“Mereka mengatakan jika mereka akan berkunjung kemari, tapi tidak biasanya mereka terlambat dari jam pertemuannya. Ngomong-ngomong, apa yang membawa keluarga Bara berkunjung kemari ya, Pa?” Rosalina, Nyonya rumah keluarga Jefferson, sekaligus ibu kandung Queen, berbicara pada sang suami. Menunggu di meja makan untuk menyambut tamu yang adalah besannya yang akan berkunjung ke kediaman mereka setelah cukup lama tidak berkontak.
“Dari nada bicara Delvin di telpon, tampaknya itu sangat penting.” Etnan, ayah kandung Queen menjawab datar. Namun, dibalik suaranya itu, terselip sebuah nada kekhawatiran.
“Putra putri kita pasti baik-baik saja, kan?” tanya Rosalina yang juga merasakan kekhawatiran yang sama dengan sang suami.
“Tentu saja,” timpal Etnan yakin meski tak dipungkiri ia juga memiliki sebuah firasat tak mengenakan.
“Mungkin saja apa yang diinginkan oleh Tuan dan Nyonya Ziyan itu sekarang terwujud.” Kennard datang dan bergabung duduk di meja makan bersama kedua orang tuanya sambil menimpali pembicaraan.
“Om dan Tante, Kennard! Jangan berbicara yang terdengar sangat berprasangka pada mereka, Ken!” tegur sang ibu tak suka.
“Itu memang benar. Yang diinginkan oleh mereka sejak awal pastilah anak dari pernikahan putranya yang playboy itu dengan adikku tanpa mempedulikan kebahagiaan dari Queen.” Kennard tidak merasa bersalah dan semakin menjadi mengejek keluarga besan kedua orang tuanya.
“Kennard! Sudah cukup! Queen mencintai suaminya yang kamu panggil playboy itu. Apa yang akan dirasakan Queen jika ia mendengar apa yang kamu katakan?” Etnan angkat suara membela istrinya.
“Ya, ya, ya! Kalian selalu membela pesaing itu beratas namakan persahabatan!” kesal Kennard.
Sejak awal, Kennard sudah tidak menyukai keputusan kedua orang tuanya yang dengan mudah menerima perjodohan Queen dengan pria macam Bara, meski mengetahui bagaimana perangainya. Orang tuanya hanya berharap pada reputasi keluarga Bara dan cinta bodoh dari adiknya bahwa bocah b******k itu akan berubah setelah menikah. Kennard mengakui jika reputasi keluarga Bara memang sangat baik untuk standar calon suami adiknya, tetapi itu sama sekali tidak menjamin sikap dari anaknya yang sangat merusak reputasi keluarganya.
“Tuan, Tuan dan Nyonya Ziyan sudah ada di ruang tamu.” Salah satu pelayan datang dan memberitahu kedatangan keluarga Bara.
“Kenapa tidak memandu mereka kemari?” tanya Etnan.
“Beliau mengatakan ingin menunggu di ruang tamu, Tuan.” Pelayan tersebut menundukkan kepalanya hanya mematuhi perintah.
Etnan menoleh pada Rosalina sebentar sebelum akhirnya mereka berdiri dari duduknya untuk pergi ke ruang tamu. Sementara Kennard, mengikuti mereka dalam diam dengan enggan.
“Delvin, Aurel. Bagaimana kabar kalian berdua?” Etnan angkat suara dengan nada yang ramah, menunjukkan tanda kedatangannya.
“Aurel, bagaimana kabarmu?” Rosalina tersenyum manis ketika melihat mereka berdua yang duduk di sofa ruang tamu.
“Aku akan langsung mengatakannya saja, Etnan.” Delvin Ziyan, ayah kandung Bara, berdiri dari duduknya tanpa menjawab sapaan Etnan atau berbasa basi dan langsung menyatakan topik lain.
“A-ada apa sebenarnya?” tanya Rosalina mulai khawatir karena melihat ekspresi wajah keduanya yang didominasi oleh kemarahan dan kekecewaan yang ia sendiri tidak tahu apa alasannya.
Kennard masih hanya diam dan memperhatikan interaksi mereka sebagai penonton. Sejak awal tidak menyambut atau sekedar menyapa keluarga Ziyan. Melihat dari ekspresi wajah keduanya, ia sudah menduga jika mereka datang bukan untuk hal yang baik.
“Bara dan Queen akan mengakhiri pernikahan mereka.” Satu kalimat datar dari Delvin membuat ketiga anggota keluarga Jefferson dibuatnya terkejut.
“A-apa? Apa maksudnya ini, Aurel?” tanya Rosalina lebih dulu pada istri dari Delvin.
“Masalah apa dari mereka yang membuat kalian ikut campur pernikahan mereka dan memutuskan perceraian? Yang membuat keputusan itu adalah mereka, lagi pula juga mereka sudah dewasa. Kita tidak memiliki hak untuk ikut campur.” Etnan ikut berbicara. Nada dan raut wajahnya masih tetap tenang.
“Perceraian itu adalah keputusan yang dibuat oleh Queen dan alasan dari perceraian itu juga disebabkan oleh Queen,” timpal Aurelia sembari memalingkan wajahnya.
“Aku tidak mengerti, Aurel. Apa maksudmu Queen yang mengajukan perceraian lebih dulu karena dia sendiri yang membuat masalah? Apa kesalahan putriku sampai dia mengambil keputusan ini?” Rosalina mendekat dan memegang lengan Aurelia yang masih enggan menatapnya.
“Adik saya adalah wanita yang sangat dewasa sejak dulu bahkan sebelum ia memasuki usia dewasanya. Ia tidak mungkin melakukan kesalahan yang merugikan dan berakibat buruk pada pernikahannya. Justru putra Anda lah yang sangat dicurigai bisa saja melakukan kesalahan yang mencoreng pernikahan mereka sehingga adik saya memilih menceraikannya.” Kennard angkat suara, di tengah-tengah mereka, membela Queen.
“Beraninya kamu!” bentak Delvin langsung menatap tajam Kennard yang masih terlihat santai.
“Kennard!” Suara Ethan lebih besar dan tegas dari mereka semua membuat suasana tenang sesaat, meski atmosfer yang menyelimuti masih sama panasnya.
“Jelaskan apa maksud dari semuanya, Delvin.” Ia beralih berbicara pada Delvin untuk meminta penjelasan.
“Queen berselingkuh dengan Tuan Muda Abrasyam.” Ekspresi ketenangan Etnan seketika hilang dan berganti dengan wajah penuh keterkejutan.
“Apa?!” sentak Kennard.
“I-itu pasti tidak mungkin! Bagaimana bisa Queen berselingkuh dari Bara sedangkan dia terlihat begitu mencintai Bara.” Air mata sudah tak terbendung lagi dan mengaliri pipi Rosalina, menolak apa yang dikatakan Delvin.
“Bawa kemari bukti itu,” ucap Etnan setelah kembali dari rasa keterkejutannya.
Delvin mendengus angkuh di depan keluarga Jefferson seolah ia sudah yakin sekali tanpa bukti. “Itu sudah tidak diperlukan bukti lagi saat ia baru-baru ini terlihat memiliki hubungan dengan pria itu dengan alasan perusahaan kalian yang hampir bangkrut. Alih-alih meminta bantuan langsung pada perusahaan Bara yang ada di depan matanya, tapi ia mencari-cari alasan untuk bercerai dari Bara dan bersama dengan pria itu.”
“Jaga ucapan Anda, Tuan Ziyan! Adik saya bukan wanita yang serendah dan setidak bermartabat itu!” bentak Kennard tak terima sambil menunjuk ayah dari Bara.
“Kamu sejak dulu selalu menghina Bara, tapi justru adikmu lah yang lebih menjijikan!” balas Delvin menatap remeh Kennard.
“Delvin … !”
“Tuan Ziyan!”
Kennard dan Aurelia menegur keras Delvin yang sudah dirasa sangat berlebihan menghina Queen dan keluarganya. Aurelia tampaknya masih cukup tahu diri dan waras karena merasa putranya juga sangat bersalah karena ikut berselingkuh.
“Lebih baik kita tidak membuang waktu kita lagi disini, Aurel. Ayo kita pergi.” Setelah semua keributan itu, Delvin melangkah pergi mengajak Aurel yang masih berdiri di tempatnya.
“Ayo, Aurel!” panggil Delvin yang sudah ada di luar rumah.
Aurelia dengan langkah berat berbalik dan berjalan pelan menuju ke arah sang suami yang sudah menunggunya. Ia juga ikut meneteskan air matanya, sama seperti Rosalina. Sebelum ia benar-benar keluar dari rumah, untuk terakhir kalinya ia menoleh ke belakang dan menatap Rosalina dengan tatapan rasa bersalah.
“Pa … Apa yang sebenarnya terjadi? Putri kita tidak mungkin melakukannya, kan?” Rosalina tidak dapat lagi menahan keseimbangan tubuhnya dan segera jatuh ke dalam pelukan sang suami.
“Kennard, telpon Queen dan suruh dia kemari sekarang!” perintah Etnan yang tanpa pikir panjang diindahkan Kennard.
“Pulang ke rumah orang tua kita sekarang juga, Queen!” Hanya itu kalimat yang dikatakan Kennard begitu sambungan telpon mereka terhubung.
Etnan sibuk menenangkan Rosalina yang menangis tersedu setelah mendengar berita mengejutkan itu. Kennard menunggu harap-harap cemas kedatangan adiknya. Ia masih saja belum mempercayai ucapan dari keluarga Ziyan karena merasa ada sesuatu yang salah. Ditambah dengan belakangan ini gerak gerik Queen yang ia lihat, terlihat sangat berbeda. Bahkan sampai detik ini, Kennard masih tetap percaya pada Queen. Semoga saja kepercayaannya juga sama besarnya dengan kedua orang tuanya.
“Ma, Pa.” Akhirnya seseorang yang mereka tunggu datang juga. Mereka bertiga serempak menoleh ke arah sumber suara itu.
Disana Queen baru saja datang dengan raut wajah penuh kekhawatiran dan terlihat datang terburu-buru kemari. Mengingat juga waktu yang tidak terlalu lama mereka tunggu. Ketika ia melangkah masuk dengan tergesa, seseorang di belakangnya mengikuti masuk. Tentu saja siapapun langsung menyadari siapa yang ikut bersama dengan Queen.
“Ma, Pa. Ada apa?” tanya Queen begitu berhadapan dengan mereka.
“Queen!” Etnan berdiri dari duduknya dan menghampiri Queen.
Plak!
-
-
-
To be continued