Rani masih enggan keluar kamar, ia menunggu sampai Rega naik keatas baru dia akan membereskan sisa makan pria itu. Menyebalkan sekali, seharusnya Rega tidak mengacaukan pertemuan pertama mereka setelah satu bulan tak ada kabar sama sekali. Ia mendengus sebal, masih berada diposisi yang sama duduk bersandar pada pintu.
Memang sedikit berlebihan mengingat mereka bukan pasangan yang sah, tidak ada hubungan darah, hanya sepasang pria dan wanita yang akan tinggal satu atap bersama disini. Dalam surat pemindahan kerja, tertulis disana kalau Rani akan tinggal di tempat yang sudah disediakan, demi menjaga keamanan dan keselamatan gadis itu serta memudahkan pekerjaan jika ada yang mendesak.
Susi menyiapkan ini selama dua minggu, dia terus meneror suami nya agar segera membubuhkan tanda tangan di surat pemindahan itu. Ari sempat menolak, tentu saja. Memindahkan satu karyawan dari Jakarta ke Palembang bukan perkara menggoreskan pena diatas kertas saja, ada berkas yang harus diurus, ada divisi yang kehilangan orang, ada juga mulut-mulut kantor yang pasti bertanya kenapa harus Rani yang dikirim. Tapi Susi punya dua senjata yang tidak pernah bisa dilawan lelaki mana pun didunia ini. Dapur dan kamar. Dua hari tanpa masakan istri, satu malam tidur disofa ruang tengah, dan tanda tangan itu akhirnya mendarat manis diatas materai.
"Kamu itu bukan kakak ipar, kamu comblang bersertifikat." Gerutu Ari sambil menyerahkan map coklat ketangan istri nya.
"Dari pada adik kamu mati muda gara-gara darah tinggi." Jawab Susi santai, tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Rani jelas tidak tahu ada perang sebesar itu terjadi dibelakang punggung nya. Yang gadis itu tahu, dua minggu lalu Susi memanggilnya keruangan, menyerahkan sebuah amplop, lalu mengucapkan satu kalimat yang hampir membuat jantung nya copot. "Palembang. Kamu berangkat minggu depan." Dan Rani menerima nya tanpa berpikir dua kali, tanpa bertanya berapa lama, tanpa menghitung untung rugi. Bodoh memang. Tapi siapa sih yang masih waras kalau sudah menyangkut Rega.
Sekarang, disinilah dia. Duduk dilantai kamar yang dingin, bersandar pada daun pintu, disebuah rumah yang bukan milik nya, dengan seorang pria sinting dilantai atas.
Rani akhirnya bangkit, menyeret koper besar nya ke tengah ruangan. Kamar ini jauh lebih luas dari kontrakan nya di Jakarta, ada lemari yang tinggi nya hampir menyentuh langit-langit, satu meja kecil dekat jendela, dan kasur yang kalau dia tidur gaya bintang laut pun masih tersisa tempat. Jendela nya menghadap halaman belakang, ada pohon mangga disana yang buah nya sudah kelihatan malas untuk matang.
Dia menata baju satu per satu, memasukkan yang bersih ke lemari, memisahkan yang kotor ke keranjang. Ponsel nya bergetar diatas kasur.
Mama.
"Halo ma. Iya, udah sampai. Rumah nya bagus kok, gede. Enggak, aku gak sendirian ma, ada... " Rani menggantung kalimat nya, mata melirik pintu seolah-olah Rega bisa mendengar dari lantai atas. "Ada ibu-ibu yang bantu bersih-bersih. Iya. Iya, aku makan teratur. Mama juga jangan lupa minum obat."
Kalau saja mama tahu anak gadis nya sekarang tinggal satu atap dengan seorang lelaki yang isi kepala nya cuma dua, kerja dan hal-hal m***m, mungkin besok pagi wanita itu sudah ada di teras rumah ini sambil membawa sapu.
Jam sudah lewat pukul sembilan malam ketika perut Rani berbunyi. Ia mengintip dari celah pintu, sepi, lampu ruang tengah masih menyala tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan. Bagus. Berarti si gila itu sudah naik keatas.
Gadis itu berjalan mengendap-endap menuju dapur, dan langkah nya berhenti.
Meja makan sudah bersih. Piring-piring kotor yang tadi dia tinggalkan sudah tidak ada, semua sudah tercuci dan tersusun di rak, walaupun susunan nya berantakan sekali. Mangkuk ditumpuk diatas piring, sendok berdiri didalam gelas, dan panci masih basah dengan busa sabun yang belum dibilas bersih dibagian pegangan nya. Rani menghela nafas, antara ingin tertawa dan ingin memukul kepala orang.
"Nyuci piring aja gak becus." Gumam nya pelan.
"Saya dengar loh."
Rani berjongkok kaget, hampir menjatuhkan gelas ditangan. Rega berdiri disandaran tangga, tangan bersedekap, rambut nya basah dan handuk kecil tersampir dibahu. Pria itu memandangi Rani dari atas sampai bawah, seperti biasa, seperti orang yang tidak pernah diajarkan sopan santun.
"Kamu kayak hantu ya. Muncul tiba-tiba."
"Rumah saya. Kalau ada yang hantu disini, ya kamu. Datang gak bilang-bilang, masak sendiri, terus ngatain tuan rumah." Rega berjalan mendekat, membuka kulkas dan mengeluarkan air dingin. Dia menuangnya ke dua gelas, satu untuk Rani.
Gadis itu menerima nya dengan curiga.
"Aku mau bikin aturan." Kata Rani tiba-tiba, sambil menaikkan kacamata yang melorot.
"Aturan?"
"Iya. Satu, ketuk pintu sebelum masuk kamar aku. Dua, jangan pernah ngomongin isi celana dalam orang lagi. Tiga, kalau kamu haus jangan teriakin aku dari lantai atas, kaki kamu masih lengkap dua."
Rega mengangguk-angguk, wajah nya serius seolah-olah sedang mendengarkan presentasi anggaran proyek. Lalu dia mengangkat satu jari.
"Boleh saya nambah? Empat, kalau saya lagi marah dikantor, kamu jangan ikut-ikutan takut kayak yang lain. Lima, jangan pulang ke Jakarta tanpa bilang saya."
Rani terdiam. Kalimat kelima itu diucapkan dengan nada yang sama sekali berbeda, tanpa senyum jahil, tanpa nada menggoda. Pria didepan nya ini benar-benar tidak bisa ditebak.
"Kenapa? Takut kehilangan tukang masak gratis?"
"Iya." Jawab Rega cepat. Terlalu cepat malah. Dia meneguk air nya sampai habis, meletakkan gelas ke wastafel, lalu bersandar di meja dapur. "Ran, tadi siang kamu turun dari taksi dijembatan Ampera ya?"
Rani mengernyit. "Kok kamu tau?"
"Saya disitu."
Gadis itu menoleh cepat. "Hah? Kamu ngapain?"
"Ngerokok. Pusing." Rega menatap lantai, menyunggingkan senyum tipis yang aneh. "Ada cewek nelpon mama nya, berisik banget. Suara nya mirip kamu. Saya sempat mikir, ini otak saya udah rusak apa gimana, kok bisa-bisa nya ngebayangin orang yang jarak nya delapan ratus kilometer."
Rani membekap mulut. Dia ingat betul, tadi siang dia memang berhenti disana. Supir taksi mengambil jalan memutar, dan gadis itu sengaja turun sebentar karena baru pertama kali melihat jembatan yang selama ini cuma ada di buku pelajaran. Dia menelpon mama nya disana, sambil berdiri membelakangi seorang pria yang sedang merokok. Pria yang tidak dia lihat wajah nya sama sekali.
"Itu aku, Rega." Bisik nya. "Kita sedeket itu, dan kamu gak nengok?"
"Kalau saya nengok, saya bakal peluk kamu ditengah jembatan, terus masuk berita."
Rani tertawa. Bukan tawa yang keras, hanya tawa kecil yang bercampur dengan sesuatu yang hangat didalam d**a nya. Satu bulan tanpa kabar, satu bulan menahan diri untuk tidak menelpon, satu bulan menebak-nebak apakah pria ini masih hidup atau tidak. Dan ternyata mereka sempat berdiri ditempat yang sama, dihari yang sama, dengan angin yang sama.
"Udah, sana tidur." Rega mengacak rambut gadis itu, lalu berjalan menuju tangga. Baru dua anak tangga, dia berhenti dan menoleh. "Besok jam tujuh kamu udah harus rapi. Saya bukan boss yang baik, Ran. Telat semenit saya potong gaji."
"Kok gitu!"
"Aturan nomor empat." Sahut Rega enteng, lalu menghilang dibalik dinding.
Rani menatap tangga kosong itu lama sekali. Besok dia akan memakai seragam kerja, membawa map, dan memanggil lelaki itu dengan sebutan pak. Aneh sekali membayangkan nya.
Malam itu, untuk pertama kali nya setelah satu bulan, gadis bermata sipit itu tidur tanpa memeluk ponsel.