“Tuan Jefferson!”
Melviano dengan sigap menahan tubuh Queen yang sempat oleng dan memalingkan wajahnya akibat tamparan dari sang ayah yang cukup kencang. Queen merasakan bibirnya lembab dan sedikit perih. Sudah dipastikan jika itu adalah darahnya sendiri dari bibirnya yang robek akibat tangan sang ayah. Tangan yang sama dengan yang mengelus lembut dan penuh cinta rambutnya di masa lalu ketika ia muda. Kini tangan itu baru saja memukulnya untuk pertama kali sepanjang ia hidup 27 tahun.
“Papa!” Kennard ikut berdiri menghalangi ayahnya yang terlihat jelas dikuasai amarah.
“Apa yang kamu lakukan pada putri kita, Etnan?!” Rosalina juga ikut berdiri dan membentak serta mendorong pelan tubuh Etnan. Tak terima jika putrinya disakiti oleh seseorang yang jelas disayangi oleh Queen sendiri.
Rasa sakit yang menjalari pipi serta bibirnya tidak lebih sakit dari hatinya yang terluka. Di tengah-tengah berbagai emosi yang berkecamuk, Queen berusaha mencoba tetap berpikir tenang. Menganalisis kejadian apa sebenarnya yang terjadi sebelum ia datang yang menjadi penyebab semua yang terjadi sekarang.
“Aku berusaha untuk menyangkal dan tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Delvin, tapi sekarang dia membuktikan kelakuannya sendiri. Dia dengan berani membawa selingkuhannya kemari, ke hadapanku, ke hadapan keluarganya!” bantah Etnan setengah berteriak membentak Queen.
“Tenanglah, Pa. Kita dengarkan dulu dari sudut pandang Queen, apa yang sebenarnya terjadi,” ucap Kennard menenangkan.
“Tenang? Kamu pikir Papa bisa tenang setelah melihat semua kebenaran ini?!” Etnan masih tidak menurunkan nada suaranya.
Mendengar apa yang dibicarakan oleh keluarganya, Queen sudah bisa mengambil kesimpulan dengan apa yang sebelumnya terjadi. Hal yang menjadi masalah adalah, ayahnya belum mendengar apa yang sebenarnya. Namun, sampai saat ini, Queen masih belum berani angkat suara karena raut wajah Etnan yang sangat sangat murka begitu menakutkan bagi Queen sekalipun.
Melviano segera menyadari kegelisahan dan ketakutan Queen yang tampak sudah mengetahui situasinya. Ia memeluk semakin erat tubuh Queen yang tanpa disadarinya gemetar, berusaha menyalurkan kenyamanan untuk membuatnya tenang. Memberitahu lewat pelukan bahwa ia juga ada bersamanya untuk membantu.
“Etnan, sadarlah! Apa kamu hanya akan mendengarkan dan percaya begitu saja pada Delvin, daripada putri kita sendiri yang sudah kita besarkan dan percayai lebih dari siapapun?!” Rosalina ikut berteriak menaikkan nada suaranya demi menyadarkan suaminya yang dilanda emosi.
Barulah setelah mendengar teriakan dan menatap wajah sang istri yang benar-benar marah, Etnan menurunkan tatapan tajamnya. Ia menghela napas dan duduk dengan lemas di sofa kembali.
“Tolong bawakan minuman untuk kami semua,” perintah Rosalina pada salah satu pelayan untuk mendinginkan suasana di ruang tamu yang sangat panas itu.
Setelah situasi sedikit tenang dan semua yang ada di ruang tamu duduk, minuman yang dibawa pelayan datang. Meski suasana menjadi terasa lebih baik, bahkan pelayan yang menghidangkan minuman masih gemetar karena atmosfernya masih sangat mencekiknya.
“Queen, sebenarnya ada apa dengan rumah tangga kalian? Mama dan Papa mertuamu datang dan mengatakan jika kalian akan bercerai, apa itu benar, Nak?” tanya Rosalina, memulai pembicaraan.
Queen yang sejak tadi diam dan menundukkan kepalanya, tak berani menatap sang ayah, menghela napas pelan. “Itu benar.”
Tidak ada yang tidak terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Queen. Setelah mereka tidak mendengar kabar dari putrinya, mereka berpikir jika semuanya baik-baik saja. Namun, apa yang selama ini mereka tidak dengar, tidaklah selalu memiliki kabar yang baik.
“Lalu apa benar kamu berselingkuh dengan pria ini?” Itu pertanyaan dari Etnan. Masih jelas bernada dingin dan tajam saat berbicara pada Queen, persis seperti seorang hakim yang tengah menyidang narapidana.
“Tolong jelaskan semuanya pada kami, Queen.” Kennard sudah tidak sabar.
“Bara berselingkuh dariku, maka dari itulah aku mengambil keputusan ini. Dan aku sama sekali tidak pernah berselingkuh dari Bara apalagi bersama dengan Melviano. Hubungan kami hanyalah sekedar teman sekaligus rekan kerja saja.” Queen mulai menjelaskan sedikit.
“Sudah aku duga! Kedua orang tua itu datang dan dengan tidak tahu malunya menuduh Queen kita yang bijaksana, padahal anak merekalah yang sebenarnya bertindak b******n. Apa Papa masih tidak mempercayai putri Papa ini?” Kennard mendengus senang begitu mendengar apa yang dikatakan Queen dan percaya begitu saja.
“Papa ingin mendengarkan semuanya dengan jelas, Queen! Tidak ada yang disembunyikan sama sekali dari kami!” perintah Etnan tegas, masih tidak sepenuhnya mempercayai ucapan putrinya.
Queen menatap pada Melviano sebelum mulai membuka mulutnya seolah memastikan jika ia tidak sendirian. Sebelum memulai penjelasan, ia mengambil ponselnya dan memperlihatkan bukti-bukti perselingkuhan Bara yang sudah ia kumpulkan selama ini. Rosalina terkesiap dan kembali menangis begitu melihat bagaimana kelakuan menantunya itu. Etnan menahan emosinya dengan mengepalkan tangannya.
“Sudah aku peringatkan berulang kali dan sejak awal. Pria seperti dia yang selalu berganti wanita tidak akan bisa berubah, Ma, Pa. Pada akhirnya yang menjadi korban adalah Queen. Kenapa kalian tidak mendengarkan sama sekali?” Kennard mulai menyalah-nyalahkan kedua orang tuanya ketika bukti sudah ada di depan mata.
“Aku tidak mengetahui sejak kapan mereka melakukannya. Aku mengetahui perselingkuhan mereka baru-baru ini bertepatan dengan masa kritisnya perusahaan keluarga kita. Selain itu, wanita itu juga sekarang tengah mengandung anak dari Bara.” Melviano memegang tangan Queen yang sejak tadi berkeringat dingin. Tentu saja itu karena kegugupan sekaligus rasa sakit hatinya yang terbuka lagi karena menceritakan hal ini pada kedua orang tuanya.
“Aku mengakui jika aku salah dan begitu keras kepala saat itu karena tidak mengindahkan bantuan yang ditawarkan Bara yang semakin memperparah hubungan kita. Namun, ketika aku ingin mulai memperbaikinya, aku mengetahui Bara sudah lebih dulu merusak itu semua dan-”
“Queen, putriku … Sudah cukup. Kami sudah tahu seberapa keras kamu berjuang untuk itu semua, Nak.” Penjelasan Queen terpotong karena ibunya datang mendekat padanya dan membawanya pada pelukan hangatnya.
Sejak tadi Queen menjelaskan, ia sama sekali tidak meneteskan air mata. Ia hanya merasa sakit ketika luka itu kembali terbuka sebab keharusannya menceritakan ini semua pada kedua orang tuanya. Namun, begitu pelukan hangat dan penuh kenyamanan yang seakan mengisyaratkan bahwa dirinya bebas mengekspresikan diri, Queen pada akhirnya menangis terisak. Menumpahkan seluruh yang ia rasakan dan meminta layaknya anak kecil, kasih sayang dan kalimat menenangkan dari ibunya.
Kennard juga turut sedih dengan kebenaran yang diceritakan oleh adiknya. Ia tidak mengira jika saat kedatangannya pertama kali di hari itu, adiknya sedang tidak baik-baik saja. Bukan hanya karena keadaan perusahaan keluarga yang tidak baik-baik saja, tapi juga karena hubungan pernikahannya yang di ambang kehancuran.
Lebih dari itu, yang paling menyesal saat ini adalah Etnan. Ia sudah memukul Queen tanpa mengetahui kejelasannya. Perasaan bersalah menggelayuti hatinya pada putrinya yang ia tuduh sembarangan karena kegelapan hatinya sesaat. Melviano sempat bersitatap dengan Etnan sebentar. Seakan mengerti, dengan sendirinya Melviano memberikan tempat duduknya untuk berada di samping Queen.
“Queen …” Etnan memanggilnya lembut.
“Maafkan Papa yang sudah menamparmu lebih dulu tadi. Papa tidak tahu jika putri Papa tidak bersalah dan telah difitnah seperti ini.” Etnan menyentuh punggung Queen yang masih dalam pelukan Rosalina, membelakangi Etnan.
“Jika aku menjadi Papa, aku akan melakukan hal yang sama. Maafkan aku karena mengambil keputusan ini demi harga diriku.” Queen melepas pelukan ibunya dan menghapus sisa-sisa air mata di wajahnya.
“Itu bukan demi harga diri, Nak. Itu demi dirimu sendiri. Tidak ada yang salah. Kamu sudah benar mengambil keputusan itu. Kamu masih muda dan masih memiliki banyak waktu. Kami tidak akan melarang atau mengatur lagi pasangan hidupmu.” Etnan mengelus lembut rambut panjang kecoklatan milik Queen.
Lama Queen menatap wajah dari sang ayah yang sudah melunak kembali. Berpikir dengan lebih jernih lagi, merasa jika ini adalah waktu yang tepat ia mengatakan informasi selanjutnya pada kedua orang tuanya.
“Kalau begitu biarkan aku menikah dengan Melviano setelah bercerai dari Bara.”
-
-
-
To be continued