“Bukankah itu CEO Evt. Group? Kenapa beliau datang bersama CEO kita?”
“Benar? Apa mereka memiliki hubungan khusus selain mitra bisnis?”
“Aku rasa itu wajar mereka terlihat memiliki hubungan baik untuk kelancaran perusahaan ini nantinya.”
“Sepertinya para pegawaimu sangat memperhatikan bos mereka, ya?” Melviano memulai pembicaraan dengan berkomentar ketika mereka berada di dalam lift khusus.
“Sepertinya aku kurang perhatian pada mereka hingga mereka berani bergosip di depan tamu seperti tadi,” timpal Queen yang sama sekali tidak mengubah ekspresi wajahnya sejak mereka masuk ke dalam kantor.
“Apa kamu marah pada mereka, Queen?” tanya Melviano setengah terkejut.
“Tidak, kenapa aku harus marah? Aku hanya menyayangkan sikap mereka yang kurang bagus, tidak bisa terkontrol saat ada seseorang yang menarik perhatian mereka,” jelas Queen masih tidak mengubah ekspresi wajahnya dan berbicara tanpa menatap Melviano.
“Emm, kamu terlihat berbeda Queen,” komentar Melviano lagi yang berhasil mengalihkan atensi Queen.
“Berbeda dalam hal apa?” tanya Queen yang kali ini menatap balik Melviano.
“Auramu terlihat sangat berbeda ketika di rumah dan di kantor.” Bertepatan dengan itu, suara lift yang berbunyi, menandakan jika lantai tujuan mereka telah sampai.
“Mungkin peranku juga berbeda ketika di rumah dan di kantor?” tanya Queen kembali seraya melangkah keluar bersama Melviano.
“Aku belum melihatmu dalam setelan kasual rumahan, jadi aku belum melihat perbedaan antara dua peran yang berbeda denganmu. Sepertinya perbedaan itu tidak hanya ada padaku.”
“Selamat pagi, Nona Queen, Tuan Muda Abrasyam.” Sapaan formal Anne menyela pembicaraan mereka.
“Selamat pagi, Nona Anne. Hari ini ada yang ingin saya bicarakan dengan Tuan Muda Abrasyam di ruangan, tolong bawakan dua cangkir kopi,” perintah Queen sebelum ia dan Melviano berlalu masuk ke dalam ruangannya.
“Kalau kamu ingin melihatku dalam setelan kasual, bagaimana dengan kunjungan ke rumah orang tuaku di akhir pekan?” Melviano masih melanjutkan pembicaraan mereka terakhir kali dan bersambung pada pembicaraan kedua orang tuanya.
Queen berhenti melepaskan blazer yang melekat di tubuhnya dan reflek menatap pada Melviano. Ia berhenti sebentar sebelum akhirnya melanjutkan aktivitasnya dan bergabung bersama Melviano yang lebih dulu duduk di sofa. Bersamaan dengan itu, seorang petugas yang sama yang biasa mengantarkan minuman ke ruangan Queen, datang untuk melakukan tugasnya sesuai permintaan Queen.
“Aku rasa ini masih belum saatnya,” ucap Queen dengan nada ragu.
“Kenapa?” tanya Melviano menyerngit.
“Namaku sudah menjadi buruk sekarang karena rumor hubunganku dan Bara. Jika aku ke sana di situasi ini, kupikir itu akan bertambah buruk bagiku dan keluargamu. Selain itu, namamu juga akan ikut buruk saat mereka mengendus kita memiliki hubungan di saat aku belum bercerai dari Bara. Meski aku tidak bisa mencegah hal itu karena pada akhirnya kita-”
“Cepat atau lambat fakta bahwa kita menikah setelah kamu bercerai dari Bara akan terungkap, tidak masalah kita mempercepat hal itu. Jangan terlalu memikirkan aku, aku tidak masalah menemanimu dengan nama yang buruk. Kalau kamu mengkhawatirkan keluargaku, itu akan menjadi hal yang sia-sia, Queen.” Melviano segera memotong ucapan Queen begitu mengetahui kemana arah pembicaraan mereka.
“Yang ingin aku bicarakan denganmu di sini adalah masa pernikahan kita, Melvin.” Sedikit kecewa karena Queen mengubah topik pembicaraan mereka. Tapi Melviano juga tidak ingin melanjutkan pembicaraan tadi yang bisa terlihat sangat mendesak Queen. “Jadi, kapan waktu baik kita mengakhirinya?” tanya Melviano menimpali.
“Tujuanmu menikah denganku adalah untuk menghindari konflik keluargamu menyangkut pasangan, begitupun denganku di masa depan nanti. Selain itu juga, pernikahan ini adalah transaksi untuk membayarmu karena kamu sudah membantuku keluar dari krisis perusahaan,” jelas Queen.
“Untuk mencapai tujuan itu sepertinya dibutuhkan waktu selama beberapa tahun menjalani kehidupan pernikahan. Aku rasa 3-5 tahun ke depan kita bisa bercerai setelahnya. Atau saat salah satu di antara kita memiliki pasangan lain dan berniat menikahinya kita bisa bercerai saat itu juga. Tentu saja di kehidupan pernikahan, aku tidak akan ikut campur kehidupan pribadimu,” lanjut Queen sekaligus mengakhiri penjelasannya.
“Queen, bagaimana dengan kemungkinan salah satu di antara kita jatuh cinta pada yang lainnya?” tanya Melviano yang mendapat tatapan intens dari Queen.
“Kita tidak bisa mengabaikan hal itu, tapi bukankah kita cukup nyaman hanya sebagai rekan hidup sementara?” Pertanyaan Queen memiliki arti penolakan secara tidak langsung sekaligus menarik batas antara hubungan mereka berdua.
Sekali lagi Melviano dibuat tidak bisa menjawab atau menyangkal apapun yang dikatakan Queen. Alasan yang sama karena tidak mau mendesak Queen yang bisa membuatnya menolak atau menjauh darinya. Salah-salah, kerja kerasnya bisa hancur jika ia tergesa-gesa.
“Kita memang sangat cocok menjadi rekan dalam berbagai hal. Aku menantikan kerja sama kita.” Melviano tersenyum lembut khasnya seperti biasa.
“Apa ada aturan yang ingin kamu ajukan kepadaku?” tanya Queen.
“Tidak ada, tapi aku ingin ini semua dirahasiakan dari keluargaku, terutama orang tuaku. Aku ingin kita terlihat seperti pasangan yang normal jika di depan kedua orang tuaku,” usul Melviano yang diperhatikan oleh Queen.
“Bersandiwara, ya?” Queen diam seolah tengah memikirkannya.
“Kalau itu terlalu berat, aku tidak akan terlalu membebanimu nanti.” Melviano memang mengatakannya seperti itu, tapi tatapannya menunjukkan harapan besar pada Queen yang mau tidak mau membuat ia tidak bisa menolak.
“Baiklah, ketika kita berkunjung dan menginap di rumah kedua orang tuamu, kita bisa menjadi pasangan suami istri sesungguhnya untuk lebih meyakinkan mereka. Jangan khawatir atau kecewa kita tidak akan memiliki anak, karena seperti yang kamu tahu aku dan Bara-”
“Apa itu berarti saat kita berkunjung ke rumah orang tuaku kita bisa menjadi pasangan sesungguhnya?” Melviano lagi-lagi memotong ucapan Queen sebelum selesai mengatakannya. Kali ini terlihat sebuah binar kebahagiaan di dalam sorot matanya ketika menanyakannya yang entah untuk alasan apa Queen tidak mengetahuinya.
“Maksudnya adalah kita bersandiwara seperti pasangan suami istri pada umumnya. Berhubungan tidak masalah bagiku dan menurutku itu termasuk dalam harga yang harus aku bayar atas bantuanmu dalam transaksi itu. Jika kamu tidak ingin aku bekerja sampai sana, aku juga tidak masalah.” Queen menjelaskan lebih detail maksud ucapannya yang ia kira dirasa tidak nyaman dan terlalu berlebihan bagi Melviano. Ia hanya ingin bekerja secara totalitas pada Melviano yang sudah sangat menolongnya dari krisis saat itu.
“Melvin?” panggil Queen karena tak kunjung mendapati suara dari lawan bicaranya.
“Y-ya?” jawab Melviano sedikit terkesiap karena lamunannya yang buyar. Entah apa yang dipikirkan olehnya, Queen tidak tahu dan tidak tertarik untuk mengetahuinya.
“Aku bisa mengikuti alur sandiwaramu di depan orang tuamu,” ujar Queen.
“Hmm … biar aku beritahu sedikit mengenai orang tuaku padamu sebagai persiapan,” timpal Melviano sembari menyentuh dagunya, menandakan jika ia tengah memikirkan apa yang ia katakan tadi.
Belum sempat Melviano membuka mulutnya untuk memberikan Queen informasi, suara dering ponsel miliknya menghentikan hal itu terjadi. Melviano mengambil ponselnya di saku jasnya dan menatap layarnya untuk mengetahui siapa gerangan yang menelponnya.
“Sepertinya hari-hari bekerjaku yang tidak nyaman akan segera datang berkat sekretarisku.” Melviano memperlihat ponsel miliknya yang masih menunjukkan panggilan masuk dari seseorang.
“Aku juga harus mulai bekerja, tampaknya kita harus mengakhiri pembicaraan di sini. Sampai jumpa, Melvin,” ucap Queen seraya berdiri dari duduknya.
“Aku menunggu jawaban dari undanganku yang tadi, Queen.” Sebelum benar-benar pergi, Melviano kembali mengingatkan Queen.
-
-
-
To be continued