Clean bandit, salah satu grup penyanyi yang disukai oleh Rani. Dan kini salah satu lagu nya yang berjudul I Miss You sedang berputar, entah sudah berapa kali dia mengulang lagu itu, Rani sangat suka mendengarnya. Bukan hanya karena suara Grace chatto yang membuat nya terlena, tapi juga karena musik yang membuatnya sukar berpindah lagu.
Dia ikut bernyanyi sambil merias diri, beberapa kali dia juga menggerakan anggota tubuh lainnya, seperti tangan yang menari-nari.
Ini adalah hari pertama nya bekerja disini, jadi mungkin akan sedikit berbeda ketika ia berada di Jakarta. Disini, Rega adalah boss nya dan Rani hanya pegawai yang harus selalu ada disaat pria itu membutuhkan sesuatu, hanya untuk pekerjaan, bukan kebutuhan biologis sejenis atau semacam yang lainnya.
Setelah melihat hasil karya nya dicermin, Rani mematikan musik dan memasang kacamata. Rambut kecoklatan nya diikat rapi, kemeja putih, celana bahan hitam, dan sepatu pantofel yang baru dia beli dua hari sebelum berangkat. Tidak ada yang istimewa, tapi paling tidak dia terlihat seperti pegawai yang siap kerja, bukan seperti orang yang semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan aturan nomor lima.
Jam menunjukkan pukul enam lewat empat puluh ketika dia turun. Rega sudah berdiri disamping meja makan, mengenakan kemeja biru muda dengan lengan yang digulung sampai siku, kunci mobil berputar-putar dijari nya. Pria itu menatap Rani dari ujung rambut sampai ujung sepatu, lama sekali, sampai gadis itu risih sendiri.
"Apa? Ada yang salah?"
"Enggak. Cuma heran, kenapa orang pakai kemeja setengah mati rapi gini tetap kelihatan kayak anak SMA yang mau ujian."
"Ya udah aku ganti."
"Jangan." Rega menahan tangan gadis itu. "Bagus kok. Ayo, kita telat."
Sepanjang jalan Rani sibuk melihat keluar jendela. Palembang dipagi hari ternyata seramai Jakarta, hanya saja klakson nya lebih sabar dan bau nya berbeda, ada aroma kuah cuko yang menyelinap dari warung-warung dipinggir jalan. Perut nya langsung berbunyi, padahal tadi sudah sarapan roti dua lembar.
"Rega, turunin aku di depan minimarket aja ya."
"Kenapa?"
"Ya masa aku turun bareng kamu dari satu mobil. Nanti orang kantor ngomong macam-macam."
"Biarin."
"Aku yang gak mau." Nada suara Rani berubah serius, membuat pria itu melirik nya sekilas. "Aku pegawai baru disini, Ga. Kalau hari pertama aja orang udah mikir aku masuk karena dekat sama kamu, seumur hidup aku bakal dianggap gitu terus. Aku pengen orang lihat kerja aku dulu."
Rega diam beberapa detik, lalu mengangguk. Dia memarkirkan mobil dua ratus meter sebelum kantor, tepat didepan minimarket yang bahkan belum buka.
"Puas?"
"Makasih." Rani membuka pintu, tapi sebelum turun dia menoleh. "Dan satu lagi. Dikantor aku bakal panggil kamu pak. Jangan kaget, jangan ketawa."
Pria itu terkekeh. "Coba sekarang."
"Selamat pagi, pak Rega."
"Astaga." Rega mengusap tengkuk nya, telinga nya memerah. "Turun sana. Cepat."
*****
Kantor cabang Palembang tidak sebesar yang di Jakarta. Bangunan dua lantai, dengan ruang meeting yang jendela nya menghadap jalan raya dan pendingin ruangan yang bunyi nya seperti orang berdehem. Tapi bukan itu yang pertama kali Rani rasakan begitu melangkah masuk.
Yang dia rasakan adalah hening nya.
Belasan orang duduk dimeja masing-masing dengan wajah yang sama, tegang. Tidak ada yang mengobrol, tidak ada yang tertawa, bahkan suara sendok mengaduk kopi pun terdengar hati-hati sekali. Rani jadi ingat cerita yang dia dengar dari Susi, kalau seminggu terakhir seisi kantor cabang ini seperti hidup diatas ranjau, gara-gara satu kesalahan pemasangan yang membuat wakil direktur mereka mengamuk dan mengancam tidak akan membayar.
Dan orang yang mengamuk itu, semalam mencuci piring nya sendiri dengan busa yang tidak dibilas bersih.
"Mbak Rani ya? Dari Jakarta?"
Seorang gadis berhijab abu-abu menghampiri nya sambil membawa dua map. Wajah nya bulat, senyum nya lebar, dan cara bicara nya cepat sekali seperti orang yang takut kehabisan waktu.
"Iya. Rani."
"Aisyah, admin proyek. Aku yang bakal nemenin mbak seminggu ini. Duduk nya disebelah aku ya, sengaja aku pilihin yang jauh dari ruangan pak Rega, biar mbak gak kena imbas kalau beliau lagi meledak." Aisyah menurunkan suara nya, "Serius mbak, kemarin dia lempar gulungan desain ke meja. Bunyi nya kayak petir."
Rani mengulum senyum. "Separah itu?"
"Parah banget. Tapi ya, gimana ya, salah kita juga sih. Bagian lapangan pasang rangka pakai gambar yang lama, padahal udah ada revisi."
Kalimat itu menyangkut dikepala Rani sampai siang.
Pekerjaan hari pertama nya ternyata bukan mengantar kopi atau menyusun jadwal, melainkan merapikan tumpukan berkas revisi yang tingginya hampir sejengkal. Rega menyerahkan itu lewat Aisyah, bukan lewat tangan nya sendiri, dengan pesan singkat, "Susun, urut tanggal, tandai mana yang sudah dikirim ke lapangan."
Rani mengerjakan nya dengan teliti. Dan di lembar keempat puluh sekian, tangan gadis itu berhenti.
Ada dua gambar rangka atap dengan nomor yang sama persis, tanggal yang sama persis, tapi ukuran jarak kuda-kuda nya berbeda. Satu bertuliskan rev-02, satu lagi rev-03. Dan yang rev-03 tidak memiliki cap penerimaan lapangan. Tidak ada tanda tangan siapa pun disana.
"Sya, ini gimana ceritanya bisa ada dua?"
Aisyah mencondongkan badan, memicingkan mata, lalu wajah nya berubah. "Waduh. Aku juga baru lihat yang ini."
"Ini gambar yang dipakai lapangan yang mana?"
"Yang rev-02, mbak. Yang ini... " Aisyah menelan ludah. "Yang ini kayak nya emang gak pernah nyampe kesana."
Rani menahan berkas itu didada nya. Ada yang tidak beres, dan itu bukan sekedar kecerobohan tukang dilapangan. Tapi hari pertama bukan waktu yang tepat untuk melempar tuduhan, jadi dia menyelipkan lembar itu kedalam map terpisah dan menuliskan satu catatan kecil disudut nya.
Menjelang sore ada rapat kecil diruang meeting. Rega masuk terakhir, dan seluruh ruangan otomatis menegang. Pria itu duduk, membuka map, lalu mulai berbicara dengan nada datar yang jauh lebih menakutkan dari pada teriakan.
"Saudari Rani, minta datanya."
Rani berdiri, menyerahkan berkas, dan duduk kembali tanpa satu kalimat pun. Tidak ada senyum, tidak ada tatapan lebih dari dua detik. Diseberang meja, dua orang staf saling melirik.
"Besok saya kelokasi. Aisyah ikut, bawa semua berkas revisi. Saudari Rani juga." Rega menutup map nya. "Rapat selesai."
Begitu pintu ruang meeting tertutup, suara-suara mulai bermunculan lagi seperti air yang lepas dari bendungan.
"Baru datang udah langsung dibawa kelokasi."
"Anak siapa emang?"
Rani pura-pura tidak mendengar, tapi telinga nya memanas. Aisyah menepuk bahu gadis itu.
"Cuek aja mbak. Disini emang gitu, mulut nya duluan yang kerja."
Pukul lima lewat, kantor mulai kosong. Rani menunggu di minimarket seperti perjanjian, dan mobil hitam itu berhenti tepat didepan nya. Begitu pintu tertutup, Rega langsung menyodorkan sekotak pempek yang masih hangat.
"Kamu dari tadi nunduk terus dirapat. Kenapa?"
"Gak apa-apa."
"Ran."
"Kamu tadi manggil aku saudari Rani." Gadis itu menggigit pipi bagian dalam nya. "Sakit juga ternyata."
Rega menghela nafas panjang, tangan nya menepuk-nepuk kepala gadis itu pelan.
"Kamu sendiri yang minta orang lihat kerja kamu dulu, kan? Ya saya kabulkan. Tapi begitu kita keluar dari gerbang kantor, kamu bukan saudari siapa-siapa." Pria itu menyalakan mesin. "Makan pempek nya. Besok panas nya bukan main dilokasi."
Dan Rani, entah kenapa, tiba-tiba jadi tidak sabar menunggu besok.