumah sakit lalu ke rumahnya" ceritaku dan berlanjut dengan menceritakan kejadian sebelumnya. Sampai akhirnya tidak terasa sudah sampai di depan rumahku.
Tak lupa ku ucapkan terimakasih kepada Pak Tirta seraya masuk ke rumah.
Ya benar saja, tas ku sudah berada di kamarku. Dan yang menabjubkan smartphone ku sudah tergeletak di meja belajar.
Orang tua ku pemilik toko roti, yang saat ini sedang membuka cabang di kota lain. Oleh karnanya beberapa hari ini orang tua ku sedang tidak berada di rumah.
Aku tidak ditinggalkan sendirian. Ada Mbak Kiki yang menemaniku di rumah ini. Dia asisten rumah tangga yang sudah lama di pekerjakan oleh orang tua ku, sehingga kami sudah sangat akrab layaknya saudara.
Bahkan umurnya hanya terpaut 5 tahun dari ku. Memang sangat di sayangkan dia masih muda tapi sudah menjadi tulang punggung keluarga.
Meskipun usaha orang tua ku masih dibilang baru merintisusaha keluarga ku terbilang lancar. Toko roti milik orang tuaku sudah mempunyai beberapa cabang di kota-kota besar di indonesia.
Aku ini anak tunggal mereka. Sebenarnya mereka tidak suka meninggalkan ku sendirian di rumah. Tapi untuk lounching di kota yang baru mereka harus hadir.
Ting
Suara notifikasi smartphone memecahkan keheningan di kamarku . Dan ketika aku membaca isi pesan yang masuk aku benar-benar merasa seakan-akan mimpi buruk hari ini belum berakhir.
HEI!! Besok kita perlu bicara tentang ganti rugi yang Lo perbuat! Save no gw!!
Vino
Belum sempat ku balas chatnya, dia mengirimkan pesan lanjutan.
Ting
Kenapa ga jawab!!
Aku mengetik beberapa kata lalu menghapusnya lagi. Binggung!! Respond apa yang harusnya aku berikan padanya. Jika aku menolak, tentu saja dia akan semakin marah.
Dia pasti tau aku sedang mengetik untuk membalas pesannya. Kemudian aku hanya membalas.
- Ia
Balasku singkat. Malas meladeni cowok macam dia.
Ting
Ngetik panjang2 cuma bilang IA doank?! Lo pasti ngetik sumpah serapah kan?!
Dia benar-benar menyebalkan. Lihat saja ada berapa tanda seru dalam text pesannya.
Aku tidak membalas pesannya lagi. Toh dia dia kan bilang besok mau ketemu. Lalu aku sudah bilang Ia. Apa lagi yang harus ku jawab.
Namun tiba-tiba nada dering lagu yang ku pilih untuk telepon masuk memenuhi seisi kamar.
Nama penelepon yang baru saja aku simpan muncul di layar.
DEVILNO
Aku tidak menjawabnya. Aku tidak mau menjawabnya.
Lelah sekali hari ini. Kenapa aku harus dihadapkan dengan masalah Vino ini. Padahal aku fikir kehidupan SMA itu mengasikan. Punya teman di sekolah dan belajar untuk kelulusan. Tapi semua itu terasa memusingkan. Tugas yang banyak, kegiatan ini dan itu. Belajar untuk ujian. Belajar untuk ulangan harian.
Aku ingin tidur melepas lelahku hari ini.